MUSE

MUSE
S2 ~ AROMA



MUSE S2


EPISODE 88


S2 \~ AROMA


\~ Kenangan akan gambar dirinya yang begitu mempesona. Tergambar begitu indah dalam tiap goresan tanganku \~


•••


Aku terbangun dengan rasa sakit yang luar biasa. Pusing dan terasa begitu berat. Susah sekali menggerakkan jemariku, rasanya kaku. Aku memutar mataku perlahan untuk melihat ke sekeliling, lampu yang terang, kantong infus yang bergoyang pelan, juga Angga yang memandangku dengan penuh pengharapan.


Sebenarnya apa yang telah terjadi?


Di mana aku?


“Rumah sakit, La.” Angga mencium pergelangan tanganku.


Aku berusaha mengingat apa saja yang sudah terjadi? Kenapa aku bisa berada di rumah sakit? Namun bukannya jawaban yang ku dapatkan, malah rasa sakit yang begitu menggoncang kepala. Sakit sekali, kepalaku seakan-akan ingin pecah.


“Kalila, jangan paksa dirimu!” Angga membantuku untuk kembali beristirahat.


Aku menurut, aku kembali merebahkan diri dan dokter memberikan obat agar aku kembali beristirahat.





Sudah hampir satu bulan aku dirawat di rumah sakit. Angga, Melody, dan Caca bergantian menjagaku. Aku masih mengenal Melody, karena dia teman sekelasku, tapi tak mengenal Caca, mereka bilang dia pegawai part time di cafe milikku. Aku keheranan, benarkah aku punya cafe?? Bahkan aku baristanya?


Mereka berusaha untuk mengajakku mengingat hal-hal yang pernah terjadi belakangan ini, namun aku tetap tak bisa mengingatnya.


“Yah, Boss. Masa nggak ingat sama Caca?!” protes Caca, gadis tomboi itu memandang dengan iba ke arahku sambil mendengus sebal.


“Maaf, Ca,” jawabku.


“Nggak apa-apa, Boss. Yang penting boss cepetan sembuh, nanti kita buat kenangan baru bersama, ya.” Caca menggenggam tanganku dan menangis haru.


Aku ikut menangis saat melihatnya menangis. Memang apa yang telah aku lupakan sampai membuat mereka semua begitu bersedih?


Aku semakin bingung, dan yang paling membuatku bingung adalah Papa dan Mamaku telah tiada dua tahun lalu. Sangking terlalu bingungnya, tenggorokkanku seakan tercekat, tak ada suara yang bisa keluar dari mulutku. Aku tak tahu harus bagaimana menanggapi berita ini. Berkata-kata saja tidak bisa apa lagi menangis.


— MUSE S2 —


•••


Setelah mendapatakan perawatan dan juga fisioterapi akhirnya aku diizinkan utuk pulang. Angga mengantarku pulang ke sebuah apartemen. Mereka bilang ini adalah tempat tinggalku. Sebenarnya Melody menawarkan diri agar aku tinggal dengannya sementara waktu, tapi aku menolak. Aku masih canggung dengan semua ini. Terakhir yang ku ingat, aku bermusuhan dengannya, sekarang dia sahabat dekatku. Kan canggung.


Aku mengamati kamar itu, hanya ada sebuah kasur, lemari, nakas, pantry, kamar mandi dan juga balkon. Tidak terlalu luas namun terlihat nyaman. Aku mengecat dindingnya dengan warna biru langit, dan pink. Prabotannya juga didominasi warna putih dan pink. Benar-benar seleraku, aku memang menyukai warna pastel yang lembut.


“Istirahatlah, La! Kau pasti lelah.” Angga menyuruhku beristirahat.


“Baik, Ngga.”


“Aku akan kembali ke cafe. Membantu Caca dan Melody. Kalau butuh sesuatu telepon, ya.” Angga mengelus rambutku.


“Iya, siap.” Aku tersenyum selebar mungkin. Berusaha untuk membuatnya berhenti mengkhawatirkan keadaanku.


“Jangan lupa makan dan minum obatnya.” Angga kembali cerewet.


“Iya, iya, udah sana, keburu sore!” usirku.


“Aku pergi, ya, La.” Angga mencium pucuk kepalaku, lalu beranjak meninggalkan kamar. Ia sempat tersenyum sebelum menutup pintu, aku membalasnya juga dengan senyuman manis.


Aku beranjak dari ranjang menuju ke balkon, mencoba menikmati udara segar. Terkungkung lama di dalam rumah sakit membuatku jenuh. Aku melirik ke arah sekitar, ada beberapa pot tanaman kaktus yang sedikit tak terawat. Aku bergegas membersihkan lumut dan tumbuhan liar yang tumbuh di sekitar kaktus.


