MUSE

MUSE
S5 ~ BERTAHANLAH, NAK!



MUSE S5


EPISODE 49


S5 \~ BERTAHANLAH, NAK!


\~ Bukankah melepaskan cinta agar wanita yang dicintainya bisa hidup bahagia adalah tingkatan tertinggi dalam hal mencintai seseorang? \~


_____________________


Triiing ... 🎶


Bunyi ponsel membuat Bella berjengit. Ia bergegas mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang meneleponnya di malam selarut ini?


Aunty Elise? Ada apa malam-malam begini? Bella tertegun, ia bergegas keluar dari hirup pikuk kerumunan agar bisa dengan jelas mendengar suara Elise.


Bella berencana akan pulang ke desa besok bersama dengan Nick. Namun telepon dari bibinya sungguh membuat hati Bella tak tenang.


“Hallo, Aunty, ada apa?” sapa Bella, firasatnya tidak baik.


“Be—bella!! Aiden ... ya, Tuhan, Aiden!!” Elise terbata-bata.


“Ada apa dengan Aiden??? Bicara yang jelas, Aunty!” teriak Bella, hatinya langsung berdesir ketakutan.


“Bella, Aiden, badannya panas sekali, Bella. Hampir 40 derajat,” tukas Elise panik.


“40?? Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit?” Bella syok.


“Kami di rumah sakit, Bella. Aiden kejang baru saja. Segeralah kemari!”


Bella mendengarkan penuturan Elise dengan seksama, hatinya langsung ambles. Ibu mana yang tidak ketakutan saat mendengar hal yang berhubungan dengan keselamatan anaknya.


“Tidak!! Aiden, bertahanlah, Nak!” tangis Bella panik.


“Kenapa, Bella? Kenapa kau menangis?” Nick yang menyadari gelagat tidak beres pada wajah Bella langsung bergegas menghampirinya. Ia tak sempat mendengarkan penuturan Elise, hanya tangisan Bella yang dilihatnya.


“Aiden sakit, Nick, aku harus segera pulang.” Bella berjalan masuk ke dalam bar, menyahut tasnya.


“Aku akan mengantarmu.” Nick mencegah Bella bertindak terburu-buru.


“Kau ada pesta, bukan?!”


“Aiden juga anakku, dia lebih penting dari pesta ini.” Nick mencengkram lengan Bella.


“Hiks ...!” Bella menangis, Nick mendekapnya.


“All is well, Bella!! Tak akan ada hal buruk yang menimpa Aiden.” Nick menenangkan hati Bella.


Bella mengangguk lemas, masih terisak pelan. Nick mengurus semuanya, ia membayar tagihan kasir dan menceritakan semua hal yang menimpa Bella pada teman-temannya. Mereka maklum dan tetap meneruskan pesta itu tanpa kehadiran si tuan rumah.


“Ayo, Bella. Kita cabut.” Nick menyambar jaket kulitnya.


Nick mengebut di jalanan, terus melajukan spedo motor sport nya di angka hampir menyentuh ratusan. Bella terus melingkarkan lengannya erat pada perut Nick. Matanya terus terpejam dan mulutnya tak berhenti memanjatkan doa untuk anaknya. Semoga Aiden baik-baik saja, semoga hanya panas biasa dan Bella akan mendapati senyuman manis dari bibir mungilnya setibanya di sana.


•


•


•


Elise menatap cemas pada kondisi cucu semata wayangnya. Bibirnya memucat dan terlihat menggigil. Elise sudah memakaikan kaos kaki agar tidak dingin dan kejang, namun tetap saja Aiden merasa kedinginan. Sudah tiga hari Aiden panas, kemarin dia masih baik-baik saja, panasnya tidak tinggi, hanya 37.2 - 37. 8 saja. Aiden masih mau makan dan juga bermain. Elise kira hanya panas biasa karena Aiden terlalu capek bermain. Tapi dari pagi ini Aiden terus merenggek rewel, ia terus mual dan muntah, panasnya semakin tinggi dan hampir menyentuh angka 40. Puncaknya saat Elise hendak membawa Aiden ke dokter, bocah itu kejang. Elise langsung membawanya ke rumah sakit. Setibanya di rumah sakit. Elise yang panik akhirnya menelepon Bella.


Aiden mendapatkan pertolongan pertama oleh dokter jaga. Mereka memberikan penurun panas dari ***** agar panasnya bisa segera turun, lalu cairan pada infus dan pengambilan sampel darah guna mengetahui penyakit Aiden.


