
MUSE
EPISODE 7
PAMERAN
\~Setiap guratan garis wajah manusia berbeda-beda. Punya seribu ekspresi dengan tingkat kesusahannya masing-masing.\~
“Dasar om om mesum.” Aku melemparkan ponsel ke atas kasur lalu merebahkan diri.
Kenapa seenaknya suru orang bayar pake badan!! Ih menyebalkan sekali, tapi aku harus tetap bertanggung jawab dengan motornya. Mana nominal 50 juta bukan uang sedikit lagi. Sakuku selama 5 bulan bakalan melayang begitu saja.
“Apa aku harus minta uang ke Papa, ya? Tapi alasannya apa?” gumamku lirih.
Ah lupain-lupain.. nanti Papa pasti marah tahu aku begitu teledor. Trus aku dapet duit dari mana donk??? Huhuhuhu... ngapain sih dia bawa motor mahal-mahal ke kampus?
“Ah capek banget.” Aku membalikan badanku dan tengkurap di atas kasur. Tanganku kembali meraih ponsel dan membuka-buka sosmed dan grup chat.
Baru belakangan ini aku mencoba untuk bermain sosmed. Jessi yang meracuniku untuk membuat akun-akun sosmed.
“Sudah beberapa hari Alex nggak update. Kangen.” Ku cibirkan bibirku. Hanya dengan stalking sosmedlah aku bisa tahu kabarnya, dan ngobrol dengan dirinya lewat comment.
Tring..
Suara chat masuk
Tanganku dengan cepat menyahut ponsel dan membukanya. Aku menghela nafas saat tahu ternyata hanya chat dari Jessi.
Jessi:
Hoi.. sudah tidur?
Besok meet up yuk.
Di kantin.
Lenna:
Boleh.
Habis kuliah ke 2 ya
Jessi:
Tadi sore aku lihat Alex.
Dia kerja sambilan
Di cafe dekat kampus.
Lenna:
Kalau gitu meet upnya
Di cafe itu aja.
Jessi:
Dasar Bucin.
Lenna:
Kamu yang bucin.
Jessi:
Juliuskan ganteng.
Gagah
Keren
Tajir.
Pinter
Sempurna.
Lenna:
Semakin sempurna
Semakin susah di raih.
Jessi:
Ah..Kau benar.
Ya Sudah ayuk tidur.
Lenna:
Gud nite..><
Asyik besok bisa ketemu Alex. Ternyata beberapa hari ini dia nggak ada kabar karena sibuk bekerja. Pasti berat kerja sambil kuliah. Aku menghentikan pikiranku yang melayang-layang dan mulai memejamkan mata agar segera tertidur.
—MUSE—
.
.
.
Aku bangun dan bersiap dengan semangat. Hari ini aku mengenakan kemeja lengan pendek berwarna biru langit dengan motif kotak-kotak. Kupadukan dengan celana jean hitam dan sepatu sport putih.
“Oke, eh... sedikit lip tint.” Aku mengoleskan sedikit lip tint warna pink di bibirku dengan lembut.
“Aku pergi dulu, ya, Ma, Pa,” setelah mencium mereka dan mengacak acak rambut Arvin aku berlari riang masuk ke mobil.
Papa dan Mama terlihat heran dengan tingkahku. Aku memang terlihat bahagia dan berbunga-bunga. Akhir-akhir ini aku memang bersemangat menjalani hidup, Alex yang memberiku semangat ini. Bagiku cukup dengan menyukainya diam-diam, dan memandangnya dari jauh sudah jadi semangat tersendiri.
Bahkan comment dan like di medsos terasa begitu sangat berharga saat dia membalasnya.
“Woi, sudah kelar belum kuliahmu?” Jessi menyusul masuk ke dalam kelasku hari ini.
“Sudah,” anggukku pelan.
“Bagaimana?? Jadi ke cafe??”
“Jadi donk.”
“Ayuk.”
Aku mengambil tas dan menggandeng tangan Jessi menuju cafe di dekat kampus.
Ron’s cafe, nama yang cukup unik juga, mungkin nama pemiliknya juga menjadi nama cafenya. Aku dan Jessi mendorong pintu kaca dan masuk ke dalam. Beneran saja di dalam Alex sedang berjaga di belakang meja kasir, tangannya menulis di cup coffe nama pelanggan, lalu tersenyum manis setelah memberikan orderan.
“Ya ampun manis banget senyumannya.” Aku terkikih di belakang Jessi.
“Sana kau samperin.”
“Ngomong apa donk?” tanyaku bingung.
