
MUSE S5
EPISODE 21
S5 \~ ANAK SIAPA?
\~ Kenapa aku tidak bisa memilikimu?
Kenapa aku tak bisa mendapatkan cintamu?
Kenapa kita tak bisa saling memiliki padahal kita saling mencintai?\~
______________________
BELLA POV
Belaciaquin, nama yang cantik, pintar, dan juga punya arti yang dalam. Namun nyatanya hidupku tak sama dengan arti nama itu. Tumbuh dalam sebuah keluarga sederhana dan kehilangan figur seorang ayah di usia dini. Dengan seorang ibu pekerja malam yang tak pernah berada di rumah membuatku kehilangan kasih sayang keluarga.
Aku seorang anak yang kekurangan cinta dan kasih sayang.
Aku seorang anak yang merindukan dekapan dan juga kehangatan belaian penuh rasa sayang dari orang terdekat.
Pertemuanku dengan Lucas juga besarnya rasa cinta yang muncul di tengah kami berdua membuatku kembali menemukan kebahagiaan. Kasih sayang yang diberikan Lucas membuatku begitu mencintainya. Aku tak peduli orang lain menganggapku serendah apa saat ini, karena aku hanya butuh dia di sampingku.
Aku merangkak untuk mendekatinya, meminta pengampunan akan kesalahan mamaku yang telah membuat keluarganya hancur dan mamanya meninggal.
Namun, Lucas menolakku, dia tak lagi menginginkanku.
Aku tak terima, semua bukan salahku!! Semua bukan keinginanku.
Lucas memaksaku membuka kaki, menghujamkan tubuhnya masuk ke dalam tubuhku. Sakit dan perih, menyesakkkan. Perutku berdesir karena rasa miris dari persatuan kami.
Rintihan kesakitan terdengar riuh memenuhi relung hatiku. Hatiku sakit, hatiku terluka, aku merana karena rasa cinta yang tak bisa ku miliki.
•
•
•
Lucas pergi setelah menghempaskan tubuhku. Di meninggalkanku.
Jangan pergi, Lucas, jangan tinggalkan aku. Tetaplah di sini, sayang. Aku akan mengingatkanmu pada kenangan manis kita, akan cinta kita, akan rasa bahagia yang pernah kita rajut bersama. Berikan aku satu kesempatan lagi untuk membuatmu kembali jatuh cinta padaku.
Aku membutuhkanmu sekarang di sisiku, Lucas. Dan ku tahu kau pun begitu.
Jangan tolak aku, karena hatiku terlalu sakit saat menerima penolakan ini.
Aku mohon, tetaplah di sini, di sisiku. Jangan tinggalkan aku, aku ingin kau di sini bersamaku.
Jangan katakan kalau kau tak lagi mencintaiku, Lucas. Karena bagiku cintamu adalah nyawaku. Kau lah separuh napasku, kau lah oksigen yang membuatku hidup, tanpamu aku lemas dan tak berdaya, tanpamu aku mati, tanpamu aku bukan siapa-siapa.
Jeritan di dalam hatiku berangsur-angsur melirih. Aku menangis dalam kesendirian, terisak dalam kesesakkan.
Bagiku yang selalu kekurangan cinta dan kasih sayang, kehilangan cinta dan kasih sayang Lucas adalah hal paling menyakitkan yang pernah terjadi dalam hidupku.
“Don’t say good bye, Lucas.”
— MUSE S5 —
LUCAS POV
“Brengsek!!!” Aku berteriak di pinggir sungai, membuat semua orang yang berada di dekatku menoleh.
Aku terduduk pada pinggir sebuah sungai restorasi di taman kota. Di tanganku terdapat sebotol minuman keras dan juga rokok. Aku telah menghabiskan setengah isi botol itu. Ucapanku mulai merancau, pikiranku mulai mengarah ke hal yang tidak logis. Aku ingin mati dan menyusul mama, tapi bukankah itu berarti aku menyia-yiakan pengobanannya selama ini??
