MUSE

MUSE
S4 ~ KEANO AMERA



MUSE S4


EPISODE 4


S4 \~ KEANO AMERA


\~Ken terlalu lemah dan semakin lemah saat menyangkut hal tentang Inggrid. Bagaimana bisa dia sukses dan menjadi pria hebat kalau seperti ini keadaannya? \~


________________


Halo namaku Keano, aku sering muncul di MUSE S2, kalian pasti kenalkan. Aku punya dua kepribadian. Yang pertama bernama Ken dan yang kedua bernama Ra.


Ken sangat menyayangi Inggrid, sangkin sayangnya, Inggrid sudah seperti keluarganya sendiri, seperti saudarinya. Ken tak pernah mau mengungkapkan kata cinta pada Inggrid karena takut sebuah hubungan yang terikat akan menyakiti Inggrid.


Bertolak belakang dengan Ken, Ra, dia sangat membenci Inggrid. Baginya Inggrid adalah serangga yang selalu saja menempel pada tubuhnya. Ra sangat menyukai gadis manis yang imut, bukan gadis serampangan dan seenaknya sendiri seperti Inggrid.


— MUSE S4 —


KEN POV


Hatiku merasa lega setelah mengatakan semuanya pada Inggrid semalam. Inggrid bisa memaklumi keadaanku yang tidak normal ini. Dan akupun berjanji padanya akan menekan keberadaan Ra. Kami juga akan menemui orang yang mungkin bisa membantu kami mengatasi masalahku ini.


Esoknya....


Hari ini Inggrid terlihat begitu cantik. Dia memakai jumpsuit jeans pendek dengan kaos garis warna pelangi sebagai innernya. Tak lupa sepatu canvas dengan gambar kartun power puff girl. Sepatu Inggrid memang sengaja dipesan kusus karena dia begitu ngefans dengan ketiga cewek imut itu. Terakhir bumbag dan topi baseball putih sebagai pelengkap penampilannya sore ini.


Inggrid menaikki skateboardnya, mendorong maju papan sluncur beberapa kali sebelum akhirnya meluncur cepat di jalanan. Kakinya sesekali bergerak ke depan dan kebelakang, mencari keseimbangan dan juga arah belokan. Kadang Inggrid berjongkok saat turunan jalan agar kondisi papan ya stabil, bahkan tak jarang dia memutar tubuhnya di atas papan. Membuatku bergeleng dengan tingkahnya yang suka pamer keahlian. Tapi memang harus aku akui, Inggrid lebih jago bermain skateboard dibanding diriku.


“Ayo gandengan!!” Inggrid menarik tanganku.


“Ok,” tanganku terulur dan meraih tangannya, kami berbelok pada tikungan secara bersamaan.


Sore ini kami berjalan-jalan dengan skate menyelusuri jalanan perumahan menuju ke komik cafe. Mencari komik seru untuk kami baca. Mengisi waktu luang sebelum langit malam muncul. Inggrid sangat tidak betah di rumah karena tiga orang adiknya terlalu cerewet.


“Permisi, jus jambu dua!” Inggrid memesan minuman pada bagian pelayanan.


“Baik, mau tambah cemilannya?”


“Ken, kau mau pangsit goreng atau siomay?” tanya Inggrid.


“Pangsit,” jawabku sembari memilih buku.


“Pangsit goreng satu porsi, siomay satu porsi, jus jambu dua.” Inggrid mendengarkan pelayan membacakan ulang pesanannya.


“Oke sip, sudah aku bayar, ya!” Inggrid menscan barcode pembayaran.


“Oke.”


Inggrid bergegas merangkul lenganku dan ikut memilih komik. Aku memilih komik berganre petualangan dan juga action. Sedangkan Inggrid komik horor dan juga thriller. Entah kenapa gadis seusianya bisa lebih memilih komik macam itu dibanding dengan kisah romantis dengan CEO sebagai pemeran utamanya.


“Sudah dapat?”


“Sudah, yuk ke sana.” Inggrid mengajakku masuk ke dalam area baca, kami memilih tempat VIP, di mana kami bisa membaca sambil rebahan. Kami berdua tengkurap di bilik baca.


