MUSE

MUSE
EPISODE SPESIAL NATAL



MUSE


EPISODE SPESIAL NATAL


PART III


Cinta pertama. Benarkah yang paling indah?


Bisakan cinta kedua ketiga keempat menggantikan pesona keindahannya?


Coba ingat-ingat kembali tentang cinta pertamamu. Apakah benar rasanya begitu membekas?


Coba ingat-ingat tentang gandengan pertama dan ciuman pertamamu. Apakah getarannya masih kau rindukan?


Cinta pertama ...


berjuta rasa itu, masihkah akan kau temui pada kisah-kisah berikutnya?





Queency merasa kesal, hatinya sesak dan sakit. Berdenyut nyeri seiring dengan denyutan jantungnya yang semakin cepat. Queency menghapus air mata yang menetes tanpa jemu dari pelupuk matanya. Sekuat apapun Queency menahan air mata, tetap saja benda bening itu jatuh. Merembes tanpa henti. Queency berlari pada trotoar jalan perumahan, menuju ke jalan raya untuk mencari kendaraan umum.


Sialan, kenapa denganku? Queency mengusap ingus dan air mata. Mulai lelah berlari, Queen meperlambat laju langkahnya.


Hatinya sedih dan terluka oleh ucapan Nick. Benarkah hanya Queen yang punya degupan itu? Benarkah hanya Queen yang merasakan getaran itu?


Dia bahkan tak mengejarku! Bodoh kau Nick!! Bodoh!! umpat Queency dalam hati, sesekali ia menengok ke belakang. Tak ada Nick yang mengejarnya.


Queency menghentikan sebuah taxi. Membanting pintu mobil taxi sampai membuat sopirnya berjengit kaget.


“Mau kemana Neng?”


“Kemana aja Pak!”


“Serius kemana aja? Ntar saya ajak ke pelaminan nolak.” Goda sopir itu sambil cengengesan. Queen tersenyum sumbang. Candaan itu tidak lucu saat ini.


Mobil mulai melaju, memutari jalanan di luar komplek perumahan. Lantas melaju pada jalan protokol yang padat dan macet pada malam natal. Hiruk pikuk manusia tumpah ruah disepanjang jalan. Menikmati indahnya malam natal dengan gemerlap lampu-lampu warna warni yang sengaja di pasang di sepanjang jalan utama. Tak hanya segenap umat yang merayakan, seluruh manusia seakan ikut menikmati keceriaannya lewat hiburan rakyat, pasar malam, canda tawa, dan liburan panjang.


“Neng mau kemana? Ini kita sudah putar-putar dua kali. Emangnya ga takut argonya jalan terus? Ntar mahal hlo. Kalau lagi galau jangan di dalam taxi Neng. Di rumah aja.”


“Ga usah bawel, jalan deh. Ke mana gt!” Queency menolak wejangan sopir taxi.


“Okelah.”


Sopir itu menurut, kembali memacu kendaraan menuju ke jalan layang dan masuk ke tol-tol dalam kota. Mencari rute yang lebih legang. Menghindari kemacetan menjelang hari raya.


“Stop!! Stop!! Berhenti!!” Queency memberi aba-aba seketika. Mereka berhenti pada jalan layang di atas sungai besar.


“Jangan bunuh diri hlo neng!” Peringat sopir taxi.


“Siapa yang mau bunuh diri??!” Queen melotot galak.


“Hla itu nangis terus sepanjang perjalanan. Trus minta berhenti di piggir jalan layang. Ya kan saya takut to Neng. Kalau besok saya masuk koran jadi saksi peristiwa bunuh diri bagaimana?” Sopir taxi menyela.


“Bawel banget sih!!” Queency hendak membuka pintu.


“Putus cinta itu lumrah Neng. Nanti juga seiring berjalannya waktu dapat ganti yang lebih baik. Yang cinta sama Eneng apa adanya. Toh Enengkan cantik, pasti banyak yang suka. Neng tu kayak artis siapa itu ... e ... Quee ... Queency kalau ga salah. Dah lah, lupain cowok yang bikin nyesek, cari yang bikin eneg sangking manisnya.” Sopir taxi mengoceh panjang lebar. Mencoba menyadarkan Queency supaya nggak nyebur ke sungai.


“Siapa yang mau bunuh diri sih Pak?” Queency nyolot. Trus buka pintu..


“Tunggu Neng!!”


“Apa lagi?” Queency mulai sebal.


“Ongkosnya belum bayar!”


“Wogh iya!!” Queency menepuk dahinya. “Ini pak!” Queency memberikan dua lembar seratus ribuan.


