MUSE

MUSE
S1 - SPECIAL EPISODE



MUSE S1


SPECIAL EPISODE


S1 \~ MATERNITY PHOTO


\~ Hanya dengan sedikit kalimat dari bibirnya, ia bisa mengubah tangisanku menjadi senyuman.\~


_________________


Masih ingatkan, Julius dan Lenna? Mereka kini tengah menikmati indahnya masa-masa pernikahan, ditambah Lenna sedang hamil 7 bulan.


LENNA POV


Tujuh bulan, iya, sudah tujuh bulan lamanya aku membawa perut besar berisikan buah cintaku dan Julius. Kami langsung dipercaya oleh Tuhan untuk mengurus seorang bayi beberapa bulan setelah pernikahan. Semula aku tak ingin hamil, jujur saja aku takut untuk hamil, aku takut anak yang ku kandung akan punya kelainan bawaan sepertiku. Seperti yang kalian tahu, kondisiku begitu special, aku wanita albino, kulitku putih, bahkan begitu putih.


Masa kecil yang ku jalani sangat kelam dan menyakitkan. Bullyan selalu datang dari mulut teman-temanku, aku tak ingin anak yang ku kandung mengikuti jejakku. Aku khawatir dia akan menderita saat terlahir di dunia kelak. Bukan berarti aku tidak bersyukur dengan kehamilan ini, bukan berarti pula aku tak bersyukur dengan cinta yang diberikan oleh Julius kepadaku. Tapi rasa takut, insecure dari dalam diriku yang membuatku tidak percaya diri dengan kehamilan ini.


“Melamun apa?” Julius datang memelukku dari belakang, membuatku tersentak.


“Tidak kok,” jawabku singkat.


“Bohong, terlihat jelas di wajahmu kalau kau sedang berpikir sesuatu!” Julius tersenyum, pria ini sungguh mengerti diriku, mungkin beda usia kami yang terpaut cukup jauh menjadikannya mudah memahami diriku. Dia tipe pria dewasa yang pengertian. Kami jarang bertengkar, bahkan kelewat mesra. Julius paling tahu bagaimana cara membesarkan hatiku.


“Bagaimana babynya?” Julius mengusap perut, menepelkan telinganya, mencari-cari suara ataupun gerakan kecil yang mungkin terjadi.


“Tenang, mungkin sedang tidur.” Aku mencoba ikut menggerakkan tanganku, merangsaang gerakan dari janin di dalam perut.


“Jagoan, apa kau bisa mendengar Papa?” Julius menggelitik perutku.


“Jangan!! Kalau begini aku yang geli tahu!” Protesku sebal, tapi cara itu memang ampuh banget untuk membangunkan si jabang bayi.


“Hehe, memang supaya kau ikutan bergerak, Sayang. Jadi tak lagi memikirkan apapun yang kau pikirkan tadi.”


Aku tersenyum, sungguh pria ini benar-benar membuatku menyayanginya.


“Cobalah ceritakan padaku, apa yang sedang kau pikirkan. Kita suami istri sekarang. Sudah bukan lagi dua, tapi satu, ajak aku juga untuk berbagi beban denganmu,” tuturnya.


“Janji nggak marahkan, Kak?” tanyaku.


“Cerita dulu.”


“Aku takut, Kak. Aku takut anak ini akan terlahir sama sepertiku.” Akhirnya aku menceritakan juga keluh kesahku padanya.


“Kenapa?”


“Orang-orang akan mengejeknya, orang-orang akan mengejekmu juga. Lagi pula kau pasti kecewa kalau memiliki anak yang tidak sempurna,” tukasku.


Julius menarik tanganku agar kami bisa saling berdekatan. Aku menyandarkan kepalaku pada dada bidangnya, menikmati aroma tubuhnya dan juga degupan jantung yang berirama dengan teratur.


“Lenna, dengarkan aku. Lihatlah dirimu, kau begitu cantik seperti malaikat, anak yang akan kau lahirkan pun pasti akan begitu cantik atau tampan. Kau berharga bagiku Lenna, begitu juga anak ini, andai saja dia terlahir sepertimu pun, dia tetap berharga. Aku akan tetap mencintainya, sama seperti aku mencintaimu,” tutur Julius, ucapan tulusnya sungguh membuatku ingin menangis haru.


“Jangan menangis, nanti dia ikut menangis.” Julius mengecup pelan bibirku, memberikanku ketegaran ektra untuk menghadapi kehamilan ini.


Hanya dengan sedikit kalimat dari bibirnya, ia bisa mengubah tangisanku menjadi senyuman.


— MUSE —


JULIUS POV


Istriku sedang hamil saat ini, berbagai macam keluhan mulai muncul, mulai dari sakit pinggang, kesemutan, keram, sampai sering berkemih. Sebagai laki-laki aku ingin meringankan bebannya, ingin sekali membantunya, namun apa? Apa yang harus aku lakukan? Lenna tak pernah mengizinkanku memijit kakinya, tak pernah juga mengizinkanku menggantikan segala pekerjaan rumah tangga. Dia selalu sibuk mempersiapkan sarapan untukku, padahal ada ART yang membantunya. Lenna bersikeras tak mau dibantu saat mempersiapkan sarapan. Baginya sarapan itu sakral, harus selalu dia yang menyiapkannya untukku. Sebenarnya aku bahagia dengan pelayanannya sebagai istri, hanya saja aku tak bisa melihatnya kelelahan.


