MUSE

MUSE
S3 ~ DARI LEON



MUSE S3


EPISODE 107


S3 \~ DARI LEON


\~ Aku akan berubah menjadi cantik dan lebih cantik lagi. Karena aku menerima semuanya ini dari Leon, maka aku akan mempersembahkan semuanya juga untuk Leon.\~


_______________


Tak terasa waktu bergulir begitu cepat, kini sudah masuk ke pengujung musim hujan. Berarti sudah satu setengah semester kami lalui. Aku satu kelas dengan Kalila, tapi ia tak lagi terlihat setelah liburan. Ku dengar Papa dan Mamanya meninggal dunia. Aku hanya sempat menjenguknya 2 kali bersama dengan Leon dan Angga. Setelah itu Kalila sama sekali tak pernah masuk ke sekolah. Kadang aku melirik bangku di sampingku yang kosong, aku merasa aneh dan juga marah. Kalila adalah satu-satunya temanku yang mau tulus berteman denganku. Tapi dia bahkan pergi tanpa pamit kepadaku.


Anak-anak kelas tiga juga telah menghadapi ujian akhir. Mereka menunggu hasil ujian dan sembari mempersiapkan tes masuk ke perguruan tinggi. Sebentar lagi Leon lulus dan aku akan melewati setahun di SMA tanpa dirinya. Duh, rasanya sangat menyebalkan, aku tak ingin berpisah darinya. Ternyata aku begitu bergantung pada dirinya, aku tak bisa hidup tanpanya.





“Jadi bagaimana hasilnya?” Leon menepuk pundakku dari belakang.


“Sebentar, aku ambil napas dulu.” Aku mengipaskan udara ke arah wajah, berharap bisa mengambil napas sepanjang mungkin.


“Setakut itu dengan timbangan?” kikih Leon.


“Iya, benda paling aku benci,” kataku sebal.


“Ayo, Kanna. Kita harus tahu hasilnya.” Leon membantuku menapaki timbangan digital di depan kamar mandinya.


“Oke.” Aku melangkahkan kakiku, badanku sedikit gemetar karena takut, aku takut kalau ternyata hasilnya tak memuaskan.


Muncul angka 72.30


“72!! 8 kg, Leon!!” Aku bersorak kegirangan. Aku langsung melompat ke dalam pelukan Leon.


“8 kg? Waw, emezing!! Kau sudah berusaha, girl.” Leon memelukku, ia memujiku, membuatku semakin bangga dengan hasil yang aku raih.


“Semua karena dirimu, Leon. Aku tak akan bisa kalau bukan kau yang menolongku,” jawabku dengan mata berkaca-kaca.


Aku menggigit bibirku agar air mata haru tidak tumpah, namun tetap saja tumpah, “aku cengeng, ya?”


“Nggak apa-apa cengeng. Aku suka saat kau menunjukan sisi lemahmu dan bersandar kepadaku, Kanna.” Leon mencium keningku.


Ah, lagi-lagi rasa yang hangat. Tubuhku selalu bergetar saat merasakan sentuhan Leon. Bagiku Leon adalah segalanya.


“Ciuman, yuk!” ajak Leon, ia menarikku duduk di atas sofa.


Kami langsung melepaskan rindu dengan berciuman begitu dalam, sesekali Leon memainkan lidahnya dalam mulutku. Kami berciuman cukup lama, tangan Leon mengelus purutku, rasanya hangat dan nyaman.


“Sudah kempes sekarang?” godanya senang.


“Iya sudah mengecil,” tawaku bahagia.


“Tapi kau harus memberi jeda, Kanna. Diet cukup 6 bulan. Istirahatkan badanmu 3 bulan baru mulai lagi.”


“Hah?? Trus kalau aku gendut lagi bagaimana?”


“Berolah raga, imbangi dengan gerak tubuh yang aku ajarkan. Kalau kau diet makan lagi tubuhmu bisa rusak.” Leon memberiku peringatan.


Memang, sih, 6 bulan adalah jangka waktu paling efektif orang melakukan diet ketat, setelah itu penurunannya tidak akan sesignifikan sebelumnya. Dan salah-salah malah akan merusak tubuh, terutama organ pencernaan.


“Baiklah,” anggukku tanda mengerti.


“Good girl.” Leon kembali menarik daguku dan mengecupnya berkali-kali, membuatku geli dengan kelakuannya.


“Leon!” protesku sambil cekikikan.


Leon melepaskan kecupannya dan duduk dengan tegap.


“Oh, iya, Kanna. Aku ingin mengatakan sesuatu.” wajah Leon berubah menjadi serius.


