MUSE

MUSE
EPISODE SPESIAL IDUL ADHA



CERPEN SPESIAL IDUL ADHA - DINDA X JAKA


Jam belum menunjukkan pukul 4 pagi dan Dinda sudah menyelesaikan masakannya. Sayur bayan dan jagung, ayam goreng, perkedel kentang, juga kerupuk. Dengan cekatan Dinda menatanya di atas meja, lalu kembali untuk mempersiapkan teh panas juga susu untuk anak-anaknya.


“Morning, Beb.” Erza memeluk Dinda dari belakang.


“Udah bangun, Za?”


“Huum, nggak tahan sama wanginya. Lebih nggak tahan lagi soalnya nggak ada yang nemenin di bawah selimut,” gombal Erza seperti biasa.


“Ck, bisa aja, lo! Oh, iya, bangunin anak-anak gih, kita makan sahur dulu.” Dinda mengecup kening suaminya sebelum kembali berkutat dengan meja makan.


“Oh, iya, hari ini puasa Arafah, ya?” Erza mengelus lengan Dinda.


“Iya, sana bangunin anak-anak, terutama Kenzo, susah banget dia bangunnya. Gebyurin air aja kalau nggak mau bangun.” Kikih Dinda, kadang keki juga ngelihat kelakuan anak ke duanya itu.


“Pagi, Ma,” salam Kezia, si sulung dengan ceria lalu mengecup pipi Dinda.


“Pagi, Zi, Kenzo mana?”


“Masih dibangunin, Papa. Zizi bantu apa, Ma?” tanya Kezia menawarkan bantuan.


“Bantu habisin makanan aja.” Senyum Dinda.


Kezia tersenyum manis, anak sulung Dinda ini tumbuh dengan cantik. Wajahnya memang tidak mirip dengan Erza maupun Dinda karena Kezia anak angkat. Walaupun seorang anak angkat tapi Erza dan Dinda begitu menyayangi Kezia seperti anak mereka sendiri, bahkan tak pernah membedakan perlakuan kasih mereka terhadap Kezia maupun Kenzo.


“Zizi!! Kau umpetin ke mana komikku?!” teriak Kenzo begitu tiba.


“Hush, Kenzo!! Pagi-pagi teriak apaan, sih?” Dinda ngomel.


“Ini, Ma! Kak Zizi ambil komikku. Padahal Kenzo belum baca.” Kenzo mengadu.


“Enak aja komikmu, kemaren beli pake duit siapa? Nggak bakalan Kakak kembaliin kalau nggak baliin duit Kakak juga.” Kezia menjulurkan lidahnya.


“Yah, belum ada duit, Zi.” Kenzo menggaruk kepalanya lalu duduk di meja makan.


“Sudah ayo sahur dulu, keburu imsak.” Dinda menyendokkan sayur ke piring Erza, baru ke piring anak-anaknya.


Mereka menikmati makan sahur mereka sebelum memulai hari ini. Sebuah puasa yang jatuh pada hari ke 9 Dzulhijjah yg bertepatan sehari sebelum Idul Adha.


“Ma, besok ke tempat Eyang Uti lagi?” tanya Kezia tiba-tiba.


“Iya, donk, kitakan jarang berkunjung ke rumah Eyang Uti, rata-rata cuma pas hari raya karena praktek Mama libur,” jawab Dinda.


“Yah, Zizi boleh nggak ikut nggak sih?”


“Kenapa?” Wajah Erza mengeras, alisnya tertaut.


“Kan kemarin pas lebaran udah, masa iya lagi?” Kezia menyuapkan nasi masuk ke dalam mulutnya.


“Yah, silahturami itu penting, Zi. Hormat sama orang tua lebih penting lagi! Kenapa sih nggak suka ke tempat Uti?” Dinda menggenggam tangan anak gadisnya.


“Mama benar, Zi. Memang Eyang Uti kenapa?” Erza telah menyelesaikan suapannya dan ikut berpaling, fokus pada anak gadisnya.


“Erm ... nggak kok. Pengen main aja sama temen-temen.” Elak Kezia, dia tak bisa memberi tahu pada orang tuanya bahwa ia merasa Eyang Utinya sama sekali tak menyayanginya karena dia anak angkat. Cara memperlakukannya dengan Kenzo berbeda, Uti lebih sering marah padanya, menghujaninya dengan omelan, sedangkan Kenzo, cucu kesayangan bak Pangeran di mata Uti.


