MUSE

MUSE
AMANDA



MUSE


EPISODE 9


AMANDA


\~Aku marah dengan ketidak berdayaanku, aku marah dengan diriku, marah dengan perasaanku yang masih mengharapkannya.\~


Hari yang cukup melelahkan, aku mengumpulkan sampah dari dalam cafe dan membuangnya ke luar. Kulihat di luar jendela Amanda memandangku dengan matanya yang merah dan nanar.


“Alex.” panggilnya lirih.


Aku tahu telah terjadi sesuatu antara dia dan suaminya. Matanya yang merah menandakan dia habis menangis.


Aku meletakan kantong sampah di pembuangan dan mengampirinya.


“Kemarilah,” pelukan, hanya itu yang bisa kuberikan untuk menenangkannya. Aku tahu nggak boleh ada cinta di antara kami. Tapi hatiku masih sakit saat melihatnya menangis.


Setelah menangis beberapa saat di pelukanku, Amanda mulai tampak tenang. Ku elus pipinya yang lembut untuk menghapus sisa air mata yang masih menempel.


“Kau mau minum kopi?” tanyaku.


Amanda hanya bergeleng pelan, dia menolaknya.


“Mau cerita sesuatu?” tanyaku lagi.


Kali ini dia mengangguk.


“Baiklah, satu jam lagi shiffku selesai, tunggu aku di apartemen, aku akan segera pulang.” kali ini Amanda memandangku dan tersenyum manis.


Aku mengantarkannya ke parkiran mobil dan membukakan pintu untuknya. Sekali lagi dia tersenyum dan mengisyaratkanku untuk berhenti khawatir.


“Menyetirlah dengan hati-hati.”


“See you.”


Aku masih berdiri dan melihat mobilnya melesat pergi. Kenapa aku masih saja bodoh mengharapkannya menoleh untuk melihatku?


Setelah membereskan sampah aku kembali masuk ke dalam cafe lewat pintu belakang. Mencuci beberapa perlengkapanbrewdan bergegas mengganti seragamku dengan pakaian bersih.


“Sudah mau pulang?” tanya Elois, salah seorang rekan kerjaku di cafe.


“Huum,” angguku.


“Eh tadi ada yang mencarimu, meja 14.” Elois menutup lokernya dan meninggalkanku.


Siapa yang mencariku? Aku keluar untuk melihat siapa yang duduk di meja no 14. Ternyata Lenna, dia bersama dengan seorang pria. Tampaknya pembicaraan mereka cukup serius. Aku putuskan untuk kembali ke dalam dan nggak menyapa Lenna.


—MUSE—


Aku membuka pintu apartemenku, sudah seminggu Amanda nggak datang kemari karena aku sibuk bekerja sambilan dan kuliah. Dan sekarang, sekalinya datang, dia datang dengan guyuran air mata. Benar-benar saat ini aku merasa aku hanyalah tong sampah untuknya. Tapi entah mengapa aku nggak marah atau membencinya. Aku malah bersyukur masih bisa bersama dengannya. Walaupun sudah nggak bisa mencintainya seperti dulu setidaknya aku masih bisa memandang dan memeluknya dari dekat.


“Kau sudah baikan?”


Amanda menjawabnya dengan anggukan pelan.


“Aku mandi dulu, rasanya begitu gerah.” Aku melempar tas dan melepas kaosku untuk mandi.


Aku mengguyur seluruh tubuh dan kepalaku, sedikit berlama-lama di bawah shower untuk mendinginkan kepala. Sebentar lagi pasti Amanda akan mencurahkan isi harinya, dengan begini setidaknya aku nggak akan terlalu merasa panas dan sakit hati.


“Alex kau belum selesai?” suara Amanda membuatku kaget.


“Belum.”


“Aku ikut.” Amanda menyusulku masuk ke dalam kamar mandi.


Aku mengulurkan tanganku menggapai tangannya supaya tidak terpeleset.


“Kau sangat tidak sabaran?”


