MUSE

MUSE
S4 ~ EKSISTENSI RA



MUSE S4


EPISODE 17


S4 ~ EKSISTENSI RA


~Aku bukan Ken, tapi aku bagian dari Keano.


Aku pasti akan memperjuangkan keberadaanku, apa lagi kini aku punya sesuatu yang lain untuk diperjuangkan. Tak hanya mama, aku mulai memperjuangkan keberadaanku untuk Inggrid.~


__________________


RA POV


Lagi-lagi Ken hampir melakukannya dengan Inggrid. Aku terpaksa muncul di tengah-tengah kegiatan percintaan mereka. Aku nggak rela membiarkan Ken memiliki Inggrid seutuhnya.


“Ra, maaf.”


Aku kembali mendekatiya, matanya terus memandangku dengan penuh rasa bersalah. Dasar gadis bodoh, di mana-mana cewek yang bakalan rugi kalau sampai hamil di luar nikah, kenapa malah dia yang minta maaf?! Aku menyentil dahinya karena dia bodoh!


“Sakit!!” pekik Inggrid kesakitan.


“Harusnya aku mewakili Ken yang minta maaf padamu, Inggrid! Walaupun cinta harusnya dia bisa menjagamu.” Aku bergegas bangkit dan menyahut jaket dari hanger dan juga papan skate.


“Ayo aku antar pulang!” ajakku. Inggrid tersenyum dan mengikutiku keluar rumah.


Kami hanya diam tanpa kata, baik aku dan Inggrid sama-sama canggung. Baginya seperti kepergok orang lain saat sedang bercinta dengan pacarnya. Bagiku seperti sedang menonton adegan panas secara langsung.


“Kau diam saja?” tanya Inggrid.


“Aku hanya sedang kesal.”


“Kenapa?” Inggrid semakin mendesakku dengan meminta alasanku marah. Memang sih, baginya aku hanya pengganggu dan tak seharusnya aku marah. Tapi aku sangat tidak suka saat melihatnya memadu kasih bersama dengan Ken. Aku akui sepertinya aku benar-benar cemburu pada Ken?!


“Lain kali jangan melakukannya dengan Ken!” larangku.


“Kena—,”


Aku membungkam mulutnya yang terlalu banyak bertanya itu. Melumattnya dengan begitu dalam. Ingin rasanya aku menghapus bekas Ken dan menggantinya dengan jejakku.


“Ra!!” Inggrid mendorongku menjauh.


“Kenapa? Kau tadi terlihat menikmatinya saat dengan Ken? Kenapa tak bisa denganku? Aku juga Keano!” teriakku.


Inggrid menatapku dengan marah, “cowok brengsek! Kau pikir aku cewek gampangan gitu?!”


“Aduh!!” pekikku kencang saat Inggrid menendang tulang keringku. Sakit sekali!! Dasar cewek bar-bar, kenapa tenaganya kuat sekali?!


Inggrid marah dan pergi begitu saja. Meninggalkanku yang masih meloncat kesakitan. Tak ku sangka cewek ini begitu marah hanya karena ucapanku. Huh, apa salahku coba? Aku memang tak pandai merangkai kata ataupun mengungkapkan emosi. Bahkan cemburupun dikira menghina.


“Inggrid!!” panggilku. Aku menarik pergelangan tangannya.


“Nggak usah pegang-pegang.” Inggrid menghempaskan tanganku.


“Hei!!”


“Pokoknya aku marah titik!” Inggrid melipat tangannya di depan dada.


“Ya udah marah aja sana!” gerutuku, susah banget jadi cewek. Dikit-dikit marah, dikit-dikit ngambek.


“Cowok dingin berhati jahat! Ngak pengertian! Nggak peka”


“Kenapa lagi?!” Aku bingung, tadi Inggrid bilang dia marah! Begitu aku suru lanjutin marahnya di bilang aku nggak peka! Maunya apa?!


“Terserah!” Muncul sudah kata-kata mau seorang cewek dari bibirnya. Ingin rasanya aku kembali menggigit bibirnya itu karena gemas.


“OK fine! Terserah!”


