MUSE

MUSE
EPILOG



MUSE


EPISODE 30


EPILOG


\~Walaupun ini hanya mimpi


Aku tidak akan pernah menyesalinya\~


Penolakan Amanda..


Penolakan orang tuaku..


Penolakan Lenna..


Mana yang paling menyakitkan dan membuatku menjadi manusia rusak??


Tetes demi tetes air mata yang mengalir memenuhi secangkir kecil teh kehidupan.


Seandainya aku bisa mengulang waktu..


Seandainya aku bisa kembali sebelum menyakiti hatinya..


Apakah aku akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik??


Aku tersenyum kepada seorang pria yang memberiku secangkir teh. Dia mengagguk dan tersenyum membalas senyumanku.


“Apa kau mau mencobanya?”


Sejenak aku masih bisa merasakan kehangatan dari teh itu masuk ke dalam jiwaku.


Lalu kegelapan yang pekat, menggerogoti hatiku, rasanya sangat sakit, tapi sedikit demi sedikit mengikis habis rasa penyesalan dan kebencian di dalam jiwaku.


BLINK..


Sinarnya sangat terang dan menyilaukan.


“Hah..!! Hah..!! Hah..!!”


Aku terbangun dengan tubuh penuh keringat, aku memandang kedua tanganku dan menggerak-gerakannya. Lalu meraba kepala dan perutku.


“Aku masih hidup??”


Aku bisa mendengar sebuah lagu dari ipod yang terhubung dengan speaker. Aku memutar bola mataku, melihat ke sekeliling. Aku mengenalinya, apartemen kecil saat aku kuliah dulu.


(We used to hide under the covers


Serenade each other with careless melodies


Something buried deep inside us


The major and the minor, we’re like piano keys


You played for me..


You played for me..)


Aku tersentak kaget melihatnya.


Lenna terbaring di sisiku.


“Alex kau sudah bangun??” Lenna mengusap matanya.


“Lenna??” Aku terbelalak kaget


(Iswear it, even in my sleep I hear it like the memory


Of everything we used to be


You played for me


“Kau bermimpi buruk? Kenapa berkeringat dingin?” Lenna menarik selimut menutupi tubuhnya yang masih telanjang.


“Lenna?? Kau Lenna??” Aku memegang kedua pipinya dengan tangaku.


“Ih.. Apaan sih?? Kok jadi aneh gini?!!” Lenna memasang wajah cemberut.


“Hei apa yang kau lakukan??” Lenna memprotesku yang menarik selimutnya.


Aku meraba lekuk tubuh Lenna, memastikan luka tembakan yang melukainya. Luka itu tidak ada?? Atau lebih tepatnya tidak terjadi.


(We couldn’t stop the world from turning


It was like a whirlwind, scattered us like leaves


But I'm stuck inside a feeling, the song that never leaves


We were like a symphony


You played for me


You played for me, oh


Aku bangkit dan melihat ke arah kalender kecil di meja.


Tanggal yang sama


Bulan yang sama


Tahun yang sama di mana aku melakukan hubungan intim pertama kali dengan Lenna. Sehari sebelum aku kehilangannya setelah mencium Amanda.


(Iswear it, even in my sleep I hear it like the memory


Of everything we used to be


You played for me


You played for me


“Lenna... Aku mencintaimu... Aku mencintaimu...!” Aku memeluk erat tubuh Lenna.


Lenna memasang wajah bingung.


“Kau ini kenapa sih??” Lenna masih meronta pelan.


“Jangan! Diam dulu! Sebentar saja.” Aku kembali memeluk Lenna.


Benarkah semuanya hanya mimpi??


Atau aku diberi satu kali kesempatan untuk mengubahnya??


Memperbaiki semuanya??


Atau aku berada di dunia pararel?


Atau aku sudah berada di surga?


Neraka?


Aku tidak tahu, aku tidak bisa menjawabnya.


Yang aku tahu saat ini aku merasa sangat bahagia.


(Iswear it, even in my sleep I hear it like the memory


Of everything we used to be


(Ps. Lagu Alan Walker, title. PLAY)


—MUSE—


Goresan demi goresan kuas, warna demi warna menghiasi tubuh Lenna. Aku menggambar daun-daun kecil di sekujur tubuhnya, bertaburkan beberapa bunga chrysantenum putih dan kuning.


“Peri bunganya sudah jadi.” Aku tersenyum.


