MUSE

MUSE
S7 ~ Aku Merindukanmu



MUSE S7


EPISODE


S7 \~ Aku Merindukanmu


\~ Keduanya berpanggutan kembali, kali ini begitu kasar, dalam, tak beraturan. Mereka berdua meluapkan rasa cinta dan rindu dengan saling beradu mulut, berkelit lidah, dan mencercap rasa manisnya. \~


________________


Pertandingan pertama, akhirnya hari yang ditunggu pun tiba. Semua keluarga Arvin dan Kaleela telah sampai ke Spanyol untuk melihat pertandingan Levin. Leoni juga ikut, gadis itu tak ingin tertinggal untuk menyemangati kekasihnya secara langsung.


Demi Tuhan Leoni bahkan sampai tidak bisa tidur sepanjang perjalanan di atas pesawat. Ia sangat merindukan Levin dan tidak sabar untuk bertemu dengannya.


Jantung Leoni bergemuruh, rindu yang meluap membuatnya justru terkena serangan panik. Leoni berada di barisan paling belakang, mengekor keluarga dan sahabat Levin, Bryan dan Chiko.


“Itu Levin.” Teriak Bryan.


Degh!


Jantung Leoni meloncat, dari kejauhan ia melihat sosok si cowok tengil yang belakangan ini selalu hadir pada mimpi indahnya karena terlalu merindu.


Apa yang harus aku katakan? Apa yang harus aku lakukan? Oh Tuhan, apa wajahku kucel? Aku bahkan belum mencuci muka dan menggosok gigi. Apa rambutku mengembang seperti singa?? Apa tubuhku bau?? Ya Tuhan, aku panik!! Bagaimana ini???!!! Batin Leoni bergejolak, antara ingin menghambur masuk dalam pelukan Levin namun juga sangat tidak percaya diri. Bayangkan satu setengah hari berada di dalam pesawat. Tanpa bisa tidur!! Wajah Leoni pasti sudah mirip mayat yang dipaksa hidup lagi, alias zombi.


“Levin!!” Semua keluarga dan juga sahabat bergantian memeluk Levin, Leoni justru memperlambat langkah kakinya agar tidak segera sampai.


Levin sungguh berbeda dari saat mereka berpisah. Dan meski setiap hari mereka berkomunikasi lewat video call, tetap saja Leoni masih terpesona dengan wajah Levin yang terlihat semakin dewasa.


Damn! Dia tampan sekali, pikiran Leoni melayang jauh saat melihat garis rahang yang semakin tegas, jakun yang semakin terlihat, lengan yang semakin kekar, dan rambut Levin yang semakin panjang. Pemuda itu mengucirnya ke belakang.


Levin terlihat semakin tampan dengan kaos casual lengan panjang berbahan katun, Levin sengaja menggulung ujung lengannya sedikit agar tattonya terlihat. Jeans hitam dengan sepatu Jordan biru senada dengan pakaiannya menjadi pelengkap penampilannya siang itu.


Bagaimana ini?? Dia kemari?!! Aku harus bagaimana? Leoni mulai panik saat Levin datang mendekatinya. Ia merasa aneh, entah kenapa gadis kesayangannya itu tak kunjung menghambur masuk ke dalam pelukannya?! Apa Leoni tidak merindukannya?? Padahal Levin amat sangat merindukannya sampai begitu tersiksa.


“Apa kau sungguh akan berdiri di sana dan tak memelukku, Singa?” Levin membuka lagi tangannya lebar-lebar.


Leoni menggigit bibirnya dengan napas tercekat menahan air mata. Sayang sekali, air matanya tetap saja tumpah keluar. Leoni mengusapnya dengan punggung tangan sebelum tersenyum dan berlari masuk dalam pelukan Levin. Terserahlah, mau napasnya bau, mau rambutnya mengembang, mau keteknya kecut, mau wajahnya kusut, rasa rindu di dalam hatinya terlalu membuncah.


“Kau pikir hanya dirimu yang merindu?? Aku juga sama rindunya tahu!” Levin mencubit pipi Leoni.


“Ugh!! Sakit!!” Leoni mengusap pipinya yang memerah.


“Tapi rasa rinduku lebih besar!” sergah Leoni.


“Tidak! Aku yang lebih besar!!” Levin menimpali.


“Aku!!”


“Aku, Singa!! Aku merindukanmu sampai hampir mati rasanya.“ levin menekan bahu Leoni.


Keduanya saling menatap sesaat dengan penuh rasa rindu yang membuncah. Levin melabuhkan sebuah kecupan hangat pada bibir ranum Leoni dan **********. Ugh!! Rasa manis yang mereka rindukan langsung terkecap, sangat … sangat … manis.


“Aku mencintaimu”


“Ya. Aku juga mencintaimu.” Keduanya bersitatap kembali dengan binaran mata yang begitu cemerlang. MEngisyaratkan betapa rasa cinta mereka berdua nyata dan begitu dalam. Sampai meninggalkan rasa rindu yang jauh lebih dahsyat dari ledakan bom.


Keduanya berpanggutan kembali, kali ini begitu kasar, dalam, tak beraturan. Mereka berdua meluapkan rasa cinta dan rindu dengan saling beradu mulut, berkelit lidah, dan mencercap rasa manisnya.


Levin memasukkan telapak tangannya pada balik tengkuk Leoni, menjadi nahkoda dalam ciuman mereka.


“Ingat janjimu saat di telepon kemarin! Kau berjanji memberiku hadiah saat aku menang!” cela Levin begitu panggutaN mereka terlepas.


“I … iya.” Wajah Leoni memerah.


Dih masih ingat saja batin Leoni. Memangnya apa yang diminta Levin sebagai hadiah??


...— MUSE —...


Sedikit dulu… mengantuk gaes … 😘😘😘 jangan lupa apa gaes??


Like, comment, dan vote thor 😘