MUSE

MUSE
S5 ~ MAAF



MUSE S5


EPISODE 22


S5 \~ MAAF


\~Aku akan melindungimu dan menyayangimu, walaupun nyatanya dunia ini menolakmu. Bella tersenyum dalam hujan air mata, kini, dia punya alasan untuk kembali hidup, kembali tersenyum dan berbahagia.\~


_________________


AUTHOR POV


Fransisca mendapatkan anak gadisnya tengah muntah di atas closet sembari menggenggam dua buah benda kecil berwarna biru. Dengan cepat Fransisca menyahutnya. Matanya sama lebarnya dengan Bella saat mengetahui hasilnya.


“Bella??! Kau hamil??!” tanya Fransisca.


Bella tak menjawab, ia membersihkan mulutnya dengan tisu. Rasa mual yang tajam masih mengaduk perutnya.


“Anak siapa???!!” Fransisca menarik rambut Bella agar gadis itu mau memandang wajahnya.


“Sakit, Ma. Sakit!!” rintih Bella.


“Katakan, Bella!! Anak siapa ini?”


“Hiks ... Apa sungguh mama ingin mengetahuinya? Mengetahui siapa ayahnya?” Isak Bella, matanya memandang Fransisca dengan penuh kebencian.


“Tidak, Bella!!! Jangan bilang kalau ini anak Lucas???!!”


Fransisca tertegun saat mengingat kembali perjumpaannya dengan Lucas di Mal dan restoran malam kemarin, ternyata putrinya dan calon putranya punya hubungan yang lebih serius dari pada hanya sekedar saling mengenal.


“Hiks ...!” Bella menangis.


Fransisca melepaskan cengkramannya dari rambut Bella. Ia sudah tahu semua jawaban akan rasa penasarannya dengan sikap Bella semalam. Dengan pikiran yang gundah dan rasa marah berkecambuk menjadi satu, Fransisca melangkah pergi dari rumahnya.


“Mama!! Mau kemana?” Bella mengejar mamanya.


“Jangan ikuti aku!!”


“Mama kumohon, berpisahlah dari Om Rony. Berpisahlah darinya!!! Aku mengandung anak Lucas, Ma. Izinkan aku bersamanya.” Bella memeluk kaki Fransisca, ia memohon dan mengiba, menangis, dan tak mengizinkan mamanya melangkah keluar.


“Lepaskan kakiku, Bella!!!” bentak Fransisca, ia berusaha menarik kakinya dari glayutan Bella.


“Bella mohon, Ma. Bella mencintai Lucas!! Beri kesempatan Bella untuk bahagia, Ma.” Bella menangis, ia menunduk memohon kebahagiaan kepada mamanya.


Fransisca menggigit bibirny sebal, “ck, memang cuma dirimu saja yang ingin bahagia?!”


“MA?!!” Bella seakan tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.


“LEPASKAN!!!” Setelah membentak Bella, Fransisca menarik paksa kakinya dan menendang Bella sampai anak gadisnya itu terjungkal ke belakang.


“Mama ... kumohon!! Tunggu!!!” Bella hendak menyusul kembali Fransisca, namun gerakannya terhenti karena perutnya merasa sedikit nyeri.


“Ach ...!” Bella terpekik.


Bella merangkak naik menuju ke atas sofa, merebahkan diri agar tubuhnya relaks. Dengan penuh linangan air mata Bella meratapi nasibnya.


Aku harus memberi tahu Lucas, batin Bella.


— MUSE S5 —


Krincing Kling ... 🎶


“Welcome to Pallete cafe!”


“Hallo.” Lucas menyapa Inggrid yang kebetulan sedang bertugas sebagai kasir siang ini.


Lucas melirik ke dalam cafe, ia belum menemukan sosok Bella yang mengajaknya bertemu siang ini. Bella mengirimkan teks untuk menunggunya di cafe tempat pertama kali mereka bertemu.


“Pesan apa?”


“Ice pandan latte, ektra shot, lalu strawberry latte, less sugar,” tuturnya, Lucas membeli minuman kesukaan Bella.


“Oke, kudapan?”


“Nanti saja,” tolak Lucas. Toh mereka tak akan lama. Lucas akan mengakhiri hubungan mereka, akan menyerah pada cintanya. Rasa sakit, emosi, amarah, dan pengorbanan mamanya membuat Lucas merasa harus menyerah.


“Atas nama?”


“Lucas.”


“Oke, cash atau E-money?”


“E-money.”


“OK, ini barcode dan buzzernya.”


Lucas mencari tempat yang sepi, ia tak ingin pembicaraannya mengganggu pengunjung lainnya.