“Wah..cantik sekali.” Lenna memandang tubuhnya di kaca.


“Aku punya gliter untuk sentuhan akhir.”


Lenna terus tersenyum dan terlihat bahagia. Aku masih berharap ini sebuah kenyataan dan bukan hanya sebuah mimpi.


“Ayo berangkat.” ajaknya.


Aku menggandeng tangannya menuju ke area kontes body painting. Di kehidupan yang lalu kami melewatkannya.


“Ada permen kapas, kau mau?” Lenna menunjuk awan-awan bulat berwarna-warni di sebuah stand makanan.


“Aku akan membelikannya untukmu.” Aku berlari dan kembali dengan dua buah permen kapas berwarna pink dan kuning.


“Terima kasih.”


Wajahnya berseri-seri, aku terus melihatnya, tidak mau memalingkan sedetikpun pandangku darinya.


Entah ini nyata atau bias.


Entah ini hadiah atau hukuman.


Satu hal yang pasti.


Aku sangat bahagia.


“Kontesnya sudah mulai.” Lenna menyambar tanganku dan menarik masuk ke pendaftaran.


“Aku sangat gerogi.” Lenna terus tersenyum, sesekali mengibaskan tangannya.


“Kau cantik.. dan kau pasti menang!!” Aku memegang kedua tangannya.


“Salurkan energimu Alex.” Lenna mendekatkan wajahnya. Aku menciumnya lembut.


Perhitungan pemenang di hitung dari jumlah suara pendukung dari penonton yang hadir. Lenna maju dan naik ke panggung, aku membantunya menaiki tangga.


Aku terus melihatnya..


Aku takut pemandangan ini memudar.. Hilang tersapu angin, menjadi debu dan berterbangan.


Sampai tiba hasil pemenangnya.


“Pemenangnya adalah...”


“Aku kalah.” Lenna berlari memelukku.


“Kau juara di hatiku.” Aku membalas pelukannya.


“Aku kira akan menang.” wajahnya terlihat sedih.


“Kapan-kapan kita coba lagi. Juara harapan juga nggak burukkan?” Aku mencium keningnya.


“Betul.” Lenna memandang piala kecil di tangannya.


Aku terus memandang lekat wanita di sampingku. Tangannya terasa sangat hangat, dan senyumannya terlihat sangat manis.


“Kau kedinginan?” Aku memberikan jaketku kepadanya.


“Terima kasih.”


Kami berputar dan berjalan-jalan di keramaian. Sebentar lagi tiba di pengunjung acara festival kesenian, akan ada pesta kembang api.


“Ikut aku!!” Aku menggandeng tangan Lenna dan berlari menuju sebuah gedung kecil di belakang fakultasku.


Gedung lama yang telah beralih fungsi menjadi gudang. Kami naik ke lantai dua, lalu lantai tiga, dan membuka jendelanya. Melompat ke atap datar.


“Dari sini pasti bisa melihat dengan jelas.” Aku membantu Lenna melompat.


Kami duduk bersebelahan, menunggu peluncuran kembang api.


DOR...


DOR...


Kembang api meluncurkan percikan penuh warna, merah, hijau, biru, kuning, putih, dan ungu.


“Indah sekali.” Lenna berseru girang.


Bayangan kembang api terlihat di matanya yang berwarna violet.


“Kau lebih indah.”


“Jangan gombal Alex.”


“Aku bicara dengan jujur.”


“Lenna.. Walaupun aku tahu aku nggak pantas mengucapkan ini. Tapi bolehkan aku mengucapkannya??” Aku menggenggam erat tangannya.


“Apa itu??”


“Aku mencintaimu Lenna, maukah kau berpacaran denganku??”


Lenna diam sejenak, air mata mengembang di pelupuk matanya. Menetes jatuh ke pipi.


“Kau mau menerimaku apa adanya??”


“Tentu saja,” jawabku yakin.


Aku mengusap air matanya dengan ibu jariku. Tanganku masih terus mengusap lembut ke dua pipinya.


DOR!!


DOR!!


Kembang api kembali meluncur.


“Terima kasih.”


Aku menciumnya, menghisap lembut bibirnya. Entah kenapa malam yang dingin berubah menjadi sangat hangat.


Walaupun ini hanya mimpi


Aku tidak akan pernah menyesalinya.


—MUSE—


Like, comment, and +Fav


Follow dee.meliana for more lovely novels.


❤️❤️❤️


Thank you readers ^^