“Ya, orderlah.” Jessi mendorong tubuhku.
Alex tersenyum.
“Ha..hai,” sapaku canggung.
“Hai..Mau pesan apa?” tanyanya.
“E..hazelnut latte 1, leccy tea 1,” pintaku padanya.
“Oke. Totalnya 55.000.” Alex tersenyum dan menyodorkan bill padaku.
“Ini.”
“Terima kasih, nanti pesanannya diantar ya. Ini nomor mejamu.” Alex menyerahkan sebuah no padaku.
“Thx.”
Aku berbalik dan berjalan menuju Jessi. Aku sedikit bergeleng untuk memberinya tanda kalau misiku gagal.
“Aku sama sekali ngga bisa nggajakin ngomong.”
“Yah.. padahal kesempatan.”
“Aku payah.”
Aku kembali menatap Alex yang sibuk mencatat pesanan pelanggan lain. Senyumannya membuat jantungku mau meledak dan kena diabetes sangking manisnya. Bagaimana dia bisa terlahir seganteng itu..?
“Sayang banget senyumnya dibagiin gratis gitu aja.” ledek Jessi.
“Iya.. mana yang beli cewek semua lagi?.” Aku menyangga dagu dengan telapak tangan.
“Iya, rata-rata dari kampus kita.”
“Ugh.. aku kalah sebelum bertanding,” pikirku galau.
“Pesanan siap. Silahkan.” seorang pelayan memberikan 2 cup minuman dingin pesananku tadi.
“Hei, Lenna baca ini.” Jessi memutar cup plastik yang ada namaku.
Jam 3 shiffku selesai, bisa kau tunggu aku?
“Ciyyeee, pake pesan gini segala.” Jessi menggodaku.
“Paan, sih?” wajahku memerah bagaikan kepiting rebus, hangat sekali rasanya.
Aku mengangguk ke arah Alex sebagai kode, dia membalasnya dengan senyuman dan jempol yang teracung.
—MUSE—
.
.
.
“Terlalu lama, ya?” tanya Alex padaku. Dia sudah mengganti bajunya dengan kemeja dan celana jeans.
“Nggak kok.” Aku tersenyum.
“Jessi?”
“Dia sudah pulang dari tadi, ada kuliah,” jawabku.
“Oke, ayuk cabut.”
“Ke mana?”
“Asal bersamamu.”
Eh.. gila.. apa yang baru saja aku ucapkan? Asal bersamamu??? Wah aku sudah gila.. bagaimana mungkin kata-kata yang berani ini keluar begitu saja dari mulutku.
Aku dan Alex berjalan menuju ke sebuah art center di pusat kota. Hari ini ada pameran dari salah satu pelukis terkenal. Dia merupakan pelukis dengan aliran pointilis, melukis dengan hanya menggunakan titik bukan goresan.
“Keren banget, dia bikinnya berapa lama??” Aku mengangga saat melihat lukisan budha yang duduk di atas teratai.
“Cukup lama pastinya.” Alex menjawabku.
“Kalau kamu? Apa aliranmu?” tanyaku pada Alex.
“Realis.”
“O...”
“Paling suka gambar apa?” tanyaku lagi.
“Wanita telanjang.” jawab Alex.
“Hah????” Aku kaget mendengar jawabannya.
“Ahahahaha...” Dia tertawa melihatku kaget.
“Kau bercanda?!” seruku sebal.
“Habis kamu lucu kalau lagi kaget.” Alex menghentikan ketawanya.
“Seriusan. Paling suka gambar apa?”
“Manusia. Menurutku itu objek yang paling kompleks.”
“Kompleks?” Aku bingung.
“Setiap guratan garis wajah manusia berbeda-beda. Punya seribu ekspresi dengan tingkat kesusahannya masing- masing.” Alex menghentikan langkahnya.
“O...” Aku ber o ria.
“Menuangkan ekspresi mereka menjadi tantangan tersendiri untukku.” tambah Alex.
Alex kembali berjalan, aku sedikit kesusahan mengikuti langkah kakinya yang lebar.
Nggak terasa langit mulai berubah menjadi gelap. Matahari telah tenggelam dan bulan mulai muncul. Full moon yang menakjubkan mengiringi langkah kaki kami kembali ke kampus.
“Kau mau aku antar pulang?” Alex menawarkan diri.
“Nggak usah, sopirku akan datang menjemputku.” Aku menolaknya, aku tahu dia pasti sangat capek.
“Terima kasih sudah menemaniku jalan-jalan.” Alex tersenyum, kedua tangannya masih di dalam saku celana.