Bilik baca VIP semacam bilik susun dengan model honeycom. Spons tebal dan karpet hijau menjadi alas tidurnya, ada beberapa bantal dan boneka karakter seperti one piece, dragon ball, demon slayer, doraemon, sampaihamtaro . Mereka menyediakan semua ini agar pengunjung merasa nyaman saat membaca. Berbeda dengn bilik baca dengan kursi sofa, bilik VIP bisa kita pakai kalau sudah menjadi member dan membayar iuran bulanan.



(Credit pict to owner)


“Baca apa, Ken?”


“Bloody Monday.” jawabku. Komik tentang jenius hacker sebagai tokoh utama, mereka menyelidiki tentang penyebaran virus bloody marry di negara J.


“Seru nggak?!” tanyanya lagi.


“Menurutku sih seru. Kau baca apa?”


“Komik lama nih, tentang masak-masak gitu. Baca komiknya bikin laper.” Inggrid menunjukan komik memasak yang dibacanya.


“Tumben nggak baca bacaan horor?” tanyaku heran.


“Belum pada keluar volume terbarunya.” Inggrid memasukkan siomay goreng ke dalam mulutnya.


“Enak banget kayaknya?” Aku melirik caranya makan.


“Mau?”


“Boleh?”


“Boleh, asal aku yang nyuapin.” Kikih Inggrid.


Inggrid mengambil satu buah siomay dan meletakkannya pada bibir. Lalu memejamkan mata dan mendekatkan wajahnya padaku.


“Inggrid?” wajahku menghangat, apa maksud Inggrid? Apa dia ingin aku menciumnya?!


“Kelamaan,Ken!!” Inggrid menyuapkan siomay dengan mulutnya masuk ke dalam mulutku. Ia menutup wajah kami dengan buku komik agar orang yang lewat tak bisa melihat kelakuan nekat kami.


“Enakkan?!” tanyanya sambil nyengir.


“Enak!!” Aku memakannya sambil melanjutkan ciuman kami.


“Kok terusan!!” Inggrid menarik dan mencibirkan bibirnya.


“Salah sendiri kau pancing-pancing aku duluan!” Aku memeluk punggungnya, membuatnya menyikut pinggangku.


“Ken, kenapa kau tak pernah bilang kalau kau mencintaiku?” Inggrid menatapku, kini sorot matanya mulai terlihat serius.


Kami saling memiringkan badan sambil bersitatap. Inggrid begitu ingin tahu dan mendengar pernyataan cinta dariku. Padahal bagiku saling menyayangi dan memiliki saja sudah cukup. Ikatan akan membuatnya sakit hati karena Ra belum tentu mau menerima ikatan itu.


“Aku menyayangimu Inggrid. Sebenarnya aku juga mencintaimu, tapi apa kau yakin butuh ikatan ini? Apa kau yakin ingin pacaran denganku? Aku punya dua kepribadian.”


Inggrid menghembuskan napasnya kasar lalu terlentang pada karpet hijau. Ia melihat ke arah downlight pada langit-langit bilik yang pendek. Sepertinya Inggrid juga ikut bingung dengan keadaan kami.


“Lalu? Apa selamanya kita akan seperti ini? HTS* an? Bro and Sist, Friendzone? Padahal hatimu jelas tau kalau kita sama-sama saling cinta.” senyumnya kecut.


|* hubungan tanpa status.


“Baiklah, katakanlah kita pacaran. Lalu kalau Ra ternyata menolakmu dan mencari wanita lain bagaimana?” kini aku memastikan perasaannya, aku tak ingin diriku menyakiti hatinya.


“Emang kalau kita begini, kau kira aku nggak bakalan sakit hati gitu?” nada suara Inggrid meninggi. Duh, kenapa hati wanita begitu susah diselami? Atau apa memang aku yang salah ngomong?


“Inggrid, bukan begitu maksudku.” Aku menahan tubuhnya agar tidak pergi.


“Lepasin!! Aku pergi kalau kau nggak mau ajak serius hubungan kita.” lirik Inggrid tajam, kalau begini dia beneran mirip Papanya.


“Oke, berhenti meronta! Aku bakalan bilang kalau ak...,” lalu saat aku menahan Inggrid yang sedang meronta tiba-tiba kaca mataku melorot dan jatuh.


RA POV


“Hei cewek jelek!! Ngapain marah-marah kaya orang gila!”


“Ken?!!” lagi-lagi dia memanggilku Ken.


