
MUSE S2
EPISODE 82
S2 \~ HAPUS II
\~ Kami berdua pernah punya kenangan, kami berdua pernah punya hubungan, kami berdua pernah merajut rasa yang sama. Berbagi nafas dan juga kebersamaan. Tapi anehnya, satu tahun bersamanya tak bisa mengalahkan satu minggu bersama dengan Arvin.\~
•••
TING TONG!!
Aku masih tersungkur di bawah lantai dan menangis saat bel pintu terdengar.
“Siapa yang bertamu?” pikirku heran.
Dengan malas aku beranjak dan mengintip ke dalam lubang kecil pada tengah pintu. Melihat siapa tamu yang datang mengunjungiku.
“Angga?”
Aku kaget melihat kedatangannya. Bukankah Arvin menghajarnya semalam? Apa dia tak memeriksakan lukanya ke dokter? Kenapa malah keluyuran?
Aku membukakannya pintu, Angga langsung memelukku. Dekapannya membuat perasaanku sedikit lebih baik. Walupun memang Angga sudah bukan lagi pacarku, tapi kelembutan hatinya tak pernah berubah.
“Maaf, Kalila.” Iapun meminta maaf.
Aku terdiam sejenak, menikmati alunan naik turun dada Angga yang mencoba untuk mengatur napasnya. Ia membantuku kembali duduk dan mencoba untuk membuatku tenang.
“Kau akan baik-baik saja tanpanya, La.” ucapnya.
“Tidak, Ngga. Tanpanya aku hancur,” jawabku.
Harus ku akui aku masih begitu mencintainya, aku tak sanggup membayangkan hari-hariku tanpa kehadirannya. Mencintainya adalah sebuah kebahagian bagiku.
“Aku akan membantumu melupakannya, La.”
Perkataan Angga membuatku sedikit lebih baik. Setidaknya aku tidak sendirian, mungkin Angga bisa membantuku menghapus rasa cintaku padanya.
“Thanks, Ngga,” jawabku.
“Tersenyumlah, La. Aku rindu melihatmu tersenyum.” Angga mengelus wajahku.
Aku tersenyum simpul, dan Angga membalasnya juga dengan sebuah senyuman. Sempat terlintas dalam benakku senyuman Arvin yang juga begitu mempesona.
Ah, kenapa aku masih saja mengingatnya.
“Lukamu cukup parah, Ngga. Pergilah ke dokter!” Aku mengelus wajahnya yang lebam dan penuh luka.
Arvin pasti memukulnya sangat keras semalam. Aku masih bisa membayangkan banyaknya darah yang keluar saat mereka berdua baku hantam di depanku. Arvin sama sekali tak memberi kesempatan Angga untuk mengambil jeda, dan Anggapun terlihat tak ingin menyerah. Hatiku sakit saat melihat kedua pria yang pernah punya arti di dalam hidupku bertengkar, dan itu karena diriku.
“Maaf, La. Aku kalah darinya semalam. Anda saja aku menang darinya, kau juga tidak akan babak belur seperti ini.” Angga juga mengelus wajahku yang lebam karena tamparan Arvin semalam.
“Tak ada yang perlu disesali, Ngga.” Aku membuang wajahku agar sentuhannya tidak mengenai wajahku lagi.
“Kau mau bubur? Aku akan memasaknya untukmu.” Angga bangkit.
“Kau bahkan lebih parah dari diriku, mana mungkin aku membiarkanmu memasak?” Aku terkikih pelan.
“Hahaha..., apa kita pesan antar saja, ya?” tanya Angga.
“Baiklah,” jawabku.
Kami berdua duduk di balkon, menikmati sinar matahari pagi yang mulai menghangat. Hujan telah reda dan awan gelap mulai menghilang. Aku duduk pada kursi rotan sedangkan Angga duduk di antara bukaan pintu geser. Bersandar pada partisi kaca.
Kami menghabiskan waktu dalam diam, menikmati secangkir teh dan pikiran kami masing-masing. Aku tenggelam dalam lamunanku sendiri, memikirkan langkah selanjutnya. Apakah aku akan pindah atau tetap di apartemen ini?
•
•
•
TING TONG!!!
Suara bel pintu memecah keheningan.
“Itu pasti buburnya.” Angga bangkit untuk membuka pintu dan menerima makanan dari seorang ojol.
