MUSE

MUSE
S7 ~ BENDERA MERAH



MUSE S7


Episode


S7 - BENDERA MERAH


\~Leoni selalu berdoa, tak masalah bila Levin harus kalah, asal dia kembali dengan selamat. Sungguh egois, tapi Leoni sungguh tak bisa melihat hal buruk menimpa kekasihnya.\~


____________


Leoni pulang ke Indonesia, meski sudah berbaikan juga nyatanya hati mereka masih terus diliputi dengan gejolak perasaan masing-masing. Entah apa itu, rasanya masih sangat mengganjal. Mungkin karena mereka berdua sangat saling mencintai jadi tak ingin saling melukai.


“Halo, Bayi! Kenapa cemberut begitu?! Bukankah seharusnya kau senang bisa bertemu dengan jagoanmu di sana?!” Leon menggoda putrinya yang masih terus cemberut selama perjalanan dari bandara ke rumah. Kanna pun tak kalah khawatir, ia memutar tubuh guna melihat keadaan putrinya yang duduk di bangku belakang.


“Papi benar, kenapa cemberut sayang? Kau bertengkar dengan Levin??”


“No … just tired. Leoni hanya jetlag kok. Bukan bertengkar dengan Levin.” Leoni dengan malas-malasan menjawab pertanyaan KEPO kedua orang tuanya. Wajah kusutnya terus menatap ke jendela luar, sudah sore, senja terlihat indah di negeri sendiri.


Leoni menghela napas panjang, ia mengambil layar ponsel dan mengetik teks untuk Levin.


LEONI [Aku sudah sampai di Indo. Jangan hubungi aku malam ini, Vin. Aku lelah, ingin istirahat.]


Leoni belum siap, perasaannya masih kacau. Dari pada Levin terkena imbasnya dan hubungan mereka kembali renggang. Lebih baik Leoni menjaga diri, break sementara waktu.


LEVIN [Baiklah. Aku akan menunggumu, Singa. Istirahat dan jangan lupa makan. 😘😘]


Leon bersitatap dengan Kanna seakan mencari jawaban akan perubahan sikap putri mereka itu. Kanna hanya bisa mengangkat bahu, Leon pun menghela napas panjang.


.


.


.


Hari demi hari pun berlalu dengan cepat. Leoni mulai menggeluti seni kriya dengan lebih intens lagi. Sementara Levin, namanya semakin membumbung tinggi dalam dunia balap motor.


Karir Levin begitu cemerlang, dengan bakat dan juga talentanya ia menjadi salah satu pembalap yang diperhitungkan. Kini pemuda itu mencoba peruntungannya dalam dunia motor ber-cc yang jauh lebih besar.


Kini Levin berada di jajaran para pembalap motor GP. Bertarung dengan pembalap-pembalap besar kelas dunia. Levin memang tak selalu menang, namun performanya tetap di akui oleh para sponsor. Nama Levin pun langsung melejit di negerinya, mengharumkan nama bangsa dan menjadi terkenal. Levin beberapa kali di undang dalam acara bincang-bincang di televisi.


Kesibukan Levin membuat jarak mereka berdua terasa semakin jauh. Leoni merasa tak lagi mampu menggapai Levin. Meski pun kenyataannya tetap dialah sang pemilik hati.


Tapi, bukan itu yang menjadi ganjalan nomor satu di hati Leoni saat ini. Melainkan keselamatan Levin tiap kali ia turun di sirkuit balap. Leoni selalu berdoa untuk keselamatan Levin. Namun yang namanya adu adrenalin, tetap saja resiko kecelakaan tetap ada dan bahkan tak jarang Leoni merasa miris saat melihat pertandingan berlangsung.


“Leoni, siaran langsungnya sudah di mulai!!” Teriak Kanna dari lantai bawah.


“Iya.” Leoni bergegas turun, hari ini Levin akan bertanding. Siaran langsung motor GP akan dimulai sebentar lagi.


“Mau?” tanya Leon. Leoni bergeleng.


“Dasar, tak akan terjadi sesuatu pada Levin, Sayang. Percayalah padanya.” Kanna memeluk Leoni.


Leoni tak menggubris ucapan sang ibu. Kanna dan Leon tak pernah melihat pertandingan itu secara langsung. Kanna juga tak pernah melihat saat kecelakaan itu terjadi dan hampir mengenai Levin. Perut Leoni sampai murus sangkin mirisnya.