“Hish ...!! Kau Jahat!” Inggrid mendengus sebal, dia hampir memukulku tapi aku melingsut dan membuatnya terjerembab ke depan. Membuat rok seragamnya tersibak ke atas, menampilkan CD dengan gambar kelinci.


“Sory, refleks,” celetukku geli, aku tak bisa bergenti tertawa saat membantunya menurunkan rok abu-abu itu.


Wajah Inggrid terlihat merah padam, antara malu dan juga marah bercampur menjadi satu. Wajah cantiknya dan pandangan marahnya membuatku ingin menyentuhnya juga, sama seperti Ken menyentuhnya tadi.


“Inget besok pas kelulusanku kau jangan muncul!! Biar Ken yang datang!” Inggrid bangkit dengan kemampuannya, ia menampik tanganku yang hendak membantunya berdiri. Wajahnya terlihat cemberut, mungkin masih sebal karena perlakuanku padanya.


Imutnya ...!


“Siapa juga yang mau datang?!” tukasku.


“Ya udah, sana pergi!!” usir Inggrid.


“Oke, aku pergi!”


Inggrid melangkah cepat menuju ke rumahnya. Masih dengan wajah cemberutnya yang imut. Aku mengikutinya dari belakang, masih tidak tega meninggalkannya pulang seorang diri. Ternyata aku memang semakin melemah karena cewek bar-bar satu ini.


— MUSE S4 —


•••


KEN POV


Ra sialan, kenapa sih dia harus selalu muncul saat aku ingin memiliki Inggrid? Menyebalkan, kadang aku berpikir kalau belahan jiwaku itu seorang g*y. Dia tak pernah menyukai wanita secantik Inggrid.


Ah sudahlah, tak ada waktu untuk memikirkannya saat ini. Aku harus pergi kuliah. Hari ini dosennya sangat galak dan menakutkan.


Aku sedang berlari di koridor kelas, tiba-tiba suara seorang cewek membuatku menghentikan langkah.


“Kak Keano?!”


“Momo?” Aku bertemu dengan cewek manis teman Inggrid menggambar.


“Mau kuliah?” tanya Momo.


“Iya, kau sendiri kenapa di sini?” tanyaku balik.


“Melihat-lihat calon kampusku, Kak. Aku mendaftar di sini juga, Fak. Kedokteran,” jawabnya sambil tersenyum. Momo sempat dekat dengan Ra, tentu saja saat ini dia menganggapku teman dekatnya. Aku jadi sedikit canggung dengan ke adaan ini.


“Ah, benar juga, kau seumuran dengan Inggrid.”


“Apa Kak Inggrid sudah menentukan mau lanjut kuliah ke mana?” Inggrid menemaniku kembali berjalan sampai di depan kelas.


“Sepertinya belum.”


“Kak Inggrid terlalu memikirkan project itu sampai melupakan masalah kulihnya.” Momo menghela napas, seperti ikut iba dengan keadaan Inggrid.


“Project apa?”


“Hlo?!! Kak Ken ini gimana sih? Kan Kakak selalu ikut pas kita kumpul?!” ucapan Momo membuatku sadar, Ra-lah yang selalu menemani Inggrid menggambar sekarang.


“Oh, iya ya. Poject kita sudah sampai mana?”


“Sudah banyak sponsor dan juga seniman jalanan yang ikut bergabung Kak. Kau beruntung!! Inggrid begitu memikirkanmu! Dia rela membuat konsep dan bersusah payah demi janjinya padamu.”


“Kau benar, dia gadis yang baik!”


“Jangan sia-siakan cintanya! Dan segera bantu dia menentukan jurusan untuk kuliahnya, Kak!”


“Baik, Momo. Terima kasih.” Aku mengelus pucuk kepalanya.


“Duh, jangan begini donk! Nanti aku jatuh cinta lagi!” sahut Momo.


“Erm ...,” jadi canggung deh.


“Baiklah aku pergi, bye, Kak Ken.”


“Bye, Momo. Thanks infonya.”


“Oke.”


Aku berjalan lesu dan memilih duduk pada bangku paling belakang. Ternyata Inggrid begitu berkorban hal besar untukku, dan aku tak pernah tau. Aku tak pernah menemaninya, aku hanya duduk tenang dan menunggu hasilnya.


