
MUSE S2
EPISODE 63
S2 \~ JAWABAN
\~ Aku butuh jawabannya, apa arti diriku dalam hidupnya? Apakah dia juga mencintaiku? Apakah dia sudah mau membuka hatinya untukku?\~
•••
Kalila memberiku kaos berwarna pink dengan gambar anak kucing. Aku memakainya, lebih baik, sih, dari pada terus bertelanjang dada dan masuk angin. Tapi tak ku sangka ternyata kaosnya sangat ketat. Mata anak kucing ikut peyot tertarik oleh lebarnya bahu dan punggungku. Tapi yang paling gila parah karena pusarku masih terlihat.
Kalila tertawa terbahak-bahak melihat penampilanku saat ini. Aku juga pasti akan tertawa kalau melihatnya pantulan diriku di depan kaca. Tapi memang cinta itu aneh, aku bahkan rela tak melapas baju pemberiannya agar dia tetap tertawa.
•
•
•
Pagi ini kami sarapan bersama. Baru kali ini aku memasak untuk seorang wanita. Sudah lama aku tak menginjakkan kakiku di dapur. Terakhir kali aku melakukannya saat kuliah dan itu pun hanya sebatas memasak mi instan.
Aku mengikuti instruksi yang diberikan oleh Kalila, aku membalik telur dan juga menumis sayurnya dengan sempurna. Kini tinggal rasanya. Aku hanya mengira-ira saja garam dan ladanya. Aku menyicip sedikit kuah sayur dan setelah merasa cukup asin aku memindahnya ke atas piring saji.
“Silahkan, Tuan Putri. Cobalah masakan hambamu yang hina ini,” tanganku menata dengan rapi lauk dan dua mangkuk bubur ke atas meja pantry.
“Wah, hebat. Aku kira bakalan gosong.” Kalila bertepuk tangan.
“Coba dulu, aku tak yakin dengan rasanya.”
“Enak, kok.” Kalila mengangkat kedua ibu jarinya sebagai tanda pujiannya padaku.
“Benarkah?! Syukurlah kalau kau suka.” Aku mengelus kepalanya, rambutnya sangat lembut.
Kami mengobrol singkat sambil menikmati sarapan. Melihat Kalila menikmati bubur buatanku dengan berbinar bahagia ikut membuatku merasa bahagia. Kini aku tahu kenapa Mama selalu membuat sarapan untuk kami dengan tangannya sendiri. Dan kenapa Papa begitu menyukai saat-saat bersama keluarganya di pagi hari. Hanya aku dan Kak Lenna yang selalu memprotes menu masakan Mama yang berpuntar itu-itu saja. Ternyata jauh di dalamnya ada makna yang begitu luar biasa dari sebuah kata ‘kebersamaan’.
Aku menatap wajahnya yang terlihat semakin cantik karena rona merah yang menyemburat pada garis tulang pipinya. Apa lagi saat Kalila menyisir masuk rambutnya dengan telunjuk ke belakang telinga. Oh, God, aku menyukainya. Aku ingin memilikinya.
Tanpa sadar tubuhku bergerak mendekatinya. Aku menahan tubuhku, bersandar dengan kedua tangan pada dudukan kursinya. Aku memutar kursinya agar kami saling berhadapan. Sama-sama memandang dalam diam.
Aku ingin mengungkapkan isi hatiku padanya.
Aku ingin dia tahu bahwa aku sungguh-sungguh mencintainya.
Aku ingin dia tahu bahwa hatiku selalu berdegup kencang saat bersamanya.
“Aku mencintaimu, Baby. Aku serius.”
Aku mengambil sendok dari tangannya dan meletakkannya pada meja.
Aku mengarahkan tangannya pada dadaku, membuatnya ikut merasakan debaran itu. Aku ingin mengatakan seribu kali padanya, bahwa aku mencintainya.
“Arvin.”
“Kalila.”
Aku mencium bibirnya, lekat dan dalam. Menikmati tiap alunan gerakkan dari bibirnya yang ranum dan penuh. Aku ingin menghabiskannya, mellumatnya lagi dan lagi. Menghisapnya sampai tak tersisa.
Aku memberikannya jeda untuk bernapas, deruan napasnya terasa panas dan membuatku bergairah.
Begitu sensualnya aroma manis yang keluar dari tengkuk Kalila. Aku menurunkan tanganku untuk menggapai pinggangnya. Kalila mengikuti irama gerakanku dan menautkan lengannya melingkar pada leherku. Jemarinya meremass pelan kemeja lengan panjangnya. Kalila menahan tubuhnya yang bergetar saat aku menggigit lehernya pelan.
Aku kembali menciumnya, menikmati manis dan hangatnya bibir Kalila.
“Jadi apa jawabanmu, Kalila?”
