MUSE

MUSE
S5 ~ SALAH



MUSE S5


EPISODE 17


S5 \~ SALAH


\~Aku geram, marah, sakit, dan benci. Tapi melihat punggungnya yang berkelung lesu juga membuatku iba. Bagaimanapun dia juga papaku, pria yang mengajariku tentang arti kekuatan, keteguhan, kemandirian.\~


____________________


LUCAS POV


Tanganku tak berhenti bergetar bahkan sampai setibanya di ruang rawat inap. Hatiku sakit saat melihat mama tergolek lemah di atas ranjang berwarna putih bersih. Aku ketakutan, belum pernah aku merasakan ketakutan akan kehilangan sampai seperti ini.


Kenapa tiba-tiba penyakit jantung mama kumat?


Kenapa tiba-tiba dia bisa terjatuh pingsan seperti ini?


Aku melangkah masuk ke dalam ICCU (Intensive Coronary Care Unit) sebuah ruangan ICU khusus penderita penyakit jantung. Langkahku semakin berat saat melihat banyaknya alat bantu yang menempel pada tubuh kurusnya.


Bella terus menggandeng tanganku, ia tak berhenti memberiku semangat dan kekuatan. Rasa nyaman mengalir dari jari jemarinya yang bertaut dengan milikku.


“Mama akan baik-baik saja, Lucas,” ucapnya lirih.


“Kau benar, Bella.”


Kami duduk di samping Mama, Bella mengelus punggungku sementara aku menggenggam tangan mama yang kurus dan pucat.


Tiba-tiba mata mama mengerjap pelan, ia membuka matanya. Melirik lambat ke arahku, aku langsung bangkit, tersenyum lebar saat melihatnya tersadar.


“Ma, bagaimana?” Aku mengelus rambutnya yang mulai memutih.


“Lucas, kau di sini?” Suara mama terdengar lirih dan lemas.


“Iya, Ma.” Aku mengecup punggung tangannya.


“Anakku yang baik, kau pasti menderita, ya punya Mama yang sakit-sakitan seperti ini?”


“Mama ngomong apa, sih? Lucas adalah anak paling beruntung di dunia karena punya Ibu sebaik Mama.” Aku tersenyum, masih menaruh telapak tangannya pada pipi, membuat sentuhan hangatnya menyentuh wajahku.


“Siapa ini?” Mama melirik ke arah Bella, walaupun lemas namum mama begitu ingin tahu.


“Nama saya Belaciaquin, Tante,” jawab Bella, dia mendekat dan berdiri di sampingku.


“Kekasihmu?” tanya mama.


“Iya.”


“Akhirnya, Mama jadi tenang kalau harus meninggalkanmu,” ucapanya. Aku tidak suka dengan ucapannya itu, kenapa seakan-akan ia ingin pergi dariku? Meninggalkanku ke tempat yang tak lagi terjangkau oleh raga.


“Ma, jangan bilang gitu donk, Ma.” Mama hanya tersenyum dan kembali beralih pada sosok Bella.


“Bella, kau cantik sekali.”


“Ah, terima kasih.” Bella tertunduk malu-malu.


“Kapan kalian akan menikah?” tanya mama spontan.


“Secepatnya, Ma. Makanya Mama mesti kuat, ya, cepet sembuh.” Aku tahu Bella masih SMA, kami tak mungkin menikah dalam waktu dekat, namun aku mencoba untuk menguatkan hatinya.


“Hidup Mama sudah tidak akan lama, Lucas. Mama sudah kehilangan semuanya, raga ini sudah lelah, jiwa Mama juga sudah diambang batasnya. Tak ada lagi kekuatan untuk bersandar. Mendengarmu ingin menikah membuat Mama ikhlas pergi.”


“Mama ngomong apa, sih? Masih ada Lucas, Ma. Lakukan untuk Lucas, jadikan Lucas tempat untuk bersandar.”


“Kau sangat baik sayang. Mama nggak mau membebanimu dengan kesesakkan ini.”


“Tidak, Ma. Lucas tak pernah menganggap Mama sebagai beban.” Aku menangis, air mata meleleh dari sudut mataku. Kenapa mama terus berucap kalau seakan-akan ia akan pergi meninggalkanku selamanya???


“Jaga Lucas untukku Bella.” Mama menggenggam tangan Bella.


“Iya, Tante.” Bella ikut menitikkan air mata.


“Sudah, jangan berucap seakan ini adalah akhirnya, Ma.” Aku memeluk tubuh Mama.


“Bella, bisa kau tinggalkan kami sebentar.” Pinta mama.


“Baik, Tante.”


Bella mengangguk padaku dan meninggalkan kami berdua. Kenapa tiba-tiba mama menyuruh Bella keluar, apa yang sedang ingin ia katakan padaku?


