
MUSE
EPISODE 29
3 HATI 1 CINTA
\~Lewat lensa kameranya dia mengubahku, lewat karyanya dia mencintaiku.\~
(JULIUS)
“Siapkan kamar oprasi..!”
“Pasien kehilangan banyak darah.”
“Golongan darah A.”
“Masih mengalami syok!!”
“Pupil mata tak merespon.”
“Kesadaran menghilang.”
Aku masih terus menggenggam tangan Lenna yang terkulai lemas. Suara-suara yang terdengar panik di dalam ambulan menemani perjalanan kami sampai ke rumah sakit. Semua perawat IGD langsung berlari menyambut kedatangan mobil ambulan.
Aku terpaksa melepaskan pegangan tanganku dari tangan Lenna yang semakin terasa dingin. Tubuhnya masih membujur kaku dan tak sadarkan diri. Aku berlari mengikuti derap langkah perawat yang menggiringnya masuk ke kamar oprasi.
“Tunggu di sini!”
Pintu otomatis tertutup saat perawat itu masuk ke dalam.
Detik demi detik, menit demi menit berlalu begitu saja. Aku hanya bisa terduduk pasrah di sudut ruang tunggu. Beberapa orang perawat terlihat berlalu lalang, aku ingin bertanya namun mereka hanya bergeleng karena belum mengetahui hasil oprasinya.
Hampir 5 jam aku menunggu, aku menjambak rambutku. Rasanya kepalaku akan pecah, jantungkupun tak berhenti berdegup dengan cepat. Harusnya aku saja yang menerima tembakan itu, kenapa dia malah berkorban untukku??!!!
Aku terus berdoa dan memohon kepada Tuhan, untuk memberikan mujizatNya kepada Lenna. Jujur aku benci keadaan ini, benci keadaan di mana aku merasa tak berdaya. Kalau sampai ada apa-apa dengan Lenna, bagaimana aku akan menjalani hidupku?? Aku tak bisa hidup tanpanya.
“Keluarga pasien??” seorang dokter keluar dari balik pintu.
“Saya..!” Aku berdiri dan bergegas menemuinya.
“Bagimana dok?? Bagaimana Lenna?” Aku mencengkram erat lengan dokter tua itu.
“Tenang, Pak! Tenang! Oprasinya berhasil, masa kritisnya sudah lewat.”
“Benarkah???” Aku melepaskan cengkramanku dan menghela nafas lega.
“Pelurunya mengenai limpa, jadi pendarahannya sangat hebat. Kami terpaksa memotong limpanya. Kedepannya pasien akan lebih mudah terkena penyakit jadi mohon untuk lebih berhati-hati menjaganya.” dokter itu mengangguk dan tersenyum, lalu berlalu meninggakanku.
Tanpa aku sadari air mataku mengalir dengan deras, kelegaan memenuhi hatiku. Aku terduduk lemas dan menangis. Aku bahagia, rasanya sangat bahagia.
“Terima kasih, Tuhan.”
—MUSE—
(LENNA)
Suara desiran dan tarikan pelatuk pistol masih terngiang jelas di benakku. Warna merah tua darah yang gelap memenuhi kakiku dan semakin lama semakin naik, menenggelamkanku dalam kehampaan. Sekian waktu kemudian aku merasakan kegelapan total yang menakutkan.
Samar-samar aku bisa mendengar suara Julius yang terus memanggilku, memanggil namaku. Aku ingin berbalik, mencari arah suara itu, mencari secerca cahaya yang membebaskanku dalam kegelapan ini.
Bau karbol tercium memenuhi indra penciumanku. Aku menggerak-gerakan jemari tanganku. Rasanya sangat kaku. Aku juga memutar bola mataku mencoba untuk membuka mata. Rasanya sangat silau. Seperti menatap sinar matahari atau lampu LED secara langsung.
Samar-samar aku bisa mendengar suara Julius.
“Iya, tolong persiapkan. Aku mau pamerannya segera dimulai.”
Aku memaksakan diriku untuk menatap punggungnya. Punggungnya yang lebar terlihat bungkuk, apakah dia terlalu letih?