“Bagaimana, Dok?” tanya Elise ragu-ragu, Sekar yang menemaninya ikut menanti jawaban dengan cemas.


“Tunggu hasil laboratnya dulu, ya, Bu.” Dokter menenangkan hati Elise.


“Nini!” Panggil Aiden.


“Ya, Nak. Nini di sini!” Elise langsung menuju ke bilik Aiden.


“Sakit, perut Aiden sakit sekali. Aiden mau Mami.” Aiden rewel, ia terus mengeluh dan mencari keberadaan Bella.


“Sabar, Nak. Mami sedang perjalanan kemari.” Sekar mengusap lembut perut Aiden, berharap rasa sakitnya berkurang.


“Sakit, perut Aiden sakit.”


“Tunggu, Nini panggilkan dokter.” Elise hendak beranjak.


“Biar Sekar yang panggil.” Sekar keluar, mencari tim medis terdekat.


Dokter kembali masuk, saat masuk tak berapa lama Aiden kembali kesakitan dan hampir mengalami kejang lagi karena tak kuat menahan rasa sakitnya. Dokter memeriksa perut Aiden, mereka menyuntikkan anti nyeri pada tubuh anak kecil itu.


Tak lama kemudian Aiden sedikit lebih baik, namun masih lemas. Bibir kecilnya tak berhenti bercicit pelan mencari keberadaan Maminya.


“Sabar, ya, Nak. Sabar.” Elise terus memberi semangat pada Aiden, kecemasan terpatri pada wajah tuanya.


•


•


•


Bella menyalahkan dirinya sendiri, ibu macam apa dia yang malah meninggalkan anaknya dikala anaknya sakit?? Yang malah memilikirkan kondisi jiwanya sendiri. Yang malah asyik minum dengan teman-temannya.


Bella mengerutuki diri, andai terjadi sesuatu hal pada Aiden, Bella tak tahu lagi harus bagaiamana menjalani hidupnya.


Perjalanan yang biasanya hampir tiga jam hanya ditempuh Nick kurang lebih dua jam saja. Nick mengebut untuk mengejar waktu. Bella langsung turun dan berlari menuju ke bagian informasi, mencari keberadaan Aiden, putranya.


“Anak Aiden ada di ruang perawatan gawat darurat, Nyonya.”


“Terima kasih suster.” Bella langsung melingsut pergi.


Sekar yang kebetulan sedang mengisi formulir rawat inap melihat Bella, ia memanggil nama Bella, “Bella!! Di sini!”


“Bagaimana? Bagaimana Aiden??” Bella langsung mencengkram lengan Sekar, panik dan napasnya ngos-ngosan.


“Tenang, Bella. Tenang. Panasnya sudah turun, dokter sedang memeriksa penyebab rasa nyerinya. Kau jangan terlihat ketakutan, nanti Aiden semakin takut,” tutur Sekar.


“Baiklah.” Bella mengambil napas panjang, ia berjalan perlahan menuju ke bilik perawatan tempat Aiden terbaring.


“Bella.” Panggil Elise.


“Ma—mi ...!” Panggil Aiden lemas, namun terlihat lega.


“Iya, Sayang. Mami di sini. Mami bersamamu.” Bella menguatkan hatinya, menggenggam tangan Aiden.


“Sakit sekali, Mami. Sakit,” renggek Aiden.


“Mananya yang sakit, Sayang?” tanya Bella cemas.


“Perut Aiden sakit,” keluh bocah itu sambil memegang perutnya.


“Dingin, Mami.” Aiden mengeluh, Bella memeluk tubuh mungil Aiden, mendekapnya.


Air mata Bella mengalir, padahal ia sudah menahannya sekuat tenaga. Bella tak melepaskan dekapannya pada tubuh Aiden sampai seorang dokter jaga kembali dengan sebuah hasil laboratorium.


“Radang usus. Ususnya sempat mengalami pendarahan, dan saat ini HB-nya sangat rendah. Dia butuh transfusi darah secepatnya. Tapi saat ini golongan darah B- tidak tersedia, rumah sakit tak punya stok darah saat ini. Apa di antara keluarga ada yang bergolongan darah B-?”


“Bella membelalak, golongan darahnya A.”


“Aku O+, dan Sekar juga O+.”


“Nick! Apa golongan darahmu?!” tanya Bella panik.


