
MUSE S2
EPISODE 39
S2 \~ DEMI APA?
\~Pejamkan matamu dan semuanya akan segera berakhir \~
Dia duduk di sampingku, menyandarkan kepalanya di atas pundakku. Tercium bau shampo mint dari rambutnya yang basah. Keheningan ini tak berlangsung lama saat ia akhirnya mulai membuka jaket hoodie yang ku pinjam dari Melody.
“Kau masih SMA?” seperti yang ku duga ia pasti kaget dengan seragam yang ku pakai.
“Iya?” jawabku.
“Berapa umurmu? Sudah punya KTP?”
Aku tak bisa mengatakan padanya kalau hari ini aku berulang tahun. Baru hari ini usiaku 17 tahun. Aku takut dia menolakku, aku butuh uang itu.
“Iya dua bulan lalu,” sebuah kebohongan terlontar dari bibirku.
“Baiklah, kemarilah!! Lepaskan semuanya.”
Aku berdiri mendekatinya, menanggalkan semua pakaianku satu per satu di hadapannya. Aku sudah siap, aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan. Video menjijikkan yang Melody perlihatkan padaku membantuku memahami bahwa hal inilah yang laki-laki sukai.
Dia menarikku masuk ke dalam pelukannya, aku menunduk, malu dengan keadaannya. Aku tak berani memandang wajahnya, kalau bisa aku ingin memejamkan mataku terus selama proses menyakitkan ini berlangsung.
“Hei, Baby, look at me!!” bentakannya membuatku kaget, ia ingin aku melihat wajahnya, menatapnya saat kami bercumbu.
Sumpah aku takut, dia begitu menakutkan. Nada tinggi selalu keluar dari mulutnya, dan tangannya menjambak rambutku dengan kasar. Rasanya sangat sakit. Kenapa perlakuannya bisa begitu berbanding terbalik dengan wajahnya yang tampan?
“Sa—kit.” Aku hanya bisa melirih saat laki-laki ini menggigit bibirku. Perih, dan terasa anyir. Aku yakin bibirku mengeluarkan darah.
Demi apa aku begini?
Demi apa aku rela membiarkan dia menyakitiku? Tanpa sadar air mataku menetes.
“Kenapa berhenti?” Aku mencoba untuk tersenyum, aku tak boleh menangis, aku tak bisa mundur, aku tak bisa kehilangan uang itu.
“Kau menangis!”
“Aku tidak akan menangis lagi.”
Aku berjalan mendekatinya, naik ke atas ranjang. Mendekati tubuhnya yang kekar. Aku memang tak pernah tahu seperti apa bentuk tubuh pria sebelumnya, tapi menurutku tubuhnya sungguh indah. Aku mengelus perutnya yang penuh dengan otot-otot yang kencang, naik sampai ke dadanya yang bidang. Sekejap kemudian mata kami bertemu, aku melihat wajahnya merona kemerahan. Apakah dia baru saja tersipu karenaku?
Tanpa ragu aku kembali menciumnya, dan ia membalas ciumanku. Rasanya begitu mendebarkan. Walaupun aku tahu, aku hanyalah wanita satu malam untuknya. Tapi nyatanya debaran itu mampu membuatku menikmati ciumannya.
Laki-laki itu bangkit, ia mengunci pergelangan tanganku. Kini hanya kakikulah yang memberikan jarak di antar kami. Tanpa banyak bertanya lagi ia menyerangku, melancarkan semua cumbuan mesra yang biasa dilakukan oleh pasangan suami-istri. Aku memejamkan mataku, berusaha untuk menerima perlakuannya tanpa merasa jijik.
Sampai akhirnya tiba saatnya untuk masuk, aku menelan ludahku beberapa kali. Apa benar rasanya sangat sakit? Aku takut..
“Kau tak memakai pengaman, Tuan?” Aku kaget melihatnya tak memakai k***m, bagaimana kalau aku hamil? Aku tak ingin hamil, walaupun Melody sudah memberiku obat, tapi bukankah lebih aman saat menggunakan benda bening lengket itu?
“Tidak,” jawabnya singkat.
Baiklah, aku juga tidak mungkin memaksanya untuk mencari benda itu saat ini. Dia sudah membeliku 100 juta, dan itu bukanlah nominal yang kecil. Aku harus bertahan demi uang itu, uang yang bisa memperpanjang umur kedua orang tuaku.
Tahan saja Kalila! Ini tak akan lama..
Pejamkan matamu dan semuanya akan segera berakhir.
Cukup kau tahan saja rasa sakitnya..
Tahan saja penghinaannya..
Asal Papa dan Mama masih menemanimu, apapun akan kau lakukan bukan?