“Kembalinya.”


“Ambil aja. Buat bayar sesi curhat.”


“Hlah tapikan saya yang ngomong bukan Eneng.”


“Sana pergi!! Cari duit yang banyak!” Queency meninggalkan taxi. Berjalan menyelusuri jalan layang, menuju ke pinggir jembatan.


Queency tampak cantik dengan celana high weist hitam glossy, dalaman katun putih, dan jaket kulit hitam glossy juga. Rambutnya yang hitam panjang ia gerai. Queency memasukkan tangan ke dalam saku jaket, menatap hamparan air sungai yang bergerak perlahan.


Langit malam terlihat indah, bulan sabit terpantul pada permukaan air sungai. Angin dingin bertiup cukup kencang, menerbangkan anak rambut Queency. Sesekali gadis itu menyisirnya kebelakang telinga.


Queency bersandar pada tralis jembatan, sesekali menghentakkan tumit sepatunya yang tinggi. Tak ada lecet berarti pada kaki Queency padahal ia berlari dengan sepatu hak tinggi. Kerja keras yang ia bangun saat menjadi trainer artis mengharuskannya selalu memakai hak tinggi saat berjalan. Queency sudah biasa berlari dengan heels.


“SIALAN!!” Jerit Queency, tak ada yang melihatnya di sini. Tak ada yang tahu dia menjeritkan suara hatinya.


Queency melirik ke arah benda pipih bercahaya. Dari tadi ponselnya tak mau berhenti berdering. Sudah ada puluhan miss call dari Nick. Juga ratusan chat. Queency enggan mengangkat, enggan membaca, enggan membalas.


Dengan kasar Queency mematikan ponselnya. Kembali memasukkan benda pipih itu ke dalam saku celana. Queency menyandarkan kepala pada lipatan tangan, mengamati air sungai yang bergerak perlahan. Lagi, hitamnya langit ikut membuat air menjadi gelap, tak berdasar.


“Queency!!” panggil Nick.


Queency memutar tubuhnya kaget, bagaimana Nick bisa menemukannya? Bagaimana mungkin secepat ini? Padahal Queen sudah berputar-putar dengan taxi. Sudah mengitari kota.


“Maafkan aku.” Nick berucap, membuat Queency merona kemerahan. Secepat itu juga Nick meminta maaf padanya.


... Queen enggan menjawab. Masih marah dan terluka.


“Kata Bella kau melakukan hal itu karena kau mencintaiku. Benarkah kau cemburu? Cemburu pada Bella?” Nick mendekat satu langkah, Queen menjauh satu langkah. Begitu sampai beberapa kali. Akhirnya Nick menarik sikut tangan Queency, mendekap gadis itu.


“Lepasin!!” Queency meronta.


“Jawab dulu, Queen. Apa kau cemburu?”Nick memeluk Queency, tak melepaskan dekapannya.


“Benar!! Aku cemburu padanya! Tapi sepertinya hanya aku yang mencintaimu. Hanya aku yang tersiksa karena pergolakkan batinku sendiri. Aku sering bertanya, apa kau pernah serius mencintaiku, apa kau tulus mencintaiku. Arg !!! rasanya semua itu sia-sia saja.” Queen mendorong Nick. Nick melepaskan dekapannya.


“Ya, memang benar aku belum bisa melupakan Bella. Dia cukup punya arti dalam kehidupanku.” Nick ikut melihat ke arah air sungai. Riakan air terdengar sesekali saat angin berhembus.


“Kau jauh-jauh mencariku hanya ingin mengatakan hal itu? Maaf, aku tak ingin mendengarnya.” Sergah Queency, ia langsung melengos hendak pergi, lagi-lagi Nick menahan sikut lengannya.


“Aku tak lagi mencintai Bella, Queen. Aku mencintaimu!!” ucapan Nick membuat kaki Queency terpaku.


“Dia sudah bersuami. Bella adalah bagian dari masa laluku. Dia sudah seperti saudara bagiku. Kau lihat sendirikan, bagaimana Lucas mencintai Bella dan Bella mencintai Lucas. Apa menurutmu aku akan masuk ke tengah-tengah mereka dan merusak hal itu? Aku memang kurang mengerti tentang cinta dan perasaan, Queen. Tapi aku bukan orang jahat yang merusak sebuah hubungan keluarga.” Tutur Nick panjang lebar.


