
MUSE S3
EPISODE 113
S3 \~ BEAUTY IS PAIN
\~Kami saling bersitatap sesaat, entah kenapa aku begitu menyukai sorot matanya. Aku terpesona pada manik matanya, ada wajahku yang terus memenuhi binar indahnya.\~
_______________
Aku terbangun masih dengan rasa sakit yang hebat pada pinggang dan juga area kewanitaanku. Teringat waktu panas saat pertama kali kami melakukannya semalam.
“Duh, aku bisa gila! Leon sangat mempesona!” ku benamkan kembali wajahku pada bantal. Malu dengan kelakuanku semalam.
Triing...
Leon is calling...
“Hallo, Leon...,” sapaku saat mengangkat panggilannya.
“Aku memasak untukmu, Kanna. Kemarilah!”
“Benarkah? Aku rindu masakanmu,” senyumanku lebar.
Akhirnya setelah sekian purnama aku bisa memakan masakan Leon lagi. Walaupun dulu masakkannya sangat hambar karena aku sedang berdiet, tapi tak dipungkiri kalau memakan masakkannya membuatku bahagia. Rasa masakan Leon lain dari pada yang lain. Hm.... Apa, ya? Seperti ada rasa cinta dalam masakannya, aku merasa benar-benar diperhatikan saat memakannya.
Aku bergegas mandi, memakai pakaian dalam yang imut. Siapa tahu kami melakukannya lagi? Agh, Kanna, kau memang wanita nakal!
“Kemana?!” tanya Mama saat kakiku menyentuh lantai dasar.
“Ke rumah, Leon,” jawabku singkat. Aku sudah tak sabar untuk menemui Leon.
“Tunggu, Kanna. Bisa pinjami Mama uang?” Mama bangkit dan mendekatiku.
“Hlo? Bukannya baru kemarinkan Kanna kasih uang 10 juta ke Mama?” Aku menghentikan langkahku dengan keheranan.
“Iya, Mama pakai untuk membayar cicilan rumah dan kendaraan.”
“Rumah Kak Reza?? Mama yang membayarnya?” Aku tercengang, padahal aku memberikan uang itu untuk biaya hidup kedua orang tuaku. Agar pikiran mereka bisa lebih santai, bisa melunasi cicilan mobil, juga cicilan bank yang mereka pinjam untuk membesarkan kami dulu. Bukannya malah di gunakan untuk membayar cicilan lain yang dibuat oleh anak laki-lakinya!
Kakak tertuaku telah berkeluarga, dan kakak ke duaku baru saja diterima bekerja pada sebuah perusahaan swasta. Harusnya mereka sudah bisa membantu orang tua. Tapi yang ada bukannya mengirim uang mereka malah tetap saja meminta uang. Ada aja alasannya, aku kadang merelakan uang itu untuk kebutuhan keluargaku, tapi kalau begini caranya lama-lama mereka akan bergantung terus kepadaku! Menempel bak lintah. Menyebalkan!
Mana biaya hidupku juga cukup besar, aku harus ke salon, ke dokter kulit, ke gym, beli baju, beli make up untuk konten, dll. Bagi seorang beauty bloger selain kemampuannya dalam merias diri, tentu saja wajah cantik dan kulit yang fresh adalah modal utama. Kalau aku tak bisa merawat diri karena mereka, tentu saja aku sudah tak bisa menghasilkan uang untuk mereka.
“Berapa?”
“5 juta saja, Kanna. Kakakmu ingin membeli box bayi dan perlengkapan untuk calon anaknya.” Mama menggenggam tanganku, aku langsung menariknya. Aku sebal dengan kelakuan Mama yang selalu saja lemah dihadapan anak-anaknya.
“Ini, Mama ambil sendiri!” Aku memberikan kartu debit padanya.
“Terima kasih, Kanna. Kau memang anak yang baik.” Mama menerima kartuku dengan tangan terbuka dan wajah berseri bahagia. Aku membuang wajahku, aku tak bisa melihat senyumannya. Karena aku lemah pada senyuman Mama.