Kenapa???
Kenapa aku harus kehilangan dua orang wanita yang ku cintai secara bersamaan?
Andai saja mama tidak berkorban demi papa, aku pasti memperjuangkan Bella di sisiku. Tapi mama, dia berkorban demi kebahagiaan papa dengan wanita itu, masakkah aku tega merusaknya demi cintaku?
Aku mengepulkan asap rokok ke atas kepalanya, sudah lama aku berhenti merokok, terakhir saat masih SMA dan entah kenapa malam ini aku kembali menjangkau kenikmatan semu ini lagi.
Aku menyesap ujung gulungannya dalam-dalam, baranya memerah karena hisapan kencang. Kepulannya membuatku terbatuk, aku sepertinya belum kembali terbiasa dengan rasanya.
“Uhuk!! Uhuk!!”
“Sialan!! Bahkan rokok pun tak memihak padaku,” lirihku sebal, aku lantas berbaring pada hamparan rumput gajah yang sengaja di tanam oleh pemerintah.
Aku memandang ke atas angkasa, langit gelap dengan awan yang pekat. Beberapa bintang terlihat menghiasi angkasa luas, apakah mamaku telah menjadi salah satu bintang di antara ribuan bintang? Aku memejamkan mataku, membayangkan kasih sayang mama yang selama ini aku terima.
Sekelibat bayangan wajah Bella ikut muncul. Wajahnya yang cantik terus dipenuhi dengan air mata dan juga guratan kekecewaan. Hatiku langsung berdesir, rasanya sungguh tidak nyaman. Aku baru saja memaksanya untuk melayani nafsuku, aku baru saja merendahkannya, aku baru saja meninggalkannya.
Andai saja aku tidak jatuh cinta pada Bella, apakah hatiku akan sesakit ini juga?
“Pergilah dari hidupku, Ella!!! Pergilah dari benakku!! Pergilah dari hatiku!!” ku suarakan isi hatiku dengan lantang.
“PERGILAH!!!!” rancauku.
— MUSE S5 —
AUTHOR POV
Bella menangis di sudut kamarnya. Sudah hampir satu bulan berlalu sejak perpisahannya dengan Lucas. Lucas tak pernah menghubunginya, juga tak pernah bisa dihubungi. Bella hampir menyerah dan membunuh dirinya, namun sesuatu hal menyadarkannya akan sesuatu. Saat ia mengambil pisau dapur, rasa mual yang tajam membuat Bella menghentikan aksinya.
“Hoek!! Hoek!!!”
Bella berlari menuju ke kamar mandi, dia memuntahkan semua makanannya. Hanya sedikit karena makannya memang tidak banyak. Bella kehilangan nafsu makannya karena memikirkan Lucas. Beruntung masih ada Tasya sahabatnya yang selalu mendukung Bella. Tasya menemani dan memberi Bella kekuatan diminggu-minggu pertamanya, namun seminggu terakhir Tasya tak terlihat karena sibuk mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi.
“Maagku kambuh lagi.” Bella bangkit dan membersihkan mulutnya dengan air keran.
Sudah hampir satu bulan rumah yang di tinggalinya terasa sepi dan menyesakkan. Sudah hampir sebulan juga mamanya tidak pulang ke rumah.
“Bisakah aku keluar dari semua penderitaan ini?” gumam Bella, pandangannya masih menyisir pada setiap sudut ruangan dengan rasa kecewa.
Bella sudah kehilangan keberaniannya untuk mengakhiri hidup. Dia memilih untuk duduk pada sofa di ruang tamu dan meminum sekotak susu UHT coklat dingin, entah kenapa dia begitu menginginkannya pagi ini. Rasanya yang manis dan dingin membuat dahaga Bella menghilang.
“Enak sekali, kenapa susu biasa bisa berasa seenak ini?” ujar Bella seakan bertanya pada dirinya sendiri.