Kezia masih tahu diri, dia adalah seorang anak angkat, dia tak boleh mengecewakan kedua orang tuanya hanya karena cemburu terhadap Kenzo yang mendapatkan kasih sayang lebih dari Uti mereka.


“Ya, sudah ayo kita ambil wudhu dan sholat!” Erza bangkit, Dinda membereskan meja dibantu Kezia terlebih dahulu sebelum menyusul suaminya.





Dinda membungkus butiran beras ke dalam anyaman janur, rencananya mereka akan membuat ketupat untuk berbuka puasa nanti sore. Dengan telaten dan cekatan Dinda menyelesaikan tugasnya. Bi Yem dan juga Kezia sibuk mengolah daging ayam untuk kuah opor.


“Zi, sini, Mama mau bicara.” Dinda menyerahkan ketupat pada Bi Yem.


“Baik, Ma.” Kezia bangkit dan mendekat, duduk di samping Dinda.


Dinda menatap wajah anak gadisnya sesaat, selain cantik, Kezia juga sangat manis. Ia memang sedikit tomboy saat kecil karena Erza mengajarinya bermain drum. Tapi semakin besar, semakin bisa mempercantik diri. Kezia tahu kapan harus menjadi gadis cantik yang manis, kapan harus menjadi gadis keren yang menggebuk dram dengan semangat tinggi.


“Ceritakan pada Mama keseharianmu belakangan ini, Zi.”


“Tentang apa?” Kezia bingung.


“Kuliah, Band, kisah cinta, Arkash?” Dinda menyebut nama yang membuat Kezia langsung merengut sebal.


“Ck, jangan sebut nama itu, Ma. Bete Zizi.” Kezia langsung cemberut.


“Senyum donk! Baru puasa hlo!” Dinda menarik sudut mulut Kezia dengan telunjuknya.


“Iya, Ma. Habis Mama menyebut nama yang bikin gemes.” Kezia menyangga dagunya, tangannya bermain dengan sisa daun janur. Masih teringat jelas pengkhianakan Arkash padanya seminggu yang lalu, ia pergi nonton dengan teman dekat Kezia. Arkash bilang hanya menemaninya sebagai teman, namun bagi Kezia itu selingkuh, dan selingkuh harusnya tak termaafkan.


Sabar, Zi, sabar, baru puasa, nggak boleh nangis, masih banyak cowok lain yang lebih baik dari Arkash. Zizi menyemangati dirinya sendiri dalam hati, mungkin Arkash mulai bosan, mereka sudah jalan 6 tahun, dan hubungan mereka juga sudah mulai dingin.


“Zi ... Kezia?!” Dinda menggoyangkan lengan anaknya yang kedapatan melamun.


“Ah, iya Ma?” Kezia tersentak.


“Ceritakan sama Mama kenapa kamu nggak mau ke rumah Eyang?”


“Eyang nggak sayang sama Zizi karena Zizi cuma anak angkat,” kata Kezia.


“Siapa bilang?!” Dinda syok, jadi selama ini Kezia menahan diri.


“Kerasa aja, Ma. Perlakuan Eyang ke Zizi sama ke Zozo itu beda.” Kezia bangkit, mengelus dada untuk meredakan hatinya. Duh, puasa-puasa malah banyak cobaan, mulai dari kepikiran Arkash sampai pertanyaan Mama seputar perlakuan Eyang.


“Sabar, ya, sayang. Uti pasti punya alasan tersendiri.” Dinda menepuk punggung Kezia, menyalurkan rasa hangat.


“Ya udah, Zizi mau mandi terus istirahat. Kenzo sebentar lagi pulang ntar rebutan kamar mandi.” Kezia meninggalkan Dinda yang masih memandangnya lembut.


“OK.”





Tak terasa hari mulai gelap, sinar kemerahan tak lagi menelisik masuk ke dalam jendela rumah Erza dan Dinda. Berganti dengan cahaya lampu terang. Suara bedug adzan magrib terdengar berkumandang di mana-mana, membawa lantunan indah bagi segenap umat Muslim.


Mereka berempat telah berkumpul di tengah ruang keluarga, membaca doa singkat sebelum berbuka puasa.