“Lucas.”


“Ya?”


“Kau harus hidup bahagia, jangan pernah menyia-yiakan cinta istrimu kelak.”


“Tentu, Ma. Aku akan mencintai istriku seperti cara Papa mencintai Mama,” tuturku dengan lembut, namun, wajah mama malah berubah, lebih sendu, lebih terlihat menderita. Air mata meleleh turun dari sudut matanya, membuatku heran sekaligus penasaran.


“Sebenarnya apa yang terjadi, Ma?” desakku.


“Tidak ada, Lucas.”


“Mama berbohong, apa yang sedang Mama sembunyikan? Apa yang telah Papa lakukan kepadamu?” Instingku sebagai seorang pria menggelitik nurani, papa pasti telah menyakiti hati mama.


Wajah mama semakin pucat, alisnya menyatu, dengan lemas mama menggenggam baju di depan dada kirinya.


“Lucas ... dada Mama, hah ... sa—kit ...,” desisnya kesakitan.


“Ma, sebentar Ma. Lucas panggilkan dokter.” Aku bergegas keluar, memanggil tim medis yang sedang berjaga.


Mereka langsung berlari, memacu mama dengan berbagai macam treatment pengobatan. Memasang oksigen dan juga alat bantu yang lain pada tubuh kurusnya.


“Ma!! Mama!!” Panggilku, aku berteriak memanggil namanya.


Harusnya aku tak mendesaknya, harusnya aku tidak bertanya hal-hal lain selain kesembuhannya. Aku hendak mendekat, ingin mendekap tubuhnya, ingin membisikkan doa, ingin memacu semangatnya untuk bertahan. Namun dua orang perawat mencegahku mendekat, mereka tak mengizinkanku menyentuh mamaku sendiri.


“Anda tidak boleh di sini, Tuan! Keluarlah, anda hanya akan mengganggu prosedur pengobatan!!” bentaknya.


“Benar!! Kalau anda sayang dengan nyawa pasien biarkan dokter bekerja dengan tenang!!” tandas suster yang lain.


“Baik, suster, tapi tolong selamatkan Mama. Jangan sampai Mama menghilang!!” Renggekku.


“Kami akan berusaha sebaik mungkin, Tuan.” Mereka mendorongku keluar dan menutup pintu kaca, memisahkan mama dariku.


Bella memandangku dengan iba, ia juga tak kuasa menahan air matanya. Dengan cepat Bella berlari dan memelukku.


“Semuanya akan baik-baik saja, Lucas,” bisik Bella. “Semuanya akan baik-baik saja.”


“Iya, Ella, aku tak bisa kehilangan dirinya. Tidak dengan cara seperti ini.” Aku mendekap semakin erat tubuh mungil Bella, mencari sedikit ketenangan dari derap napasnya yang melaju secara teratur.





Hanya butuh waktu setengah jam bagi dokter untuk menstabilkan tanda vital pada organ jantung mama. Tapi bagiku setengah jam itu terasa begitu lama, berat, dan menyiksa.


“Keluarga Nyonya Katerina?”


“Saya, Dok.”


“Nyonya Katerina sudah setabil, Tuan. Tapi dia butuh banyak istirahat, jadi tolong jangan temui beliau dulu. Berikan ketenangan dan kesempatan untuk pulih.” Dokter melarangku masuk ke dalam, memang benar obrolan terakhir kami membuat mama merasakan tekanan dan rasa sakit yang mendalam. Sebenarnya apa yang telah terjadi?


“Baik, Dokter,” jawabku menurut.


“Baiklah, saya permisi.”


Aku kembali duduk, membungkuk untuk menyesali diri. Bella menepuk punggungku pelan, ia memberikan sebotol air mineral untuk mengusir dahaga. Aku menerimanya, menengguk isinya sampai habis. Aku juga melirik ke arah jam tangan, sudah hampir jam 1 dini hari.


“Aku akan mengantarmu pulang, Ella. Tak baik berada di sini.”


“Aku akan menemanimu, Lucas.”


“Dokter tak mengizinkanku masuk ke ruangan Mama. Aku akan pulang untuk membereskan pakaian. Mungkin baru subuh aku bisa kembali lagi kemari. Jadi tidak ada gunanya kamu menemaniku, Ella.”


“Baiklah.” Akhirnya Bella menurut juga.


“Beristirahatlah. Aku membutuhkanmu besok.” Aku menyandarkan kepalaku pada pundak Bella.


“Aku akan menemanimu besok, Lucas.” Bella merangkulku.


— MUSE S5 —


Bella baru saja melambaikan tangan dan masuk ke dalam rumahnya. Lampu di rumahnya masih gelap gulita, seakan tak ada penghuni. Setahuku Bella masih memiliki mama, namun entah apa yang dia kerjakan, sepertinya dia sangat sibuk. Berkali-kali aku datang menjemput Bella, namun aku tak pernah sekalipun bertemu dengannya.


