MUSE

MUSE
S7 ~ TENGGELAM



MUSE S7


EPISODE 7


S7 \~ TENGGELAM


Levin menatap Leoni sebal, padahal dia sudah bela-belain bangun dari mimpi indahnya demi membela Leoni. Bukannya berterima kasih malah kasih pandangan tak suka.


__________________


Levin terhenyak nyenyak di atas mejanya. Melanjutkan tidur paginya yang tertunda. Di belakangnya ada Bryan dan Chiko yang lagi asyik mengobrol. Sedangkan Farel sedang menggambar sket motor impiannya. Tak lama tidurnya kembali terganggu karena suara para teman wanitanya mengganggu Leoni.


Ck, tak bisakah aku tidur dengan tenang? Entah kenapa Levin memaksakan diri untuk bangun, merasa harus membela Leoni. Tak ingin mereka berdua merundung Leoni.


“Hei!! Kenapa masih diam?!” Jesca hampir memukul Leoni lagi, tapi Levin menghentikan aksinya.


“Levin?!”


“Apa yang kau lakukan?!” Levin menatap tajam ke arah Jesca.


“Aku ... aku hanya menggoda Leoni.” Jesca bingung, tak biasanya Levin mencegah Jesca merundung Leoni seperti biasanya.


“Hanya aku yang boleh menggodanya.” Levin menghempaskan tangan Jasca.


“Auch!!” Jesca mengaduh.


BRAK!!


Leoni menggebrak meja.


“Kembali ke tempat duduk kalian, sudah mau bel!” Leoni melirik ke arah Levin. “Dan aku nggak butuh bantuanmu!”


Levin menatap Leoni sebal, padahal dia sudah bela-belain bangun dari mimpi indahnya demi membela Leoni. Bukannya berterima kasih malah kasih pandangan tak suka.


“Dasar jerawatan!” Levin menekan jerawat Leoni dengan jari telunjuknya dalam-dalam.


“Adududuh!!” Leoni meringis kesakitan.


Levin kembali ke bangkunya, menghenyakan pantat dengan nyaman. Leoni merasa sebal, ingin rasanya melaporkan Levin pada papanya. Tapi bagaimana kalau malah dianggap pengecut, anak manja yang bisanya lapor ke Papi? Kan nggak lucu.


“Hari ini pelajaran berenangkan?” Bryan bertanya pada Chico, cowok itu mengangguk.


“Asyikkk!!” celetuk Farell girang. Satu bulan sekali memang ada pelajaran berenang. Bagi cowok-cowok tentu saja ini adalah kesempatan cuci mata gratis.


Akhirnya bel masuk sekolah berbunyi nyaring. Sangking nyaringnya lagi-lagi Levin harus menahan sebal karena tidurnya terganggu.


“Ayo kita ganti pakaian.” Bryan merengkuh punggung Levin.


Keempat cowok remaja itu bergegas menuju ke ruang ganti. Mengganti pakaian mereka dengan celana renang warna hitam polos. Model sama, memang seragam dari sekolahan. Tak lupa juga kaca mata renang dan juga topi. Levin mengalungkan kaca mata pada lehernya sembari memakai topi renang.


“Tenyata aku memang ganteng!” Levin bergaya di depan kaca.


“Puft!!” Farel menahan tawa.


“Kenapa? Bukannya bener, nggak ada cewek yang nggak terpesona sama seorang Levin,” ucapnya sombong.


“Ada kok,” sahut Chico.


“Iya, ada,” timpal Bryan.


“Siapa?” Levin ingin tahu.


“SINGA!!” Bryan, Chiko, dan Farel berseru bersamaan menjawab pertanyaan Levin.


“Argh!! Kalian benar!!” seru Levin tak kalah kencang.


“Yah, sudahlah, si Singa ga masuk hitungan cewek, dia lebih mirip cowok.” Farel menyahut.


“Yuk, keluar, nggak sabar liat para cewek.” Bryan menimpali.


“Ayuk,” ajak Chico. Levin sudah berjalan duluan, yang lain mengekor.


Kolam renang indoor sekolahan telah terisi air penuh. Air hangat dengan aroma kaporit. Tidak terlalu menyengat, tapi cukup membuat hidung tergelitik. Levin duduk di pinggir kolam, menanti guru pelatih dan anak-anak lainnya. Chiko sudah menceburkan diri, bermain pelampung dengan Bryan. Farel terlihat sedang mengamati Anak-anak gadis yang mulai masuk ke dalam area kolam.


“Liat tuh si Jesca, body dia paling bagus di antara teman sekelas.” Farel menyikut Levin.


“Bener.” Levin terkekeh.


“Ga nyebur?” tanya Jesca.


“Nggak, males.”


Levin menopang tubuh dengan kedua tangan, masih malas-malasan. Sampai ekor matanya menangkap bayangan Leoni. Gadis itu sedang bercakap dengan teman-teman sekelas lainnya. Menyandang tas kerut berisikan air minum dan handuk. Tak lupa selop dengan gambar singa. Levin tersenyum tipis saat melihat selop milik Leoni. Sepertinya gadis itu memang merasa singa adalah dirinya.


Kenapa dia terlihat berbeda akhir-akhir ini?! Levin menatap lamat Leoni, sejak melihat Leoni —di rumahnya— dengan rambut yang tersisir rapi dan halus Levin memang sangat terpesona padanya.