“Kau tahu waktuku nggak banyak.” senyumnya.


Aku mencium dan melumat bibir mungil Amanda, kadang tetesan air shower turun dan bercampur dengan air liur kami saat berciuman. Aku memepetkan Amanda didinding kamar mandi, sekarang ciumanku turun ke leher dan dadanya.


“Agh..ah..” desahan demi desahan terdengar nyaring di telingaku.


Aku memutar tubuh Amanda dan mendekapnya dari belakang.


“Aduh sakit.” Amanda meringis.


Aku melihat luka memar di punggungnya yang mulus, warna merah, biru, ungu menghiasi kulitnya yang putih.


“Bagaimana mungkin dia setega itu?” hatiku sakit melihat luka di sekujur tubuh Amanda.


Amanda hanya diam dan tak menjawab.


Aku mencium punggung Amanda, mencium setiap lebam dan luka yang di dapatnya dari **** itu. Seandainya aku punya hak untuk marah, seandainya aku punya hak untuk memukulnya.


“Hei..” Amanda tersentak kaget saat aku menggendongnya.


“Kita lanjutkan di kasur saja, kau sudah kedinginan.”


Aku merebahkan Amanda dan kembali memberikannya cumbuan-cumbuan mesra.


“Argh..” Amanda mengerang sedikit keras saat aku mulai menyerangnya.


“Kenapa kau nggak menceraikannya?” tanyaku disela-sela permainan kami.


“Aku mencintainya.” Amanda kembali menangis.


“Lalu apa kau mencintaiku?”


Amanda terdiam, hanya rintihan dan desahan pelan yang keluar dari mulutnya.


Kriiing..


Bunyi ponsel mengagetkan kami, Amanda memandangku sejenak, seakan meminta ijin untuk mengangkatnya.


Aku mengangguk dan mendengus sebal.


“Iya, nggak apa-apa. Baik sayang, aku akan segera pulang. Iya aku sudah nggak marah. Aku maafin.Love u too.” Amanda tersenyum dan menaruh ponselnya kembali.


“Kau mau melanjutkannya?” tanyaku.


“Tentu saja.” jawaban Amanda terdengar lebih ceria, sepertinya dia sudah berbaikan dengan suaminya.


Moodnya yang membaik membuat permainan kamipun menjadi lebih bergairah. Kadang aku bertanya, apakah saat melakukan sex denganku dia membayangkan wajah suaminya?


Setelah mencapai klimaks aku manarik diriku dan menjauh darinya, kembali masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengelap air yang masih tersisa.


10 menit aku mengurung diri di dalam kamar mandi, hatiku terasa sakit dan tercabik-cabik. Sekali lagi aku menegaskan pada diriku kalau tidak ada yang spesial dalam hubungan kami, tidak boleh ada cinta, hanya nafsu sebagai pemenuh kebutuhan biologis dan saling menguntungkan saja.


Amanda sudah meninggalkan apartemen saat aku keluar dari kamar mandi. Aku melihat ada beberapa lembar uang tergeletak di atas meja nakas.


“Sialan!!!” Aku melempar uang itu menghambur di udara.


Aku memandang uang yang berserakan di lantai dengan perasaan jijik dan marah. Aku marah dengan ketidak berdayaanku, aku marah dengan diriku, marah dengan perasaanku yang masih mengharapkannya. Uang yang dia bawa itupun adalah pemberian suaminya yang brengsek itu.


“Ah..sialan.” Aku merebahkan diriku di atas ranjang yang masih sedikit lembab.


“Kalau saja aku punya lebih banyak uang, apa dia akan memandangku?”


Aku tepis angan-angan bodohku dan berusaha untuk tidur. Namun mataku menolaknya, aku masih terjaga.


Akhirnya kuputuskan untuk membolak-balik layar ponselku, chat, sosmed, online shop semuanya aku kunjungi. Sampai akhirnya aku berhenti pada beberapa foto-foto di galery, foto Lenna dengan beberapa karya saat pameran kemarin. Aku lupa untuk share pict kemarin.


