MUSE

MUSE
S6 ~ LANTAS SIAPA?



MUSE S6


EPISODE 25


S6 \~ LANTAS SIAPA?


\~Asal kau tahu Cindy! Kalaupun kau merusak wajahnya, membuatnya cacat pun aku akan tetap mencintai dan menerima Gabby apa adanya!\~


______________________


Cindy begitu mencintai Ivander, hatinya begitu terluka saat Ivander mengusirnya dari apartemen dan lebih memilih berhubungan dengan Krystal. Cindy frustasi, sejauh apapun dia mencoba menghempaskan sosok Ivander, nyatanya bayangan dan rasa cintanya tetap tak beranjak pergi.


Cindy semakin geram, ia tak kuasa lagi membendung amarah dan emosinya tak kala tahu Ivander telah kembali berganti pasangan. Kali ini dengan seorang violist muda berbakat, namanya Gabriella.


Sudah beberapa hari ini Cindy diam-diam membuntuti Ivander, mencoba untuk mencari celah mendekati pria macho itu, memperjuangkan cintanya kembali. Namun lagi-lagi Ivander menolaknya, alasannya tak masuk akal. Dia bilang cintanya sudah ia berikan pada Gabby, pada kekasihnya.


“Sial!! Akan aku bunuh wanita itu!” Cindy berjanji pada dirinya sendiri.


Tanpa ragu Cindy memesan sebuah tiket pertunjukan biola Gabby, ia meminta bantuan temannya untuk menahan kedatangan Ivander. Cindy sangat tahu bahwa Ivander selalu lembur sebelum weekend karena tak pernah ke kantor pada akhir pekan. Ia tak melepaskan kesempatan ini, memakainya untuk mengempeskan ban mobilnya, Ivander pasti hanya akan sendirian bersama beberap orang saja. Cukup untuk menghalanginya datang kemari.


“Wanita itu harusnya tahu diri! Berani-beraninya dia mengambil Ivander dariku?!” tukasnya saat melihat penampilan Gabby.


Tak lama penampilan Gabby berakhir, Gabby hanya sebentar karena ini bukan konser tunggalnya. Lagi pula tangan Gabby masih sedikit berdenyut sakit kalau digunakan terlalu keras. Gabby harus mengerti batasannya atau dia tak akan lagi bisa memainkan biolanya.


Malam semakin larut, konser pun berakhir. Gabby menunggu Ivander, namun pria itu tak kunjung datang. Akhirnya Gabby menyerah dan memilih untuk pulang. Cindy menunggunya di dalam mobil, ia langsung keluar dengan membawa pemukul baseball begitu melihat batang hidung Gabby.


Dengan mengendap-endap, Cindy mencari saat yang tepat untuk menyerang Gabby. Dan begitu Gabby terlihat lengah, Cindy memukul bagian belakang Gabby, membuat gadis itu langsunh tersungkur ke bawah.


Kepalanya terasa begitu sakit dan pening, pandangannya mulai kabur. Gabby samar-samar masih bisa melihat ke atas, mencoba untuk mengenali siapa yang memukulnya. Rambutnya panjang dan berwarna merah kecoklatan, seringai kepuasan mewarnai wajahnya. Terlihat dari sudut bibirnya yang memincing. Bibir yang sangat merah, aroma pekat parfumnya membuat Gabby semakain pusing dan akhirnya tak sadarkan diri!


“Wanita brengsek!! Beraninya kau mengambil Ivander dariku!” geramnya marah.


Cindy hendak menyeret tubuh Gabby, namun seseorang menahan pergelangan tangannya. Kepalanya tertutup tudung jaket, wajahnya juga tertutup masker.


“Si—siapa kau?!” Cindy membelalak, takut aksinya ketahuan.


“Tidak penting siapa aku, pergilah atau akan ku buat kau menyesalinya!” Suara itu terdengar parau dari balik masker skuba hitamnya.


“Hiii ...!” Dengan ketakutan Cindy bergegas meninggalkan area parkiran. Ia berlari cepat ke arah mobilnya.


Pria misterius itu menggendong Gabby, memasukkannya ke dalam mobil. Mengajaknya menyelusuri jalanan ibu kota, menuju ke sebuah bangunan tua yang tak lagi terpakai.


— MUSE S6 —


Ivander berlari pada koridor teater music, mencari keberadaan Gabby. Menyibak semua pintu, bertanya pada semua staff yang tersisa, menelepon menager Gabby. Namun semuanya nihil, Gabby tak terlihat. Ivander tengah bingung karena hanya menemukan biola teronggok begitu saja di dekat motor kesayangan Gabby.


