MUSE

MUSE
S6 ~ PERKENALAN



MUSE S6


EPISODE 13


S6 \~ PERKENALAN


\~ Setelah memberikan harapan palsu, Gabby keluar dari pintu kamar Ivander dengan penuh kilatan kemenangan. Ia bergegas kembali ke kamar Adrian, tak sabar ingin menceritakan segalanya\~


________________________


“Benar-benar tak ada bukti yang memberatkan untuk Ivander.” Gabby bercerita pada Adrian tentang hasil yang didapatnya dari kantor kepolisian hari ini.


“Menyerah saja, Gabby! Walaupun Ivander bersalah, Papaku pasti akan membebaskannya.” Adrian menuangkan segelas soju pada gelas kecil di depan Gabby. Hari ini mereka sedang makan di restoran Korea tak jauh dari kantor Adrian.


“Kau terus menyuruhku menyerah seakan kau lah yang bersalah, Adrian,” celetuk Gabby sebal, tiap kali menceritakan perkembangan kasus Krystal, Adrian selalu menyuruhnya berhenti.


“Gab, aku sahabatmu. Aku juga sahabat Krystal. Mana mungkin aku tak peduli pada kematiannya? Tapi aku tak ingin kau terluka, bagaimana kalau Ivander menyakitimu sama seperti ia menyakiti Krystal?” Adrian memperingatkan sahabatnya itu.


Gabby hanya terdiam, bukan salah Adrian kalau mengkhawatirkannya, nyatanya Krystal meregang nyawa di tangan Ivander. Kali ini bisa saja Gabby yang menjadi korbannya.


“Kami pesan soju dan juga ayam goreng,” kata seorang wanita. Ucapannya membuat Gabby menoleh, ia tertegun saat melihat kehadiran wanita dengan rambut ikal panjang kemerahan sedang duduk bersama pria. Pria itu sangat dikenal oleh Gabby.


“Hyung?” Panggil Gabby.


“Ah, Gabby.” Jay Hyung menoleh


“Siapa dia, Oppa?” tanya pacar barunya.


“Hanya teman.” Jae Hyung berdiri dan bergegas menemui Gabby.


“Kau di Indo?” Gabby menggeser pantatnya, memberikan tempat untuk Hyung duduk.


“Iya, menghabiskan cuti.”


“Sejak kapan?”


“Seminggu ini.”


“Ah, begitu. Tampaknya kau sudah dapat pacar baru.” Gabby melirik ke arah wanita yang duduk di meja seberang.


“Iya, pramugari juga seperti Krystal. Sepertinya aku gampang cinlok.” Hyung tersenyum.


“Kau tahu kabar Krystal?” Gabby menatap tajam pada Hyung.


“Tahu, aku ikut berduka cita, Gabby. Aku tak menyangka hal mengerikan itu bisa menimpanya.”


“Kenapa kau tidak hadir saat pemakamannya?”


“Haruskah?” decis Hyung, sepertinya ia masih sakit hati pada mantan tunangannya itu.


“Kaukan pernah mencintainya!”


“Tapi dia mengkhianatiku. Dia bermain dengan pria lain di belakangku,” bentak Hyung, hatinya diliputi amarah.


“Kau tahu?” Alis Krystal tertaut.


“Iya, aku juga tahu dia sering jalan dengan pria ini.” Hyung menunjuk Adrian.


“Aa—aku?” gagap Adrian.


“Jangan mengelak, ah ..., tapi semua ini sudah bukan urusanku. Lagi pula Krystal sudah tidak ada. Lebih baik diam sebagai tanda hormat padanya.”


.... Semuanya terdiam.


“Sudah ya, aku ada kencan malam ini. Sampai jumpa lagi.” Lanjut Jae Hyung.


“Baik, Hyung, sampai jumpa lagi.” Gabby tersenyum simpul, pembicaraan ini membuat suasananya semakin suram.


Gabby melihat Jae Hyung yang baru saja kembali ke tempatnya duduk, menikmati soju dan juga ayam goreng bersama pacar barunya.


“Dasar playboy. Semua lelaki sama saja. Lebih baik pacaran dengan wanita, kami lebih setia.” Gabby menyeringi.


“Itukan, pikiranmu. Nyatanya Krystal mengkhianatinya juga.” Adrian menuang soju.


“Katakan Adrian, apa kau juga pernah tidur dengan Krystal?” Gabby menyipitkan matanya, menghakimi Adrian.


“Hah??”


“Ah ... Sudahlah, mengetahui kalian pernah tidur bersama pun tak akan merubah segalanya, Krystal tetap telah pergi jauh.” Gabby menenggak kembali sojunya.