“Aku yang berterima kasih.”
“Baiklah, aku pulang dulu.” pamit Alex.
“Hati-hati.”
“You too.”
Alex berjalan menjauh dari pandanganku. Bisa ku lihat tangan menyisir rambutnya ke belakang sebelum dia menghilang di ujung jalan.
“Ya ampun. Jantungku tenanglah..!”
—MUSE—
.
.
.
Aku bergegas memasuki rumah, aku nggak pulang seharian pasti membuat Papa dan Mama khawatir. Walaupun sudah meninggalkan pesan ke mereka. Tapi ini adalah kali pertama aku keluar sampai malam tanpa ditemani oleh keluargaku.
“Hmm.. Mobil?? Ada tamu??” Aku heran karena ada sebuah mobil jag**r hitam di depan rumah.
“Malam, Pa.., Ma..” sapaku sebelum masuk ke dalam.
Ternyata memang benar ada tamu, seorang pria muda dengan rambut hitam licin lagi asyik mengobrol dengan Papaku. Sesekali dia menegak wine dari gelas di tangannya. Postur tubuh yang sangat indah, lengan yang berotor dan pantat yang sexy.
“Mikir apan sih? Jangan jadi sampah.” Aku menepuk pelan pipiku sendiri.
“Oh Lenna, kau sudah pulang?” Papa menyambutku dengan senyuman, wajahnya terlihat bahagia. Kelihatannya dia punya teman ngobrol yang cocok.
“Iya, Pah.”
“Kenalin ini putri saya, Lenna.” Papa memberi kode agar aku mendekat.
“Lenna.” Aku mengangkat tanganku hendak menjabat tangannya.
“Julius.” Dia memberikan sambutan atas tanganku.
Sungguh tangan yang kokoh dan hangat, wajahnya benar-benar tampan dan laki banget. Aku nggak nyangka ternyata yang berdiri di depanku adalah Julius Bintoro. Pria yang selalu dikagumi dan digembor-gemborkan oleh Jessi. Dia benar-benar tampan kalau dilihat dari dekat.
“Ini Julius, Lenna. Dia anak teman Papa saat sekolah dulu. Sekarang dia sudah sukses dan ingin bekerjasama dengan perusahaan Papa.” senyum kembali tersungging di wajah Papa.
“Senang berkenalan dengan anda.” Aku menundukan sedikit kepalaku, menunjukan tanda hormatku padanya.
“Lenna masuk dulu ya, Pa. Mari, Om Julius.”
“Panggil Julius saja.”
“Tapikan lebih tua.”
“Kalau begitu kak Julius saja. Aku baru 28 tahun.”
“Baiklah. Kak Julius.”
Ih nyebelin banget... narsis ga ketulung, salah panggil om aja marah. Aku bergegas naik untuk mandi dan beristirahat.
Triiingg..
ponselku berbunyi, aku duduk di atas kasur sebelum membukanya. Ternyata chat dari om mesum pemilik motor kemarin. Duh bagaimana ini? Aku belum punya uangnya.. nggak mungkin donk aku bayar pake badan.
Julius:
Ternyata kamu
Anaknya om Kairos.
Lenna:
Hah??
Bagaimana kau bisa tahu?
Julius;
Karna aku orang yang sama
Dengan orang yang
Ada di ruang tamu rumahmu.
Lenna:
Kau Julius?????
Julius:
Binggo.
Jadi bagaimana?
Bayar pake tubuh atau
Langsung aku tagih ke Papamu saja?
Lenna:
Jangan, jangan bilang Papa
T.T
Please ><
Julius:
Jadi bagaimana?
Lenna:
Kasih aku waktu
Buat bayar hutang.
Julius:
Tiap hari
Berbunga 5% ya.
Lenna:
Emangnya bank plecit
Julius:
Time is money.
Lenna:
Baiklah, beri aku waktu 1 minggu.
Ternyata pemilik motor itu Julius, bagaimana mungkin aku nggak menyadarinya? Mahasiswa biasa nggak akan mampu beli motor semahal itu.
Tapi kalau bayar tubuh sama Julius mungkin aku mau saja ya? tubuhnya bagaikan harta dunia.
“Stop!! Jangan jadi sampah!! Kau kan sudah jatuh cinta sama Alex.” Ku tampar lagi pipiku pelan.
—MUSE—
Like, comment, and +Fav
Follow dee.meliana for more lovely novels.
❤️❤️❤️
Thank you readers ^^
Bagi Votenya kaka.. lap yu