“Kau pasti merindukanku, ya? Maaf, ya, meninggalkanmu begitu lama.” Aku bermonolog dengan pot kaktus.


Setelah merapikan kaktus aku menoleh ke kanan. Deretan balkon yang sama berjajar dengan perspektif ruang yang monoton. Namun pandanganku mengarah pada balkon yang tepat berada di sebelah kananku.


Air mata menetes dari sudut mataku. Aku memegang butiran bening kristal air itu dengan keheranan.


Kenapa aku menangis??


Aku menghapus air mata dan kembali masuk ke dalam kamar. Mengambil segelas air dan meminumnya dengan cepat. Jantungku berdegup dengan kencang dan tak beraturan.


Kenapa rasanya begitu sakit???


Ada apa dengan balkon itu? Itu hanya balkon milik tetangga? Dan bahkan kelihatannya kosong karena tak berpenghuni.


Kenapa rasa sakitnya nggak mau hilang?!


Aku merematt kencang baju di depan dadaku. Menahan rasa perih yang begitu menyakitkan.


— MUSE S2 —


•••


“Kalila? Kau kenapa?” Angga membantuku bangkit dari sisi bawah ranjang. Sudah berjam-jam aku duduk di samping bawah ranjang dan menangis. Aku sendiri tak tahu sebenarnya apa yang sedang aku tangisi. Kenapa dadaku begitu sesak dan sakit?


“Aku merasa pengap dan sesak.” Aku bangkit dan memeluk Angga.


“Kenapa? Apa kau bosan?” Angga mengelus punggungku dengan lembut.


“Iya, mungkin aku bosan.”


“Kau mau keluar dan menggambar? Biasanya kau selalu menggambar kalau sedang bosan?” Angga memberikan ide.


“Boleh.” Aku tersenyum pada Angga. Aku memang suka menggambar, dan mungkin menggambar akan membuatku merasa lebih baik.


“Ayo, ambil perlengkapanmu. Kita ke taman kota.”


“Iya,” dengan cepat aku membereskan semua peralatan gambar. Sketchbook, pensil, penghapus, dan papan untuk alas gambar.


“Ready, bae?!”


“Ready, Go!!!”


Kami berputar-putar menikmati pemandangan kota di malam hari dengan sepeda motor. Mengusir rasa penat dan mencari spot gambar yang bagus dan tenang.


“Sampai!!” seru Angga senang.


“Let’s go!!” Akupun tak kalah senang.


Kami bergandengan tangan menuju ke bangku taman. Karena hari sudah malam taman kota terlihat lebih sepi, hanya tinggal beberapa pasangan muda mudi dan juga para pedagang kaki lima. Tempat bermain anak-anak juga terlihat sepi. Tinggal segelintir anak yang masih bermain pasir dan juga ayunan.


Lampu taman berpendar cantik, di dominasi warna kuning, namun ada beberapa juga yang berganti-ganti warna. Lampu kecil-kecil itu sengaja di lilitkan pada batang-batang pohon agar terlihat cantik.


“Mau jagung rebus?” tawar Angga.


“Nggak, kenyang. Aku mau minuman hangat saja, Ngga,” jawabku sambil memegang perut.


“Oke.”


Aku memandang punggung Angga yang menjauh untuk membeli minuman hangat. Aku bersyukur masih memiliki Angga di sisiku saat ini. Setidaknya aku tak sendirian saat ini. Aku punya kekasih untuk berbagi rasa dan cerita.


Aku membuka buku gambar dan mulai mencari objek gambar. Mau gambar apa? Apa anak kecil yang bermain pasir? Atau pasangan yang sedang memadu rasa? Atau beberapa lansia yang sedang berkumpul untuk berbagi cerita?


“Pilihan yang sulit,” gumamku.


Aku akhirnya memutuskan untuk menggambar anak kecil yang sedang bermain pada bak pasir. Membuat istana dari pasir lembut dengan ember cetakan.


Goresan demi goresan aku torehkan pada kertas gambar, namun hasilnya tidak bagus.


Kenapa aku tak bisa menggambar?


Aku kembali mencoba untuk menorehkan goresan pensil pada kertas gambar, namun hasilnya tetap sama. Apakah aku kehilangan kemampuan menggambarku? Apa aku sudah tak bisa lagi menorehkan seni yang indah?


Kucoba lagi dan lagi.


Terus dan terus.


Goresan demi goresan, halus dan semakin kasar.


Tetap saja tak ada goresan yang sempurna, seniku mati, tetap menjadi sebuah halaman kosong dengan coretan yang buruk.


Kenapa?


Apa yang terjadi?


You’re my MUSE, — Yes, I’m your MUSE, baby.


Sebuah kalimat terus terngiang-ngiang di dalam benakku.


Siapa dia??


Siapa kamu?


I’m your MUSE, baby.