“A,” jawab Nick.


Hati Bella langsung berdegup tak karuan. Tak ada yang punya golongan darah yang sama dengan Aiden. Kemana mereka harus mencarinya saat ini?!


“Segeralah mencari, kami juga akan terus menghubungi PMI. Nyawanya terancam kalau terus dibiarkan seperti ini.”


“Apa??” Bella hampir terjatuh, Nick menahan tubuh Bella. Mendekapnya erat.


“Jangan panik Bella aku akan mencari golongan darah yang cocok untuk Aiden.” Nick mengambil ponselnya.


“Tidak ada waktu, Nick. Malam sudah larut, tak ada yang akan mau datang. Dari pada mencari aku tahu siapa yang bisa memberi Aiden darah.” Bella mengambil ponselnya.


Sedikit menjauh pergi, tak ingin mereka, terutama Aiden mendengar pembicaraannya dengan pria itu. Pria yang punya darah yang sama seperti putranya, siapa lagi kalau bukan Lucas? Ayah biologis Aiden.


•


•


•


Lucas mengebut di sepanjang perjalanan. Semacam joke kah ini??? Kenapa ketika setelah sekian lama Bella menghubunginya malah mengatakan bahwa putra mereka sedang kritis?? Harus mendapatkan transfusi darah segera mungkin.


Kita terpacu waktu, Lucas. Aku mohon, segeralah kemari. Aiden membutuhkanmu. Selamatkan anakmu, selamatkan anak kita, Lucas. Hanya ucapan itu yang terngiang di benak Lucas saat ini.


“Shit!! Shitt!!” Lucas terus menyetir dengan serampangan, mengebut pada jalanan kota, untung saja jalan tidak padat saat malam hari. Hatinya sungguh tak tenang saat ini.


•


•


•


Bella terus menangis, menggenggam erat tangan Aiden. Belum ada tanda-tanda kemunculan Lucas. Belum ada tanda-tanda bank darah telah memiliki pendonor. Sekar dan Nick mencoba menghubungi teman-temannya, namun siapa yang masih terjaga di jam satu dini hari?!


Aiden terus menggigau, kini suhu tubuhnya telah menurun, namun keringat dingin terus keluar dari pelipis bocah itu. Ia sepertinya sedang menahan rasa sakit. Padahal dokter sudah memberinya anti nyeri dan obat-obatan untuk menghentikan pendarahan dalamnya.


“Bertahanlah, Nak. Mami mohon. Lakukan untuk Mami.” Bella menangis, ia mencium punggung tangan Aiden.


Pikiran-pikiran buruk menggelayuti hati Bella. Terus menggerus hatinya dengan ketakutan-ketakutan dan kemungkinan buruk yang bisa saja menimpa Aiden.


Bella mengelus rambut Aiden, menghapus keringat dingin dari keningnya. Bella mengecup perlahan kening Aiden, menyalurkan kasih sayang seorang Ibu. Bella selalu mengharapkan kesehatan dan kebahagiaan untuk Aiden. Baginya Aiden adalah uncondisional lovenya, kasihnya yang tanpa syarat hanya untuk anak ini.


Kembali teringat dalam benak Bella kenangan-kenangan indahnya bersama Aiden. Saat pertama kali tangan mungilnya menggenggam jemari Bella ketika ia lahir di dunia. Saat Aiden mulai belajar makan dan menyemburkan MPASI pertamanya. Saat Bella membantunya belajar berjalan, juga saat Bella pertama kalinya mengantar Aiden bersekolah. Semua kenangan indah itu terus membayangi sanubari Bella, membuatnya semakin resah dan khawatir.


“Hiks ... sungguh Mami mencintaimu, Nak. Berjuang buat, Mami. Tunggu Papi datang sebentar lagi.” Bella menggenggam tangan Aiden erat-erat, Elise menepuk punggung Bella dengan lembut. Sedangkan Nick hanya melihat dari balik tirai pembatas.


“Aku sudah mengurus surat-surat rawat inapnya. Tinggal menunggu pendonor dan mereka memindahkan Aiden ke bangsal rawat inap.” Sekar masuk.


“Terima kasih, Sekar.” Bella menghapus air matanya. Mencoba tersenyum.


“Aduh, Mami!! Aduh!! Perut Aiden sakit!! Sakit!!” Aiden kembali terbangun, mengeluh kesakitan, tubuh kecilnya meringkuk.