“Tuan Lucas, bagaimana keadaan Nyonya?” Para penghuni rumah langsung mencercaku dengan berbagaimacam pertanyaan seputar kondisi mama. Aku yakin cinta dan perhatian mama pada semua pegawainyapun membekas di hati mereka semua. Mama memang tak segan-segan membantu para pelayan yang membutuhkan uang, bahkan tak jarang membantu mereka bersekolah.


“Mama sudah lebih baik. Kami sempat mengobrol sebentar,” jawabku, aku berbohong, mama saat ini kembali tidak sadarkan diri.


“Syukurlah, Tuan.” Hela mereka dengan lega.


“Di mana Papa?”


“Tuan besar belum pulang.”


Di mana dia saat Mama sedang membutuhkan kehadirannya? Pikirku geram, kenapa papa jadi begini? Seakan dia tak lagi peduli dengan keadaan mama.


“Oh, iya, Tuan. Nyonya menjatuhkan ponselnya sebelum pingsan.” Seorang pelayan memberikan ponsel mama padaku.


Aku menyahut ponsel itu, bergegas untuk menyalakan layarnya, layarnya sedikit retak karena terjatuh dengan keras. Aku mencoba mencari tahu, hal apa yang membuat mama syok sampai jantungnya kumat.


DEG!!


Ku lihat foto-foto papa dengan wanita yang cantik. Walaupun tak lagi muda, namun dia memang terlihat cantik dan penuh gairah. Dan lagi wajahnya sungguh tidak asing bagiku, siapa wanita ini??


Aku menutup mulutku yang terbuka dengan lebar. Berusaha untuk tidak percaya bahwa papa telah mengkhianati mama. Padahal bisa ku lihat ketulusannya saat merawat mama setiap hari. Apakah semua itu hanya kedok? Kedok untuk menutupi kebohongannya? Ataukah kedok untuk menutupi rasa bersalahnya??


“Halo, selidiki seseorang untukku.” Aku langsung menghubungi kenalanku, seorang dari dunia hitam. Bagiku yang seorang petinju, duniaku tak pernah luput dari bayang-bayang perjudian dan kekerasan. Mudah bagiku untuk mengenal beberapa orang dari dunia gelap ini.


“Aku kirimkan fotonya padamu, berikan jawaban padaku secepatnya!!” geramku.


“Baik, akan aku bayar dua kali lipat kalau kau bisa menemukannya besok.”


Aku menutup ponselku, memandang nanar ke arah foto wanita itu. Dasar wanita menjijikan, awas saja kalau sampai mamaku meninggal karena dirimu, akan aku bunuh kau dengan tanganku sendiri.


“Dasar brengsek!!” Aku mengumpat, lalu membanting ponsel itu sampai remuk.


Aku menjambak rambutku, diam dalam geram, menanti lelaki brengsek yang tega mengkhianati istrinya dengan wanita lain itu pulang.


— MUSE S5 —


Pertengkaran besar tak terelakkan saat papa pulang. Bau alkohol dan juga rokok menyengat dari tubuhnya. Papa masih mengelak, dia tak mau mengakuinya. Aku tak percaya, aku yakin dia punya hubungan gelap dengan wanita itu di belakang mama.


“Anak sialan!! Kau berani kurang ajar pada, Papa, hah???!” Papa menamparku. Aku tak menghindar, aku tak ingin menjadi anak yang durhaka, tapi kalau benar berarti sikapnya terhadap mama sudah keterlaluan.


“Siapa yang membesarkanmu dan merawatmu sampai sebesar ini? Siapa yang membuatmu hidup berkecukupan? Bahkan kau tak mau meneruskan usahaku pun aku diam saja!! Kini kau malah menuduhku berselingkuh?!” Wajah Papa memerah, kenapa dia begitu marah?? Kalau memang dia tak melakukannya dia bisa membuktikannya.


“Lalu, ke mana saja Papa sampai selarut ini?”


“Bukan urusanmu!”


“Apa kau tahu kalau Mama saat ini sedang terbaring lemas di ICCU?”


....


Papa terdiam, wajahnya berkerut. Rahangnya yang mengeras langsung lemas. Sejenak kemudian ia melingsut pergi dari hadapanku. Kembali menuju ke arah pintu keluar dan menyuruh sopirnya berangkat ke rumah sakit.


Aku memandangnya dengan heran! Kenapa juga dia mencari wanita lain kalau nyatanya masih begitu menyayangi mama?


Kenapa perasaan manusia begitu rumit?!


Kenapa hati manusia tak pernah bisa di tebak?!