“Ya, aku pernah tidur dengan Krystal, Gabby, maafkan aku.” Adrian meminum juga sojunya setelah berkata jujur.


“Cis!” decis Gabby. “Berarti kau juga tersangka.”


“Kau menuduhku??” Adrian melongo.


“Hahaha ... bercanda. Kapan kau akan kembali mengajakku menemui Kakakmu?” tanya Gabby.


“Kau bilang dia sudah tertarik padamu.”


“Iya, tapi b4jingan itu bukannya ngobrol atau saling mengenal, dia langsung mengajakku main. Gila bener! Bagaimana bisa kau menggaetnya kalau dia seagresif itu?” Gabby memutar gelasnya.


“Ivander memang gila.”


“Dia terus mengirim pesan dan mengajakku berkencan,” kata Gabby.


“Kau mau?”


“Aku diam saja, biar dia semakin penasaran.” Gabby tertawa.


“Kau juga sama gilanya.” Adrian bergeleng pelan.


“Bagaimana kalau kau mengenalkanku sebagai pacarmu? Tentu dia tak akan berani menyentuhku begitu saja, aku akan mendekatinya pelan-pelan,” usul Gabby, matanya berbinar.


“Not bad. Aku akan mengenalkanmu pada acara keluarga, wajahnya pasti akan sangat pucat!” Kikih Adrian, “wanita yang ingin ditidurinya ternyata pacar adiknya. Apa dia akan melepaskanmu atau semakin tertarik padamu?”


Gabby mengangguk, idenya sepertinya tidak buruk. Dengan begini ia bisa mendekati Ivander pelan-pelan, bahkan menaklukkannya. Ia harus mengeruk informasi sebanyaknya sebagai bukti, siapa tahu dengan mendekati Ivander, pria itu mau membuka sendiri kesalahannya. Mengakui semua tindakan buruknya terhadap Krystal pada Gabby.


“Baiklah, akan aku atur makan malam untukmu besok.” Adrian tersenyum, ia sedikit senang karena bisa membalas arogansi Ivander.


“Sure.”





Dan beginilah mereka sekarang, berdiri bertiga dalam satu ruangan. Saling mengangkat tangan mereka, memperkenalkan diri.


“Perkenalkan ini Ivander, Kakakku.”


Mata Ivander langsung membelalak begitu melihat siapa kekasih adiknya. Wanita yang akhir-akhir ini memenuhi benaknya, yang membuat jiwa lelakinya terus penasaran dan tergugah untuk memilikinya. Ivander memucat, tak pernah ia sangka sebelumnya kalau wanita itu ternyata milik adiknya sendiri.


Gabby berjalan mendekati Ivander. Tanpa ragu ia mengulurkan tangannya, menyambut perkenalan Ivander.


“Gabriella, senang berkenalan denganmu.” Senyum Gabby hangat.


“I—ivander.” Dengan gelagapan Ivander menjabat tangan Gabby.


Gotcha! pikir Adrian dan Gabby bersamaan. Melihat wajah Ivander yang kebingungan membuat keduanya tersenyum penuh kemenangan.


Cukup lama Ivander terpukau pada tatapan Gabby yang tajam dan penuh gairah. Seakan menembus jauh masuk ke dalam mata hazel Ivander. Gabby terlihat penuh percaya diri, ia seperti telah sangat mengenal kepribadian Ivander dan siap untuk menghadapinya.


“Ehem ...,” dehem Gabby saat Ivander tak kunjung melepaskan genggamannya.


“Ah, iya.” Ivander melepaskan genggaman tangannya.


“Ayo kembali ke meja makan.” Adrian melingkarkan tangannya pada pinggang Gabby yang langsing. Membuat Ivander sedikit jengkel, entah kenapa hatinya begitu gusar saat melihat kemesraan mereka berdua.


Ada apa dengan diriku? Kenapa aku tidak rela dia bersama Adrian? tanya Ivander dalam hatinya.


“Duduklah, Van.” Zean menyuruh Ivander menempatkan diri.


“Apa kesibukkanmu akhir-akhir ini, Gab?” tanya Mira.


“Saya aktif sebagai pemain biola, Tan. Ada kelas kursus dan juga mengajar di beberapa universitas seni,” jawab Gabby, sesekali ia menyisir rambutnya ke belakang telinga.


“Wah, hebat sekali.” Puji Mira.


“Gabby yang bermain saat ulang tahun Papa, Ma. Masa Mama lupa?” Adrian mengingatkan Mira tentang pesta besar seminggu yang lalu.


