
MUSE S3
EPISODE 124
S3 \~ MENIKAH
\~Semakin banyak Zean melakukannya denganku, maka kebohongan ini akan semakin sempurna.\~
_______________
Akhirnya Zean pulang, aku menunggu kedatangannya di bandara. Walaupun sedikit aku mulai merindukan keberadaannya.
Ah, bukan, salah, aku tak pernah merindukannya, aku hanya butuh tempat untuk bersandar. Tempat untuk berlari, karena aku mulai lelah.
Maafkan aku Zean, aku egois, bahkan sudah hampir 4 tahun kita bersama dan aku belum bisa mencintaimu sepenuh hatiku. Aku hanya menjadikanmu tempat pelarian bagi hatiku yang terluka. Aku menjadikanmu tempat bersandar saat tak ada orang lain yang mendukungku.
Maafkan aku Zean, bahkan aku akan membuatmu bertanggung jawab terhadap anak yang bukan anakmu.
Maafkan aku Zean, aku tak punya pilihan lain. Anak ini tak bersalah dan aku tak bisa membunuhnya. Nyatanya bayi ini adalah anak dari pria yang ku cintai dengan sepenuh hatiku. Aku bahagia mengandung anaknya, walaupun kami membuatnya atas dasar kebencian yang mengiris hati.
“Zean!!” teriakku memanggil namanya.
“Kanna!!” Zean mempercepat langkahnya dan memelukku.
“Aku rindu padamu, Kanna. Kau jarang sekali menghubungiku?! Kau membuatku gila!” Zean mencium bibirku dengan rakus, ia melakukannya sama dengan saat Leon pulang dari Jepang dulu.
“Kau juga membuatku gila, Zean. Kenapa pergi lama sekali?”
“Maaf..., Kanna.”
“Oleh-oleh dulu baru aku maafin!” senyumku menggodanya. Aku butuh obrolan ringan agar tak terlalu kaku.
“Baiklah, aku sudah membawakan oleh-oleh untukmu satu koper penuh!! Aku membelikan banyak fashion dan juga perhiasan. Biar sopir mengantarkan ke rumahmu nanti.” Zean mengelus wajahku. Memang Zean pergi ke negara dengan fashion dan kecantikan no 1 di Asia.
“Kau sedikit pucat?!” Zean menatapku dengan rasa khawatir.
“Benarkah? Mungkin karena warna bedaknya sedikit terlalu putih.” Aku berbohong, aku memang sedikit pucat karena sedang hamil muda.
“Ayo kita pulang, Zean. Aku sangat rindu padamu.”
Aku harus membuatnya tidur denganku sesegera mungkin. Sebelum janin ini terlalu besar dan Zean mengetahuinya.
“Kau nakal sekali, Kanna! Kau bahkan tak mengizinkanku beristirahat dahulu.”
“Hahaha..., bukankah kau juga sudah tak bisa menahannya, Zean?” godaku.
“Baiklah, ayo kita pulang!” Zean melingkarkan lengannya pada pinggangku.
•
•
•
Kami pulang ke penthouse milik Zean. Zean bergegas membersihkan dirinya begitu sampai ke rumah.
Jantungku berdetak tak karuan. Aku menggeledah semua laci di kamar Zean sebelum dia selesai mandi, mencari pengaman yang biasa disimpannya. Aku harus membuang semuanya, kami tak boleh melakukannya dengan pengaman.
“Ketemu!” lirihku, aku langsung mengambil semuanya dan memasukkannya ke dalam tasku. Menyembunyikannya di tempat terdalam. Aku bahkan sengaja memakai tas yang paling besar.
Sekali lagi, maafkan aku Zean!
“Kenapa kau terlihat tegang, sayang?” tiba-tiba Zean memelukku dari belakang, membuat tubuhku berjengit kaget.
“Ng..., nggak kok, cuma ngecek ponsel aja,” elakku. Aku langsung memeluk tubuhnya yang hanya berbalut handuk di bagian bawah.
“Ready?”
“Huum.” Aku mengangguk.
Zean mulai menciumku, melumaat setiap bagian bibirku dengan penuh gairah. Sudah lama kami tak bertemu dan itu membuat Zean begitu bergairah. Aku takut permainannya membuat perutku kontraksi, jadi aku mengelus punggungnya agar Zean lebih lembut saat mencumbu tubuhku.