“Kak Ius..” Aku memanggil namanya pelan.
“Lenna!! Kau sudah sadar???” Julius terkejut, dengan secepat kilat dia datang menghampiriku.
“Aku haus.”
“Sebentar aku ambilkan air.” dengan telaten Julius menyendokan air sedikit demi sedikit.
Segarnya air membasahi tenggorokanku yang kering.
“Aku masih hidup?”
“Iya Lenna.”
“Aku bermimpi sangat menakutkan, menakutkan karena semuanya hanya terisi dengan kegelapan.”
“Lupakan mimpi itu Lenna. Sekarang kau ada di sini. Bersamaku.” Julius mencium pergelangan tanganku.
Sedikit perih saat menyentuh lukaku, terasa menyakitkan, tapi aku menyukainya. Rasa sakit ini membuktikan bahwa aku masih hidup, masih bernafas.
“Aku akan kabari Om dan Tante Kai, mereka sangat mencemaskanmu. Kamu istirahatlah.” Julius mencium keningku dan bergegas keluar.
Aku tersenyum dan mengangguk lemas.
—MUSE—
Setelah mengalami perawatan intensif selama hampir satu bulan aku diijinkan keluar. Sebenarnya 2 minggu yang lalu tubuhku sudah berhasil pulih, namun kondisi mentalku yang masih menjadi masalah utama. Aku masih sering menangis dan terbayang merahnya darah di tanganku.
“Kau siap untuk pulang?” tanya Julius lembut.
“Siap.”
“Ayo.” Julius membawa tas berisi pakaian dan berjalan terlebih dahulu.
“Kak.. Boleh aku mampir ke sebuah tempat?” pertanyaanku menghentikan langkah kakinya.
“Ke mana? Kaukan baru sembuh?”
“Ke kuburan Alex.”
Julius hanya diam, dia tidak menjawab ataupun memberikanku ijin. Dia membantuku berjalan dan masuk ke dalam mobil. Dalam keheningan, perjalanan ini menjadi semakin menyesakkan.
“Aku akan menemanimu.” Julius mengubah arah kendaraannya, menuju sebuah desa. Kampung halaman Alex.
Hamparan bunga lavender terlihat begitu cantik di sore hari. Sinar matahari yang berwarna oranye, dan bunga yang berwarna Violet. Walaupun warnanya terlihat sangat kontras tapi perpaduannya terlihat sangat indah. Aku memetik beberapa tangkai sebelum mendatangi makam Alex.
Kami harus maju beberapa mil lagi untuk akhirnya sampai di sebuah pemakaman umum.
“Hai, Alex.” Aku berjongkok di sebelahnya.
Julius mendekatiku dan membalutkan syal tebal untuk menutupi tubuhku dari terpaan angin sore yang dingin.
“Apa kau mau memaafkanku??” butiran air mata menetes memenuhi wajahku. Jatuh dan membasahi tanah di makam Alex.
Beberapa saat aku diam tanpa kata. Hanya bisa duduk di samping makamnya, entah apa yang telah terjadi sampai kami bisa menjadi seperti ini? Seandainya waktu bisa diputar kembali, aku akan berusaha untuk mengubah segalanya. Memperbaiki segalanya.
“Istirahatlah dengan tenang.”
Aku meletakan seikat bunga lavender kesukaanku, Alex selalu memberikannya untukku.
Selamat tinggal cinta pertamaku.
dan..
Maafkan aku..
—MUSE—
Aku kembali menjalankan kehidupanku sehari-hari, pulang ke rumahku dan menjadi anak yang baik. Mulai membantu menjalankan dan menekuni bisnis Papa.
Aku sudah berhenti menjadi seorang model, bekas luka operasi di perutku menjadikan alasan utama untukku berhenti berkarya. Walaupun sudah ada teknologi operasi dengan metode jahitan seperti bedah plastik tapi aku tetap tidak percaya diri. Bekasnya terlihat jelas di kulitku yang sangat putih.
Kriiingg..
“Halo sayang.” Aku mengangkat telfon dari Julius.
“Malam ini? Tentu saja bisa. Aku pasti memakai gaun yang tercantik.”
