
MUSE S2
EPISODE 33
S2 \~ GADIS TANPA NAMA
\~Kan gila, udah masokis masih ditambah pedofill.\~
Aku akan menceritakan bagaimana aku bertemu dengan gadis itu. Gadis yang bisa membuatku menahan diri untuk tidak menyiksanya. Gadis tanpa nama yang sampai saat ini masih membayang-bayangi kehidupanku dengan pesonanya.
• • •
2 tahun yang lalu..
GLEGAR!!
Bunyi guntur dan keclapan kilat terdengar keras, membuat jendela hotel tempatku menginap ikut bergetar. Hari ini aku ingin melepaskan penat di sebuah hotel berbintang di kawasan ibu kota. Ingin menikamati indahnya rasa di balik rok seorang wanita. Aku memang tak pernah membawa satupun wanita ke dalam penthouse-ku, karena itu akan mengotori rumah.
“Tuan. Ada lagi yang bisa saya bantu sebelum pulang?” Aleina mengetuk pelan pintu kamar suite room nomor 1405.
“Tidur denganku?” godaku padanya. Sekretaris pribadiku itu sangat cantik, dan juga punya otak cerdas dan tubuh yang sempurna.
Sayangnya satu...
“Anda tahu saya tak suka dengan pria.” Aleina tersenyum.
Yup.. that’s the answer. Wanita muda di depanku ini sama denganku, sama-sama punya penyimpangan seksual. Dia pencinta sesama jenis, menurut kalian mana yang lebih baik, aku atau dia? Tentu saja aku bukan.
Yah.. Tapi itulah yang membuatku dekat dengan Aleina, dia tak pernah menghina kelainan jiwa yang ku miliki dan malah membantuku mencari wanita yang bisa di ajak ‘bekerja sama’. Ironi bukan?
“Mau saya carikan wanita?” tawar Aleina, dia bahkan tak punya ekspresi saat menanyakan hal itu.
“Boleh. Yang cantik dan penurut.”
Tanpa banyak bertanya Aleina membuka tablet pintarnya. Jari jemarinya yang lentik terus mengascroll naik karena sibuk mencari sesuatu. Matanya bergerak naik turun, seirama dengan pergerakan layar tablet.
“Ada tiga wanita, ini fotonya.” Aleina menyerahkan tabletnya padaku. Aku mengamati ketiga foto wanita-wanita mu**han itu. Wajah mereka terpasang pada situs por**tusi online. Rata-rata berwajah cantik dengan postur tubuh yang menawan.
“Yang ini cantik dan penurut, Tuan. Dia artis.” Aleina menunjuk pada foto wanita cantik dengan wajah oriental.
“Hmm...” aku hendak mempertimbangkannya saat jariku tak sengaja menscroll naik dan menemukan foto seorang gadis.
Fotonya berbeda dari wanita lain dan itu membuatku tertarik. Mana ada wanita yang menawarkan jasa mereka hanya dengan bermodal pas foto 3x4 yang biasa digunakan untuk buku raport atau kartu tanda pengenal?
“Dia saja.” Aku mengetuk layar tablet tepat pada fotonya.
“Dia masih perawan, Tuan. Di sini ada pelelangan yang masih berjalan.” Tunjuk Aleina, harga gadis itu sudah mencapai angka 80 juta.
“Beli dia, Aleina. Berapapun harganya. Suru dia kemari sekarang,” perintahku, aku belum pernah tidur dengan seorang gadis perawan. Mana mungkin aku menyia-yiakan kesempatan ini.
“Baik, Tuan.” Aleina menghubungi agen situs penjual jasa sexx online tempat gadis itu dilelang.
Tak berselang lama saat Aleina menolehkan wajahnya dan tersenyum, “terbeli dengan harga 150 juta. 100 untuk gadis itu, 50 untuk penjualnya. Aku akan suru pihak hotel menyiapkan spa dan wine untuk anda.”
“Baik, aku akan menunggunya,” senyumku senang.
•
•
•
Hampir tiga jam aku menunggu kedatangan gadis itu. Aku menggerutu sebal. Aleina juga terus menatap arlojinya dengan gusar. Sudah lewat dari jam kerjanya, dan gadis itu tak kunjung datang.
“Mandilah, Tuan. Air hangatnya mulai dingin. Saya akan ke resepsionis untuk meminta mereka mengantarkan gadis itu saat ia datang.” Aleina membungkuk seraya meninggalkan kamar hotel.
Aku pun memberinya izin untuk pulang. Aleina juga punya kehidupannya sendiri, dan aku juga bukan tipe boss jahat yang memeras tenaga anak buahnya.
Aroma bunga ylang ylang (kenanga) tercium sedikit mistis dan menggoda. Bau bunga ini sangat khas, membuatku nyaman. Aku benamkan lagi tubuhku lebih dalam ke dalam bathup. Harusnya aku menikmati aroma therapy dan spa air hangat bersama gadis itu. Tapi akhirnya aku ada di sini, merendam tubuhku sendirian.