“Pelan-pelan, Zean!” pintaku.
“Oke, sayang.” jawab Zean.
Desahan napasnya terasa begitu panas menyentuh kulitku. Dengan lembut Zean mencium perutku dan naik ke arah dada. Ciumannya berhenti pada bibirku. Tanpa ragu Zean membuka semua pakaianku saat mulutnya bekerja.
“Tunggu, Kanna. Aku ambil pengamannya.” Zean beranjak menuju ke laci nakas. Wajahnya langsung mengerunyit saat tak menemukan benda yang dicarinya.
“Kenapa, Zean?” Aku berpura-pura tidak tau.
“Sepertinya masih? Kok nggak ada, ya?” Zean kebingungan, tentu saja tidak ada, aku telah menyimpannya.
“Sudahlah, Zean. Kita lanjutkan saja.”
“Tapi bagaimana kalau kau hamil?” Zean kembali mendekatiku.
Aku takut Zean mengurungkan niatnya, cepat-cepat aku kembali mengalungkan lenganku pada lehernya dan menyerang dirinya. Melumatt bibirnya dengan begitu dalam dan tak beraturan.
“Kau agresif sekali, Kanna!!”
“Habis kau kelamaan!” rayuku.
“Kau mau melakukannya tanpa pengaman?” tanya Zean.
“Huum, kita sudah bertunangan. Hamil, ya tinggal menikah.” Aku menariknya agar rebah di atas tubuhku.
“Baiklah, kau yang minta, ya!” Zean tersenyum dan kembali menciumku.
•
•
•
Aku bangkit dan duduk di samping tubuh Zean. Tubuh kekarnya tertidur membelakangiku. Aku mengelus rambut coklatnya dan mencium pundaknya yang terbuka.
“Maafkan aku, Zean. Maafkan aku,” batinku dalam hati.
Aku bangkit dan membersihkan diri. Aku menangis di dalam kamar mandi. Sudah begitu hinakah aku saat ini? Sampai membohongi orang yang begitu mencintaiku?
Hatiku begitu jahat, nampaknya hatiku telah mati rasa.
“Kanna?” Zean menyusul.
“Maaf, apa aku membangunkanmu?”
“Menginaplah di sini.” Zean mengikutiku masuk ke dalam hangatnya air.
“Baiklah. Aku akan izin pada Papa dan Mama,” jawabku sambil tersenyum.
“Ayo lakukan lagi malam ini, Kanna!”
“Baik, Zean. Sebanyak yang kau mau.”
Semakin banyak Zean melakukannya denganku, maka kebohongan ini akan semakin sempurna.
— MUSE S3 —
•••
Sudah satu bulan berlalu, kandunganku kini berusia hampir dua bulan. Aku harus segera mengatakkannya pada Zean. Agar dia tidak curiga aku akan berbohong dengan mengatakan bahwa usia janin ini sekitar tiga minggu. Setahuku toleransi batas kelahiran berkisar kurang lebih 2-3 Minggu. Zean pasti tidak akan curiga saat aku melahirkan nanti.
“Zean, bisa kita bertemu?” tanyaku pada panggilan ponselnya.
“Bisa, aku jemput saat makan siang?”
“Sekarang, Zean! Ada hal penting yang ingin aku katakan padamu.”
“Baiklah, aku akan ke sana.”
Dengan cemas aku menunggu kedatangan Zean. Hatiku merasa tak tenang karena aku akan mengatakan sebuah kebohongan besar padanya. Bisa jadi juga ini adalah sebuah penipuan. Tapi aku benar-benar sudah tak tau lagi harus berbuat apa?!
“Kenapa kau harus hadir di rahimku? Kenapa??” batinku?! Kini aku malah menyalahkan calon bayiku ini.
Tak butuh waktu lama, Zean sudah berdiri di depan pintu kamarku dan mengetuknya pelan. Cepat-cepat ku seka air mataku dan membuka pintunya. Aku langsung berlari memeluk dirinya. Membuat Zean terheran-heran.
“Kenapa, Kanna?”
“Aku punya kejutan buatmu, Zean!” Aku memasang wajah sebahagia mungkin, wajah palsu, kebahagiaan palsu. Seperti kehidupanku dalam dunia maya yang penuh kepalsuan.
