
MUSE S7
Episode
S7 \~ PENYESALAN LEONI
Sial memang, saat meminta putus justru hati Leoni yang semakin tersiksa karena merindukan Levin.
___________
“Vin …” Johana mencekal pergelangan tangan Levin saat pria itu bangkit.
“Kenapa, Na?” tanya Levin.
“Bisa bantu aku lepasin baju nggak?? Gerah banget, pengen mandi.” Johana menunjukan resleting pakaian di punggungnya. Dengan satu tangan, mustahil ia bisa membuka resleting itu sendirian.
“Eh?? Buka baju?” Levin menelan ludahnya dengan berat.
“Iya, bukain bajuku, Vin. Resleting belakang maksudku.” Wajah Johana tak kalah merah saat ia baru sadar telah salah mengutarakan maksudnya.
“Em … baik.” Levin mundur ke belakang Johana, tangannya menurunkan resleting belakang baju Johana sementara matanya menatap ke arah lain. Gosh …! Tak mungkinkan dia mencuri tatap pada punggung mulus Johana yang notabene bukanlah kekasihnya.
“Makasih ya, Vin.” Johana tersenyuma kaku, dengan langkah tertatih ia menuju ke kamar mandi.
“Bi … bisa enggak?” Levin juga tampak canggung. Ingin menolong namun takut dianggap sebagai sampah masyarakat. Masa iya cowok bantuin cewek mandi?!
“Bisa, Vin. Biasa di RS juga mandi sendiri kok. Tante Kalila cuma bantuin lepas pakaian aja.” Johana masuk dan menutup pintu kamar mandi.
Levin menghela napas panjang. Penderitaannya sebagai lelaki normal berakhir. Meski Levin seorang gantleman, tetap saja lelaki mana yang nggak tergoda dengan tubuh polos wanita?? Hoo … Levin nampaknya harus menyiapkan mental jauh lebih kuat dari pada saat berpacu di area balap. Tinggal serumah berdua dengan Johana pastilah sungguh berbahaya.
Saat Levin mulai lega, justru godaan dari setan datang lagi.
BRANG!!
“Aakkhh!!!” Johana memekik kesakitan di barengi dengan bunyi benda terjatuh.
“Na!!! Nana?? Kamu nggak papa??” Levin menggedor pintu kamar mandi.
“Aduh, sakit Vin. Aku terpeleset. Bagaimana ini??” Johana mengeluh, ia terjatuh saat hendak melangkah dengan bantuan tongkat penyangga.
“Aduh, gimana donk??!” Levin ikutan panik. Kalau masuk apa Johana masih polos tanpa sehelai benang pun??
“Aku nggak bisa berdiri, Vin.” Johana mengeluh.
“A … aku boleh masuk nggak?? Kamu sudah pakai baju belum?? Pintunya nggak kamu kuncikan??” Levin gelagapan, tak ada cara lainkan. Selain masuk.
“Aku sudah pakai handuk kok, Vin. Nggak aku kunci, tante Kalila bilang nggak boleh di kunci kalau lagi sakit. Eum … boleh masuk, tapi tutup mata ya, Vin. Aku malu.” Johana berteriak.
“Oke, Vin, dalam hitungan ke tiga, tutup mata.” Levin berusaha menuruti wejangan Johana dengan menutup matanya. Namun bagaimana mungkin menolong tanpa melihat?? Yang ada kan justru Levin ikut terpeleset?! Atau membentur dinding, atau bahkan nyemplung ke bak mandi.
Nggak bisalah! Ototmatis Levin membuka matanya untuk tahu di mana Johana tergeletak.
“Na??” Levin terkejut, Johana benar-benar terjatuh di bawah lantai kamar mandi dengan tubuh hanya berbalut handuk.
“Aduh, kok bisa sih?” Levin bergegas menggendong tubuh Johana ala bride style.
“Sory, Vin.” Johana merasa malu.
Jantung Johana berloncatan, aroma parfum milik Levin kembali melekat erat diindera penciumannya. Gadis itu memejamkan mata sembari membenamkan wajahnya yang padas ke dada bidang Levin.
Johana tak pernah menyangka bisa berada begitu dekat dengan sosok Levin sebagai idolanya. Dan ... rasa kagum itu pun perlahan berubah menjadi cinta.
Bolehkan Johana berharap untuk mendapatkan balasan?? Kan rasa cinta ada juga bukan hal yang salah.
Levin mengambil pakaian Johana dan kembali membantunya bertukar pakaian. Levin memejamkan mata, tangannya saja yang gerayangan, mau bagaimana lagi. Tak ingin tegoda dan menjadi sampah masyarakat ia terpaksa menutup mata saat bekerja.
“Sudah, Vin. Thanks ya, aku malah ngerepotin.”
Semua ini Levin lakukan gara-gara Leoni. Bila saja mereka tidak bertengkar malam itu. Bila saja Leoni tak memintanya datang secepat mungkin, pasti kecelakaan itu tak akan melukai Johana.