BRAK!!
Suara pintu terbuka.
Pandangan Bella langsung beranjak pada orang yang membuka pintu rumahnya. Seorang lelaki tegap dan wanita cantik.
“Mama??” Bella kaget saat melihat mamanya pulang dengan seorang laki-laki yang tak lain adalah papa dari Lucas.
“Dia anakku, namanya Belaciaquin. Cantik bukan?” Fransisca menggandeng Rony masuk ke dalam rumah.
“Bella, ini Om Rony, kekasih Mama. Calon Papa barumu, kami akan menikah bulan depan. Kau bisa memanggilnya Papa.” Fransisca yang juga tidak tahu tentang hubungan Bella dan Lucas tertawa renyah saat mengenalkan Rony pada putrinya.
“Hallo, Bella. Senang berkenalan denganmu.” Rony mendekat dan hendak menjabat tangan Bella.
Bella membeku, bukankah pria ini baru saja kehilangan istrinya. Bukankah pria ini harusnya sedang berada di rumah dan menangisi kepergian istrinya? Bukankah pria ini harusnya sedang menenangkan hati anaknya yang gundah karena kepergian wanita yang paling dia kasihi?
Bukannya menjabat tangan Rony atau pun memperkenalkan diri. Bella justru meneteskan air matanya. Membuat pasangan di depannya terheran-heran.
“Bella?? Kau baik-baik saja?!” tanya Rony.
Sekarang Bella tahu alasan kenapa Lucas bisa begitu membencinya. Sekarang Bella tahu kenapa Lucas menyerah terhadap perasaan mereka.
“Maaf, aku tidak bisa. Tidak bisa.” Bella tertunduk dan menangis.
“Bell??? Apa maksudmu? Apa kau sedang sakit?” Fransisca mendekati Bella, ia mengelus punggung Bella.
“Tidak!! Jangan sentuh aku!!” Bella menepisnya.
Fransisca geram, namun ia berusaha menutupi amarahnya di depan Rony. Ia tak ingin Rony tahu bahwa Fransisca kerap kali menyiksa Bella. Fransisca sudah berubah, setidaknya itu yang ingin ia tunjukkan pada calon suaminya.
“Sudah, Sisca, namanya juga anak muda. Mereka masih labil, berikan saja waktu, aku juga punya seorang putra yang marah saat mendengar hal ini. Namun buktinya dia menyerah dan mengizinkan kita menikah, bukan?” Rony menggapai tangan Fransisca dan merangkul pundaknya.
“Om akan berusaha menjadi pengganti Papamu, Bella. Om akan berikan semua yang kamu mau.” Ronny menepuk pundak Bella, namun Bella malah menunduk dan memilih untuk menghindari pembicaraan mereka.
“Aku anggap diam sebagai kata setuju.” Fransisca memecah keheningan.
“Kita harus merayakannya dengan makan malam bersama. Aku juga ingin mengenal Lucas lebih dekat.” Fransisca membantu Rony duduk di atas sofa.
“Baiklah, akan aku atur waktunya.” Rony tersenyum.
“Bagaimana, Bella? Kau pasti senang bukan? Kau akan punya seorang kakak yang tampan.” Fransisca tak henti-hentinya tersenyum. Ia tak pernah menyadari betapa hati Bella terluka karena ucapannya.
— MUSE S5 —
Bella melangkahkan kakinya masuk ke dalam sebuh ruangan remang bernuansa elegan. Sebuah restoran berbintang lima dengan fine dinningnya yang terkenal menyambut Bella. Bella telah berdandan cantik, ia memakai dress merah pemberian Lucas yang pernah membuat Lucas begitu terkesima padanya. Lekukan tubuh Bella terlihat begitu luar biasa, dadanya yang sintal dan juga pinggulnya yang lebar membuat Bella menjadi pusat perhatian malam itu.