Aku butuh jawabannya, apa arti diriku dalam hidupnya? Apakah dia juga mencintaiku? Apakah dia sudah mau membuka hatinya untukku?
Kalila memandangku dalam diam, seakan tak tahu harus menjawab apa. Aku tahu aku terlalu terburu-buru. Tapi aku sungguh tak bisa menunggunya. Aku akan mengobati hatinya yang terluka, dan aku butuh dia untuk mengobati jiwaku yang rusak.
— MUSE S2 —
•••
Aku kembali mencium leher Kalila sembari menunggunya menjawab pertanyaanku. Ciumanku membuatnya melengguh pelan, suara meedu itu membuatku semakin ingin meneruskannya. Lebih panas dan lebih intim lagi.
Aku bangkit untuk menutup pintu geser, lalu menutup kordennya. Kalila hanya diam saat aku melakukannya. Mungkin dia juga merindukanku, mungkin juga sudah jatuh dalam pesona kenikmatan yang sama denganku.
Aku kembali menghampirinya, mencium bibirnya lebih panas dan tak beraturan. Aku membuka bajuku dihadapannya. Kalila membuang mukanya, kamar memang gelap, tapi aku masih bisa dengan jelas melihat wajahnya yang memerah.
Kami masih berciuman lekat saat aku menggendongnya, sekejap kemudian aku berhasil merebahkannya di atas kasur.
“Tunggu, Kak!” Kalila menahan tubuhku dengan telapak tangannya.
“Argh...,” Kalila melengguh kasar saat tanganku mengusap naik melalui sela-sela kancing bajunya.
Suara deruan napasnya, dan juga detak jantungnya, bercampur membentuk sebuah melody yang indah.
Namun indahnya melody itu tak bertahan lama saat tiba-tiba terdengar bunyi bel pintu.
TING TONG...
Kami berdua kaget dan spontan menengok ke arah pintu masuk. Si*lan, br***sek. Siapa yang mengganggu kesenanganku pagi ini?
“Kak, ada tamu.” Kalila mencoba untuk mendorong tubuhku. Namun aku masih tetap menahannya.
“Nggak usah dibuka!”
TING TONG...
TING TONG...
TING TONG...
“F*ck!!” umpatku.
Aku membebaskan Kalila, lalu bangkit dan memakai kaos kekecilan itu lagi.
TING TONG...
“Iya sebentar.” kata Kalila, ia melirik siapa yang datang pada lubang di tengan pintu.
“Permisi, apa Tuan Arvin berada di sini? Aku mengetuk kamarnya dan tak ada jawaban.” Aleina bertanya saat Kalila membukakannya pintu.
“Iya, dia di sini. tolong bawa dia pulang.”
“Hei, Baby?!” protesku, aku belum mau pulang.
“Dan kau Aleina!! Berikan aku satu alasan agar aku tidak memecatmu?!” geramku, ternyata yang mengganggu kami berdua adalah sekretarisku sendiri.
“Meeting senilai satu juta dollar?” Aleina mengangkat bahunya meminta pendapat akan alasannya.
“Ah..., kau benar.” Aku hampir lupa ada meeting penting pagi ini.
“Jadi saya tak jadi dipecatkan?” Aleina memandangku. Lalu dia menahan tawanya. Ya pasti gara-gara kaos ini. Shit!! Kenapa? Kenapa nggak ada yang lancar pagi ini?
“Kalau tertawa aku pecat!!” Aku beranjak keluar kamar.
Kalila terlihat ikut menyembuyikan tawanya. Membuatku semakin gemas saja.
“Kita lanjutkan nanti malam, OK!” bisikku membalas ejekkannya.
“Enggak mau!! Sana pergi!! Pergi!!” usir Kalila. Dasar! Kenapa, sih, wanita suka nggak mau jujur sama diri mereka sendiri? Jual mahal aja sukanya.
“Apa tuan mau makan sesuatu sebelum bekerja?” tawar Aleina.
“Tidak, ayo kembali ke kamarku. Kau bawa kunci duplikatnyakan?”
“Anda tidak membawa kunci?” Aleina terbelalak.
“Iya, tertinggal di dalam.”
“Lalu bagaimana cara anda ke rumahnya Tuan?” Aleina keheranan.
“Dengan kekuatan CINTA,” jawabku ngawur.
— MUSE S2 —
MUSE UP lagi
Yuk di like
Yuk di Comment
Yuk di Vote
Ada hadiah buat 3 voter terbanyak. Event sampai tgl 15 mei 2020
Jangan lupa ajak teman, ayah, ibu, kakek, nenek dan adek buat baca MUSE.
Biar MUSE TANBAH FEMES
AUTHORNYA NAMBAH KECE
LOVE YU SAYANGKUH...