“Argh!!!” Aku merancau, rasanya sakit sekali. Panas dan perih... menusuk jauh ke dalam, hentakkannya sangat menyakitkan.
Aku ingin mengatakan padanya agar dia menghentikan semua ini. Tapi nyatanya aku lebih memilih untuk diam, aku memilih untuk membiarkannya bermain di dalam tubuhku.
Aku hanya bisa mereemaas seprei hotel sampai kusut, menggigit bibirku, dan memejamkan mata. Aku harap hal ini akan segera berakhir. Tanpa sadar air mata mengalir dari sudut mataku.
“Hei baby!! Jangan menangis! Apa aku terlalu cepat?” Laki-laki itu bertanya dengan lembut seraya mencium keningku, menghapus lelehan air mata dengan punggung jari telunjuknya.
“Apa?” Aku tak percaya dengan apa yang ku dengar. Kenapa dia berubah menjadi begitu lembut? Aneh sekali.
“Aku akan melakukannya pelan-pelan! Kau jangan menangis!”
“Baik,” lirihku, wajahku menghangat, aku yakin saat ini aku pasti sudah gila. Aku tersipu pada laki-laki yang meniduriku demi nafsunya.
“Ahg....” aku merancau dan hal itu membuatnya semakin bersemangat.
Entah sudah berapa lama ia bermain, rasanya sangat lama bagiku. Kakiku sampai mati rasa menahan tubuhnya.
“Hah..hah..” ia menjatuhkan tubuhnya di atasku setelah mencapai puncaknya.
Aku terdiam, peluhnya yang hangat membasahi tubuhku. Aroma parfumnya yang mahal tercium pekat, begitu maskulin. Aroma laut dan juga citrus. Aku menyukai aroma ini.
— MUSE S2 —
“Kapan semua penderitaan ini akan selesai?” Aku berjongkok memeluk lututku, menangis tersedu-sedu.
Aku sudah kehilangan mahkotaku yang sangat berharga. Menyesalpun sudah terlambat, noda ini tak akan pernah bisa di hapus. Sekeras apapun aku membersihkannya rasanya tetap saja kotor. Sekeras apapun aku menggosoknya rasanya tetap saja kotor!
.
.
.
“Tuan, saya pulang dulu. Terima kasih untuk makanannya.” Aku menundukan sedikit kepalaku, hendak berpamitan.
“Oh.. kau mau pulang?”
“Iya.”
“Di luar hujan.”
“Tidak apa-apa. Aku bisa naik taxi, Tuan.”
“Baiklah. Ini cek-nya,” tangannya terulur dengan selembar kertas berwarna kuning gading.
“Terima kasih.” Aku menerimanya, air mataku akan kembali menetes tapi aku menahannya.
Aku hendak keluar dari kamar saat suaranya kembali memanggilku, “hei, baby!!”
“Ya, Tuan?”
“Ini kartu namaku. Hubungi aku kalau kau membutuhkan sesuatu. Juga kalau kau hamil,” ucapannya membuat hatiku sakit, benar saja, bagaimana kalau aku hamil? Apa dia akan menyuruhku untuk menggugurkannya?
“Baik, Tuan,” jawabanku singkat. Aku menerima kartu namanya dan memasukkannya ke dalam saku rok.
.
.
.
Aku bergegas turun dari lantai 14 menuju ke lobby hotel untuk mencari taxi. Aku harus segera kembali ke RS untuk membayar penumpukkan tagihan obat dan perawatan.
Aku sudah berada di pinggir jalan, mencari taxi offline ataupun online yang lewat di depan area drop off.
Krrringg 🎶
Bunyi ponsel menghambat langkahku.
Aku melirik pada layar ponsel. Dari Rumah Sakit. Kenapa mereka menelfonku? Ada apa?
“Ha—hallo..” aku terbata, jantungku berdebar tak karuan.
Entah apa yang terucap dari sebrang sana. Aku tak bisa mencernanya. Mereka bilang Papa dan Mamaku meninggal. Joke apa lagi ini Tuhan? Sebercanda inikah Tuhan dengan kehidupanku.
Papa meninggal setengah jam yang lalu, di susul oleh Mama 10 menit kemudian.
Kesedihanku..
Kebodohanku..
Deritaku...
Aku sudah kotor dan ternoda..
Lalu Demi apa aku begini?
Demi apa?
Ponsel terjatuh dari genggamanku. Hancur seperti hatiku saat ini. Aku berjalan lunglai menuju Rumah sakit. Dalam derasnya hujan aku berharap semu agar hujan menghapus semua noda ini. Menghapus semua rasa sakit ini.
— MUSE S2 —
Muse up
Dukung kisah cinta Arvin, Kalila, dan Angga.
Berikan vote, like dan juga comment.
Minta bintang 5 nya ya readers
Makasih
I lap yu pull...