“Apa itu?”


“Hmm..., mungkin aku tidak akan melanjutkan kuliah. Aku akan pergi ke Jepang untuk mengasah kemampuanku membuat keramik.”


DEG...,


Rasanya seperti terhantam batu besar pada ulu hatiku. Padahal membayangkan tanpa adanya Leon di sekolah saja sudah membuat hatiku gundah setengah mati. Aku saat itu masih bisa menenangkan diri karena kami setidaknya masih bisa sering bertemu setiap hari karena bertetangga. Tapi sekarang...,


“Jepang???”


“Iya, aku akan belajar pada ahlinya.” Leon mengangguk dengan antusias tinggi. Aku tau Leon benar-benar menyukai seni keramik, tapi aku tak pernah menyangka kalau ternyata Leon begitu serius dengan mimpinya.


“Berapa lama?”


“Satu sampai dua tahun.”


Tanpa aku sadari air mataku menetes jatuh. Aku tak bisa membayangkan hidupku tanpa dirinya. Kami bahkan sudar bersama belasan tahun. Setiap hari aku selalu melihatnya. Setiap pagi aku selalu menyapanya. Setiap malam aku melihat punggungnya. Bagaimana aku harus menjalani hari-hariku tanpa kehadirannya?!


Ya, Tuhan apa boleh aku menjadi egois dan memintanya untuk tetap tinggal di sisiku?


“Kanna...? Kanna? Kenapa kau bengong?”


“Leon..., jangan pergi!”


“Kanna, cuma satu tahun! Lagian Kita tidak putus, hanya LDR.” Leon mengelus lagi rambutku.


“Apa Papa Mamamu tau?”


“Mereka tau, awalnya mereka sangat menentang, tapi lama-lama luluh juga. Akhirnya biaya kuliah yang selama ini mereka tabung akan aku gunakan untuk belajar ke Jepan.” Leon bangkit dan menggandengku pulang kembali ke rumahku.


Selama perjalanan singkat itu aku sama sekali tak bisa berkata apapun. Lidahku kelu, hatiku sangat gundah, aku takut. Aku tak bisa berpisah darinya, aku tau namun tak berani mengatakannya.


“Masuklah, Kanna!” Leon melepaskan gandengan tangannya.


Aku masih diam saat tiba-tiba Papa keluar dari dalam rumah dan menghampiri kami berdua.


“Malam, Om.” sapa Leon dengan sopan.


“Heem.” Papa hanya berdegem panjang sebagai jawaban.


“Leon pamit, Om.”


“Tunggu!! Ada yang Om ingin tahu.”


“Ya?” Leon bingung, akupun bingung.


“Apa kalian berdua pacaran?”


“Papa!” protesku, pertanyaan Papa terlalu to the point.


“Benar, Om.”


“Ah, begitu.” Papa mengangguk tanda mengerti, sepertinya dia tak berkeberatan aku berpacaran dengan Leon.


“Bukankah kau sudah kelas tiga?”


“Iya, benar. Kenapa, Om?”


“Kau mau lanjut kuliah ke mana?”


Leon dan diriku langsung bersitatap.


“Papa bisa dilanjutin besok saja? Kasihan Leon harus istirahat.” Aku mencoba menarik lengan Papa. Aku tak ingin dia menyulitkan Leon dengan pertanyaannya itu. Leon tak ingin kuliah, dan itu pasti membuat Papa keheranan.


“Kenapa?! Kau selalu ranking satu bukan? Kau bisa jadi dokter, pengacara, ataupun pengusaha.” Papa meninggikan suaranya.


“Saya ingin menekuni seni keramik seperti orang tua saya.” Leon mengatakan keinginannya dengan penuh percaya diri. Ah, kadang aku iri dengan dirinya yang begitu bersinar dan tak pernah gentar terhadap apapun.


“Jadi seniman? Lalu mau kamu kasih makan apa, Kanna?”


“Papa?!” protesku, dia tak seharusnya mengatakan hal seperti itu pada Leon.


“Makan nasilah, Om.” Leon tersenyum, ia menggaruk kepalanya dengan canggung.


“Dasar anak zaman sekarang! Sudah sana pulang!” usir Papa.


“Baik, selamat malam, Om.” pamit Leon dengan sedikit menunduk hormat.


Aku berjalan mengekor Papa masuk ke dalam rumah, sesekali aku menoleh ke belakang untuk mengetahui keberadaannya. Semoga hatinya tak terluka dengan ucapan Papa yang terdengar menyakitkan.


