MUSE

MUSE
S2 ~ PANAS



MUSE S2


EPISODE 67


S2 \~ PANAS


\~ Tapi, entah kenapa aku masih ingin bersamanya. Arvin berhasil membuat perasaan dan otakku saling bertentangan. Lebih anehnya lagi, ternyata perasaankulah yang menang. \~


BRAK...!


Arvin mendorong tubuhku sampai membentur pintu. Membuat suara gaduh yang bisa saja menyita perhatian para tetangga.


“Kalila.” panggilannya membuatku meleleh.


Arvin mengunci kedua tanganku di atas kepala. Bibirnya kembali mencium bibirku, menguulumnya begitu dalam, gerakan lidahnya begitu sensual. Sedikit kasar dan cepat, seakan tak memberiku kesempatan untuk sekedar mengambil napas.


Arvin membuka semua kancing bajunya dengan posisi masih melumatt bibirku. Aku diam, hanya menunggunya untuk menyelesaikan pekerjaannya, melepas kancing demi kancing. Otot-ototnya yang kencang terlihat begitu ia berhasil melepas semuanya.


“Baby.” Arvin mencium leherku, hisaapannya terasa begitu basah dan dalam. Membuatku mengerang pelan.


“Arvin.” Aku berteriak memanggil namanya saat ia berusaha menarik paksa kemejaku, membuat semua kancingnya lepas berhamburan.


Kini ciumanya turun, mengabsen semuanya, bibirnya tak meloloskan barang sejengkalpun. Tubuhku bergetar merasakan gairah dan pesonanya. Jantungku berdetak begitu cepat. Peluh kami menetes dan bersatu.


“Ayo, Kalila!” ajak Arvin. Ia melucuti semua pakaiannya dan menyuruhku melakukan hal yang sama.


“Argh...,” rancauanku kembali terderngar saat kami mulai bersatu.





BRUK...!


Aku terjatuh dari atas ranjang.


Mimpi apa aku barusan???!!!!!


Apa aku baru saja memimpikan hal mesum bersama dengan Arvin?!


OMG, Kalila? Otakmu ikutan rusakkah?


Keringat membasahi tubuhku, seakan-akan mimpi itu benar-benar terjadi. Wajahku panas, aku tersipu. Mengingat bahwa semua itu hanyalah sebuah mimpi membuatku lega.


Aku mengutuki diriku sendiri, seorang wanita bisa-bisanya bermimpi mesum seperti ini. Dan juga kenapa aku harus melakukannya dengan Arvin? Kenapa tidak dengan artis-artis drama yang ganteng itu?!


Aku bangkit perlahan-lahan, melirik ke atas ranjang. Bisa ku lihat punggungnya yang lebar masih tertidur membelakangiku. Aku bernapas lega, dia tak terbangun. Bisa-bisa mimpi itu terwujud kalau dia terbangun.


Aku mengambil segelas air putih dan meneguknya sampai habis. Kalian pasti bertanya-tanya, bagaimana bisa Arvin tidur di sini?





Tadi...,


Apa yang aku lakukan? Kenapa aku menarik kemejanya dan menyuruhnya menemaniku? Kalila apa kau sudah tak punya malu sekarang? Bagaimana bisa kau mengajak pria yang bukan kekasihmu masuk ke dalam kamar?!


Tapi, entah kenapa aku masih ingin bersamanya. Pesona Arvin sudah berhasil membuat perasaan dan otakku saling bertentangan. Dan lebih anehnya lagi, ternyata perasaankulah yang menang. Perasaanku yang mengontrol tubuhku saat ini, bukan otakku, bukan akal sehatku.


“Baby.” Arvin memelukku dari belakang setibanya di kamar.


“Kak, aku mandi dulu, ya.” Aku melepaskan diri dari dekapannya.


“Oke.”


Arvin melepaskan dasinya dan duduk pada ranjang. Ia menonton TV dengan tenang. Aku meninggalkannya masuk ke dalam kamar mandi.


“Duh, bodohnya aku!” Aku memukul kepalaku pelan. Aku mengundang serigala masuk ke dalam kamarku?! Apa aku sudah melupakan kejadian pagi tadi? Kami hampir melakukannya lagi.


“Sekarang bagaimana??” pikiranku kini di penuhi hal terliar yang bisa saja terjadi.


Aku sedikit berlama-lama saat membersihkan diri, mencoba mengulur waktu. Diulurpun percuma, tetap saja aku harus menyelesaikan semuanya. Cepat atau lambat aku tetap pasti akan menghadapi Arvin.