“Di mana kamu, Schatz?” Ivander mengusap keringat pada keningnya.


Manik mata hezelnya melirik jarum arloji, jam dua dini hari, sudah hampir empat jam ia berputar-putar dan mencari keberadaan Gabby. Hati Ivander berdegup cepat, napasnya menderu, membuat bahunya naik turun tak beraturan. Ivander sungguh sangat ketakutan saat ini, apa lagi saat teringat Gabby bercerita kalau akhir-akhir ini ada yang terus membuntutinya.


Ivander menghubungi semua kenalannya, mencari info apapun yang bisa mencari keberadaan Gabby. Akhirnya Ivander mendapat izin membuka CCTV keamanan milik teater kesenian. CCTV hanya merekam kejadian di sekitar teater, tak ada CCTV di area parkir mobil.


“Ketemu!!” Ivander melihat Cindy pada layar monitor. Wanita yang pernah mengisi selimutnya itu terlihat beberapa kali berada di dekat Gabby. Tanpa ragu Ivander menghubunginya, mencari namanya pada ponsel pintar.


“Cindy di mana Gabby?!” bentak Ivander dari ponselnya.


“A—aku ti—tidak tahu, Van!” gagapnya ketakutan, takut Ivander tahu bahwa dia orang yang memukul Gabby.


“Jangan bohong! Aku melihatmu di CCTV, di mana Gabby?! Katakan padaku atau akan aku laporkan kau ke polisi!!” Suara Ivander semakin meninggi, ia terlihat tidak sabaran.


“Ma-maafkan aku, Van! Aku khilaf, aku melakukannya karena aku begitu mencintaimu!!” Cindy terisak.


“Jangan basa-basi Cindy!! Apa yang telah kau lakukan padanya?? Katakan di mana dia?! Katakan sekarang juga!!” Ivander mulai tak sabar, ia terus membentak Cindy sampai wanita itu menangis ketakutan.


“A—aku hanya memukulnya, saat dia pingsan aku ingin merusak wajahnya agar kau meninggalkannya. Tapi ...,” ucapan Cindy tercekat.


“Tapi apa?? KATAKAN!!”


“Tapi seseorang pria dengan perawakan tegap menghampiri kami, aku ketakutan dan meninggalkan Gabby.” Jelas Cindy.


“Apa kau bilang??”


“Dia membawa Gabby masuk ke dalam mobilnya. Aku tak tahu dia membawa Gabby ke mana,” jawab Cindy.


“Sialan!!!” umpat Ivander.


“Maafkan aku, Van. Ini semata-mata karena aku mencintaimu.” Cindy mengiba.


“Asal kau tahu Cindy! Kalaupun kau merusak wajahnya, membuatnya cacat pun aku akan tetap mencintai dan menerima Gabby apa adanya!” Ivander lantas menutup ponsenya geram.


Tangan Ivander terkepal di samping saku, meremaat ponselnya dengan geram. Ivander kembali menuju ke layar monitor, memutar ulang semua CCTV di jam 10 malam, mencari sesuatu hal yang mencurigakan. Mata Ivander mulai perih dan panas mengamati beberapa layar bergantian, namun perjuangannya tak sia-sia saat menemukan sebuah mobil hitam dengan plat nomor yang sama keluar masuk pada jam 10 malam.


“Tidak mungkin!!” Ivander langsung menyahut jasnya, bergegas menuruni tangga menuju ke parkiran motor, mengambil motor Gabby dan memakainya menuju ke suatu tempat.


“Aku harap dugaanku benar! SHIT!!!!” Ivander melaju kencang dengan motor sport milik Gabby, membelah jalanan yang sama.


— MUSE S6 —


Gabby, aku suka padamu, kau cantik dan menggemaskan, apa kau mau berteman denganku?


Gabby, apa kau janji akan menjadi temanku selamanya?


Gabby, kenapa semua orang meninggalkanku? Apa kau juga akan meninggalkanku?


Gabby, kenapa semua orang menyukaimu? Apa aku bisa sepertimu?


Gabby, aku iri padamu, kau punya segalanya, aku tidak!


Gabby, aku hanya ingin hidup dengan bahagia!!


Gabby ... aku menyayangimu, sahabatku.


Gabby ... aku pergi ...


“TIDAK, KRYSTALLL!!!!” Gabby menjerit sekuat tenaga, ia terbangun dengan ketakutan. Mimpi akan bayang-bayang masa lalunya bersama Krystal terflashback dengan begitu nyata.