“Papa nggak suka kamu pacaran sama dia, Kanna.” Papa langsung melengos dan berdiri di depanku.


“Emang selain Leon masih ada yang mau sama, Kanna?” cibirku, apa Papa nggak sadar kalau putrinya bukanlah wanita cantik yang digandrungi oleh banyak laki-laki.


“Yah, kita lihat aja! Kalau dia cuma jadi seniman yang nggak bisa menghasilkan uang seperti Orang tuanya, lebih baik kalian putus.”


“PA!!!”


“Semua itu demi kebaikanmu juga, Kanna. Jangan jadi gadis bodoh! Apa kau hanya ingin makan wajah tampan dan cintanya saja?! Kau pikir cinta bisa membuatmu dan anak-anakmu kenyang?” setelah mengatakan itu Papa langsung bergegas masuk ke dalam kamar dan membanting pintunya.


Aku menggigit bibirku, aku tak tahan dengan kondisi keluargaku saat ini. Kenapa mereka dengan mudahnya meremehkan Leon dan keluarganya? Padahal keluargaku mungkin jauh lebih buruk dari keluarga Leon.


Orang tua Leon bukanlah seorang yang berkekurangan. Mereka adalah orang yang berperinsip, mereka mengutamakan kebutuhan di atas keinginan. Mereka menabung setiap jerih payah mereka untuk masa depan Leon. Mereka selalu berkata pada Leon untuk tidak menyia-yiakan uang dan makanan, selalu bersyukur atas apa yang ia dapatkan. Maka dari itu Leon selalu menabung uang sakunya juga, dan memilih untuk hidup sesederhana mungkin. Ia tau, bahwa orang tuanya mendapatkan setiap rupiah dengan keringat dan penuh perjuangan. Tak heran Leon selalu menghargai semua itu.


Begitu kontras dengan keluargaku yang boros dan penganut paham hedonisme. Mereka tak segan-segan membelanjakan gaji dan penghasilan mereka untuk membeli barang-barang bermerk. Dulunya Papa dan Mama sama-sama bekerja, jadi cicilan rumah, mobil, elektronik, dan kartu kredit tidak begitu berat. Namun semakin bertambah usia, Mama akhirnya di PHK oleh pihak perusaan. Dan saat itu kehidupan kami mulai terasa berat. Hutang menumpuk dan cicilan selalu mundur.


Kakakku sendiri juga banyak menghabiskan uang Papa dan Mama. Mereka inginnya mendapatkan fasilitas dan juga kamar kos terbaik saat mereka berkuliah. Mereka tak ingin tahu bagaimana caranya Papa dan Mama menghasilkan uang, yang penting tunjangan hidup mereka harus ditrasfer tepat pada waktunya.


Hah.... Sepertinya perlahan-lahan aku mulai membenci keluargaku.


— MUSE S3 —


•••


3 bulan kemudian...


Aku memulaskan make up tipis pada permukaan wajahku. Aku mulai nampak sedikit tirus kalau dibandingkan dengan zaman dahulu. Hari ini aku berdandan secantik mungkin karena akan mengantarkan Leon ke bandara. Hari ini dia berangkat ke Jepang.


“Foto dulu, ah,” tanganku dengan sigap mengambil ponsel dan berpose. Mengambil beberapa gambar, mencari sudut terbaik.


Aku tersenyum puas dan mengeditnya dengan aplikasi beauty pict. Membuat wajahku kurus dan membesarkan sedikit mataku. Aku memberi filter halus dan juga mempertajam warnanya.


Wolla... gadis manis terpampang jelas pada layar ponselku. Akhir-akhir ini aku memang sangat menyukai selfie dan mengedit foto. Aku bisa menemukan kelebihan diriku lewat hal semu. Memang apa yang terlihat di dunia maya itu berbeda dengan kenyataannya.


“Jangan terlalu jelas, nanti terlihat aneh,” pikirku saat memberikan efek tirus pada wajahku sebelum menguploadnya.


Aku menulis beberapa caption singkat dan juga hastag bertemakan flawless make up lalu menguploadnya ke beberapa jejaring sosial. Memamerkan kepalsuan dan wajah cantikku yang tidak alami.


“Oke, done.”


Aku bergegas menyahut tas lalu menghampiri Leon yang sudah berdiri di depan rumah.


“Wah, cantiknya! Jadi nggak tega mau berangkat.” Leon mengusap kepalaku, membuatku semakin sedih saja.


“Kalau begitu jangan berangkat!” Aku memanyunkan bibirku.