Hujan masih terus turun dan mengguyur ibu kota. Jam hampir menunjukan pukul 8 malam saat terdengar suara pintu terbuka dan kemudian tertutup kembali.
Aku menyeringai senang, akhirnya gadis itu datang. Finally aku bisa menyalurkan hobiku malam ini. Sudah lama aku tak melampiaskan hasratku ini.
Tanpa menunda lagi aku menyahut jubah mandi dari samping bathtube dan memakainya. Air masih menetes pelan dari ujung rambut hitamku yang basah. Aku tak peduli, penampilanku akan tetap ganteng meski tak rapi sekalipun.
Aku membuka pintu kamar mandi dan masuk ke dalam kamar. Aku tersenyum saat menemukan gadis itu. Tubuhnya menggigil kedinginan karena bajunya yang sedikit basah. Mungkin ia habis berlari menembus hujan untuk bisa sampai kemari.
Gadis itu punya wajah yang cantik. Bola matanya yang bulat dihiasi oleh bulu mata yang lentik bagai boneka. Bibirnya terlihat begitu ranum dan plumpy. Penuh dan merekah merah, membuatku ingin segera mengullumnya dalam-dalam. Rambutnya yang hitam dan panjang semakin lurus karena basah.
Tubuhnya tersentak kaget saat melihatku berdiri di pinggir kusen pintu. Tubuhnya gemetar melihatku, seperti melihat hantu yang menakutkan. Hahaha.. aku menyukai ekspresinya itu. Membuatku ingin segera melahapnya.
Gadis itu hanya diam dan menundukkan kepalanya. Aku tak menyukainya, aku sudah membelinya dan dia bahkan tak menyapaku sama sekali. Harusnya dia berterima kasih padaku, setidaknya aku menyelamatkan malam pertamanya dari serigala buas lainnya. Aku memang juga serigala, tapi bukankah aku tampan dan menawan? Kalau saja mentalku nggak sedikit menyimpang, siapapun pasti bangga bisa tidur denganku.
Aku duduk di sampingnya, mengelus rambutnya sampai ke belakang telinga, aku mendekatkan wajahku dan mencium telinganya. Wangi collone yang manis dan lembut menggelitik hidungku. Gadis itu berjengit takut, aku bisa merasakan kepalan tangannya yang menggenggam erat sprei. Aku membuka jaketnya yang lembab karena air hujan.
“Kau pake seragam sekolah? Masih SMA?” Aku langsung bertanya begitu mengetahui kalau gadis itu masih mengenakan seragam sekolahnya.
Ia hanya mengangguk sebagai jawaban. Wajahnya sedikit pucat, kelihatannya dia takut kalau aku akan menolaknya.
“Sudah 17 tahun? Punya KTP?”
“Punya, 2 bulan lalu.” Akhirnya aku bisa mendengar suaranya walaupun sangat lirih.
Usianya baru menginjak 17 tahun, dia baru saja mendapatkan KTP. Untung saja ia sudah ber-KTP, jadi tipe kelainan seksualku nggak nambah. Kan gila, udah masokis masih ditambah pedofill.
“Seumuran dengan Arron,” pikirku. Arron adalah anak Kak Lenna, keponakanku yang saat ini masih SMA.
“Kau siap?” tanyaku sembari menariknya berdiri.
“Siap.” lirihnya.
Aku tersenyum saat melihatnya. Entah kenapa aku ingin memilikinya tapi juga ingin melindunginya. Dia hanya anak kecil, entah apa alasannya mau menjalani semua ini? Wajahnya yang kalem dan pembawaannya yang lembut menyiratkan bahwa dia gadis dari keluarga baik-baik.
Lalu kenapa?
Kenapa ia rela melelang keperawanannya?
Masalah apa yang sedang menghimpitnya?
“Lepaskan bajumu!” perintahku.
Gadis itu menurut, ia berdiri di depanku dan membuka semuanya. Perlahan-lahan sampai tak tersisa sehelai benangpun.
Wajahnya datar, tanpa ekspresi. Sepertinya dia memang sudah menyiapkan mentalnya sebelum kemari. Aku kira dia akan menangis, tapi ternyata dia lebih tegar dari perkiraanku.
“Aku mulai, ya?”
Hei..! Sejak kapan aku harus meminta ijin dari seorang wanita yang aku bayar untuk menyentuhnya?! Shit.. sepertinya aku sudah mulai gila.
“Iya.” gadis tanpa nama itu menelan ludahnya seraya memejamkan matanya dan berjalan masuk ke dalam pelukanku.
— MUSE —
Like dan comment ya readers..
Jangan lupa tinggalin banyak jejak
Ajak temen-temen baca
Dan vote MUSE
Makasih juga yang udah vote MUSE.