Tak lama Bella muncul. Ia mendekati Lucas dan duduk di depannya. Lucas menatap Bella dengan dingin, namun jauh di dalam hatinya dia begitu tersiksa dengan keadaan ini.


Kenapa kau terlihat begitu kurus dan pucat, Ella? Kenapa kau tak menyerah saja akan perasaanmu padaku? Bantin Lucas dengan merana.


“Apa yang ingin kau bicarakan padaku, Ella?”


“Aku ingin kita kembali bersama, Lucas. Nikahi aku.”


“Kenapa kau terus menempel seperti serangga, Ella?? Sudah ku bilang enyahlah dari pandanganku!! Pergilah dari hidupku!!” tandas Lucas dengan nada tegas, ia bahkan memberikan penekanan pada kata-katanya.


“Lucas, jangan begini. Aku tidak bisa kehilanganmu. Aku mencintaimu, Lucas. Ku mohon, izinkan aku bersamamu.” Bella menggenggam tangan Lucas, namun Lucas menarik tangannya.


“Lantas apa? Kau mau aku menerimamu? Kita bakal menjadi saudara, Ella. Jangan gila!! Papaku akan menikahi Mamamu!! Lalu kau minta aku menikahimu???!! Apa kau tahu akan seperti apa pandangan dunia terhadap kita?!”


“Tidak, Lucas!! Aku tidak peduli dengan pandangan dunia!! Aku hanya butuh dirimu.” Bella mulai menitikkan air mata, ia memegang perutnya yang berisi janin mereka.


Bella belum berani mengatakkannya kepada Lucas. Bella takut kalau Lucas mengetahui keberadaan anak itu bukannya akan kembali cinta tapi malah akan semakin membenci Bella.


Bella yang bodoh dan naif.


Bella yang begitu mencintai Lucas.


Bella yang masih kecil dan belum memiliki pengalaman akan hal-hal tentang kisah cinta.


Ah, Poor Bella, saat ini, lidahnya pun kelu untuk mengakui bahwa ia tengah hamil, keberaniannya menghilang hanya karena bentakan dan amarah Lucas barusan.


“Ibumu yang telah menghancurkan keluargaku!!! Dan kau minta aku menerimamu??!! Lelucon macam apa ini, Ella??”


“Hiks, itu bukan salahku,” tangis Bella semakin kencang, ia sesunggukan.


“Kita berpisah saja.” Lucas melepaskan cincin mereka dan membuangnya pada tong sampah.


“Jangan Lucas, aku begitu mencintaimu.” Mata Bella terbelalak, ia tak menyangka bukannya berbaikan Lucas malah membuang cincinnya. Bella bergegas mencari cincin Lucas dari tempat sampah, mengaduk isinya dengan tangan Bella.


“Lupakan cinta ini, Ella. Ini konyol!” sergah Lucas, ia menarik dan mencengkram pergelangan tangan Bella agar gadis itu menghentikan perbuatannya.


“Lucas, sungguh tak ada lagikah tempat untukku di hatimu?” tanya Bella, matanya berkaca-kaca.


“Tidak!” jawab Lucas dengan tegas.


Bella memegang perutnya, wajahnya terus menunduk, menyembunyikan air matanya yang mengucur dengan deras.


Maaf, aku tak bisa mengatakan padanya tentang dirimu. Bella kembali mengelus perutnya dan pergi meninggalkan Lucas.


Bella akhirnya berlari pergi, kembali pada kenyataan hidupnya yang begitu pahit. Sangking pahitnya Bella sampai merasa begitu mual. Ia berbelok pada gang sempit dan sepi, sambil berjongkok Bella memuntahkan lagi semua isi perutnya.


“Kenapa kau menyiksaku, Nak?” tangis Bella begitu selesai muntah.


Bella terduduk pada terotoar jalan, terus berlari membuat perutnya sakit. Bella meringkuk memeluk lutut, membenamkan wajahnya pada siku tangan. Bella tak tahu lagi harus berbuat apa? Tak tahu lagi harus bagaimana? Tak ada yang mau menjadi tempatnya bersandar, tak ada yang mau mencintainya lagi.


Baik Lucas mau pun mamanya telah pergi meninggalkannya seorang diri.


Saat melihat mobil dan kendaraan yang berlalu lalang, Bella seakan-akan ingin melompat dan membunuh dirinya. Namun lagi-lagi rasa mual mengingatkannya untuk tidak melakukan hal itu.


Tidak, aku masih punya kamu, aku akan bertahan demi dirimu. Kau lebih berarti dari siapapun di dunia ini. Bella mengelus perutnya dan bangkit berdiri. Dalam hatinya ia bertekat akan membesarkan anak itu sendirian.





