
MUSE S7
EPISODE 12
S7 \~ TERPAKSA BOHONG
Semuanya bersorak kegirangan. Dengan lahap melahap nasi ayam. Levin bisa menghela napas lega, kesalah pahaman ini akhirnya berakhir meski pun harus mengarang sebuah kebohongan lainnya.
________________
“Sudah-sudah, jangan begitu. Levinkan melakukan itu karena terpaksa. Leoni yang minta.” Bryan membela Levin.
“Anying!!” Kali ini Leoni yang mengumpat. Leon mendelik galak pada putrinya.
“LEONI!!!”
“Waaa!! Ampun Papa,” jerit Leoni.
“Siapa yang ajarin ngomong kasar?” Leon mencubit pipi Leoni sampai melar.
“Adududuh ... sakit, nggak ada yang ajarin kok, Pa.” Leoni menggosok pipinya yang merah.
“Itu bahasa remaja jaman now, Om. Bukan bahasa kasar,” celetuk Farel, Levin langsung melengos ke arah temannya.
“Diem, Rell!!! Udah diem aja! Biar cepetan kelar penghakimannya.” Levin berasa pengen nyumpalin mulut Farel dengan ayam goreng. Sayang tadi belum sempat beli sudah terciduk duluan.
“Wah, tambah rame, untung saja aku belinya banyak.” Kanna kembali dengan nampan berisikan dua keranjang ayam, dan juga nasi. Di belakangnya, ada pelayan yang membantu membawa 7 piring, 7 softdrink dan es krim.
“Yak, anak-anak. Kita makan dulu.” Kanna menaruh nampannya. Merasa harus mengisi perut mereka semua.
“Horee!!!” teriak mereka semua. Cuma Leoni dan Levin yang masih merengut. Wajahnya tertekuk heran. Bisa-bisanya mereka mengharapkan makan ketika temannya dalam bahaya.
“Giliran makan aja no satu,” cibir Levin.
“Makasih ya, Tan....tee....” nadanya jadi panjang. Farel, Chico, dan Bryan kaget melihat sosok Kanna, mamanya Leoni. Terpesona. Memang bidadari Kanna belum kehilangan pesonanya. Masih cantik seperti dulu.
“Benaran itu Mamamu, Singa?” tanya Bryan cengoh.
“Beneran?” Chico ikutan nggak percaya.
“Iya, selebgram. Cek Medsosnya.” Levin mendengus, menggantikan Leoni menjawab pertanyaan mereka. Ketiganya membuka ponsel.
“Selebgram, Bidadari Kanna,” ujar Farel tak percaya.
“Hahaha, itu akun lama. Sekarang Tante sudah pakai akun baru. Hanya fokus pada beauty tips and trick. Blogger kecantikan.” Kanna membagi makanannya pada mereka semua.
“Ow, begitu.” Angguk mereka bersama.
“Ini untukmu, Sayang. Coba ceritakan apa yang sebenarnya terjadi.” Kanna menyodorkan nasi ayam ke depan Leoni, aroma gurih lemak yang tergoreng sempurna membuat air liur menetes. Apalagi bunyi kriuk dari kulitnya yang cruncy, semakin nikmat dengan nasi hangat dan segarnya soft drink rasa lemon lime.
“Makasih, Ma!” Leoni menerima piring, tapi tangan Kanna menahannya.
“Eits ...! Belom boleh makan kalau belum cerita.” Ancam Kanna penuh penekanan. Ancaman yang lebih menakutkan dari pada tatapan Papanya.
Keempat cowok teman sekelasnya itu ikutkan menelan ludah mereka kelaparan. Kalau nggak cerita nggak boleh makan. Alamak berat sekali penderitaan mereka siang ini.
“Benar, Sayang!! Lihat itu kulitnya menggoda bukan?” Kanna tersenyum licik.
Hujan semakin deras mengguyur kota. Membuat kaca jendela luar mengembun. Guntur menggelegar, berbarengan dengan Levin yang menelan ludahnya dengan berat. Sebentar lagi nyawanya akan melayang.