“Ayo anak-anak!! Sudah hampir jam cek in.” tante Niken memberi kode dengan mengetuk jam tangannya. Ia menyuruh kami masuk ke dalam mobil.


Kami menurut, Leon menggandengku masuk ke dalam mobil. Selama perjalanan menuju ke bandara aku hanya bisa bergelayut manja pada lengannya yang hangat. Aku menyembunyikan rasa berat dan kesedihan di dalam hatiku. Padahal seminggu belakangan aku mulai rela melepasnya merantau ke negeri orang. Tapi, begitu tiba waktunya berpisah aku malah jadi kembali melakonis seperti ini.


“Belajar yang rajin! Olah raga! Jangan diet sembarangan! Jangan nakal! Jangan lirik cowok lain! Jangan lupa berdoa! Jangan lupa VC aku!” Leon memberikan wejangan panjang lebar kepadaku.


“Leon...,” ku peluk erat pinggangnya dan menangis terisak dalam pelukkannya.


“Cuma setahun, Kanna.” Leon mengelus punggungku dan menaruh dagunya di atas pucuk kepalaku.


“Dulu kau pernah bilang kalau aku boleh egois padamukan?!” tanyaku.


“Iya, kenapa?”


“Boleh aku egois padamu?”


“Tentu saja.”


“Jangan pergi!! Jangan tinggalkan aku! Aku nggak bisa hidup tanpamu, Leon!!” seruku sedikit keras.


“Hahahah!” Leon malah tertawa lantang.


“Baiklah, setelah semua ini berakhir aku tak akan pernah meninggalkanmu lagi, Kanna.” Leon mencibit kedua pipiku dengan tangannya yang besar dan hangat.


“Jangan pergi!” Isakku.


“Maaf, Kanna. Aku harus pergi.” lirih Leon seraya mencium bibirku lembut. Ciumanya terasa basah, hangat, dan sedikit asin karena air mataku.


Aku merasa tak ingin melepaskan bibirnya, juga pelukkan hangatnya saat itu. Namun...,


“Ehem....” deheman Tante Niken menyadarkan kami berdua.


Leon menarik bibirnya dan menghapus air mataku. Ia mengecup keningku dan memelukku begitu erat. Setelah puas ia bergegas untuk memeluk Mamanya dan masuk ke dalam bandara.


Aku hanya bisa melihat punggungnya menjauh pergi. Aku terus mengikuti langkah kakinya dari depan dinding kaca sampai akhirnya ia menghilang dari pandanganku.


“Selamat jalan, Leon. Aku akan merindukanmu.”


— MUSE S3 —


•••


Satu bulan setelah kepergian Leon. Aku kembali menjalani rutinitasku. Aku masih menerapkan diet sehat seperti yang disarankan oleh Leon. Leon selalu mengirimiku chat dan mengingatkan jadwal olah ragaku. Kadang kami berolah raga bersama lewat VC. Leon juga mengirimiku sejumlah uang untuk membeli bahan makanan dan make up yang aku inginkan.


Semakin hari aku juga terlihat semakin cantik. Dengan sentuhan make up dan kemampuan editingku yang semakin berkembang, aku mulai banyak mengupload foto. Kini aku punya setidaknya 13 ribu follower. Mereka menyukai tingkah imutku, juga bagaimana caranya aku merias diri. Ribuan tanda jempol dan komentar pujian menghiasi feed wall chat milikku.


Aku tersenyum bahagia, banyak orang memuji kecantikkanku. Padahal aku tahu semua itu palsu, semua itu hanya hasil editan dan juga fantasi make up. Tapi tetap saja bisa membuatku bangga. Bagiku yang tumbuh dengan hinaan dan caci maki, dunia maya yang penuh dengan pujian membuatku lupa diri. Aku mulai bertekat untuk menjadi semakin kurus dan cantik.


Kini untuk pertama kalinya dalam kehidupanku aku menemukan tujuan hidupku. Seorang beauty bloger.


Ya, aku akan berubah menjadi cantik dan lebih cantik lagi. Karena aku menerima semuanya ini dari Leon, maka aku akan mempersembahkan semuanya juga untuk Leon.


— MUSE S3 —


MUSE UP!!


YUK DUKUNG CINTA KANNA DAN KISAH HIDUPNYA.


VOTE, LIKE, dan COMMENT


PASTIKAN KALIAN PENCET TOMBOL LIKE DAN VOTE YA BAE!!!


Terima kasih sudah membaca,


Terus Sebarkan rasa cinta untuk banyak orang. Dan berbuat baik bagi sesama


Love,


Dee ❤️❤️❤️