Berhati-hatilah, Vin. Batin Leoni, ia terus *******-***** jemarinya, tatapan matanya berkaca-kaca saat melihat sosok Levin di layar kaca, sedang bersiap dengan motor merahnya. Mengenakan pakaian pelindung khusus pembalap berwarna senada. Kaca Helm racing masuh terbuka, memperlihatkan sepintas mata tajam pemuda yang tumbuh semakin dewasa itu.


Leoni selalu berdoa, tak masalah bila Levin harus kalah, asal dia kembali dengan selamat. Sungguh egois, tapi Leoni sungguh tak bisa melihat hal buruk menimpa kekasihnya.


“Pertandingan di mulai!!” Leon berseru girang. Dengan segera mereka bertiga memantapkan posisi duduk dan melihat lagi pertandingannya.


“Ayooo!! Cepatan, Vin!! Libas!!” Leon berseru-seru gemas saat Levin tak kunjung bisa menyalip lawan di depannya. Tentu saja susah, kelas tarung Levin saat ini adalah kelas tertinggi dan banyak pembalap kelas dunia yang punya kemampuan dan pengalaman di atas Levin.


“Papa tenang kenapa sih??” Gerutu Leoni, “Jangan buat Levin bertingkah sembrono!!”


“Memangnya Levin bisa denger seruan Papa dari sini?? Ada-ada saja! Leon berdecak dengan pemikiran Leoni. Mereka bukan alien dari pelanet Namex yang bisa bertelepati.


“Ya kali aja!” ketus Leoni.


Pertandingan kembali epic, Levin berada di posisi ke empat, ia telah berhasil menyalip lagi satu orang lawannya. Semua penonton bersorak riang, tanpa sadar mereka mendukung Levin yang merupakan pusat dalam pertandingan ini.


“Levin!!! Levin!!” seru Leon lagi. Kanna ikutan tertawa, hanya Leoni yang nonton dengan harap-harap cemas. Perutnya mulas sekali dan jantungnya berdebar tak karu-karuan. Seakan sedang melihat pertarungan gladiator di depan mata.


Lima belas lap terlampaui. Sudah setengah jalan lebih. Kurang delapan lap lagi. Levin masih terus bersitegang dengan semua pemain lain. Mencoba mencari kesempatan untuk mengejar ketertinggalannya, mencoba mencari kesempatan untuk menyalip lawannya.


Detik-detik yang menegangkan, detik-detik penuh pacuan adrenalin. Levin bahkan bisa berkeringat pada laju kecepatan setinggi itu. Ia terus fokus menatap jalanan, mengukur tikungan, menilai gerakan lawan, dan hendak mencuri kesempatan.


“Levin … berjuanglah!! agh … sial!!” Leon geram karena gemas dengan lawan main Levin yang tak kalah gesit. Kulit kacang rebusnya sampai berhamburan karena Leon bangkit tiba-tiba dan membuat mangkok plastik itu ikut meloncat dari pangkuannya.


“Papa, duduklah!!” Leoni mendengus kesal.


Leon kembali duduk, ketiganya kembali ke pertandingan. Layar televisi lebar itu memuat jalannya pertandingan dengan begitu jelas. Satu lap kembali terlampaui, Levin masih di posisi ke empat.


Set lurus sebelum tikungan, Levin mempercepat laju motornya. Beberapa pengendara di belakang Levin pun melakukan hal yang sama. Mereka mempercepat laju motornya, siapa tahu bisa menyalip lawan di set lurus.


Setelah lurus ada tikungan yang cukup tajam, Levin bergegas untuk menukikkan motornya. Namun … saat yang sama, pengendara di belakang Levin kehilangan titik seimbang karena kecepatannya terlalu tinggi. Motor itu oleng. Melesat bersamaan dengan pengendaranya.


Beberapa pengendara lain terkena imbasnya termasuk motor Levin. Levin bersama dengan motornya terhantam. Terseret beberapa meter sampai keluar dari sirkuit. Membuat semua penonton yang menyaksikan kecelakaan itu langsung melongo, terkesiap tak bisa berkata-kata. Mereka menutup mulutnya saat para tim medis yang menolong para pembalap menaikkan bendera merah.


“Tidakk … tidak mungkin!!” Leoni bergeleng, wajahnya penuh dengan keringat dingin. Jantungnya berdebar seakan ingin meledak. Ketakutan mulai menghantuinya.


Bendera merah berarti ada yang meninggal dalam kecelakaan dan balapan harus di hentikan untuk menghormatinya.


...— MUSE S7 —...