Lucas menggeledah tempat sampah, ia mencari keberadaan cincin yang baru saja di buangnya. Walaupun benci dan marah, nyatanya hatinya masih terus mencintai Bella, Lucas hanya tak mau mengakuinya.


“Ketemu!” Lucas tertawa kecil. Ia mencuci cincin itu dan tangannya lalu bergegas pergi meninggalkan cafe.


“Terima kasih, besok datang lagi.” Salam Inggrid ramah. Lucas hanya mengangguk sebagai jawaban.


— MUSE S5 —


Bella menenggak habis satu kotak susu kehamilan siap minum yang baru saja dibelinya di mini market. Ia juga membeli berbagai macam bahan makanan yang sehat. Sayur sayuran segar, buah, daging ayam, dan juga susu.


Akhir-akhir ini makannya tak pernah teratur, ia juga kadang hanya makan mi instan dan juga sereal. Bella tak pernah peduli dengan tubuhnya karena saat itu ia tak menyadari bahwa ia telah hamil.


Bella akan memperbaiki pola makannya, memperbaiki gizi agar anaknya bisa tumbuh sehat dan pintar.


Tak jarang Bella memuntahkan kembali makanan yang baru saja di makannya, namun Bella tak menyerah, ia kembali makan dan kembali mengisi tenaganya.


Seminggu berlalu sejak perpisahannya dengan Lucas, tinggal tiga minggu sebelum pernikahan mamanya dengan papa Lucas. Bella menatap kalender, sudah tak ada harapan lagi untuk membatalkan pernikahan itu. Bella pun sudah tak mengharapkan hal itu. Ia kini punya tujuan lainnya, yaitu membesarkan anaknya dan menyayanginya dengan sepenuh hati.





BRAK!!


Baru saja Bella menyendok masuk sesuap nasi, Fransisca sudah membuka pintu dengan kasar.


“Mama?”


“Kemari!!” Fransisca menyeret tubuh Bella dengan cara menarik rambutnya.


“Sakit, Ma!!! Lepasin!!” Bella memberontak, ia mencakar tangan mamanya.


“Auch!!”


PLAK!!


“Sialan!!! Anak tak tahu diri!!!” Fransisca mengumpat lalu memberikan tamparan pada wajah Bella.


Bella terdiam, ia mengelus wajahnya yang terasa perih dan begitu panas. Hatinya kembali sakit, padahal dia sudah berkorban banyak demi mamanya, kenapa masih saja diperlakukan hina seperti ini?


“Bawa dia!!” Fransisca menyuruh dua orang lelaki berbadan kekar yang sengaja disewanya untuk menyeret Bella.


“Tidak!! Kalian mau apa??” Bella mencoba untuk meronta, ia bingung dan ketakutan. Wajahnya memucat.


“Ikut aku, Bella!!!”


“Ke mana, Ma? Ke mana Mama akan membawaku??” Bella menangis, ia terisak-isak.


“Kita gugurkan kandunganmu. Aku sudah membayar seorang dokter yang mau melakukannya.” Fransisca membuka pintu mobil sementara kedua orang tadi memasukkan paksa Bella ke dalamnya.


“Tidak! Kau tidak bisa melakukan hal ini padaku!!” Bella menangis, ia meronta di antara dua orang lelaki, sementara Fransisca duduk di depan dengan seorang sopir.


“DIAM, BELLA!! Turuti saja apa kata Mama!! Semua ini demi kebaikan kita!!” bentak Fransisca.


“Ini semua demi kebaikan Mama, bukan kebaikan kita!!” jerit Bella.


“Benar!! Mungkin kau benar!! Aku melakukan ini semua demi diriku.” Fransisca memandang nanar ke arah Bella.


“Lepaskan aku, Ma!! Bella akan pergi Ma!! Bella akan pergi sejauh yang Bella bisa. Bella tak akan mengganggu kebahagiaan Mama. Tapi tolong, lepaskan anak ini, Ma. Dia tidak bersalah.” Bella menangis dan terus memohon.


“Tidak Bella!!! Dia anak Lucas!!!” jerit Fransisca.


Bella terdiam kaku.


“Kenapa Bella??? Kenapa harus Lucas?! Kenapa harus dia di antara jutaan laki-laki di dunia ini???” Fransisca kembali menjambak rambut Bella, membuat gadis itu meringis kesakitan. Jangankan membalas, Bell bahkan tak bisa bergerak karena kedua pria itu terus mengunci tangannya.


“Kumohon, Ma. Izinkan Bella merawatnya!! Izinkan Bella mencintainya.”


“TIDAK, BELLA!! Kalau Rony tahu kau mengandung anak Lucas, dia pasti akan membatalkan semuanya dan menikahkanmu dengan Lucas.”