Aku benci semua ini, aku tak mau jadi budak untuk mereka. Tak tahukah mereka bahwa aku begitu tersiksa dengan semua ini?! Hasil jutaan yang aku hasilkan itu dari keringat dan air mata! Bahkan sampai sekarang aku masih belum bisa menghilangkan sindrom bulimia yang terus menggrogoti tubuhku.
“Aku pergi.”
“Hati-hati, Kanna.”
— MUSE S3 —
•••
Aku langsung memeluk tubuh Leon begitu sampai. Aku memeluknya dari belakang saat Leon masih sibuk dengan frying pan dan juga spatula. Bau tumisan membuat hidungku tergelitik.
“Kenapa, Cimut? Kau terlihat tak bersemangat.” tanya Leon.
Ah, Leon memang pria paling peka yang pernah aku kenal.
“Tidak ada apa-apa, aku hanya sangat... sangat... sangat... merindukanmu,” bohongku, padahal hatiku amat sangat kesal saat ini.
“Jangan bohong, Kanna! Bibirmu manyun sekali kau tahu!” Leon menaruh semua peralatan memasak dan mematikkan kompornya.
“Tidak, Leon. Aku tidak apa-apa,” ku coba untuk menyembunyikan ekspresi sedihku dari hadapannya, mengulum senyum palsu seindah mungkin agar Leon tak lagi khawatir.
“Serius?” Leon memandangku lekat.
“Huum,” ku anggukkan daguku pelan.
“Duduklah, Kanna! Sebentar lagi matang!” Leon menyerah dengan rasa ingin tahunya, ia mengecup dahiku dan meminta agar menunggunya menyelesaikan masakan.
Tak butuh waktu lama, tumis wortel, brokoli, dan kapri dengan warna hijau segar, lalu telur dadar dengan isi paprika, dan juga nasi putih yang dikukus dengan cara manual.
“Kau tidak punya rice cooker?”
“Punya, tapi rusak! Makanlah, Kanna!” Leon mengambilkan sepiring nasi dan menaruhnya di depanku.
“Thanks, Leon. Aku tak sabar untuk mencobanya,” kukulumm sendokku tanda tak sabar.
“Aku harap kau suka Kanna.” Leon menaruh lauk pada piringku, lalu piringnya.
“Selamat makan, Leon!”
“Itadakimas!”
Aku menyuap sesendok nasi, melahapnya dengan rakus. Hahaha, sudah lama aku tak memakan masakan Leon yang begitu enak. Aku kalap, aku memakannya dengan penuh rasa nikmat.
“Pelan-pelan! Seenak itu, ya?” Leon menghapus nasi yang tertinggal di pinggir bibirku.
Ugh, rasanya berdesir geli...!
Leon..., Leon...!! Caramu memperlakukanku membuatku sangat..., sangat..., mencintaimu.
“Iya, enak sekali, Leon.” Aku mengangkat jempol untuk memujinya.
“Eeehhhmmp...,” tiba-tiba sebuah dorongan tidak nyaman membuatku mual.
“Kanna? Kau kenapa?” Leon terlihat kaget.
“Hhmmp...,” dengan cepat aku berlari ke kamar mandi. Mencari lubang pada closet untuk memuntahkan makanan itu.
“Kanna??” Leon menghampiriku, ia menepuk punggunggu agar aku merasa sedikit lebih lega.
HOEK!!! HOEK!!!
Aku lemas, makananku keluar semua. Sepertinya maagku mulai menganggap makanan sebagai musuhnya.
Leon membantuku keluar dari kamar mandi dan memapahku ke sofa terdekat.
“Tunggu, aku ambilkan air.” Leon bergegas mengambil segelas air hangat dan menyuruhku meminumnya.
“Thanks, Leon.” Aku menghapus keringat dan air mata sebelum meneguk habis air hangat yang diberikan Leon.
“Kenapa? Apa kau hamil?!”
BRUUSSHHH...!!! Aku menyemprotkan isi air dari dalam mulutku ke wajah bingungnya.
“Leon!! Kita baru melakukannya semalam! Masa pagi sudah hamil?!” Aku ikutan syok.
