
MUSE S2
EPISODE 44
S2 \~ MENDUNG
\~ Perihnya hati terasa begitu menyakitkan saat mengingat senyum keduanya pernah terkembang dalam kehidupanku. \~
Langit mendung membuat udara pagi terasa begitu dingin. Sudah beberapa hari ini awan mendung selalu nampak menghiasi langit biru, merubah warnanya menjadi sedikit abu-abu. Awan gelap membuat hujan terus mengguyur kota S sepanjang hari. Beruntung pagi ini hanya mendung, tidak ada hujan, jadi aku bisa berziarah di makan kedua orang tuaku.
Aku baru saja menghentikan air mataku setelah memanjatkan doa untuk mereka. Perihnya hati terasa begitu menyakitkan saat mengingat senyum keduanya pernah terkembang dalam kehidupanku.
Aku meratapi nasibku, bahkan saat itu tak ada sanak saudara yang menemaniku, ataupun teman-teman yang melayat pemakaman mereka. Aku memang sengaja mengubur mereka di kota S, tempat kelahiran Mama. Menaruh mereka berdua di dekat Kakek dan Nenek. Setidaknya mereka tak akan kesepian tanpaku.
Memakamkan tubuh mereka berdua adalah saat-saat paling memilukan dalam hidupku. Aku terpukul, aku merasa sakit, perih, dan juga hina. Dengan dosa aku telah mengotori kehidupanku, dan dengan uang hasil dosa pula aku menguburkan mereka berdua.
“Maafin Kalila, ya, Pa, Ma,” tanganku mengusap pusara Papa dan Mama. Entah sudah berapa lama aku meminta maaf dan menyesali diri. Yang pasti air mataku mulai kering, dan tubuhku mulai kedinginan.
Setelah membersihkan area makam, aku melirik jam pada layar ponsel. Sudah jam 7 pagi, aku harus pulang. Sebentar lagi aku harus membuka cafe dan menjaga Keano. Melody akan kembali ke kota J hari ini. Dia bilang Ayahnya mulai sekarat, entah kapan lagi Melody bisa menyapanya?
Aku berjalan menyelusuri trotoar jalan. Masih pagi jadi jalananpun masih sepi. Hanya beberapa kendaraan yang berlalu lalang, juga pasangan lansia yang sedang berolah raga. Aku sendiri juga memilih untuk berjalan kaki menuju ke cafe setelah turun dari bis. Sekedar merenggangkan tubuh dan mencari sedikit keringat.
Dari arah yang berlawanan sebuah mobil sport berwarna oranye terang melaju dengan kencang. Membuat genangan air di samping trotoar muncrat dan membasahi celana jeansku. Benar-benar menyebalkan. Ingin rasanya aku mengumpat, tapi marah-marahpun tak akan merubah keadaan. Celanaku tetap saja basah, dan pengendaranya juga tak akan mungkin berhenti untuk meminta maaf.
“Orang bodoh mana yang bawa mobil sport dengan mengebut di kota kecil seperti ini?” gumamku sambil membersihkan tangan dari cipratan air kotor.
— MUSE S2 —
Aku bergegas masuk ke dalam cafe. Sesuai namanya palette cafe, berbagai macam warna pastel terpulas apik pada dinding cafe sebagai element utama penunjang interiornya. Meja-meja dari kayu bercat putih dan kursi bergaya shabby chic menghiasi interior penunjangnya. Sofa panjang melekat di sepanjang dinding, dudukannya berbahan katun dengan berbagai macam warna pastel. Bantal-bantal kecil bercorak burung owl dan juga lampu berbentuk sangkar burung menghiasi tiap-tiap meja. Lampu meja cantik ini menimbulkan cahaya hangat tersendiri pada interior cafe di malam hari.
Aku membangun cafe ini dari nol bersama dengan Melody. Aku masih ingat saat-saat cafe ini begitu sepi dan belum semaju saat ini. Melody dan aku masih harus berkeliling untuk menjajakan pie dan kue, juga minuman cup ke kompleks sekitar.
Sekarang cafe terbilang cukup sukses. Aku juga sudah memiliki seorang pegawai bernama Caca. Cewek tomboi dengan lima buah piercing bersarang pada salah satu telinganya. Rambutnya hitam berpotongan pendek dengan bangs panjang ala-ala boyband korea. Sudah setengah tahun Caca bekerja di cafe. Caca adalah mahasiswa jurusan Akutansi semester 2, yang mencari jam kerja part time fleksibel di cafe. Akupun tak mempermasalahkan jam kerjanya, dan dia juga OK masuk kapanpun, selama itu tak mengganggu jadwal kuliahnya.
“Sudah datang, Ca?” tanyaku sembari masuk, melihat Caca sudah mengepel lantai dan mengelap meja dijam sepagi ini membuatku heran.
“Sudah, Boss. Nanti sore mid semester. Jadi aku ambil shiff pagi.” jelasnya, masih dengan tangan sibuk mengelap meja satu per satu. Aku menyukai kerajinan dan semangat bekerja gadis ini. Cekatan dan tak pernah mengeluh, bahkan disaat harus bekerja lembur karena cafe selalu ramai di malam minggu.
