
MUSE S2
EPISODE 87
S2 \~ LUPA
\~ Aku memeluk erat Kalila, mendekapnya dengan penuh kerinduan. Maafkan aku yang menyembunyikan sosok Arvin darimu Kalila. Kau berhak bahagia, kau berhak untuk melupakannya. \~
•••
Sudah satu minggu Kalila terbaring tak sadarkan diri pada ranjang rumah sakit. Aku hanya bisa terdiam dan menggenggam tangannya yang mulai memucat. Aku memandang wajah cantiknya yang terlihat mengering karena dinginnya ruang ICU.
“Kalila, sadarlah! Aku menunggumu, sayang.” ku kecup pelan punggung tangannya.
Sudah berbagai macam doa ku lafalkan, ku panjatkan pada Sang Pemilik Kehidupan. Sampai kering air mata dan serak tenggorokkanku, tetap saja belum ada jawaban. Kalila masih terbaring lemah dan tak sadarkan diri.
•
•
•
3 hari yang lalu, dokter menemuiku dan menyampaikan bahwa ada pembengkakan pada bagian samping otak Kalila yang mengakibatkan ketidak sadaran sementara. Dokter belum bisa memastikan kapan Kalila akan terbangun. Bisa saja besok, lusa, satu minggu, atau bahkan satu tahun. Tergantung bagaimana kondisi tubuh Kalila.
Dokter menyarankan agar aku terus mengajaknya bicara, memberikan rangsangan ringan seperti sentuhan, suara, nyanyian, atau pun musik.
Aku kadang memainkan gitar untuknya. Mengulang semua lagu-lagu yang pernah kami nyanyikan bersama.
Dengarlah cinta hatiku remuk redam
Jika tak ada kamu
Menemani aku 🎶
Dengarlah cinta ku memanggil namamu
Disetiap malamku
Ku memikirkan kamu 🎶
Aku sepi sepi sepi sepi
Jika tak ada kamu 🎶
Aku mati mati mati mati
Jika engkau pergi 🎶
Dengarlah kesayanganku
Jangan tinggalkan aku
Tak mampu jika ku tanpamu 🎶
Dengarlah kesayanganku
Hidup matiku untukmu
Kumohon pertahankan aku |*** 🎶
“Bangun, La! Bangun!!” Aku menggoyangkan pelan tubuh mungilnya yang terlihat semakin kurus.
Air mataku meleleh tak terbendung.
Kenapa kau tega padaku, Kalila?
— MUSE S2 —
Pip...
Pip...
Pip...
Bunyi monitor yang memantau vital Kalila berbunyi lebih nyaring, membuatku terbangun dari tidurku.
“Kalila??!”
Mata Kalila terlihat bergerak pelan, jemarinya mulai merespon genggamanku.
“Kalila, kau bisa mendengar suaraku?”
Akhirnya setelah hampir 10 hari, Kalila mulai merespon dan membuka matanya.
“Angga....” suaranya terdengar begitu lirih saat memanggil namaku.
“Aku di sini, bae,” ku cium lagi pergelangan tangannya, air mata haru langsung membasahi pelupuk mataku.
“Di mana ini?”
“Rumah sakit, La. Tunggu aku panggilkan dokter.”
Aku bergegas memanggil dokter, tak lama dokter jaga datang dan memeriksa keadaan Kalila. Ia memeriksa denyut nadi, pupil mata, respon pergerakkan mata, pengdengaran, sampai syaraf tangan dan kakinya. Syukurlah Kalila baik-baik saja.
“Mohon pelan-pelan, ya. Pasien masih terlalu lemah.”
“Baik, dokter. Terima kasih, ya.”
“Sama-sama.”
Akhirnya aku bisa bernapas lega, Kalila baik-baik saja, dan dia sudah siuman.
“Bagaimana perasaanmu, La?” tanyaku.
“Baik, Ngga.” senyumnya simpul.
“Kau mau minum?”
“Mau.”
“Ini, pelan-pelan.”
Kalila kembali merebahkan kepalanya, ia menerawang ke berbagai arah sebelum akhirnya bertanya kepadaku.
“Di mana Papa dan Mamaku, Ngga?”
“Hah??” Aku kaget mendengar pertanyaannya, Papa dan Mamanyakan sudah meninggal dua tahun yang lalu.
“Kalila? Apa maksudmu?”
“Kenapa, Ngga?”
“Papa dan Mamamu sudah meninggal dua tahun lalu,” kataku dengan ragu.