“Siapa tau bisa...?” kekeh Leon.
“Aku akan sangat bahagia saat kau hamil anakku, Kanna.” lanjut Leon, senyumannya membuat hatiku kembali tenang.
“Leon, aku juga bahagia. Tapi kita harus menikah dulu sebelum memutuskan untuk punya bayi! Sebelumnya kita harus punya tabungan.” Aku mengalungkan lenganku pada lehernya.
“Iya, tunggu beberapa tahun lagi, Kanna. Aku pasti akan punya banyak uang untuk membahagiakanmu.”
“Aku tak butuh uangmu, Leon.”
“Papamu pernah bilang padaku, kalau kau tak punya uang banyak jangan harap menikah dengan anakku!” Leon memincingkan matanya sembari menirukan gaya bicara Papa.
“Hahahaha...,” tawaku lantang.
“Bagaimana perutmu, Kanna?” Leon kembali bertanya.
“Sudah enakkan, mungkin tadi aku hanya masuk angin.” Aku berbohong, aku tak ingin Leon tau aku punya maag akut karena terlalu sering berdiet.
“Dietmu sehatkan?” Leon terlihat curiga, aku langsung panik.
“Sehat kok, aku makan teratur walau porsinya sedikit.” elakku. Sejak kapan aku begitu pintar berbohong?
“Good, jangan sampai sakit, ya!” Leon memeluk tubuhku, aku membalas pelukkannya dengan erat. Rasanya hangat dan nyaman.
“Bagaimana kalau kita membuat bayi, Leon?!” godaku.
“Kanna!!!” seru Leon.
“Kau nggak mau?”
“Mau!!”
Leon langsung menggendongku naik ke lantai dua, melemparku ke atas kasur sebelum menanggalkan semua pakaiannya.
“Aku baru ingat kalau singa memang sejenis kucing!”
“Lalu apa hubungannya?”
“Kau suka malu-malu seperti kucing padahal kau juga mau kan?” Aku mengikuti gerakkannya membuka pakaian.
“Wah, kau sendiri sengaja pakai pakaian dalam seimut itu untuk menggodaku, bukan?” Leon mendekat, ia menaruh tangannya pada kedua pinggangku.
“Iya, donk! Pamer sama, pacar!” Aku tersenyum seraya mencium bibirnya.
Leon menyambut ciumanku, ia melumattnya dengan begitu rakus. Kami saling bermain dengan tangan dan juga lidah kami. Saling berpeluh dan menikmati rasa manis. Aroma manis bau tubuhnya membuatku kembali terbang, sentuhan sensualnya membuatku terus menginginkannya.
Aku melepaskan pelukkanku dan mendorongnya sedikit menjauh, “cukup, aku pulang, ya?”
Aku berpura-pura mengambil pakaianku dan memakainya. Aku sengaja menggodanya dengan menghentikan cumbuan kami di tengah jalan.
“Cimut?!” Leon protes.
“Hahaha, kenapa, Leon?” godaku.
“Kemari, selesaikan apa yang kau mulai.” Leon menarik tanganku, dan memelukku kembali. Tangannya tak mau melepaskanku.
“Hahaha..., jangan Leon, geli,” tawaku geli saat Leon menggelitik perutku.
“Salah sendiri! Siapa dulu yang memancingku?” Leon kembali menindihhku.
Kami saling bersitatap sesaat, entah kenapa aku begitu menyukai sorot matanya. Aku terpesona pada manik matanya, ada wajahku yang terus memenuhi binar indahnya.
“Kanna...,”
Akhirnya, desahan demi desahan, puluh dan keringat, senyuman dan air mata, gesekan cepat dan juga tekanan kuat menemani ritual cinta kami siang ini.
“Aku mencintaimu, Leon.”
“Aku juga sangat mencintaimu, Kanna.”
Kami berkutat kembali pada hangatnya sentuhan dan indahnya persatuan. Rasa lelahnya begitu nikmat, dan alunan gerakkannya begitu sensual.
“Argh....,” rancauku.