“Alhamdulillah!” seru keempatnya, lalu mengecap teh manis hangat di temani beberapa camilan ringan dan juga buah-buahan.


“Kenzo, pelan-pelan to, Nak!” Dinda bergeleng saat melihat Kenzo menghabiskan segelas teh dengan cepat sampai tersedak.


“Haus, Ma!!” seru Kenzo.


“Ya memang, namanya juga menahan diri. Tapikan nggak berhenti di situ saja, Kenzo, setelahnya juga harus menahan diri,” tukas Dinda.


“OK.”


“Yuk sholat, lalu kita makan. Bi Yem sudah angetin ketupatnya,” ajak Dinda, ia menggandengan tangan Erza.


Gemericik air membasahi wajah juga tubuh, lantunan doa bergema di dalam hati saat mengambil air wudhu, menyiratkan pembersihan diri dari segala macam dosa dan kesalahan sebelum menghadap Allah.


Keempatnya mengambil sikap doa, memanjatkan doa menghadap ke arah kiblat. Erza menjadi iman untuk keluarga kecilnya, Dinda dan Kezia bersimpu di belakang Erza dan Kenzo.


“Amin.” Ke empatnya mengusap wajah tanda mengakhiri sholat magrib mereka sore ini.


Dinda mencium punggung tangan suaminya, diikuti oleh anak-anak mereka. Dinda memeluk Erza masih dengan rukoh putih bersih dan wajah yang berseri-seri. Erza mengecup pucuk kepala Dinda sedangkan kedua anaknya sibuk beradu mulut.


Tak ada yang lebih Dinda syukuri selain mendekap erat tubuh suaminya, sambil melihat anak-anak mereka tumbuh dengan sehat dan akur. Dinda tak pernah menyangka dirinya yang dulu begitu berdosa boleh diizinkan Tuhan mendapatkan kehidupan yang begitu indah seperti ini. Tanpa sadar Dinda menitikkan air mata harunya.


“Nangis sih?” Erza mengusap lelehan itu.


“Terharu, Za. Nikmat yang diberikan Allah sungguh luar biasa.” Senyum Dinda.


“Huum, sudah jangan nangis, harusnya malah bahagia donk.” Erza memeluk Dinda lebih erat sebelum mengecup bibirnya.





Esoknya ...


Kenzo sudah bersiap, memakai baju koko putih bersih, sarung kotak-kotak berwarna hijau tosca yang menyilaukan. Ia memakai minyak wangi cukup banyak sampai membuat Kezia pusing.


“Nyari Tuhan-lah, bonusnya cewek.” Kenzo menaik turunkan alisnya.


“Dasar kadal, pantes aja kisah asmara gw nggak pernah mulus! Karma karena adik gw playboy nya tingkat dewa!” gerutu Kezia lalu menyahut rukoh nya.


“Lo tengkar lagi sama Arkash?” Kenzo menarik lengan Kezia.


“Nggak, gw udah putus.”


“Dia bikin lo sedih, Zi? Mau gw bantu hajar?” Masalah anarki ma, Kenzo nomor satu. Ck, anak Erza bener ini bocah.


“Hish!! Yang ada malah gw dianggap cinta mati ama dia. Gw OK kok, gw nggak masalah! Gw malah seneng bisa putus dari toxic relationship kek gini.” Kezia menghela napas kasar.


“Lo pantes dapet yang lebih baik, Zi.”


“Thanks, Bro!! Elo juga pliss banget jangan gonta ganti cewek mulu! Ga kasihan apa sama Kakak lo yang cantik ini kalau dipermainan cowok?”


“Ck, kalau itu nggak janji, udah ada dalam jiwaku, Kenzo tercipta untuk mengaggumi wanita.” Gelak Kenzo disambut jitakan Kezia.


Akhirnya mereka berjalan bersama, berpisah karena Erza dan Kenzo duduk pada barisan depan. Dinda dan Kezia di barisan belakang bersama dengan para wanita lain.


Sholat dua rakaat yang disambung dengan Kotbah itu selesai dengan khitmat. Para jamaah terlihat begitu berseri-seri bahagia, setelah ini mereka akan menyembelih hewan kurban dan membaginya pada jemaah miskin dan kurang mampu. Erza mengurbankan seekor sapi dan dua ekor kambing. Kambing itu dibeli dari uang tabungan Kenzo dan Kezia, mereka sudah belajar berkurban sejak kecil, Dinda mengajarkan mereka untuk selalu menyisihkan sedikit sakunya tiap bulan.