“Ah, iya, aku ingat. Permainanmu sangat memukau.” Mira tersenyum, Zean juga memuji kepiawaian Gabby. Hanya Ivander yang memilih diam tanpa kata, menatap wanita cantik di depannya tanpa berkedip.


“Kenapa diam saja, Kak? Apa kau tak menikmati permainan Gabby?” tanya Adrian sengaja.


“Ah, Yah, begitulah.”


“Hanya begitu saja? Padahal seingatku Kak Ivander sangat tertarik dengan permainan tanganku ini.” Gabby tersenyum licik. Membuat wajah Ivander memerah.


Sialan wanita ini, apa dia ingin menjatuhkan martabatku di depan Papa? Dia tak akan bilangkan kalau aku mengajaknya berkencan belakangan ini?! Ivander meletakkan serbet makannya, memilih diam.





Acara makan malam keluarga berakhir dengan hangat. Ivander langsung kembali ke kamarnya, sedangkan Gabby dan Adrian masih menemani Zean dan Mira bercakap-cakap di ruang tengah. Mira mengupas buah apel sebagai pencuci mulut.


Banyak yang dibicarakan, seputar keluarga, bisnis orang tua, sampai hal-hal kecil tentang selera fashion. Gabby merupakan pribadi yang ramah dan supel, dengan segera ia bisa masuk dan diterima oleh dalam keluarga besar Zean.


“Kalian mengobrollah dulu, aku akan membersihkan badan.” Adrian pamit undur diri.


“Baiklah.” Angguk Mira.


Gabby melanjutkan obrolannya, ia sedikit gusar karena rencananya menggaet minat Ivander tak berhasil. Pria itu sama sekali tak menampakkan batang hidungnya setelah makan malam.


“Kenapa Adrian lama sekali?” kata Mira.


“Biar saya panggil, Tan.” Gabby beranjak dari sofa. Ia bergegas naik ke lantai dua.





Gabby melihat ke sekeliling, rumah mewah itu sangat luas ternyata. Interiornya terlihat minimalis namun begitu berkesan maskulin karena di dominasi warna abu-abu dan biru navy. Gabby terlalu asyik mengamati rumah itu sampai tak sadar bahwa Ivander mengikutinya dari belakang. Dengan cepat ia membekap mulut Gabby dan menariknya masuk ke dalam kamar.


Clek! Suara pintu terkunci.


“Hemp ... hemp!” Gabby meronta, Ivander melepaskan bekapannya. Mendorong tubuh ramping Gabby pada dinding kamarnya.


“Hai, Honey!”


“Mau apa kau membawaku kemari?” Gabby menatap tajam ke arah Ivander, menyembunyikan rasa kaget dengan prilaku Ivander yang kelewat nekat.


“Ish, kenapa nggak ada basa basinya, sih?”


“Lepasin, aku ini pacar adikmu.” Gabby meronta dari kuncian tangan Ivander yang mencengkram erat kedua tangannya di atas kepala.


“Yah, aku tahu.” Ivander mendekatkan wajahnya, mengendus pelan tengkuk Gabby. Mengendus feromon, aroma manis yang disukai semua pria di dunia ini.


“Maka lepaskan aku!! Ini menjijikkan!” Gabby membuang wajahnya, menghindari tatapan Ivander, ia memang ingin mendekati Ivander, namun tak ingin pria ini menyentuhnya.


“Hahaha ...!”


“Kenapa malah ketawa? Kau sudah gila?”


“Baru kali ini ada wanita yang bilang aku menjijikkan. Kau memang menarik, Gabby! Sayangnya kau milik Adrian.” Ivander mengeluskan punggung tangannya pada wajah cantik Gabby, perlahan turun ke leher dan dadanya.


“Apa maumu?” lirih Gabby.


“Tinggalkan Adrian, bersamaku saja, aku bisa memberikanmu segalanya, kepuasan, harta, dan juga cinta, bagaimana?” tawar Ivander, ia menyentuh turun pada pinggang Gabby.


Yes, akhirnya kau jatuh juga dalam pesonaku, Pria Bodoh! Pikir Gabby dalam hati.


“Memangnya kau tahu apa artinya cinta? Aku dengar kau berganti pacar satu minggu sekali?” Gabby mencoba menarik kedua tangannya, Ivander akhirnya melepaskan kedua tangan Gabby.


“Siapa yang bilang? Adrian?” Ivander mengerutkan dahinya.