Gabby tercekat, tenggorokkannya terasa begitu kering. Kepalanya masih terasa sakit dan berat. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Gabby membuka matanya perlahan, hanya kegelapan yang terlihat, seseorang telah menutup kepalanya dengan kain hitam. Gabby terkejut, ia mencoba meronta, tapi ternyata tangan dan kakinya terikat pada sebuah kursi.


“Sudah bangun?” Suara parau kembali terdengar, Gabby tersentak.


“Si—siapa kau? Ma—mau apa kau??” Gabby tergagap, ia ketakutan.


Rasa takut mulai menjalar ke sekujur tubuhnya, menimbulkan getaran hebat pada jari jemari Gabby. Gabby terus meronta dalam ikatannya, mencoba untuk membebaskan diri. Napas Gabby perlahan berubah menjadi berat, rasa takutlah yang berusaha mencekiknya.


“Jantungmu berdebar sangat cepat, Gabby! Aku bisa mendengarnya dari sini. Sama seperti Krystal saat aku hendak membunuhnya.” Pria itu mendekat, ia mengambil kursi, duduk di depan Gabby, tangannya bersandar pada sandaran kursi. Gabby bertolah toleh kebingungan, dia mencoba mendengarkan suara pria itu, mencoba untuk mengenalinya. Pria itu tak menggunakan bahasa Inggris, atau logat yang berbeda, jadi dia bukan Jae Hyung. Bukan Jae Hyung yang membunuh Krystal seperti dugaan Gabby selama ini, lalu siapa?? Siapa yang membunuh Krystal??


“Si—siapa kau?? Apa kau teman wanita itu?” Gabby memberanikan diri bertanya, ia hanya mengenali wanita yang memukulnya sampai pingsan.


“Nope, but ... thanks to her, dia membuatku mudah untuk membawamu kemari.” Pria itu terkikih.


“B4jingan!! Lepaskan aku!! Apa yang akan kau lakukan, hah?” Gabby meronta-ronta, ia terus memutar pergelangan tangannya untuk melepaskan diri, namun lagi-lagi usahanya sia-sia belaka, ikatan itu sangat kencang.


“Siapa kau?? Kenapa kau menyamarkan suaramu??” Gabby berteriak geram.


“Ck,ck,ck, seperti yang aku duga sebeumnya, kau wanita yang kuat dan menggairahkan! Sayangnya kau terlalu naif, Gabby, kau terlalu mudah terjatuh karena perasaanmu,” tuturnya kecewa.


“Brengsek!! Pengecut!! Kau menyandera wanita!! Membunuh wanita!!” Gabby meronta lagi, hendak mencoba untuk membanting diri.


Suara teriakan Gabby teredam, rumah tua kosong itu begitu besar, tak akan ada yang mendengar teriakkannya.


“Kau membuatku bergairah!” Pria itu merobek baju Gabby dengan pisau yang dipakainya.


“Mau apa kau??” Gabby semakin ketakutan, ia begitu merinding saat besi dingin pisau menyentuh kulitnya.


“Di sini, begitu tertancap darah akan mengalir dengan segar, lalu kau akan mati perlahan-lahan dengan kesakitan.” Pria itu mengelus belahan dada Gabby, ia menjilatnya perlahan, membuat Gabby merinding dan semakin ketakutan.


“Ah, dadamu lebih besar dari milik Krystal, mungkin aku harus pakai tenaga yang lebih ekstra lagi untuk menancapkan pisaunya.”


“Kau b4jingan!!!” jerit Gabby.


“Akan aku kirim potongan demi potongan tubuhmu pada Ivander, Gabby. Itulah akibatnya karena bermain kotor di belakangku!”


“Kau!!!” Gabby syok, ia menyadari sesuatu.


Pria itu membuka maskernya sebelum membuka tudung kain yang menutupi kepala Gabby. Mata bulat Gabby membelalak begitu lebar, dengan ketakutan dan desiran pelan pada sekujur tubuhnya Gabby meneteskan air matanya. Tak kuasa menahan rasa sedih dan kekaludtan jiwa begitu mengetahui siapa pria itu!


Gabby begitu mengenalnya, mereka begitu dekat, bahkan Gabby menceritakan segala kehidupan dan keluh kesahnya. Mereka sudah saling mengenal sejak lama.


“ADRIAN!! Teganya kau?!!!”


— MUSE S6 —


MUSE UP


Siapa yang tebakkannya benar??


Siapa yang salah??!


Wkwkwkkwkw


Olah TKP next episode ya gaes. Bagaimana cara Adrian membunuh Krystal. Juga ap motifnya.


😘😘😘😘