“Zi!!” Seorang pria tampan terlihat memanggil nama Kezia. Ia juga memakai baju yang rapi dengan sarung melilit pinggangnya.


“Ngapain lo di sini??” Kezia heran, bukankah rumah Arkash beda komplek, ngapain cowok itu sholat di sini? Kesasar atau memang sengaja nyasar?


“Gw mo minta maaf.”


“Udah gw maafin kok, semoga elo bahagia ya,” tukas Kezia. Masih tak mau memandang wajah tampan lelaki di depannya.


“Ck, galak amat sih. Please maafin gw donk Zi. Masa elo tega buang kisah cinta kita selama enam tahun gitu aja?” Arkash mengambil tangan Kezia.


“Lepasin!!” Kezia sebal.


“Please, Zi. Cuma elo yang gw cinta.”


Kezia terdiam, kenapa dia tak bisa menyangkal perasaannya yang begitu mencintai Arkash. Padahal Kezia tahu, seratus persen tahu bahwa pria di hadapannya saat ini itu b4jingan, tukang selingkuh, toxic, tapi kenapa? Kenapa tetep aja Kezia luluh dengan permintaan maafnya?


“Huft, ya udah gw maafin. Tapi lo jangan ulangin hal itu lagi, ya!” Kezia berjalan pulang, sedikit menjijing bawahan rukohnya agar tidak kotor.


“Thanks, Zi. Gw janji nggak akan ngelakuin kesalahan lagi.” Arkash menggandeng tangn Kezia, membut gadis itu kembali sumringah.





Kezia sedikit lega karena masalahnya dengan Arkash selesai, kini tinggal masalah eyang uti yang membuatnya malas untuk beranjak dari atas sofa.


“Nak, ayo!” Dinda melambai pada Kezia.


“Iya iya.”


“Jangan cemberut donk! Masa di hari kemenangan cemberut! Percuma kamu menahan dirimu untuk berpuasa kemarin.” Dinda mengelus rambut hitam ikal Kezia.


Kezia tersenyum simpul dan mengangguk. Selama perjalanan ia memilih untuk memandang ke luar jendela, sedangkan Kenzo asyik memainkan gamenya. Perjalanan yang berkisar dua jam terasa begitu cepat bagi Kezia yang tak ingin segera sampai.


“Assalamualaikum, Bu.” Erza dan Dinda memberi salam, mereka mengecup punggung tangan Laras, ibu Erza, lalu Kenzo dan Kezia menyusul.


“Walaikumsalam, ayo masuk-masuk!” Laras memeluk punggung Kenzo, membuat Kezia mencibirkan bibirnya sebal.


Mereka duduk menikmati asrinya taman milik orang tua Erza. Mengemil beberapa jenis kue kering dan juga jus jeruk siap minum.


“Ibu masak apa?” Dinda beralih untuk membantu Laras di dapur.


“Masak rendang sama gulai, tadi dagingnya Ibu rendam nanas muda sebentar biar empuk.” Laras mengaduk masakkannya yang belum sepenuhnya matang.


“Kezia!! Sini!! Bantuin Eyang, anak gadis kok malas-malasan saja!” Laras berteriak saat mendapati Kezia duduk dan memainkan ponselnya.


Ck, baru juga duduk, gerutu Kezia dalam hati.


“Kenzo, sayang, kamu mau ini? Mau Eyang bikinkan kue bolu? Kesukaanmukan?” Laras beralih pada Kenzo, menawarkan apa yang dia bisa, Kezia langsung memincingkan sudut bibirnya, Dinda menyembunyikan rasa gelinya.


“Kenzo sudah bukan anak TK, Uti, nggak suka bolu, sukanya cewek,” jawab Kenzo cengengesan.


Plak!! Erza mengeplak kepala Kenzo dengan majalah.


“Insaf, Nak!! Insaf!! Astafirullah!!” Erza mengelus dadanya, tertawa riang. Melihat Kenzo yang semakin mirip dengan dirinya yang nggak punya akhlak dulu.


“Sakit tahu, Pah!”


Laras terus mengomel, memberikan wejangan pada Kezia. Salah motong sayur aja Laras bisa mencerca Kezia sepanjang jalur kereta jurusan Jakarta-Solo, bagaimana kalau sampai salah kasih garam coba?!