Selama ini Ra yang terus menemani Inggrid. Membuatku merasa bodoh, useless, dan juga sedikit cemburu. Hish ..., kenapa dulu aku meminta hal bodoh ini? Rasa iba-ku pada para lansia itu malah membuat gadis yang ku cintai mengorbankan segalanya bahkan masa depannya.


Aku harus menemuinya siang ini, mengantarnya melihat-lihat kampus. Setidaknya hanya hal ini yang bisa aku lakukan untuk membalas kebaikkannya.


Kau sampah Ken!! ku kerutuki sendiri diriku dalam hati.


— MUSE S4 —


•••


Esoknya ....


Aku bertandang ke rumah Inggrid. Dia baru menyiram tanaman di depan rumahnya. Menyemprot tumbuhan-tumbuhan hijau itu sambil bersenadung ria. Membuatku geli dan gemas.


Dubi dubi dam dam dubi dubi dam 🎶


Dubi dubi dam dam dubi dubi dam 🎶


Kamu makannya apa


Saya juru masaknya 🎶


Ada tempe goreng , ada ayam goreng


Semua yang digoreng 🎶


“Inggrid!” panggilku.


“Ken atau Ra?” Inggrid langsung menyiramku dengan keran taman.


“Aduh, basah donk!” Aku meloncat ke belakang agar airnya nggak kena ke baju.


“Kalau Ra pulang aja, nggak mau ketemu.”


“Ken, girl!”


“Ken!!!” Inggrid langsung membuang selang airnya dan melompat dalam pelukkanku.


“Aduh duh!” seruku karena kaget.


“Hei masih pagi!! Dilarang bermesraan!” Nick dan Gabby keluar dari pintu utama. Yang satu menggembol biola yang satu menggembol seekor anak anjing pomerian. Anjing putih dengan bulu lebat.


“Anak kecil nggak usah ikut campur!” Inggrid menjulurkan lidahnya.


“Sampai kapan kau akan bergelantungan seperti monyeet di leher Kak Ken?” tanya Nick pada kakak perempuannya ini.


“Kau itu cewek, Kak! Please manis sedikit.” Gabby ikut memberikan nasehatnya.


Kenapa adik-adiknya jauh lebih dewasa di banding Inggrid?! Apa karena aku terlalu memanjakannya?


“Kalian mau ke mana?”


“Les biola,” jawab Gabby.


“Ke-cafe, mau minta Mommy menemaniku membeli sesuatu,” jawab Nick.


“Kami punya 5 orang pembantu dan 5 orang sopir!! Jangan ngarep rumahnya kosong!” Nick melirikku dan Inggrid. Membuatku salah tingkah.


“Tapi kamarku kosong kok!” Inggrid malah menjawabnya dengan jawaban absurb yang bisa membuat siapapun jadi salah persepsi dengan kedatanganku.


“Daddy pasti sebentar lagi makan siang,” cela Nick.


“Tapi Mommy di cafe, dia pasti menyusul Mommy,” lanjut Inggrid.


“Levin akan segera pulang sekolah,” tambah Nick.


“Daddy yang menjemputnya dan akan langsung ke cafe!” Inggrid tak mau kalah. Aku dan Gabby hanya memandang mereka berdua bergantian.


“Serah kaulah, Kak! Aku sebagai cowok hanya mengingatkanmu. Jangan sampai termakan bujuk rayu seekor buaya.”


“Hei! Aku tak ingin melakukan apa yang sedang kau pikirkan, boy!” protesku pada Nick.


Memang sih aku menginginkan Inggrid, tapi aku tak cukup bodoh mengajaknya bercinta dirumahnya sendiri. Bisa-bisa nyawaku sudah menghilang begitu keluar dari rumah ini. Membayangkan wajah papi Arvin saja sudah membuatku merinding.


“Benar!!” ucap Inggrid.


“Ya sudah! Kami pergi! Bye Kak Ken,” pamit Gabby dan Nick.


“Kalian tak pamit padaku?” protes Inggrid lagi.


“Males!” jawab mereka berdua kompakan.


“Nampaknya Nick benci padaku?!”


“Nggak, dia hanya iri, soalnya kau tampan Ken!” kikih Inggrid.