“Denger-denger Kak Melody mau cuti, ya, Boss?” tanya Caca, cewek tomboi yang satu ini memang selalu to the point dengan ucapannya.
“Iya, satu minggu,” jawabku sembari memakai apron dan bergegas menge- brew kopi dengan teknik cold brew. Teknik ini cukup memakan waktu yang lama, tapi lebih rendah asam dan juga lebih nikmat. Beberapa pelanggan menyukainya. Tapi aku juga suka menggunakan cold drip teknik saat cafe mulai rame. Tergantung permintaan pelanggan dan juga situasi.
“Keano ikut?”
“Nggak, aku yang akan mengurusnya.”
“Kalau gitu aku akan merapikan kamar belakang.” Caca bergegas menuju ke kamar belakang.
Ada sebuah kamar di belakang cafe, dekat dengan kamar mandi. Aku memang sengaja membuat sebuah kamar di belakang agar Melody bisa istirahat saat hamil dulu. Juga agar Keano bisa tidur siang tanpa ada gangguan. Kamar itu kini sedikit berdebu karena sudah lama tidak di gunakan. Setelah berumur setahun, Keano jadi lebih susah untuk tidur siang dan lebih memilih untuk berjalan-jalan.
•
•
•
Kriinncingg kling... 🎶
Bunyi lonceng terdengar riuh, tanda ada lebih dari satu orang tamu yang datang.
“Welcome to palette cafe,” sapaku pada pengunjung cafe.
“Mau pesan apa?” tanyaku dari meja kasir.
“Brown sugar latte, dan vanilla coffe latte.” pintanya.
“Ice?”
“Totalnya 65.000. Ada lagi?”
“No.”
“Cash atau E-money?”
“E-money.”
Setelah menscan barcode pembayaran aku memberikan buzzer padanya. Cafe kami memang menerapkan self servis karena kami kekurangan pekerja. Aku biasa meracik kopi, Melody membuat cake dan pastry, Caca membersihkan meja dan kadang menjaga mesin kasir. Tak ada yang bisa mengantarkan pesanan, jadi kami menerapkan self servis. Pelangganpun tak keberatan karena kami menghapus tax servis pada bill nota tagihan.
“No 11!” Aku memanggil pemilik buzzer no 11 saat kopi yang dipesannya sudah siap.
“Baik.” seorang pemuda datang mengambil pesanannya dan mengembalikan buzzer.
“Selamat menikmati, Kak,” senyumku.
“Terima kasih.” jawabnya.
Kedua pemuda itu merupakan pelanggan setia cafe kami. Mereka sangat suka nongkrong sembari bermain game. Bahkan kadang mereka datang dengan rombongan mereka untuk mabar (main bareng) di cafe. Caca menyukai salah satunya, menurut Caca wajahnya mirip dengan artis bollywood idolanya yang sering menghiasi layar kaca TV.
Pemuda itu masih mengamatiku lekat, membuatku menaikkan alis seakan-akan meminta penjelasan padanya. Kodeku ternyata diterima olehnya, ia tersenyum sembari berkata, “Kak, kau mirip sekali dengan tokoh game yang baru aku mainkan.”
“Oh, ya?” Aku keheranan.
“Yup. Boleh aku memfotomu dan membandingkan dengan tokoh itu? Ada event berhadiah 10.000 koin.” pintanya dengan antusias.
“Hah???” Aku sedikit canggung, benarkah ia akan menfotoku untuk game? Masa ada event game seperti itu? Aneh sekali.
“Ayolah, Kak! Pliss.” renggeknya.
“Maaf, tidak bisa,” tolakku dengan halus.
Kriinncingg kling... 🎶
Bunyi lonceng yang bergemerincing, membuatku bisa mengalihkan pembicaraan dengan pemuda itu. Jujur aku tak ingin siapapun menyimpan fotoku, aku takut mereka memanfaatkannya untuk hal-hal yang aneh-aneh.
“La, Ca, bantuin donk!!” panggilan Melody membuatku bisa berpamitan dengan pemuda itu. Dengan wajah yang sedikit kecewa ia kembali ke mejanya.
“Ya, ampun, Mel. Apa aja, nih?” Aku keheranan Melody membawa banyak sekali barang.
“Persiapan. Udah jangan banyak nanya, bantuin gendong Ken-Ken dulu!” Melody menyerahkan Keano padaku.
Aku menggendong Keano masuk, Melody dan Caca membawa koper dan juga tas beserta beberapa bungkusan lainnya. Aku mengekor mereka di belakang sambil menggoda si kecil Keano sampai ia menangis karena gemas.
Aku melirik ke arah langit pagi sebelum menutup pintu. Padahal sudah hampir siang tapi sinar matahari sama sekali tidak terlihat, tertimbun oleh gelapnya awan. Angin berhembus lebih cepat dan terasa basah. Mendung gelap terlihat menguasai angkasa. Nampaknya tak lama lagi akan ada hujan deras.
— MUSE S2 —
Muse Up
Thxque for reading..
Bagi like dan comment.
Jangan lupa klik Fav.
Vote juga ya, biar Muse tambah femes..
Jangan lupa masuk GC yuk..
❤️❤️❤️
Lap yu readers.