Wejangan bahkan tak berhenti sampai di sana, Laras bahkan menuturkan hal-hal tentang menjadi seorang anak yang baik, yang soleha, yang tahu diri, yang tak mengumbar kemolekkan tubuh.


Kapan berhentinya? Bosan! pikir Kezia.


Akhirnya karena malas dan marah Kezia membanting lap makan dan berlari ke luar, ia menangis di teras rumah. Dinda hendak mengejar Kezia, namun Laras menghalangi Dinda. Ia memberikan kode untuk membiarkannya yang menyusul Kezia.


“Jangan keras-keras, ya, Bu. Kezia masih kecil.” Pinta Dinda.


“Ck, sudah kuliah kok masih kecil.” tandas Laras.


Wanita tua itu berjalan lambat ke arah teras, ia duduk di kursi, sedangkan Kezia duduk di lantai sambil memeluk lututnya menangis.


“Kenapa nangis? Perkataan Uti yang mana yang bikin kamu sakit hati?”


Kezia terdiam, dia tahu betul kalau sebagai seorang anak angkat tak seharusnya dia sakit hati karena sebuah perbedaan.


“Maaf, Uti. Kezia salah.” Dengan sesunggukan Kezia meminta maaf dan menghapus air matanya.


“Kemari!”


Dengan berat Kezia bangkit dan mendekati Laras. Laras tersenyum dan mengelus wajah Kezia, mata tuanya yang penuh keriput memandang Kezia lamat-lamat.


“Cantik, penuh pesona, kau anak baik, Zi. Uti mendidikmu keras karena kau anak gadis. Uti tak ingin kau jatuh pada pergaulan yang salah, Uti maunya kau bisa mengurus rumah tangga sebaik Mamamu. Ingin kau mandiri dan menjadi istri sholeha.”


“Uti ... hiks, hiks,” tangis Kezia.


“Maafin Uti ya, Zi. Uti sayang kok sama kamu, nggak bedain sama Zozo, Uti keras juga karena sayang.” Wanita tua itu menepuk-nepuk punggung Kezia.


“Kezia juga sayang Uti.”


“Sekarang jangan punya pikiran jelek kalau Uti bedain kasih Uti sama kalian. Kenzo memang Uti manja karena dia masih kecil. Sedangkan kamukan sudah besar. Dulu juga waktu kecil Uti manjaain Zizi -kan? Apa kamu nggak ingat?”


“Ingat, Uti.” Angguk Kezia dalam pelukan Laras.


“Banyak ngomel karena sayang, Nak.”


“Zizi kira Uti nggak sayang karena Zizi cuma anak angkat, dan Kenzo anak kandung Papa. Maafin Zizi ya.”


“Zi, anak angkat sama anak kandung juga sama saja, kalau sudah bersedia merawat yang harus dipertanggung jawabkan sama Allah. Uti kasih wejangan juga supaya kamu jadi anak baik, jadi Uti nggak takut saat disuruh menghadap ke Rahmatullah besok.” Laras mengelus rambut Kezia.


Erza dan Dinda melihat kejadian ini dari dalam rumah. Dinda menangis saat mendengar hal itu, tapi hatinya bahagia karena masalah Kezia bisa terselesaikan dengan baik.


“Terima kasih, Uti.”


“Sama-sama, Zi. Sekarang bangkit, masih ada sekilo daging yang mesti kau iris-iris.”


“Yah!!!” Kezia kembali cemberut.


Dinda tergelak saat menghapus air mata di sudut matanya yang cantik.


Baginya bersyukur adalah bagian utama dalam berkurban. Tak hanya bersyukur karena materi yang di dapatkannya, namun juga ketenangan hati dan kebahagiaan keluarganya.


— SPESIAL IDUL ADHA END —


Nantikan kisah lucu Kezia dan Kenzo yang mengulak alik perasaan kalian, hanya di SIDE TO SIDE - JAKA.


Author Rengginan mengucapkan


Selamat Idul Adha bagi yang merayakannya.


Lope yu gaes, gusti mberkahi!! 🥰🥰


Komen donk, dagingnya kalian masak apa? Wkwkwkkw


Kirim ke ruma author juga boleh.


Special thanks to author Ryni HS yang sudah rela jadi editor dadakan. 😘