Bella mengekor mamanya lalu duduk di kursi yang telah disediakan. Selama mamanya bercengkrama dengan kekasihnya, mata Bella tak berhenti tertuju pada sosok lelaki tampan. Lelaki itu telah datang sebelum Bella, ia duduk di samping papanya. Wajahnya yang tampan terlihat mengeras, sepertinya sedang menahan diri untuk tidak marah karena adegan mesra yang ditunjukan oleh kedua orang tua mereka.
“Lucas, ini Bella. Bella ini Lucas.” Rony berusaha mengenalkan ke duanya, namun mereka hanya diam tanpa kata.
Rony dan Fransisca heran, namun memilih untuk mengerti perasaan mereka. Mungkin anak-anak masih belum rela orang tuanya memperoleh pasangan yang baru.
Pelayan menyuguhkan buku menu, mereka juga menuangkan air dan anggur pada gelas tinggi. Bella memandang wajah Lucas begitu pula Lucas.
“Kenapa tidak menghubungiku?” tanya Bella. Tidak ada jawaban.
“Kenapa tidak membalas pesanku?” tanya Bella lagi. Tidak ada jawaban.
“Kenapa menanggung semuanya sendirian?” tanya Bella, kali ini lebih keras, membuat Fransisca mendelik padanya.
“Kalian saling mengenal?” tanya Rony.
“Tidak,” jawab Lucas singkat.
“Lucas, bagaimana bisa kau...,” lirih Bella. Bella tak meneruskan ucapnnya, ia bangkit melepaskan dan membanting lap makan di atas meja.
“Maaf aku tak bisa meneruskan makan malam ini.” Bella beranjak dari kursinya, ia pergi ke luar dari restoran itu.
Bella melepaskan heel tinggi karena kakinya sakit saat berlari. Ia menyelusuri jalanan raya dengan kaki telanjang, membiarkan kerikil kecil menggores telapak kakinya. Semula hanya sedikit, lama-lama darah segar membekas pada jejak kakinya.
Aku kira akan ada perjumpaan yang manis. Aku kira dia akan mengenalkanku sebagai kekasihnya dan menyanggah hubungan kedua orang tua kami. Pikir Bella, dalam hatinya dia masih berharap akan mendapatkan cinta Lucas.
Apa aku terlalu egois Tuhan? Apa aku terlalu serakah hanya karena menginginkan kebahagiaan untukku sendiri? Bella terjatuh, kini lututnya pun terluka.
Tiba-tiba sebuah jas menyelimuti pundak Bella, membuat Bella terkesiap. Lucas berdiri di sampingnya.
“Kenapa kau tidak menyerah, Bella? Kita tidak ditakdirkan bersama.” Melihat Bella terluka membuat hati Lucas merana, tapi ego dan emosinya masih meluap, apalagi setelah menonton kemesraan Rony dan Fransisca yang seakan-akan tidak merasa bersalah.
“Sudah aku bilang, aku mencintaimu Lucas. Aku mencintaimu!!!” tandas Bella. “Aku tahu hatimu terluka, aku tahu kau ingin menjerit, aku tahu ini berat bagimu. Tapi, ini juga sangat menyakitkan bagiku, Lucas.”
Bella terisak, Ia bangkit untuk mendekap Lucas. “Ku mohon, Lucas. Terima aku lagi, cintai aku lagi!”
“Pergilah dariku, Bella!! Enyahlah!! Besok lagi jangan lalukan hal bodoh seperti ini di depan mereka!” Lucas melepaskan dekapan Bella dan meninggalkannya.
Kenapa aku tidak bisa memilikimu?
Kenapa aku tak bisa mendapatkan cintamu?
Kenapa kita tak bisa saling memiliki padahal kita saling mencintai?
— MUSE S5 —
Esoknya ...
“Hoek!!! Hoek!!!” Rasa mual semakin tajam setiap harinya, tubuh Bella semakin kurus dan lemas.