“Terima kasih, Pak.”
“Sama-sama, Mas. Minta bintang limanya, ya,” salamnya sebelum berlalu pergi.
“Ayo, La, kita makan!” Angga memanggilku agar masuk dan menikmati sarapan.
Aku menurut, bergegas masuk untuk membantu Angga menyiapkan makanan kami. Aku mengambil dua buah mangkok dan mengisi masing-masing dengan bubur ayam.
“Aku bisa sendiri, Ngga,” tolakku, aku bukan orang cacat, dan aku masih bisa berjalan dengan leluasa juga melakukan segalanya sendirian.
“Just wanna help, bae!” Angga ikut duduk dan menyuapkan bubur pada mulutnya.
“Bae??? Sudah lama panggilan itu tak terdengar,” kataku padanya.
“Kalau mau aku bisa memanggilmu dengan sebutan itu setiap hari, Kalila.”
Aku hanya tersenyum simpul dengan jawaban Angga. Dia selalu memanggilku ‘bae’ saat kami masih berpacaran dulu. Namun panggilan Arvin jauh lebih membuatku bahagia. Arvin selalu memanggilku ‘baby’, jujur aku lebih merindukan panggilan itu saat ini.
Oh, Gosh..., baru satu jam berpisah dan aku sudah merindukannya.
“Kenapa, La? Kenapa kau menangis lagi?” Angga keheranan.
“Tidak, tidak, aku tidak menangis.” Aku bergeleng pelan sembari menghapus air mata yang mulai mengalir.
“Kalila.”
“Maaf aku tidak nafsu makan. Aku akan kembali beristirahat.”
“La!!” Angga memecegahku beranjak, ia menahan tanganku, “makanlah sedikit!! Kau butuh tenaga untuk memulihkan diri.”
“Angga, please! Aku hanya ingin tidur,” aku meluruhkan cengkraman Angga dan membebaskan pergelangan tanganku dari cengkraman tangannya.
Aku kembali beranjak masuk ke dalam selimutku. Meringkuk dalam kehangatannya. Mencoba untuk mengasiani diri. Juga menyalahkan kebodohanku sendiri. Aku takut bila tak bisa menghapus rasa cintaku padanya.
Angga mengikuti langkahku, ia duduk di sampingku dan mengelus rambutku.
“Aku akan menunggumu dengan sabar, La.”
Ucapan Angga semakin membuatku bersedih, bagaimana kalau ternyata aku tidak bisa lagi membuka hatiku untuknya?
Bagaimana kalau nyatanya aku tetap tak pernah bisa melupakan Arvin?
“Aku akan menunggumu membuka hatimu kembali. Selama apapun juga, aku akan tetap menunggumu.” kata Angga, ia seakan tau apa yang sedang aku pikirkan.
“Terima kasih, Ngga.”
“Sama-sama, La.” Angga mengecup keningku pelan.
Kami berdua pernah punya kenangan, kami berdua pernah punya hubungan, kami berdua pernah merajut rasa yang sama. Berbagi napas dan juga kebersamaan. Tapi anehnya, satu tahun bersamanya tak bisa mengalahkan satu minggu bersama dengan Arvin.
“Maafkan aku, Ngga. Sepertinya aku belum bisa menyambut rasa itu kembali,” pikirku dalam hati.
— MUSE S2 —
Angga / Arvin
BAE ATAU BABY?
Wkwkwkwkkwk....
Susah, dua duanya punya makna yang dalam bila diucapkan oleh orang yang kita cintai.
Ah, baper...
Bingung pilih yang mana!!!
YUK DI VOTE!! Vote yang banyak ya, biar MUSE nambah FEMES!!
Rattingnya naik dan banyak yang baca, jadi Author nya nambah kece.. ^^
Jangan lupa masih ada giveaway sampai tanggal 15 Mei.
Trus rencananyanya juga author mau bikin Q & A sama para readers setia MUSE. Berhadian juga tentunya, ya!!
So, Kapan lagi baca novel dapet hadiah? Ya, Cuma di MUSE!!! Makanya ajak temen buat baca, Ya.
Tunggu pengumuman selanjutnya.
Stay read ya Readers.
Salam manis,
dee.Meliana
❤️❤️❤️
Lap yu, Bae!!!!
Muach..