“TIDAK!!!” teriakku. Aku mencengkram kepalaku yang terus berdenyut sakit.


“KALILA?!” Angga langsung berlari menghampiriku.


“Angga, kepalaku sakit, sakit sekali!!!”


“Ayo kita pulang!! Kau butuh istirahat!”


Aku menurut, mengabaikan suara itu. Kembali melingkarkan tanganku pada pinggang Angga. Kami berkendara dan kembali pulang. Dalam perjalanan aku berharap pusing yang mendera ini bisa segera menghilang.


— MUSE S2 —


•••


Satu bulan berlalu, aku kembali menjalankan rutinitasku seperti biasa. Bekerja di cafe, membuat kopi, bercanda tawa dengan Melody dan juga Caca.


Aku mencoba untuk merasa bahagia saat ini. Walaupun aku melupakan dua tahun terakhir, tapi setidaknya aku berharap bisa mengukir tahun-tahun berikutnya dengan perasaan yang gembira.


“Angga, thanks, ya,” kucium kening Angga begitu turun dari motornya.


“Oke, masuklah. Aku pulang, ya.” Angga membalasnya dengan sebuah kecupan ringan pada bibirku.





Aku masuk kembali ke dalam kamarku. Merebahkan tubuhku ke atas ranjang yang nyaman.


“Ah, aku benar-benar sudah tak bisa menggambar lagi,” gumamku sambil melihat ke arah langit-langit kamar.


Sudah berkali-kali aku mencobanya, menggores semua lembaran dalam buku gambar, namun hasilnya sama, goresan kasar yang tak memiliki arti dan nilai yang indah.


Aku hanya membuat halaman kosong yang tak punya nilai seni sama sekali.


Kenapa denganku?


Aku berhenti memikirkan masalahku dan mencoba untuk memejamkan mata. Masih teringat pada benakku betapa aku mengingat kalimat itu.


I’m your MUSE, baby.


“Siapa kamu?” lirihku, aku berusaha mengingatnya, memutar otakku untuk mengulang kata demi kata dalam kalimat itu sampai akhirnya terpejam dan aku tertidur.


— MUSE S2 —


•••


Pagi ini aku terbangun dengan lesu, sudah berhari-hari tidurku tidak nyenyak. Bagaimana caranya agar aku bisa melupakan kalimat itu?


Aku mandi dan mulai bersiap untuk bekerja, memakan sarapanku dan juga meminum secangkir air hangat.


“Mendung,” kataku saat melihat langit gelap menyelimuti angkasa.


Aku bergegas mengambil tas dan juga jaket hoodie. Memakainya saat berjalan menuju ke cafe. Angin dingin mulai terasa, tanda hujan akan segera turun.


JRESSS....


Benar saja, baru melangkah beberapa langkah hujan telah turun dengan deras. Bau tanah kering yang bercampur dengan air hujan kembali terasa memenuhi indra penciumanku.


Bau hujan bagaikan sihir yang mampu menggelitik semua kenangan indah untuk kembali hadir memenuhi benakmu.


Aku menghentikan langkahku dalam derasnya hujan. Hatiku kembali terasa sakit. Air mata kembali menetes kemudian menghilang tersapu oleh derasnya hujan. Aku berlutut di tengah jalan, entah kenapa aku merasa begitu kehilangan. Aku merasa begitu hampa.


Oh, Hujan coba ingatkanlah kepadaku apa yang telah aku lupakan?


Apa yang telah aku lupakan selama ini sampai rasanya terrasa begitu menyakitkan?


Tangisan dan air mataku terbuang percuma, rasanya terlalu menyesakkan. Rasanya terlalu sakit, seperti tersayat sesuatu yang begitu dalam. Tapi apa??? Apa????!!


“ARG...!!!!” Aku berteriak, meneriakkan semua rasa sakit itu. Berharap rasanya akan sedikit berkurang. Namun hanya suaraku yang tertelan oleh derasnya hujan, rasa sakitnya tidak ikut menghilang.


“Kalila!!!” suara teriakan Angga membuatku tersadar.


“Angga?!”


“Kenapa? Apa yang terjadi?”


“Aku nggak tahu, Ngga. Aku hanya merasa hatiku sangat sakit.” Aku menerima pelukkan Angga, menangis lebih keras dalam dekapannya.


“Kalila.”


“Apa yang terjadi dua tahun ini, Ngga? Apa yang telah aku lupakan?”


“Kenapa kau begitu ingin mengingatnya, La?”


“Karena rasanya sangat menyakitkan.”


“Kalau sakit lupakan saja.” bisik Angga.


“Tapi kenapa, Ngga? Kenapa begitu sakit?”


“Mungkin kau sakit karena memikirkan orang tuamu, Kalila.”


“Benarkah?” Aku berusaha menyakinkan bahwa ucapan Angga benar.