Kenapa aku muntah terus?! Bella meyibakkan rambutnya yang kacau, ia mondar mandir seperti setrikaan di dalam kamarnya. Bella menaikkan kaosnya, menatap perutnya, memang sepertinya sedikit menonjol, tapi bukankah hal yang wajar karena dia akan menstruasi.
“Tunggu!! Bulan lalu aku belum datang bulan.” Bella bergegas melihat ke aplikasi pencatat masa haid.
Masa??? Bella menutup mulutnya tak percaya.
Dengan cepat Bella menyambar kunci motor dan membeli test pack. Dengan gemetaran Bella membuka bungkusan biru dan mengambil dua buah benda pipih itu sekaligus. Bella menarik napasnya panjang-panjang sebelum akhirnya mencelupkannya pada sample urin.
“Kumohon jangan!! Kumohon!!” Bella terus berdoa menunggu satu menit berlalu.
Belum sampai satu menit, perut Bella kembali teraduk-aduk dan merasa mual. Bella langsung bergegas memutar tubuhnya dan memuntahkan isi perutnya pada closet.
“Hoek!! Hoek!!!” Setelah muntah, Bella terjatuh, ia sangat lemas.
Tangan Bella menggerayang naik ke meja wastafel, mencari keberadaan dua buah test pack. Ingin segera mengetahui kebenarannya, apakah dia hamil atau tidak?
“Bella!! Di mana kamu???!” teriakkan Fransisca membuat Bella terkejap.
“Tunggu, Ma,” sahut Bella.
Bella membuka telapak tangannya, hatinya langsung ambles saat melihat dua garis merah terpampang pada tiap-tiap test packnya.
Hamil?? Aku hamil?!
“BELLA!!” teriak Fransisca lagi, ia mulai tidak sabar karena Bella tak kunjung keluar dari kamar mandi.
DOK!! DOK!!
“Bella!! Keluar!! Mama mau bicara!” Fransisca yang geram karena sikap Bella semalam mulai tidak sabar, ia menggedor pintu kamar mandi.
Bella tak mengindahkan panggilan mamanya, ia masih terus tertuju pada dua buah garis di hadapannya. Benda itu memberi tahunya bahwa saat ini ia tengah mengandung buah cintanya dengan Lucas.
Apakah ini bisa menjadi alasan baginya untuk kembali mendapatkan cinta Lucas?
Ataukah malah sebaliknya?
Bella bingung, dalam kebingungannya tubuhnya merespon dengan cara yang lain.
“Hoek!!! Hoek!!” Bella muntah lagi.
BRAK!!
Fransisca yang curiga memaksa membuka pintu kamar mandi.
Ia mendapatkan anak gadisnya tengah muntah di atas closet sembari menggenggam dua buah benda kecil berwarna biru. Dengan cepat Fransisca menyahutnya. Matanya sama lebarnya dengan Bella saat mengetahui hasilnya.
“Bella??! Kau hamil??!” tanya Fransisca.
Bella tak menjawab, ia membersihkan mulutnya dengan tisu.
“Anak siapa???!!” Fransisca menarik rambut Bella agar gadis itu mau memandang wajahnya.
“Sakit, Ma. Sakit!!” rintih Bella.
“Katakan, Bella!! Anak siapa ini?”
“Hiks ... Apa sungguh mama ingin mengetahuinya? Mengetahui siapa ayahnya?” Isak Bella, matanya memandang Fransisca dengan penuh kebencian.
“Tidak, Bella!!! Jangan bilang kalau ini anak Lucas???!!”
Fransisca tertegun saat mengingat kembali perjumpaannya dengan Lucas di Mal dan restoran malam kemarin, ternyata putrinya dan calon putranya punya hubungan yang lebih serius dari pada hanya sekedar saling mengenal.
— MUSE S5 —
Love
Like
Comment
Vote
❤️❤️❤️