Dan kini, ketika malam tiba, Lenna mengkhawatirkan anak yang dikandungnya. Takut terlahir mirip dengannya, takut tak akan ada yang mau bermain dengannya. Benaknya dipenuhi ketakutan-ketakutan yang belum bisa dibuktikan kebenarannya.


Apa? Apa yang bisa aku lakukan agar dia tak lagi takut? Apa yang harus aku lakukan agar dia kembali percaya diri? Apa yang harus aku lakukan agar dia bangkit?


“Bagaimana kalau kita membuat maternity photo, Len?” usulku, sepertinya kegiatan ini menarik. Lenna pasti akan sedikit terhibur.


“Foto? Tapi badanku jelek, gendut.”


“Namanya juga hamil, Len.”


“Benarkan hasilnya bisa bagus?”


“Tentu saja, apa kau meremehkan suamimu?” Kikihku.


“Hahaha, iya iya Tuan Fotografer, karyamu memang luar biasa!” tukas Lenna sambil tertawa.


“Thanks, Kak.”


“Welcome, Len.”


Setelah sebuah ciuman yang lembut namun dalam akhirnya kami mencoba untuk tertidur.


— MUSE —


Esoknya aku telah bersiap, mengatur pencahayaan, lensa apa yang akan aku pakai, juga setting tempat. Karena ini pemotretan untuk kehamilan maka aku harus membuat setting tempatnya senyaman mungkin untuk Lenna.


“Kak Ius.” Lenna masuk, tim MUA sudah meriasnya dengan riasan yang begitu lembut, cocok untuk kulitnya yang putih terawat.


Aku terkesiap, Lenna begitu cantik dan mempesona, betapa beruntungnya aku memilikinya sebagai istriku?


Lenna hanya menggunakan pakaian minim, kemben dan short pendek ketat. Konsepnya memang hanya akan bermain kain tile dan bruklat sebagai outfit sekaligus menonjolkan lekukakan kehamilannya.


“Kau sudah siap?” tanyaku sembari menggandengnya turun.


“Sudah.” Angguknya.


Lenna adalah seorang model, tentu saja dia tahu bagamana bergaya dengan luwes tanpa harus di arahkan. Aku juga tak memaksanya berpose ini itu seperti kehendakku agar suasana hatinya tidak terganggu. Butuh mood yang baik untuk membuat wajah bisa tersenyum alami.


“Lenna, bisa kau melirik ke arah perutmu, tersenyumlah seakan kau bisa menyentuhnya.” Pintaku.


“Baik.”


Lenna melakukan apa yang aku pinta, ia menyentuh perutnya, melirik sedikit dan tersenyum. Lalu sekejap kemudian Lenna menangis, aku terkesiap, kenapa tiba-tiba suasana hatinya memburuk? Padahal aku hanya mengarahkannya satu kali ini saja.


Aku meninggalkan kamera dan berlari kecil menghampirinya. Para tim yang membantuku ikut kalang kabut, mereka mengambilkan tisu, menepuk punggung Lenna dan membawakan segelas air agar dia tenang.


“Kenapa, Sayang? Kenapa tiba-tiba kau menangis?” tanyaku pelan.


“Aku tidak menangis karena sedih, Kak. Aku menangis karena bahagia. Saat aku menyentuhnya tadi, saat aku tersenyum, saat aku meliriknya, aku sadar, sangat sadar bahwa sungguh aku mencintainya.” Lenna memelukku.


“Lenna ...,” lirihku.


“Aku bersalah, Kak, aku bersalah padanya. Kau benar, tak seharusnya aku takut, tak seharusnya aku khawatir dengan keberadaannya.” Lenna melepaskan pelukkannya.


“Iya, Len. Dia berharga,” ucapku, kuhapus air mata yang menetes turun dari pelupuk matanya, bola mata violet itu terendam air. Bukan air karena lara, namun air karena bahagia. Kebahagiaan seorang calon ibu yang akan menyambut kehadiran anaknya dengan penuh syukur. Bagi Lenna yang pernah mengalami pahitnya kehidupan tentu saja menakutkan, tapi bagi Lenna juga yang pernah mengalami manisnya cinta dan pengorbanan, tentu saja tak ada alasan baginya untuk tidak berbahagia.


“Aku bersyukur memilikinya, sama seperti aku bersyukur memilikimu,” ucap Lenna di sela isakkannya.



Credit pict to owner.


Tiga bulan kemudian, bayi itu terlahir ke dunia, sehat, gemuk, dan juga tampan. Tangisannya menggema di seluruh ruangan bersalin. Mulutnya pun terlihat lucu saat bergerak-gerak mencari minum.


“Bagaimana kalau kita beri dia nama Arron?” Aku menggenggam jemari kecil itu sembari mendekap pundak Lenna.


“Arron, nama yang bagus.” Lenna pun setuju.


“Aku harap kelak dia bisa menemukan cinta sejatinya, menemukan MUSE nya.”


“Yes, the only MUSE.”


Aku tersenyum, ku kecup pelan bibir Lenna yang masih tampak pucat karena kelelahan.


“Terima kasih.”


— MUSE —


Yup!! Babang Julius comming!!


Abes ini babang Arvin!!


Teros babang Leon, Keano, Lucas, Nick, sama Ivander.


Kalian reques donk mau dibikinin cerita kek gimana buat babang Arvin. Kalau setuju aku tulisin.


Misal : Arvin dan Kalila makan sate bareng Thor/ Arvin dan Kalila berlibur ke Eskimo mancing salmon/ Arvin dan Kalila bikin anak lagi 🤣🤣🤣


Ditunggu masukkannya


See yu next special episode!!