Aku memejamkan mata dan mengambil napas panjang sebelum membuka pintu.


“Kak Arvin?” Aku memanggil namanya, namun tak ada suara.


Aku keluar lebih jauh dari kamar mandi. Mencari keberadaannya. Ternyata Arvin tertidur, sepertinya ia terlalu lelah dan mengantuk karena sering lembur belakangan ini.


“Kak Arvin,” panggilku.


“Arvin,” aku mengulanginya, sedikit keras.


Hanya tubuhnya yang sesekali bergerak pelan mencari posisi untuk membuat dirinya merasa lebih nyaman. Akhirnya aku menyerah, membiarkannya tertidur sebentar lagi.


“Aku akan membangunkannya sebentar lagi,” gumamku.


Aku kembali ke pantry, meminum segelas air dan duduk pada sisi ranjang yang lain. Aku membaca novel, akhir-akhir ini aku memang suka membaca. Aku tak menyadari bahwa membaca bisa membuatku mengantuk. Malam semakin larut dan sepertinya aku ikut tertidur di sampingnya. Dan tanpa aku sangka-sangka aku akan memimpikannya dengan begitu liar.


— MUSE S2 —


“Baby, baby?!” Arvin menggoncangkan tubuhku perlahan.


“Heung?” Aku bangun dan mengerjapkan mataku, seakan bertanya kenapa membangunkanku? Aku masih ingin tidur.


“Kenapa kau tidur di sofa?” Arvin mengelus wajahku.


“Kau tidur di ranjang.”


“Kenapa tidak membangunkanku?”


“Tidak tega,” senyumku, aku menarik lagi selimut lebih tinggi.


“Badanmu pasti sakit semua?” Arvin masih berjongkok di pinggir sofa. Wajahnya terlihat begitu jelas saat ini.


“Tidak, kok,” jawabku masih dengan wajah yang malu karena teringat mimpi semalam. Aku semakin membenamkan diri pada selimut.


“Wajahmu memerah, Kalila. Apa kau sakit?” Arvin menyatukan dahinya dengan dahiku, mengetes suhu panas tubuhku.


“Wwwaaa!!!” Aku salah tingkah dan mendorongnya.


“Kenapa?”


“Ti... tidak, kok,” Aku gelagapan.


No..., Kau harus tampil biasa, jangan salah tingkah, Kalila, jangan mengingatnya! Lupakan mimpi itu! Ini dunia nyata!


“Kalau begitu pindah ke ranjang.”


“Akh...!”


Tanpa meminta persetujuanku Arvin langsung menggendongku. Memindahkan tubuhku dengan mudah ke atas ranjang.


Deg... Deg... Deg...


Duh, jantungku berdebar tak karuan!


Aku melingkarkan tanganku memeluk lehernya, aku berpegangan padanya agar tidak jatuh. Aku menyembunyikan wajahku di balik bahunya yang lebar.


Arvin meletakkanku dengan lembut di atas ranjang. Aku membuka mataku perlahan-lahan, mencoba untuk tidak terlalu berdebar karena pesonanya. Tapi sepertinya usahaku sia-sia, jantungku terus saja berloncatan. Memandang bola matanya membuat perutku kembali berdesir.


Arvin mengusap bibirnya dengan ibu jari, membuat kesan nakal tersendiri dalam pandanganku. Kembali terputar dalam benakku, mimpi panasku semalam. Mimpi saja aku tak bisa menahan godaannya, apa lagi dalam keadaan nyata seperti ini?


Arvin menatap ekspresi wajahku dengan heran, sekejap kemudian ia seperti menyadari akan sesuatu. Aduh, masa, sih, dia bisa menebak apa yang saat ini sedang menari di dalam benakku?


Arvin mengecup dahiku, lalu berpindah pada bibirku, “good morning, Kalila. Kau mau makan dulu atau aku makan dulu?”


“ARVIN!!”


— MUSE S2 —


Ada giveaway menarik buat para readers setia MUSE.


Caranya gampang;


•Baca dan like tiap episodenya, comment bila berkenang.


•Vote MUSE sebanyak-banyaknya.


•Masuk ke Grup Chat Author.


•Di tutup 15 Mei 2020.


•Pengumuman pemenang di Grup Chat!!


3 orang Readers yang vote MUSE paling banyak akan mendapatkan kenang-kenangan dari saya berupa kaos bertuliskan MUSE, bahan katun combet 30s.


Luv yu readers ❤️❤️❤️