“Iya, kau pasti hanya syok karena kehilangan mereka.” Angga memelukku kembali.


“Mungkin juga.”


“Ayo, pulang, La. Kau tak usah ke cafe. Istirahatlah saja.”


“Iya.” Aku mengagguk sebagai jawaban.





“Mandi dan beristirahatlah!” Angga mengelus wajahku.


“Iya, kau juga basah, pulang dan ganti bajumu, Ngga!” pintaku.


“Oke.” Angga kembali melumaat bibirku sebelum kami berpisah.


“Bye, Ngga.”


“Bye, Kalila.”


Aku kembali menutup pintu dan membersihkan diri. Menghapus semua rasa lengket yang timbul karena air hujan. Aku melirik ke bawah, melihat bekas jahitan oprasi pada perutku. Jahitan se panjang hampir 20 cm itu masih terlihat memerah. Rasanya masih sedikit berdesir perih saat aku merabanya.


“Bagaimana aku bisa mendapatkan luka ini?” pikirku dalam hati.


Setelah berlama-lama dalam guyuran air hangat aku menyahut jubah mandi dan melangkah keluar. Aku menghidupkan musik dari speaker bluetooth, mendengarkan lagu sambil menyeduh teh hangat.


Aku menikmati irama music sambil bersenandung ringan, sesekali aku menyesap teh melati. Menikmati aromanya yang membuat hatiku tenang.


Picture-perfect, you don't need no filter


Gorgeous, make 'em drop dead, you a killer


Shower you with all my attention


Yeah, these are my only intentions


Stay in the kitchen, cooking up, cut your own bread 🎶


Heart full of equity, you're an asset


Make sure that you don't need no mentions


Yeah, these are my only intentions


Shout out to your mom and dad for making you 🎶


Standing ovation, they did a great job raising you 🎶


When I create, you're my muse


The kind of smile that makes the news 🎶


—Justin Bieber Intentions—


Kenapa dengan lagu ini? Aku menaruh cangkir teh dan duduk pada pinggir ranjang. Melihat ke arah datangnya suara, berfokus untuk mendengarkannya. Aku seakan-akan pernah punya kenangan indah saat lagu ini terdengar.


Cukup lama aku terduduk sambil termenung. Memutar lagu itu berulang-ulang kali. Mencoba mengingat hal indah yang pernah aku alami saat mendengarkannya.


Lubang kosong terasa jelas memenuhi hatiku. Hampa dan terasa ada yang hilang.


Hujan masih turun dengan deras. Dan aku mulai kedinginan karena hanya memakai jubah mandi sebagai pelindung tubuhku. Aku membongkar isi lemari, mencari baju yang nyaman untukku beristirahat.


Banyak kemeja Papa yang tertata rapi di dalam lemari pakaian. Namun ada sebuah kemeja yang terlipat rapi pada tumpukan teratas. Kemeja berwarna putih itu terlihat lebih besar dari milik Papa.


Aku mengambilnya, entah kenapa aku merasa sangat ingin mengenakkan kemeja itu saat ini. Aku langsung bergegas untuk memakainya, ukurannya terlalu besar bagiku. Tanganku tenggelam dalam lengan panjangnya. Aku mencium ujung lengan panjang kemeja itu.


Aroma samar parfum mahal yang tidak hilang walupun telah tercuci. Aroma laut yang bercampur dengan kesegaran citrus. Aku menyukainya. Aroma tubuh yang manis sekaligus hangat.


Air mataku kembali menetes, saat sayatan demi sayatan kembali terasa menggores hatiku dengan rasa sakit yang luar biasa perih.


Aku tersungkur ke bawah, kembali mendengar lagu itu. Suara nyanyian bercampur dengan gemericik air hujan yang menetes pada lantai balkon.


Aku meringkukkan tubuhku di lantai yang dingin. Menangis sembari memeluk lutut. Berharap sakitnya hati bisa sedikit berkurang. Aku terus menggenggam kemejanya, menikmati lagi aroma tubuhnya yang melekat begitu erat.


Betapa sakitnya hatiku saat semua kenangan itu kembali memenuhi benakku. Kenangan yang begitu indah sekaligus menyakitkan.


Kenangan akan senyuman manisnya.


Kenangan akan hangatnya pelukan dan indahnya persatuan.


Kenangan akan besarnya cintaku padanya.


Kenangan akan gambar dirinya yang begitu mempesona. Tergambar begitu indah dalam tiap goresan tanganku.


Dalam kesesakkan aku kembali menyebut namanya.


“ARVIN!!”


— MUSE S2 —


MUSE UP!!


Minta Like dan Comment.


Jangan lupa VOTE!!


Makasih readerakuh..


Hiks, saya menangis bombay...


❤️❤️❤️


Bagi banyak cinta untuk orang lain ya gaes..