“Kamu ngelihatin apa sih?” tanya Jesca, Levin hampir-hampir tak berkedip.


“Liatin Leoni,” jawab Levin.


Jesca langsung sewot, gadis itu langsung ikut menatap Leoni. Tak ada yang berubah dari Leoni, tetap dengan rambut mengembang yang begitu tebal, dada bak papan penggilasan cucian, dan pinggul kecil. Tak ada yang istimewa. Di tambah dengan jerawat di jidatnya, seharusnya Leoni dapat nilai minus, bukannya plus di mata Levin.


“Ayo baris anak-anak!!” Seruan guru membuat semua penghuni kelas 7-1 menghentikan aksi mereka. Naik ke atas, berjajar rapi pada pinggir kolam renang. Mensejajarkan diri dalam empat barisan.


“Kita lakukan pemanasan terlebih dahulu.” Perintah guru, mereka menurut. Mr. Kumis memang seorang guru yang terkenal tegas dan killer.


“Satu, dua, tiga.” Aba-aba bergulir. Mereka meliukkan badan ke kanan dan kiri, begitu seterusnya. Sampai tubuh terasa lebih lentur dan panas.


Barisan berpindah, berjajar empat ke belakang garis start kolam. Mereka akan berlomba empat per empat orang. Tiap satu baris akan bersama-sama berusaha mencari finish. Siapa yang memimpin akan mendapat poin ekstra.


Levin dan Farel ada di barisan pertama. Bersama dengan dua teman sekelas lainnya mereka berempat menaiki box start. Begitu peluit di tiup keempatnya masuk ke dalam air. Levin terlihat memimpin dengan gaya dada, beradu cepat dengan Farel, dua yang lain tertinggal. Begitu sampai diujung kolam yang lain, Levin melakukan high five dengan Farel, lalu kembali duduk di pinggir kolam.


Barisan kedua, mereka menaiki box start. Merenggangkan badan, lalu melompat masuk ke dalam air begitu peluit di bunyikan. Levin dan Farel terlihat menyemangati teman satu gank mereka. Tertawa lantang sambil mengayunkan kaca mata renang di atas kepala.


“Hei Singa, apa kau menyukai Levin?” tanya Jesca yang kebetulan satu baris dengan Leoni. Masih ada tiga baris lagi sebelum sampai pada barisan mereka.


“Penting ya?” jawab Leoni singkat.


“Jawab saja, kau suka atau tidak?” Jesca nyolot.


Leoni menatap Jesca, lalu beralih pada cowok tengil bernama Levin yang tergelak di ujung kolam lainnya. Mencoba untuk menenggelamkan Bryan ke dalam air.


“Kamu suka sama Levin?” Leoni balas bertanya.


“Hei, aku bertanya duluan padamu, dasar aneh.” Jesca menendang kaki Leoni.


“Ack!!” pekik Leoni.


“Ups sorry.” Jesca malah tertawa tak merasa bersalah.


Leoni bangkit perlahan, ia menggerakkan kakinya, sepertinya baik-baik saja. Leoni menatap sebal pada Jesca.


“Kau benar, aku menyukai Levin.” Leoni sengaja menyulut kebencian pada hati Jesca. Mata Jesca mulai menyala, terlihat tidak suka.


“Apa kau bilang?”


“Aku suka pada Levin. Kenapa? Kau takut bersaing denganku?” Leoni semakin menyulut amarah Jesca.


“Dengan cewek cupu dan jelek sepertimu?! Mana mungkin.” Jesca menendang lagi pergelangan kaki Leoni sampai Leoni terjatuh.


“Ach!!” pekik Leoni untuk ke dua kalinya. Kini kericuhan itu mulai mendapatkan perhatian guru dan teman sekelas.


“Kalian berdua!! Mau sampai kapan ribut??!” Seru guru dengan nada tinggi.


“Nggak kok, Mister. Leoni terpeleset, salahnya sendiri.” Jesca berkelit.


Leoni mencoba bangkit, ia menggerakkan kakinya. Sepertinya tidak terlalu susah digerakkan, tapi entah kenapa rasanya cukup menyakitkan.


Antrian telah sampai pada barisan Leoni dan Jesca. Tak ada waktu bagi Leoni memikirkan keadaan kakinya. Hanya tendangan ringan, tak mungkin sampai melukai kaki itu. Leoni telah berdiri tegap pada papan star. Mengambil ancang-ancang untuk meluncur ke dalam air. Ada tanda 1,5 sampai 2 meter pada kolam, menandakan ketinggian air.


“Siap, satu, dua, go!! Priiiit!!!” Peluit di tiup. Keempat gadis remaja itu melompat ke dalam air. Leoni sempat tertinggal karena tak ada daya dorong pada kaki kanannya.


Tak ada yang menyadari bahwa Leoni tertinggal di dalam air. Mereka tak menyadari bahwa gadis itu meronta karena rasa sakit pada pergelangan kakinya. Leoni cukup panik, tak lama ia mulai menyembulkan kepalanya, gelagapan.


Riak air yang semakin tak beraturan dan gelembung udara keluar dari permukaan. Semua mata terlihat kaget, belum pernah ada murid yang tenggelam saat pelajaran olah raga.


“Leoni!!” seru guru dan teman-temannya.


“Leonii!!” Levin juga terlihat kaget.


...— MUSE S7 —...


...Dilike donk, terus di koment 😝...