“Oh iya tadi dia mencariku, dengan siapa dia tadi? Laki-laki itu terlihat sangat tampan.”


Akhirnya aku mengirimkan foto2 tadi melalu chat dan mengetik beberapa text singkat.


Alex:


Lenna:


Belum.


Ada apa?


Tanya apa lagi ya? Dari tadi jawabnya singkat terus?


Alex:


Siapa tadi yang


Menemanimu di cafe?


Kok malah aku nanya tentang cowok lain sih?!


Lenna:


Julius, kolega papaku


Nggak sengaja bertemu.


Kamu sendiri bagaimana?


Tadi bersama dengan seorang cewe


Pacarmu ya?


Ciye..


Ternyata dia tahu aku bersama dengan Amanda..


Alex:


Oh dia


Cuma sepupu kok


Kebetulan bertemu.


Lenna:


Sepupumu cantik sekali.


Alex:


Masih cantik kamu.


Sedikit aku goda ah, ekspresinya pasti lucu. Anak ini polos sekali.


Lenna:


Kau bohong


Aku cacat


Hah, lagi-lagi minder dan merendah.


Alex:


Ketidak sempurnaanmulah


Yang membuatmu sempurna.


Lenna:


Aku terharu.


Terimakasih.><


Alex:


Tidurlah.


Nite


Lenna:


Nite Lex.


Aku kembali menyimpan ponsel di bawah bantal. Mencoba untuk kembali tertidur.


—MUSE—


Aku masih mengantuk saat memasuki kelas. Semakin mendekati ujian praktek, semakin banyak praktek lukisan yang harus ku lukis.


Akhir-akhir ini juga Amanda nggak menghubungiku. Hubungannya dengan pria brengsek itu mungkin mulai membaik. Aku nggak tahu antara harus lega atau sedih.


“Sudahlah, lupakan saja itu bukan urusanku.” Aku menepis pikiran-pikiran tentang Amanda yang terus menghantuiku.


“Woi, mikirin apa sih ngelamun terus?” suara Gia, teman sekelasku. Dia ini tipe seniman yang di bilang Lenna, kucel, gimbal, tindik telinga selusin, kaos oblong, jeans raped, dan bawa tabung kertas ke mana-mana, untung aja dia nggak bauk. Kalau bauk mungkin Lenna dapat nilai 100.


“Nggak kok, capek aja.”


“Berat ya kuliah sambil kerja?”


“Nggak terlalu kok, Bro.”


“Berarti masalah cewek.”


“Bisa jadi,” jawabku pelan.


“Oh iya, ini tugas untuk ujian lukis realis.” Gia memberiku sebuah selebaran fotocopy


“Ngelukis apa?”


“Proporsi manusia kelihatannya.”


“Susah nih.”


“Iya.. anak - anak pada mau patungan sewa model, ngikut ga?” tawarnya.


“Pake sewa model segala?” Aku mendengus heran.


“Ya iyalah, masa dari foto kurang gregetlah.”


“Emangnya kalian mau lukis cewek telanjang pake greget segala.”


“Iya itu konsepnya.” Gia tersenyum, alisnya bergerak naik turun.


“Ngaco ah. Mana bisa konsentrasi kalau di depanmu cewek telanjang. Bukannya kerjain tugas yang ada malah ngerjain orang.” ledekku.


“Hahahah..bener juga.”


“Aku nggak ikutan ah, lagian juga akukan kerja, ntar jamnya tabrakan.” tolakku.


“Oke deh, Bro. Kabari kalau berubah pikiran.”


“Oke siap.”


Gia meninggalkanku di kelas.


“Gambar manusia ya? Model ya? Siapa ya?” Aku menggaruk-garuk kepalaku.


Hanya dua orang yang memiliki keindahan di mataku, Amanda yang cantik dan menawan, dan Lenna yang putih, polos, dan selalu menarik perhatian.