“Dasar!”


“Ayo masuk! Mau langsung ke kamar?”


“Jangan coba-coba merayuku! Aku masih ingin pulang dalam keadaan hidup!”


“Hahaha, sedih deh!”


Aku mengekor Inggrid masuk ke dalam rumahnya. Rumah itu begitu besar dan mewah. Entahlah, mungkin luasnya 10 kali luas rumahku. Kadang minder juga, punya pacar sekaya Inggrid dan aku hanya cowok biasa yang punya banyak kekuarangan.


“Ini, minum.” Inggrid menyodorkan segelas es sirup melon.


“Kau sudah makan?” tanyaku.


“Belum, Ken. Apa kau mau memasak sesuatu untukku?!”


“Kau mau?!”


“Tentu donk!”


“Baiklah, nasi goreng bagaimana?” Aku menawarkan masakan yang umum dan juga cocok untuk sarapan.


“Mau!!” Inggrid senang. Dia langsung menuju ke dapur dan duduk di depan meja pantry.


Aku mulai mencari bahan-bahan, telur, nasi, wortel, spring onion, dan beberapa siung bawang. Dengan cekatan aku memotong dan mempersiapkan bahan dengan cepat. Begitu bahannya siap aku langsung memanaskan pan dengn minyak di atas api besar, begitu minyaknya panas bawang geprek dan spring onion masuk. Aku menumis sampai harum, lalu telur kocok, begitu sedikit mengambang aku mengaduknya sampai hancur. Berikutnya sayuran dan juga nasi, lalu bumbu seperti garam, lada, kecap, dan sedikit gula. Terakhir aku mengaduknya sampai rata dan berubah warna menjadi coklat muda.


“Tara ... nasi goreng ala Ken untuk Yang Mulia Putri Jasmin.” Aku menyodorkan sepiring nasi goreng untuk Inggrid.


“Wah makasih makasih.” Inggrid bertepuk tangn pelan. Ia menghirup aroma nasi goreng sebelum memakannya dengan lahap. Aku menyukai caranya memakan masakkanku, membuatku ingin memasak untuknya setiap hari.


“Inggrid kau belum mengambil jurusan apapun untuk kuliahmu?” tanyaku.


“Belum,” jawabnya dengan mulut penuh.


“Bagaimana kalau design? Kau suka menggambarkan?”


“Aku nggak mau kuliah.”


“Hah??? Kenapa?”


“Aku sudah malas belajar.”


“Inggrid! Masa sih kamu nggak kuliah?”


“Nggak mau, aku mau menikmati hidup, keliling dunia, bangun siang tiap hari, dan menggambar setiap saat.” Inggrid mengetuk sendok tiap kali menyatakan impiannya.


“Kau tak mau punya banyak teman baru?!”


“Nggak, cukup Ken dan teman-temanku sekarang.”


“Inggrid, kuliah itu penting untuk membentuk cara pandangmu, girl.” Aku mendekatinya, memandang wajahnya agar dia fokus padaku.


“Kau pernah dengar pribahasa ini nggak, Ken? Muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga?” Inggrid tertawa kencang.


“Mana ada pribahasa kaya gitu???!” sentilku sebal.


“Adalah, dalam kamus Inggrid.”


“Huft, girl. Kau itu berbakat, kau itu pintar! Kenapa kau sia-siakan kemampuanmu?”


“Nope!! Pokoknya nggak mau kuliah! Aku punya cukup banyak uang untuk hidup sampai mati.”


“Itu uang Daddymu, girl.”


“Hohoho, kau benar.”


“Bagaimana kalau Daddymu ternyata tak memberikannya untukmu?”


“Ada suami, ahahaha ... suami donk yang kasih.” Inggrid menaik turunkan alisnya padaku.


“Hah ... dasar!” Aku menghela napas panjang dan mengusak asik rambutnya.


“Nggak usah pikirkan tentangku, Ken! Kapan kau akan menemui psikiater!” pertanyaan Inggrid menggelitik hatiku.


“Aku sudah membuat janji temu, Inggrid. Apa kau mau menemaniku?”


“Boleh, kapan?”


“Next week.”


“Oke.”