Kenapa? Kenapa harus ada ikatan kalau kau tidak bisa setia?!!


ARHG!!!


Aku membanting meja kaca di hadapanku sampai pecah berhamburan. Membuat seluruh pelayan di rumah menyerbu keluar.


“Tuan!!”


“Pergi kalian!!” usirku, kemarahan dan rasa tidak terima menyelimuti hatiku.


Kenapa cinta bisa menjadikan manusia mulia sekaligus menjadi hina?!


— MUSE S5 —


Wajahku kusut dan juga terlihat kacau. Kantong mataku membesar dan lingkaran hitamnya nampak jelas. Semalaman aku tidak tidur tentu saja wajahku kusut.


Aku kembali menanti mama di rumah sakit. Melihatnya di balik dinding kaca yang tebal. Mama belum juga sadar, papa masih duduk terdiam di samping ranjangnya. Tak ada air mata, tak ada suara, tak ada belaian. Hanya kesunyian, keheningan, dan rasa bersalah yang menyelimuti aura keduanya.


Aku mengepalkan tanganku geram, ingin menagih janjinya sebagai seorang lelaki yang akan membahagiakan keluarganya. Ingin menagih janjinya yang akan menemani dan setia pada istrinya sampai ajal menjemput. Ingin menagih janjinya sebagai seorang pria sejati di hadapan istri dan pemuka agamanya dulu.


Aku geram, marah, sakit, dan benci. Tapi melihat punggungnya yang berkelung lesu juga membuatku iba. Bagaimana pun dia juga papaku, pria yang mengajariku tentang arti kekuatan, keteguhan, dan kemandirian. Dia yang menjadikanku seorang pria, aku tumbuh dengan melihat punggung itu, mencontoh punggung itu.


Tring ... 🎶


Lagi-lagi Bella menghubungiku. Aku tak mau mengangkatnya saat ini. Aku tak ingin bertemu dengannya saat ini. Aku sedang kehabisan kesabaran, aku takut suasana hatiku yang buruk malah akan membuatnya menjadi bulan-bulanan akan kekesalanku.


BELLA:


Hubungi aku Lucas.


Aku mengkhawatirkanmu.


Tring ... 🎶


Nada dering ponsel kembali menyala, kali ini bukan dari Bella. Tapi dari orang suruanku.


“Bagaimana?” tanyaku tanpa basa basi saat mengangkat ponsel.


“Namanya Fransisca, seorang pel4cur tetap di club X. Dia sudah berhenti bekerja beberapa bulan belakangan ini, Boss.” Lapornya.


“Bisa kau beri tahu aku alamat rumahnya?” tanyaku.


“Dia sedang tidak di rumah saat ini, aku mengawasinya. Dia berjalan-jalan di Mal, ku susul saja dia kemari.”


“Baiklah, di mana posisimu?”


“Di Mal P.”


“Baik, aku ke sana sekarang.”


Tanpa ragu aku mengambil mobilku, berkendara dengan cepat menuju ke Mal yang di tunjuk oleh Miko, orangku tadi. Aku akan mengancamnya untuk menjauhi papa atau aku akan membunuhnya.





“Dia di sana, Boss!” Miko menunjuk seorang wanita dengan potongan rambut curly, ia menenteng tas mewah dengan harga ratusan juta. Tentu saja pel4cur murahan tak akan pernah bisa membeli tas itu.


“Ini bayaranmu!” Aku memberikan sebuah amplop coklat pada dadanya.


“Thanks, Boss.”


Aku kian mendekat, memandang tajam pada wanita itu. Ia sedang sibuk mencobakan baju pada tubuh seorang wanita lain. Tanpa ragu aku menarik bahunya untuk fokus ke arahku.


Wajahnya berkerut kebingungan, namun kerutan di wajahnya ternyata tak bisa mengalahkan kerutan di wajahku yang menyadari akan sesuatu hal yang salah, ya, hal yang teramat SALAH!!


“Lucas?”


“Ella?!!”


— MUSE S5 —


SEKILAS INFO


Ken : wah, sakit Thor sakit.


Author : lebay ah.


Ken : Kaya sinetron yang suka aku lihat Thor.


Author : lu kaya ibu-ibu kompleks aja.


Ken : wkwkwkw, tapi lebih suka liatin Inggrid pas mandi thor.


Author : ehla busyet dah, timbilan ntar.


Ken : emang dulu author ga suka intipin cowok pas mandi? 🤔


Author : wah iya, itu hobi author selain ngupil sambil rebahan. 😂🤭


Ken : sembari Author kita haluin mas mas ganteng mandi di kali, (untung aja ga nyambi bikin lele kuning dah.) kalian like aja novel ini ye, teros di comment, teros di vote. Biar author tercantik sejagad mangatoon happy.