“Aku belum berani menikahimu, benar aku akui itu. Perasaanku bimbang, aku takut aku hanya menjadikanmu pelarian, pelampiasan. Tapi setelah kepergianmu, saat aku merenung di dalam mobil mencari keberadaanmu. Mengikutimu kemanapun sopir taxi itu membawamu. Saat itu pula aku sadar, Queen. Aku tak bisa kehilangan dirimu.” Lanjut Nick.


Queency menitikkan air mata, ia menoleh. Melihat wajah kekasihnya yang juga menatapnya intens. Bagaikan kehilangan daya dan pertahanannya. Queency hampir menyerah lagi.


“Beri aku waktu, Queen. Aku akan menghapus tiap detail kenangan indah bersama Bella. Menumpuknya dengan kenangan yang jauh lebih indah bersama denganmu.” Nick mengeluarkan sesuatu dari saku jaket bombernya. Lalu menyerahkannya pada Queency.


“Apa ini Nick.” Queen menerima kotak hadiah dari Nick.


“Hadiah natal. Selamat Natal My Queen.” Nick tersenyum.


Queency membuka kotak pemberian Nick. Sebuah jam tangan dengan inisial nama Queency. Merk dengan lambang mahkota.


“Aku kira kau akan memberiku cincin dan melamarku.” Queency terkikih lalu masuk dalam dekapan Nick.


“Soon, My Queen.” Nick mengecup bibir Queency.


“Aku akan menagih janjimu setiap hari.” Queency membalas kecupan Nick.


Kecupan-kecupan ringan itu berubah menjadi lumattan mesra yang penuh gairah. Nick menyelipkan tangan ke dalam tengkuk Queency. Mengatur alunan gerakan panggutan mereka berdua. Ciuman dalam yang membuat sekujur tubuh bergetar dengan hebat.


Benar, masih ada getaran hebat, masih ada degup jantung yang bersahutan, masih ada luapan gairah dan debaran hebat pada cinta ke dua, ketiga, keempat, asalkan kau memang benar-benar mencintainya sepenuh hatimu.


“Selamat natal, Queency!”


“Selamat natal, Nick. Maaf, aku tak menyiapkan kado natal untukmu. Aku kira kau benci hal kekanakan seperti ini.” Queency bergelayut manja pada leher kekasihnya itu.


“Bagaimana kalau kau serahkan dirimu malam ini untuk menjadi hadiahnya?” Nick menggoda Quenncy.


“Dasar!! Baiklah, nikmati hadiahmu malam ini, My King.” Queency tertawa, Nick juga.


Keduanya berpelukkan sambil tertawa bahagia. Hidung keduanya saling bertemu, bergesekkan manja. Dalam keceriaan keduanya menikmati pergantian hari, butuh keberanian bagi Nick untuk melangkah dan memulai cinta yang baru. Butuh kelapangan hati Queency untuk menerima dan menunggu dengan sabar perasaan Nick berubah. Tapi keduanya berusaha, yang terbaik.


Karena cinta bukanlah hal yang bisa dianggap REMEH.


— MUSE SPESIAL EPISODE END —


EPILOG


Seorang pria menengok ke luar jendela, menikmati perjalan bisnis terakhir sebelum liburan akhir tahun. Pria itu baru saja keluar dari hotel berbintang lima, tempatnya meeting.


“Langsung kembali ke rumah, Tuan?” tanya sekretarisnya.


“Iya, aku lelah. Ingin beristirahat.”


“Baik.”


Saat perjalanan itu. Matanya menangkap bayangan dua orang sejoli yang tengah dimabuk cinta. Berciuman di tengah jalan.


“Queency?!” katanya.


“Ya Tuan?”


“Lihat dia, Fik. Bukankah gadis itu Queency?”


“Benar, Tuan. Dia Nona Queency.”


“Agh, dia merasa sudah hidup bahagia dengan pria lain ternyata.”


“Tuan, apa Anda ingin saya menyelidikinya?”


“Tentu saja, selediki lelaki itu. Aku akan menghukum Queency! Dia tak boleh hidup bahagia, selain dengan diriku. Bukankah itu janjinya padaku dulu!” Aura mendominasi terasa begitu berat.


“Baik, Tuan.”


Mobil kembali melaju kencang. Meninggalkan jalan layang. Pria itu mendadak gusar, dengan kasar ia mengendurkan dasinya. Pada pergelangan tangan dalamnya ada Tatto dengan deretan huruf QUEENCY


— MUSE —


...Tunggu kelanjutan kisah Nick setelah Levin dan Leoni berakhir....


...Berkisah tentang cinta pertama 🥰🥰...


...Emang cuma Nick aja yang punya cinta pertama? Wkwkwkwk...