“Lanjutkan makanmu, girl!” pintaku.


Aku menghela napas, Inggrid sepertinya masih kukuh pada pendiriannya untuk tidak berkuliah. Memang sikapnya yang serampangan sangat susah diatur. Inggrid terlalu menyukai kebebasan. Namun itulah yang membuatnya terlihat menarik, Inggrid punya prinsip dan pedomannya sendiri dalam menjalani kehidupan yang singkat ini.


— MUSE S4 —


•••


RA POV


Kehadiranku adalah wujud hati Keano yang begitu mencintai papa dan mamanya. Saat hati Keano bertekat untuk melindungi mama, sejak itu pula aku terbentuk. Aku adalah kepingan jiwanya yang terpecah. Aku membuat segalanya lebih mudah bagi Keano untuk melindungi Mama.


Tapi entah sejak kapan aku begitu menginginkan keberadaanku lebih dari sekedar gambar diri yang rusak. Aku ingin menjadi Keano, Keano yang kuat dan tak terkalahkan.


Kenapa kau muncul dan terus menggangguku, Ra?! bentak Ken, dia membenciku yang menghentikan kegiatan percintaannya.


Aku tak bisa menjawab Ken, aku tak ingin dia pun tahu kalau aku mulai menyukai Inggrid. Aku begitu cemburu saat melihat jiwaku yang lain mencumbu wanita yang ku cintai.


Jawab aku, Ra!! Kau membuatku jauh dari Inggrid. Kenapa? Apa kau juga menyukainya? Jangan bersaing denganku! Karena tubuh ini milikku, eksistensimu tak lebih karena pecahnya gambar diriku.


Ken terus mengoceh dan mengumpat padaku dalam hati. Aku memilih menutup mata, tak ingin mendengarkan atau menggubris ucapannya.


Aku bukan Ken, tapi aku bagian dari Keano.


Aku pasti akan memperjuangkan keberadaanku, apa lagi kini aku punya sesuatu yang lain untuk diperjuangkan. Tak hanya mama, aku mulai memperjuangkan keberadaanku untuk Inggrid.


Aku menyukai gadis itu sebanyak Ken menyukainya.


Aku mencintai gadis itu sebanyak Ken mencintainya.


Walaupun aku tak pandai mengungkapkan isi hatiku lewat ucapan seperti Ken, tapi aku tetap berusaha mengungkapkannya lewat tindakkan.


Namun, hari ini aku begitu terluka ....


Apa kalian tahu? Inggrid mengajak Ken menemui psikiater untuk menghapus keberadaanku.


Kenapa? Apa Ken jauh lebih baik dariku?


Apa aku tak cukup baik untuknya?


Aku akui dulu aku begitu membencinya karena ia begitu menempel dengan Keano. Membuat Keano lemah, dan sering di sakiti. Seiring waktu dan kebersamaan yang kami jalani berdua aku mulai membuka hatiku untuknya.


Aku mencintainya dengan caraku.


Aku mengasihinya dengan caraku.


Tapi dia ingin membuangku! Dia tak menginginkanku!


Benarkan eksistensiku hanyalah sebuah penghalang bagi kebahagiaannya?


Benarkah seharusnya aku menghilang saja?


Ah, kalau benar dengan menghilangnya aku bisa membuatmu bahagia, mungkin tak ada salahnya aku pergi darimu.


Tidak, sampai aku mendengarnya sendiri!! Sampai aku mendengar hal itu terucap dari bibirnya dan ditunjukan untukku, bukan Ken.


Saat itu barulah aku akan menghilang dari hidupnya.


— MUSE S4 —


MUSE UP


YUK DUKUNG AUTHOR DENGAN VOTE


VOTE KALIAN 10 pointpun berarti buat saya gaes.


Suport saya dengan dukungan point.


Jangan lupa juga buat like dan commentnya.


Biar MUSE FEMES!! Author rengginan jadi author femes!! 🤭🤭🤭


❤️❤️❤️❤️


Jangan lupa bagi cinta untuk banyak orang


Jangan lupa cintai alam


Jangan lupa bawa kantong belanja sendiri


Jangan lupa kalau saya cinta kalian


🥰🥰😝