Sembodoh dengan video, sembodoh dengan ciuman pertama hari ini, sembodoh dengan bokong Levin dan juga ponselnya!! Ayam goreng menanti. Leoni membulatkan tekat dalam hati.
“Maaf Om, Tante. Levin tak sengaja mencium Leoni. Tadi Leoni terjatuh dari tangga, lalu saat itu pula Levin menangkapnya dan bibir kami bertemu. Karena jatuh kaki Leoni terkilir dan tak bisa berjalan dengan benar, lagi-lagi tak sengaja tangannya menggerayangai Levin mencari pertolongan. Begitu ceritanya, Tante, Om.” Levin mendadak buka mulut, nasibnya dipertaruhan. Dengan begini semuanya akan baik-baik saja, peristiwa tenggelam tak akan ketahuan, dan kaki Leoni ada alasan. Kaki bengkak itu harus segera diobati.
Leoni, Farel, Chico, dan Bryan mengangga, mata mereka tak berkedip. Levin berbohong dengan sangat baik, otaknya begitu cepat merespon keadaan. Dan alasannya sangat masuk diakal.
Leoni ragu-ragu kembali duduk, ia menggaruk kepalanya. Levin lagi-lagi menyelamatkan hidupnya. Bahkan memikirkan alasan agar kakinya bisa segera diobati juga.
“Benarkah?? Kakimu sakit??” Kanna langsung bangkit, melihat kaki Leoni.
“Auch!! Jangan dipegang, Ma. Sakit!!” Kanna meringis.
“Kenapa nggak cerita sama Papa dan Mama?” Leon ikutan melihat kaki Leoni.
“Ya tadi sudah dikasih obat, Pa. Tadi sepertinya sudah nggak sakit. Leoni nggak mau bikin Papa dan Mama khawatir.” Leoni melanjutkan drama.
“Haduh dasar anak ini!! Bagaimana kalau nyatanya malah tambah parah?!” Kanna menepuk lengan Leoni sebal.
“Benar!! Sudah, ayo makan lalu ke RS.” Leon dan Kanna kembali ke posisi mereka.
“Terima kasih ya, Vin. Maaf Om tadi nuduh yang enggak-enggak.” Leon menepuk pundak Levin.
“Nggak apa-apa Om. Namanya juga orang tua, wajar khawatir.” Levin sok dewasa, Leoni dan ketiga teman seganknya melotot tak percaya.
“Kalian juga, ayo makan.” Leon menyuruh teman-teman sekelas anaknya menikmati ayam goreng penuh cita rasa itu.
Semuanya bersorak kegirangan. Dengan lahap melahap nasi ayam. Levin bisa menghela napas lega, kesalah pahaman ini akhirnya berakhir meski pun harus mengarang sebuah kebohongan lainnya.
“Thanks,” ucap Leoni berbisik dekat Levin.
“Lain kali jangan seret aku lagi, Singa.” Levin berucap lirih.
“Siapa yang ingin menyeretmu? Kalau bisa aku tak ingin berurusan lagi denganmu.” Balas Leoni.
“Enak aja, kemarin kau berhutang satu permintaan padaku. So, jangan coba-coba kabur.” Levin melirik Leoni.
Wajah Leoni menghangat, lirikkan mata Levin membuat jantungnya berdegup kencang. Tanpa sadar Leoni menelan nasi di dalam mulutnya bulat-bulat tanpa terkunyah.
“Uhuk!! Uhuk!!” Sisa nasi Leoni muncrat ke wajah Levin.
“Leoni, ya ampun, gimana sih cara makan anak gadis ini. Cepat minum air!! Ya ampun Levin, maafin Leoni, dia pasti tidak sengaja!! Ini tisu, lap dulu wajahnya.” Kanna panik melihat kedua anak remaja itu. Teman-teman Levin hanya bisa tertawa, tergelak lantang melihat kondisi mengenaskan Levin. Wajah tampannya penuh nasi.
...— MUSE S7 —...
...Yo Muse up...
...Jangan lupa dukung author dengan like dan comment. Jangan lupa juga vote!! Lap yu gaeskuh. 🥰😍🥰...