“Tapi aku bersyukur, Vin. Lewat kecelakaan ini aku justru bisa mengenal pria sebaik dirimu.” Johana menyenggol lengan Levin agar kecanggungan itu tak berlanjut.
“Ah, apaan sih?!” Levin malu mendengar pujian Johana.
Keduanya kembali tenggelam dalam obrolan ringan. Johana banyak bercerita tentang kehidupannya di panti sementara Levin bercerita tentang pengalamannya di sirkuit balap.
Sebagai penggemar, tentu saja Johana begitu nyambung dengan cerita Levin. Keduanya merasa cocok, jarang sekali Levin bisa bercerita sepanjang dan selebar ini pada seorang wanita. Singa cantiknya juga tak pernah menggubris cerita Levin karena bagi Leoni, impian Levin tidaklah penting. Well … itu menurut Levin sih.
Kalau menurut Leoni?
.
.
.
“Bukan berarti aku menganggap impiannya tidak penting, Mi. Aku hanya tak ingin melihatnya terluka. Apa menurutmu resikonya sepadan dengan uang yang ia dapat?” Leoni mengomel di telepon. Kanna menelepon anak gadisnya dan menanyakan kabar terbaru.
Leoni uring-uringan, pasalnya sudah beberapa hari ini Levin tak menghubunginya. Ponsenya mati total. Leoni juga berkeliaran di depan rumah Levin berharap bisa bertemu dengan mantan pacarnya. Sayang sekali, tak ada orang terlihat, Levin juga tak pernah menampakkan batang hidungnya di rumah.
Sial memang, saat meminta putus justru hati Leoni yang semakin tersiksa karena merindukan Levin.
“Kan kamu yang putusin dia dulu, Sayang. Kenapa malah kamu yang marah-marah?” Kanna tak habis pikir dengan para remaja. Sebenarnya saat mengatakan kata putus itu mereka berpikir jauh ke depan tidak sih?? Sudah berpikir matang-matang belum sih?
“Ya ... ya ... Ya Leoni nggak pernah nyangka aja kalau Levin bakalan serius nerima permintaan putus Leoni. Hiks … hiks … terus Leoni harus bagaimana donk, Mi?? Leoni takut benar-benar akan kehilangan Levin.” Leoni menangis di depan ponsel.
“Cup … cup … cup … kamu masih sayang?” Tanya Kanna, Leoni mengangguk.
“Masih cinta?” Leoni mengangguk lagi.
“Ya sudah, berhenti menangis dan minta maaf. Kenapa harus mementingkan gengsi kalau nyatanya hatimu tak bisa jauh darinya. Jangan bikin ribet masalah perasaan, Leoni! Nanti kamu menyesal.” Kanna menenangkan Leoni, memintanya mengulik perasaannya sendiri. Kalau memang cintanya jauh lebih besar seharusnya ia bisa menanggalkan keegoisannya untuk meminta maaf pada Levin terlebih dahulu.
“Baiklah, aku akan meminta maaf pada Levin sore ini.” Levin menghela napas panjang dan menghapus air matanya.
“Good, Girl! Mami akan mendukung apa pun keputusanmu, Sayang. Ingatlah, kelahiran, kematian, dan takdir manusia mutlak ada di tangan sang pencipta. Jadi, kecemasanmu itu tidak beralasan, Leoni. Kalau kau sungguh mencintai Levin kau pasti akan selalu berada di sisinya meski kau tahu resikonya begitu besar. Kau tetap pasti akan mendukung segala yang ia lakukan. Dan … kau cukup berdoa pada Sang Maha Kuasa supaya Ia terus melindungi Levin saat bertanding.” tukas Kanna panjang dan Lebar. Leoni mengangguk dan menangis. Levin pasti sangat kecewa karena Leoni tak pernah mendukungnya dan justru menekan Levin dengan ucapan kasar dan ancaman perpisahan. Leoni menekan tombol off, panggilannya terhenti.
“Baiklah, aku akan menemui Levin.”
.
.
.
“Levin tidak di rumah. Sudah hampir satu minggu tidak dirumah.” ART di rumah Levin memberitahukan Leoni saat gadis itu sampai di kediaman Arvin dan Kalila.
“Oh … kalau boleh tahu ke mana?”
“Hm … nggak tahu, Neng.”
“Tolong sampaikan kalau Leoni mencarinya ya, Bi.”
“Iya, Neng.”
“Makasih.”
“Sama-sama.”
Dan … benar saja, keesokan harinya. Saat Leoni sampai di sekolahan, Levin juga datang kesekolahan. Wajah Leoni berseri-seri, ia kira Levin datang ke sekolahan karena menerima pesan dari Leoni untuk menemuinya. Sayang sekali, Leoni salah sangka. Levin datang bersama dengan ...
“Johana?” pekik Leoni.
...— MUSE S7 —...