“Apa itu?” Zean merangkulku masuk ke dalam kamar.
“Tutup matamu, sayang!” Aku menyuruhnya menutup mata sebelum menunjukkan testpack.
“Sekarang buka!” seruku.
“Kanna??!” Zean setengah tak percaya, aku tersenyum sambil mengangguk senang.
“My hot daddy to be!!” Aku mengecup keningnya.
Mata Zean berkaca-kaca, ia terharu dan terus memandang testpack yang aku berikan padanya. Zean terlihat bahagia seakan-akan aku memang telah mengandung anaknya.
“Terima kasih, Kanna!” ucap Zean seraya memeluk diriku.
Hatiku perih bagaikan teriris-iris dengan tajamnya sembilu. Aku tak kuasa menahan air mataku. Aku menangis terisak-isak di dalam pelukkannya.
“Maaf, Zean ini bukan anakmu. Maafkan aku yang membuatmu menanggung semua kesalahanku,” pikirku, keculasan memang menyelimuti akal pikiranku saat ini, dan aku hanya bisa meminta maaf.
“Ayo kita menikah, Kanna!” Zean menghapus air mataku.
“Iya, Zean,” anggukku mantab.
“Kita pilih gaun terbaik sebelum perutmu membesar. Kita gelar pesta termegah, bagaimana?” Zean memandangku dengan perasaan bahagia.
“Cukup kita daftarkan pernihakan kita ke catatan sipil, Zean. Tak perlu pesta yang besar, cukup cintai aku apa adanya,” pintaku.
Mana mungkin aku berani meminta lebih? Zean mau menerima bayi ini saja sudah cukup bagiku, aku tak boleh serakah, aku tak boleh mengecewakannya lebih lagi.
“Bukankah pernikahan mewah adalah impian semua wanita?”
“Benar, Zean. Tapi persiapan pernikahankan tidak bisa sebulan dua bulan. Perutku pasti sudah besar. Aku tak ingin jadi bahan pergunjingan para tamu undangan.” Aku mencari alasan yang terbaik dan yang paling masuk diakal.
“Kau benar. Kita gelar resepsinya setelah kau melahirkan.” Zean mengelus rambutku.
“Iya, Zean. Terserah padamu,” senyumku bahagia.
Zean kembali memeluk tubuhku, mencium perutku yang sedikit mulai tidak terlihat rata. Aku harap Zean tak akan pernah menemukan kebenarannya. Atau semua rencana ini akan berantakkan.
— MUSE S3 —
•••
Hari H tiba, aku memakai kebaya broklat putih rancangan designer kondang tanah air. Kebaya dengan broklat dari benang perak, dan kain batik motif sido mukti. Kain batik yang ku gunakan berhiaskan prodo emas dengan ekor panjang yang menjuntai sepanjang 2 meter. Kebaya ini membuatku terlihat begitu anggun dan elegan.
Kami hanya melangsungkan pemberkatan nikah di depan pemuka agama dan menanda tangani catatan sipil. Papa dan Mama tampak bahagia, begitu pula Papa dan Mama Zean.
Hiruk pikuk keluarga besar kami tampak begitu luar biasa menyambut pernikahan ini. Mereka tak berhenti memberikan ucapan selamat dan juga doa. Aku tersenyum palsu mbalas senyuman tulus mereka. Dalam hati aku hanya bisa berharap bahwa kebohonganku ini tak akan pernah terbongkar.
Sepintas aku melihat bayangan Leon dari luar gedung catatan sipil. Tubuhku langsung merespon kehadirannya dengan rasa takut. Tubuhku bergetar, dan hatiku terasa begitu miris. Aku harap orang itu bukan Leon, aku harap hanya seseorang yang mirip dengannya.
— MUSE S3 —
Wah, Muse sudah hampir tamat.
Sudah 3/4 cerita.
Semoga happy ending ya.
🤣🤣❤️❤️
MUSE UP!!
YUK DUKUNG CINTA KANNA DAN KISAH HIDUPNYA.
VOTE, LIKE, dan COMMENT
PASTIKAN KALIAN PENCET TOMBOL LIKE DAN VOTE YA BAE!!!
Terima kasih sudah membaca,
Terus Sebarkan rasa cinta untuk banyak orang. Dan berbuat baik bagi sesama
Love,
Dee ❤️❤️❤️