“Oke.. see u tonight.” Aku menutup telfonku.
Julius mengajakku bertemu malam ini. Dia bilang aku harus tampil lebih menawan dari biasanya. Membuatku penasaran sebenarnya apa yang sedang dia rencanakan?
Suara mobil memasuki halaman rumahku. Aku sudah sangat hapal dengan suara mobil kesayangannya itu. Mungkin selain aku, kekasihnya adalah kamera dan mobil ini, motornya sudah dicampakkan.
“Hei, cantik.” bisiknya di telingaku, membuatku tersipu dan geli. Entah kenapa aku kembali tak terbiasa dengan rayuan dan pujiannya.
Aku memakai gaun berwana peach dengan potongan V neck, lengannya panjang dan bertaburkan batu yang berkilauan. Ada belahan di bagian rok, membuatku memamerkan sebelah kakiku yang jenjang saat berjalan.
Julius membantuku masuk dan keluar dari mobil. Perlakuannya membuatku seperti seorang putri, selalu merasa di cintai. Aku sangat mencintainya, melihatnya selalu berjuang dan menolongku membuat seluruh es di hatiku luntur, mencair dan meleleh. Dia menjadikan hatiku selalu hangat dan nyaman.
“Ayuk masuk, ada yang mau aku tunjukan.” Julius menggandengku masuk ke dalam gedung seni.
Aku sangat kaget melihatnya, seluruh isi pameran di gedung itu adalah foto-fotoku. Hasil jepretan dari kamera Julius. Semuanya wajahku, semuanya tubuhku, semuanya gambar dan ekspresi wajahku. Di tengah- tengannya ada 5 lukisan karya Alex yang dibeli oleh Julius dari pelelangan.
Semua orang yang mendatangi gallery tersenyum dan menyalamiku. Bahkan ada beberapa yang meminta berfoto dan tanda tanganku.
“Kakak sangat mengispirasi!” seru salah satu dari mereka.
“Semangat, ya, Kak. Kami mendukungmu.”
“Walaupun kakak memiliki kelainan genetik tapi kakak tetap berkarya dengan luar biasa. Hebat!!”
“Tapi aku sudah berhenti dari dunia model.” Aku tersipu dan sedikit menolak sanjungan mereka yang terlalu tinggi.
Julius tersenyum, aku melihatnya dan ikut tersenyum.
Dialah laki-laki yang menjadi cinta terakhirku, di mana aku ingin memberikan seluruh hati dan jiwaku saat ini. Aku mencintainya karena dia mencintaiku apa adanya. Tak pernah melihat aku sebagai orang yang berkebutuhan khusus, dia memandangku sama dengan manusia lainnya.
Aku mencintainya yang tulus mencintaiku.
Aku mencintainya yang selalu mengerti segala isi hatiku.
Aku mencintainya yang selalu mendukungku.
Aku sangat mencintainya.
Tuhan ijinkan aku memperbaiki segala kesalahan yang pernah aku lakukan dengan menjaga pria di depanku ini.
Julius mendekatiku, dan berhenti beberapa langkah di depanku. Dia berlutut dan mengambil sebuah kotak merah dari dalam saku celana?
“Lenna menikahlah denganku. Be my only MUSE.” cincin dengan batu berlian berwarna violet menjadi mahkotanya.
“Teriiimaa!!! Say YES!!!” semua pengunjung bersorak dan mengelilingi kami.
“Iya aku mau, Be your only MUSE.” Aku menangis haru dan memeluk Julius.
Cincin itu tersemat manis di jari manisku, dia memilih batu amethyst yang berwarna ungu. Melambangkan keberanian, kekuatan, dan ketulusan.
Kini aku menjadi satu-satunya MUSE Julius, dan dia menjadi satu-satunya SENIMAN di hidupku.
Lewat lensa kameranya dia mengubahku, lewat karyanya dia mencintaiku.
—END—
Free talk.
Hallo readers..
Muse tamat hlo.
Tapi masih ada Epilog
Tunggu episode selanjutnya ya ^^
Klik + fav, like dan isi kolom komentar
Jangan Lupa Vote
❤️❤️❤️❤️❤️
Love ><