— MUSE S3 —
•••
Bunyi nada pengingat membuatku meloncat kaget. Benar saja aku ada janji temu dengan dokter kecantikkan, aku harus memperbaiki hidung, bibir, dan juga noda hitam pada pipiku.
Aku bergegas memakai semua pakaianku. Mengancingkan kancing celana jeans dan mengambil tasku.
“Kau mau kemana, Kanna?” Leon bangkit dari ranjang.
“Aku harus ke dokter kulit, Leon. Ada janji temu, aku hampir melupakannya.”
“Aku antar.”
“Aku bisa naik ojol car, aku pergi, ya,” kukecup pipinya.
“Hati-hati, Kanna.”
“Oke, bye, Leon.”
Aku bergegas memesan ojol dan berangkat menuju ke sebuah pusat kecantikan di pusat kota J. Aku terbiasa memperbaiki wajahku di sini, aku juga sudah beberapa kali menjadi duta kecantikan mereka.
Sesampainya di Reveline beauty care aku langsung menju ke resepsionis dan menanyakan janji temuku.
“Maaf aku sedikit terlambat, dokter Gabby, ada?”
“Ada, Nona. Dia sudah menunggu anda dari tadi.” jawab wanita ber- tag name Nina itu.
“Syukurlah.” Aku menghela napas lega, susah menemui dokter Gabby karena jadwalnya sangat padat.
“Mari saya antar.”
Aku mengekor dan masuk ke dalam ruang praktek. Berbincang ringan terlebih dahulu sebelum akhirnya merebahkan badanku untuk menjalankan tindakan. Dokter Gabby dengan teliti memeriksa kondisi kulitku sebelum akhirnya melasernya. Rasanya perih perih panas, sedikit berbau gosong.
Setelah tindakan laser berakhir, dokter Gabby kembali dengan beberapa jarum untuk filler colagen. Ia memperbaiki hidung dan juga bibirku agar terlihat kembali kenyal dan tampak mancung.
“Sakit, ya?” tanya dokter Gabby.
“Iya, sakit banget, dok.”
“Padahal udah dianastesi hlo, masih terasa nyerinya?”
“Sedikit.”
“Kau tahan juga, ya, Kanna. Dulu waktu aku menarik kulit perutmu yang mengendur juga kau tidak mengeluh. Padahal pasti sangat sakit.”
“Iya, sakit sekali, tapi aku berusaha menahannya.”
“Memang beauty is pain.”
“Benar, Dok! Apalagi saat kau harus berpose dengan high heels tinggi yang kesempitan demi tampil maksimal,” curhatku sembari senyam senyum.
“Apa lagi yang sakit, Kanna?”
“Memasang crown gigi juga sakit, dokter mengikir gigiku sedikit agar pemasangannya bisa pas,” ceritaku.
“Kau wanita yang hebat.”
“Hebat apanya? Aku merasa tak pernah puas dan itu hal yang mengerikan, bukan?”
“Yah, tapikan kau tidak ekstream sampai memotong tulang rahang ataupun rusuk kaya orang-orang di negeri sana.”
“Hahaha, selain takut aku juga tidak punya uang, Dok,” tawaku.
“Bohong, bidadari Kanna yang ramai di endorse orang tak punya uang?! Yang benar saja.” tawa dokter Gabby.
Setelah percakapan singkat dan juga berbagai macam treadment, selesai sudah ritual skin careku hari ini.
“See you, Dok.”
“See you, Kanna.”
Aku keluar menuju ke kasir untuk menebus obat dan juga membayar tagiahannya. Setibanya di depan kasir aku mengeluarkan dompetku dan menyadari sesuatu, “astaga!! Kartuku aku berikan ke Mama!”
Duh, bagaimana aku membayar tagihanku. Totalnya pasti sangat fantastis, tanpa kartu debitku aku tak akan sanggup membayarnya. Aku merogoh ke dalam tas dan dompetku, mencoba mengumpulkan rupiah. Hanya 500 ribu, padahal bisa sampai jutaan.
“Nona Kanna, totalnya 3,5 juta.”