“Ra!!”


“Ra?! Kapan kau muncul?” tanyanya heran.


Aku memberi kode padanya, kaca matanya terjatuh, dengan jatuhnya kacamata si cupu berarti aku bisa keluar dengan bebas.


“Aku lagi bicara sama Ken! Kau kembali dulu, keluarkan Ken!” ucapnya agak kasar.


Ssssttt.... semua pengunjung komik cafe pada protes dengan kebisingan yang kami hasilkan.


Kami berdua saling memandang dengan wajah tidak suka. Aku sendiri juga malas meladeni cewek bar-bar satu ini. Kok bisa sih, jadi cewek nggak ada manis-manisnya? Manja dikit kek! Sok imut dikit kek! Parahnya Ken suka padanya! Aku sampai heran dia buta apa gimana?


“Ken tidur.” Aku bangkit dan mengambil kaca mata, tak lupa meneguk habis jus di depanku. Tubuhku terrasa gerah dan aneh. Sebenarnya ada apa dengan Ken! Mencium gadis serampangan macam Inggrid saja sudah segugup ini.


Aku menyisir rambutku ke belakang dengan jari, poni bukan styleku. (kebayangkan gimana sexynya aku?!). Aku lebih suka begini, lebih terlihat lelaki. Aku lanjut meninggalkan si cewek bar-bar yang masih melongo keheranan.


“Woi!! Tunggu woi!! Aku belum selesai ngomong sama Ken!” teriakannya bikin aku sebal.


Sssttttt.... lagi-lagi pengunjung cafe marah.


Aku mengacuhkan Inggrid dan melangkah pergi. Diam di sini hanya akan menambah keributan yang lain, sampai akhirnya pasti kami akan diusir oleh petugas jaga.


Aku mengambil skateboardku dan mengayuhnya. Melesat jauh pada jalanan dengan papan hijau milikku. Inggrid ikut memacu papan seluncurnya dan mengejarku. Hish..., cewek itu belum nyerah juga ternyata. Dibilang Ken sedang tidur, ngapain juga dia kejar aku?!


“Keano!!! Keano Amera!!!! Berhenti kau!!” teriaknya gemas.


Aku menginjak bagian belakang papan skate agar berhenti.


“Ngapain lagi?! Kan sudah ku bilang, aku Ra bukan Ken! Kau ngomongnya nanti saja kalau Ken kembali.”


“Kapan dia kembali?”


“Entahlah?” Aku acuh, aku sendiri juga masih bingung dengan jadwal tukar kami belakangan ini. Biasanya hanya saat kaca mata Keano terlepas.


“Pake kaca matanya!”


“Nope!!”


“Ra!!”


“Hiiih, Berisik!!”


“Biarin berisik!! Ken hampir mengungkapkan cintanya padaku tadi!! Kenapa kau mesti keluar dan mengacaukannya?” Inggrid mencengkram kerah kemeja kotak-kotak yang kugunakan sebagai outer.


“Baiklah! Coba aku pakai.” Aku berpura-pura mengambil kaca mata pada saku bajuku. Inggrid terlihat senang dan melepaskan tangannya. Begitu Inggrid melepaskan cengkramannya, aku bergegas melesat pergi.


“Weekk...!” ejekku sambil melambai padanya.


“Ra!!! Sialan!!” Inggrit berkacak pinggang, di marah karena aku menipunya.


Aku memacu papanku dengan hati bahagia, menjauh dari cewek itu adalah hal yang terbaik. Ken terlalu lemah dan semakin lemah saat menyangkut hal tentang Inggrid. Bagaimana bisa dia sukses dan menjadi pria hebat kalau seperti ini keadaannya? Dia tak pernah akan keluar untuk bersosialisasi karena bersama dengan Inggrid saja sudah cukup baginya. Lalu, apa selamanya dia akan jadi pria lemah dan terus jadi kutu buku yang di hina orang?


“Tidak!! Aku tak akan membiarkannya! Aku akan mengambil tubuh dan menjadi Keano seutuhnya.”


—MUSE S4–


MUSE UP..


VOTE yuk...,


tolong di Like terus di comment yang bayak biar author femes..


🥰🥰🥰


Makasih ya readers ketche ku...


Jangan lupa baca novel saya yang lain.


🤭🤭