“APA?? Kau bohong?” tuduh Kalila.
“Kalila??? Apa kau lupa semuanya?”
“Lupa?”
“Apa yang terakhir kali kau ingat, La?” tanyaku dengan panik.
“Terakhir aku ingat kita pergi ke taman dan..., AKH!!! Kepalaku sakit!!!! Sakit sekali!!!” Kalila memegang kepalanya dengan kedua tangan.
“Kalila?!” pekikku ikut panik.
“Dokter!! Suster!!” Aku memanggil tenaga medis yang sedang berjaga.
Dokter dan perawat datang dan membantu Kalila agar kembali beristirahat. Dokter akhirnya kembali memberikan suntikan penenang agar Kalila kembali beristirahat.
“Kenapa dia lupa semuanya, Dok?”
“Mungkin benturannya menyebabkan amnesia, Tuan.”
“Amnesia?”
“Iya, hilang ingatan sementara pasca trauma yang dialaminya, Tuan. Benturannya cukup parah, dan mungkin kondisi psikis pasien sebelum kecelakaan juga berpengaruh terhadap ingatannya.”
“Jadi?”
“Jadi secara tidak langsung otaknya menghapus kenangan-kenangan buruk yang terjadi belakangan ini.”
“Begitu...,” ku anggukkan daguku tanda mengerti.
Kalila pasti sangat terpukul dengan kelakuan Arvin belakangan ini. Jadi secara tidak langsung Kalila melupakan Arvin.
Baiklah, kalau memang melupakan Arvin akan membuat hidup Kalila menjadi lebih baik. Aku akan membantunya melupakan pria itu.
— MUSE S2 —
•••
Sebulan telah berlalu, Kalila sudah boleh pulang saat ini. Aku membuatnya bisa menerima kematian orang tuanya dan berkata bahwa kami tetap berpacaran setelah aku keluar negeri.
Kalila mengelola cafe bersama denganku, Melody, dan juga Caca. Mereka berdua juga telah sepakat untuk membantuku menghapus kenangan tentang Arvin dalam hidup Kalila.
“Kau mau langsung beristirahat, La?” Aku menurunkan koper setibanya pada apartemen Kalila.
“Jadi aku tinggal di sini selama ini?” Kalila mengamati apartemennya sendiri dengan keheranan.
“Iya, La.” Aku memeluknya dari belakang.
“Ah, aku tak menyangka aku hidup mandiri selama ini.”
“Iya, kau wanita yang hebat.”
“Angga, terima kasih, ya, sudah selalu ada untukku.”
Aku terdiam, aku bukanlah pria yang selalu ada untuk Kalila selama ini. Aku hadir di saat dirinya telah menemukan pria lain. Walaupun aku tahu pria itu adalah pria yang brengsek, tetap saja rasanya sesak harus mengakui ketidak hadiranku dalam hidupnya.
“Aku akan membuatmu bahagia, La.”
Aku memeluk erat Kalila, mendekapnya dengan penuh kerinduan. Maafkan aku yang menyembunyikan sosok Arvin darimu Kalila. Kau berhak bahagia, kau berhak untuk melupakannya.
“I love you, bae.” Ku cium bibir ranum Kalila dengan lembut dan dalam.
“Thank you, Angga, for loving me.”
— MUSE S2 —
Yo Muse Up buat nemenin saur pertama kalian...! 🤗
Hallo readers..
Tak terasa MUSE S2 sudah hampir TAMAT.
Tetap nantikan akhir yang bahagia bagi Kalila ya, 🥰
Jangan lupa untuk Vote, Like dan juga Commentnya. Dukungan kalian amat berarti bagi saya. Apa lagi di tengah regulasi baru bagi author yang semakin berat. ;(
Oh, Iya. Saya ucapkan selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang melaksanakannya ya. Tetap stay strong di tengah pandemik Corona, pasti puasa banyak menurunkan fitalitas tubuh. Jadi tetap minum vitamin dan makan makanan bergizi saat sahur.
S'gala pujian bagiMu
Seg'nap nafas muliakanMu
Surga bumi kan berseru
Kuduslah Tuhan namaMu
🥳🥳🥳
Biarlah semua memuji dan menyembah Tuhan dengan caranya masing-masing, tetap saling mendoakan dan bersatu dalam kondisi berat saat ini.
Saya mencintai kalian semua. 🥰
Salam manis
dee.Meliana