“Bella tidak akan bicara, Ma! Bella janji, Bella akan menutupinya, Ma. Izinkan Bella memiliki sedikit kebahagiaan lewat anak ini, Ma.” Bella tetap memohon ampunan mamanya, berharap nurani keibuan Fransisca akan melepaskannya.


Mobil berhenti di depan sebuah klinik kecil di pinggir kota. Bangunannya terlihat tua namun masih terawat. Mereka menurunkan Bella. Bella langsung mendelik dan kembali meronta-ronta untuk membebaskan diri. Kedua pria itu memegang pundak dan pergelangan tangan Bella, sesekali mereka mendorong Bella agar gadis itu mau bergerak maju.


“Mama juga ingin bahagia, Bella. Mama sudah tua!! Sedangkan kau masih muda! Kau bisa mencari pria lain yang lebih baik, lebih tampan, lebih dari Lucas.” Fransisca mengelus wajah anak gadisnya.


“Tidak, Ma!!” Penolakan Bella membuat Fransisca kembali emosi.


“Kau sudah banyak membuatku menderita, Bella! Melahirkanmu membuatku jelek!! Membesarkanmu membuatku jatuh dalam rasa hina dan kesesakkan!! Kini saatnya aku bahagia!! Balaslah budiku, gugurkan kandunganmu!!!” terikkan Fransisca yang menggila memenuhi koridor klinik yang terlihat begitu sepi.


Fransisca memang sengaja meminta pemilik klinik untuk meliburkan kliniknya. Ia mengeluarkan uang cukup banyak untuk menggugurkan kandungan Bella.


“Apa kau benar manusia??!” Bella bertanya dengan lirih.


“Apa kau bilang??”


“Aku menyesal pernah memanggilmu, Mama!! Aku berharap tak pernah terlahir dari rahim wanita sepertimu!!” Bella menatap nanar ke arah Fransisca, hatinya yang tergores dalam dengan penuturan Fransisca membuatnya menjadi anak durhaka detik itu juga.


“Kau tahu apa?! Kau hanya anak kecil yang buta akan cinta sesaat!! Salah siapa kau mau terperdaya oleh Lucas sampai hamil??”


“Kami saling mencintai.”


“Hahaha ... lantas di mana dia??? Di mana dia sekarang? Bertanggung jawab?? Jangankan bertanggung jawab, sepertinya sekarang dia pun sudah tak sudi melihatmu!!” Fransica mencengkram dagu Bella.


Bella tertunduk, ucapan Fransisca tidak salah. Nyatanya cinta Lucas padanya memang tidak sekuat itu sampai ia rela melepaskannya. Lucas telah melupakan jalinan asmara di antara mereka begitu saja. Pahitnya kenyataan akan penolakan Lucas yang di terimanya minggu kemarin kembali terngiang jelas dalam benak Bella.


“Jangan naif, Bella!! Apa kau tahu kalau kalu pria hanya menginginkan tubuh wanita dan wanita hanya menginginkan uang pria??” Fransisca mengambil segepok uang dari dalam tasnya.


“Lihatlah uang ini!!! Kau akan mendapatkannya!! Begitu banyak sampai tak akan cukup muat di dalam tasmu!!”


....


“Cukup gugurkan kandunganmu dan aku akan memberimu segalanya!!” Fransisca menebar semua uanganya, melemparkan semua uang itu di depan wajah Bella.


Bella terisak, hatinya hancur, bayangan indah akan kehidupan bahagia dan utuh bersama keluarganya dulu telah memudar. Berganti dengan bayangan penuh kekecewaan dan amarah pada masa lalunya.


Kenapa papa harus meninggal?!


Kenapa mama harus menjadi seorang wanita penghibur?!


Kenapa dia harus menerima Lucas?


Kenapa dia harus mencintai Lucas?!


Bella terus terdiam, ia pasrah pada hidupnya. Ia tak pernah menyangka tak bisa melindungi anak yang dikandungnya. Ia terlalu lemah, terlalu naif, dan terlalu bodoh. Harusnya dulu dia tak menyerahkan tubuhnya pada Lucas, harusnya dia tak mengandung anak ini, harusnya anak ini tak pernah ada, jadi dia tak perlu menghilang.


Maaf, ya, bahkan kau masih terlalu kecil untuk mengerti, terlalu kecil untuk merasakan rasa sakit ini. Sekali lagi maaf, aku gagal menjagamu. Bella berjalan pasrah mengikutin ke dua orang pria yang menyeretnya.


— MUSE S5 —


MUSE UP


Like


Love


Comment


Vote dengan bagi point maupun koin gaes..


Lap yu