“Mana yang sakit sayang??” Bella panik, ia ketakutan. Tangan dan tubuhnya bergetar hebat.


“Dokter!! Tolong!!” Nick berteriak, membuat tim medis menghampiri mereka.


“Papi, sakit.”


“Sabar, Sayang! Batman harus kuat!” Nick menenangkan Aiden. Mengelus rambut jagoannya.


Selepas mengucapkan keluhannya, Aiden kembali kejang dan tak sadarkan diri. Pihak rumah sakit langsung membawa Aiden masuk ke dalam ruang ICU khusus untuk anak. Hati Bella mencelos, tak kuasa menahan rasa sakitnya. Kakinya terasa begitu lemas, seakan tak ada lagi tulang yang menyangganya. Nick dan Elise terus mendekap Bella. Menahannya untuk tidak meraung dan merosot jatuh.


Lucas cepatlah datang, kumohon!! Bella menjerit dalam hatinya, Bella baru saja tersadar kalau dia benar-benar membutuhkan Lucas saat ini.


— MUSE S5 —


Lucas berlari pada koridor rumah sakit, mencari keberadaan Bella dan juga Aiden. Ia melakukan hal yang sama, mencari di bagian informasi. Setelah mendapatkan informasi dia langsung menuju ke tempat Bella.


“Bella!!” Lucas berteriak memanggil nama Bella dari kejauhan.


“Lucas!” Entah kapan terakhir kalinya Bella begitu bahagia saat melihat kehadiran Lucas dalam hidupnya.


“Bagaimana? Bagaimana keadaan Aiden?” Lucas mencengkram lengan Bella, ia sempat melirik ke arah Nick yang memandangnya dengan dingin.


“Dokter melakukan pengecekan, ada radang usus cukup parah dan terus berdarah saat ususnya bergerak mencerna makanan. Harusnya Aiden baik-baik saja setelah meminum obat, namun karena HB nya diambang batas tubuh Aiden semakin lemas dan tak bisa melawan rasa sakitnya.” Bella terisak saat menjelaskan situasinya. Menjelaskan bahwa Aiden dibawa ke ICU untuk mendapatkan perhatian ekstra.


“Kalau begitu cepat!! Tunggu apa lagi! Ayo ambil darahku.” Lucas menggandeng tangan Bella.


Lucas dan Bella berlari, menghampiri tim medis. Tim medis bergegas mempersiapkan peralatan, menghubungi bagian bank darah. Mengecek keadaan Lucas. Untung saja Lucas tak meminum alkohol belakangan ini jadi ia lulus tes.


“Ambil darahku sebanyak mungkin, suster. Ambil sebanyak yang kalian butuhkan. Tolong selamatkan anakku,” ucap Lucas.


“Baik, ikut saya, Tuan.”


“Tunggu di sini, Ella. Jangan menangis, tak akan ada hal buruk yang menimpa anak kita. Aku bersamamu.” Lucas menggenggam tangan Bella sebelum masuk ke bank darah.


Bella mengangguk, ia terus berdiri di depan ruangan itu. Terisak pelan. Menunggu Lucas menyelesaikan transfusi darahnya untuk Aiden.


Nick melihat dari kejauhan. Tak ada tempat baginya di sisi Bella saat ini. Bella dan Aiden jauh lebih membutuhkan Lucas, bukan dirinya.


Nick merosot ke bawah, menjambak rambutnya. Duduk pada koridor dingin rumah sakit, membenamkan wajah di antara lututnya yang tertekuk. Meratapi hatinya.


Bella sangat mencintai Aiden dan membutuhkannya. Sedangkan Aiden membutuhkan Lucas, bukan dirinya. Keberadaan Lucas sebagai ayah kandung Aiden tak bisa dipungkiri. Darah Lucaslah yang mengalir dalam tiap-tiap pembuluh darah Aiden, bukan darah Nick.


Apa aku harus melepaskanmu agar kau bahagia?


Bukankah melepaskan cinta agar wanita yang dicintainya bisa hidup bahagia adalah tingkatan tertinggi dalam hal mencintai seseorang?


Sanggupkah Nick melepaskan Bella? Agar wanita itu bahagia? Agar keluarganya kembali utuh?


— MUSE S5 —


Tinggal beberapa episode Muse Tamat.


Terima kasih sudah membaca MUSE.


Terus dukung MUSE dengan Vote dan juga jempol kalian. Tinggalkan jejak terbaik lewat comment biar author bahagia.