“Namamu sudah terkenal, Tuan! Dan aku tak mau jadi salah satu mantanmu.” Gabby menyeringai, membuat Ivander semakin tak berkutik, tawarannya terus ditolak oleh Gabby, hati Ivander semakin gatal ingin menaklukan wanita ini.


“Yah, aku bisa membuang mereka semua dan hanya mencintaimu, Gabby,” tukas Ivander, ia mendorong tubuhnya semakin lekat dengan tubuh Gabby.


B4jingan ini, bagaimana bisa dia berdiri ditengah-tengahan pembicaraan serius, dasar mesum brengsek! umpat Gabby dalam hati saat merasakan benda keras milik Ivander menyentuh tubuhnya.


“Baiklah! Buktikan dulu! Kalau kau memang mau menjadi kekasihku dan memintaku membuang pria sebaik Adrian! Yakinkan aku dulu kalau kau sudah berubah,” sergah Gabby, ia mulai takut Ivander berbuat macam-macam padanya.


“Pria sebaik Adrian?? Kau bercanda? Aku membandingkanku dengan anak manja itu?” Ivander menatap tajam Gabby, sedikit sakit hati karena pesonanya kalah dari Adrian yang notabene dianggapnya sebagai anak mami.


“Bagiku dia lebih baik darimu, yang mengajak wanita tidur tanpa memberi mereka status hubungan apapun.” Cela Gabby, Ivander menghela napas, ucapan Gabby benar, ia tak pernah memberi tag pacar pada wanita-wanita yang pernah di tidurinya.


“Baiklah, aku mengaku lebih buruk dari Adrian.” Ivander menarik tubuhnya menjauh, Gabby bisa bernapas lega.


“Kuberi waktu satu minggu, Ivander. Aku tak akan berpisah dari Adrian sampai kau benar-benar serius dengan perkataanmu.” Gabby mendekati Ivander. Mengelus dada bidangnya yang berbalut kaos V -neck lengan panjang berwarna abu-abu. Aroma spices hangat menggelitik hidungnya.


“Jadi statusku simpananmu?!” Ivander hampir menjerit karena marah. Biasanya dia menjadikan wanita-wanita itu simpanan, kini dia harus merendah demi Gabby dengan menjadi seorang simpanan.


“Yah, begitulah. Kan sudah ku bilang, aku tak mau kehilangan Adrian demi pria yang tak mencintaiku,” ujar Gabby.


“Kau benar-benar membuatku geram, Honey! Tapi aku menyukainya!” Ivander kembali meraih pinggang Gabby, mengikiskan jarak tubuh mereka agar ia bisa meraup bibir Gabby.


“Hemp ...!” Gabby terlihat tidak siap saat Ivander spontan mencium bibirnya. Gabby mendorongnya, namun panggutan Ivander cukup dalam untuk dilepaskan.


“Itu untuk materainya! Sebuah perjanjian perlu materai bukan?” Ivander melepaskan dekapannya, Gabby menghapus sisa ciuman Ivander dengan punggung tangannya.


Pria gila! Gabby mengumpat, jantungnya berdebar kencang. Entah apa yang membuat wajahnya menghangat, amarah, atau sipuan malu?


“Aku akan membuktikannya, aku bisa mencintaimu lebih dari Adrian mencintaimu.” Ivander memeluk Gabby.


“Yah, aku tunggu kesungguhan hatimu.” Gabby membalas pelukkan Ivander. Seringai kemenangan memenuhi wajahnya.


Akhirnya pria arogan satu ini perlahan-lahan tunduk di hadapannya. Perlahan-lahan mulai masuk ke dalam jebakan cintanya. Gabby akan membuat Ivander tergila-gila padanya, dan menghempaskannnya begitu ada kesempatan, lalu menghabisi nyawanya dengan tangan Gabby sendiri.


“Ich liebe dich, Gabby,” bisik Ivander mesra lalu mengecup daun telinga Gabby.


“Ja, meine Liebe.” Gabby melepaskan pelukkannya, membalas gombalan Ivander.


Setelah memberikan harapan palsu, Gabby keluar dari pintu kamar Ivander dengan penuh kilatan kemenangan. Ia bergegas kembali ke kamar Adrian, tak sabar ingin menceritakan segalanya.


— MUSE S6 —


YO MUSE UP


DUKUNG AUTHOR YUK


LIKE


COMMENT


VOTE


RATE 5 STARS


SHARE


JANGAN LUPA GIVEAWAY DAN PO GWS!!


Masih berlangsung gaes!! Yuk kepoin novelnya, baca GORESAN WARNA PELANGI!!!


Jangan lupa juga follow Author. @dee.Meliana.


Love you gaes ❤️❤️❤️