“Hah?” Aku syok. Tuhkan, habisnya banyak sekali.
“Nona, apa bisa aku tebus obatnya nanti malam? Berapa total biaya tindakan tanpa obat?” tanyaku dengan ragu, aku juga tahu pasti uangkupun tak akan cukup.
“Baik, Nona, 2,4 juta, Nona.”
Bahuku menurun, memalukan memang karena tak sanggup membanyarnya. Aku harus menelepon Mama untuk mengantarkan kartu debitku. Arg..., kenapa aku begitu bodoh karena melupakan hal yang sangat penting?
“Cepet angkat..! Angkat...!” gumamku lirih sembari menggigit kuku.
Nomor yang anda tuju....
“Shit!!!” umpatku dalam hati.
Aku hampir menyerah saat tiba-tiba seorang lelaki mendekatiku dan mengeluarkan sebuah kartu, “tolong gabungkan tagihan Nona ini juga.”
“Hah???” Aku menoleh padanya, laki-laki itu begitu tampan, tak kalah dari Leon. Dia juga masih terlihat sangat muda. Setelen jas yang dikenakannya terlihat mahal.
“Tidak perlu, aku bisa membayarnya sendiri.” Aku menolak.
“Tidak apa-apa, pakai saja uangku dulu. Kasihan antrian di belakang anda Nona.” Laki-laki itu menunjuk antrian panjang di belakang dirinya gara-gara kesalahanku.
“Ah, ba..., baiklah.” Aku tak punya pilihan lain selain menerima kebaikkannya.
Setelah membayar tagihanku, laki-laki itu tersenyum dan mendekatiku.
“Ini obatmu, Nona.”
“Terima kasih.”
“Baiklah, saya pergi, ya.”
“Tunggu, tolong berikan nomor rekeningmu. Aku akan mentrasfer kembali uangnya.” Aku menarik baju pada lengan panjangnya.
“Ponselmu?”
“Ya?”
“Aku kasih nomerku pada ponselmu.”
“Oh, baik.” Aku bergegas memberikan ponselku padanya.
Laki-laki itu nampaknya masih punya keturunan barat, rambutnya kecoklatan dan hidungnya sangat mancung. Dengan cepat ia menuliskan nomor dan mengembalikan ponselku.
“Itu no ponselku. Kau bisa membayarnya dengan secangkir kopi.” senyumnya hangat.
“Tidak, jangan, aku ada uang kok. Aku pasti akan mengembalikannya segera.”
“Anggap saja fans tips, lady. Aku seorang fans dari bidadari Kanna.”
“Kau mengenaliku?”
“Huum. Siapa yang tidak kenal wanita cantik sepertimu?”
“Tetap saja aku harus membalasnya.”
“Sudah aku bilang itu fans tips, kau bisa membayarnya dengan meminum secangkir kopi bersamaku.” laki-laki itu memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana.
“Eee...., Oke, aku akan mentraktirmu kopi saat aku senggang,” akhirnya aku menyerah untuk berdebat dan menerima tawarannya.
“Ok, baiklah. Atur saja waktunya. Aku kan meluangkan waktu untukmu.”
“Baik.”
“Aku pergi, ya.” pamitnya.
“Tunggu!! Nama anda?” tanyaku.
“Zean. Namaku Zean.”
“Kanna, Arkanna.”
“Sudah tahu, kan aku fansmu!” sebuh senyuman kembali terkembang pada wajah tampannya.
— MUSE S3 —
Sampai di sini sudah ada yang mulai deg deg kan belom? Wkwkwk
Baca ulang episode awal dan rasakan sakitnya hati Leon... 😭😭
MUSE UP!!
YUK DUKUNG CINTA KANNA DAN KISAH HIDUPNYA.
VOTE, LIKE, dan COMMENT
PASTIKAN KALIAN PENCET TOMBOL LIKE DAN VOTE YA BAE!!!
Terima kasih sudah membaca,
Terus Sebarkan rasa cinta untuk banyak orang. Dan berbuat baik bagi sesama
Love,
Dee ❤️❤️❤️