MUSE

MUSE
S5 ~ SAKIT, MA!



MUSE S5


EPISODE 4


S5 \~ SAKIT, MA!


\~Lucas punya mata coklat tua yang begitu dalam. Aku seakan terbius dengan pesonanya, menenggelamkanku dalam keindahan iris matanya. Sejenak otakku membeku, aku terdiam.\~


___________________


AUTHOR POV


Jadi bagaimana uang itu bisa hilang?


Fransisca mengendap-endap masuk ke dalam kamar anaknya. Jam masih menunjukkan pukul 4 subuh saat ia pulang ke rumah. Ia memandang wajah Bella beberapa saat sebelum akhirnya mengelus rambut anak gadisnya itu.


“Padahal dulu aku begitu bersyukur saat kau lahir! Kenapa sekarang aku malah berdoa agar tak pernah melahirkanmu!” tuturnya pelan, ia tak ingin Bella terbangun karena suaranya.


Fransisca mengamati wajah anak gadisnya yang sangat cantik, Bella sangat mirip dengannya waktu masih muda. Ia menghela napas panjang, andai dulu ia tak pernah bertemu dengan almarhum suaminya dan melahirkan Bella, tentu saja saat ini badannya masih bagus. Masih cantik dan tidak ada satupun streach mark pada permukaan kulitnya.


Fransisca memang mulai frustasi, ia mulai berandai-andai dan kembali kecanduan dalam buaian alkohol. Pasalnya sudah beberapa hari ini tak ada seorangpun lelaki yang mau membayar untuk jasanya. Mereka lebih memilih wanita yang jauh lebih muda, cantik, dengan dandanan dan pakaian yang jauh lebih modis.


“Pinjami Mama sedikit uang, Bel!” Fransiska bangkit dari pinggir ranjang dan mengambil dompet panjang yang tergeletak di atas nakas.


Fransisca berdecis sebal saat tidak menemukan uang di dalam dompet anaknya. Hanya beberapa lembar pecahan uang sepuluh ribuan dan juga koin.


Sialan! Kerja tiap hari nggak ada hasilnya! Umpat Fransisca dalam hati.


Namun, tiba-tiba sudut matanya menangkap ujung sebuah kartu debit yang terselip di belakang foto keluarga. Fransisca menyeringai senang, dengan jemarinya yang berhiaskan kuku-kuku cantik ia menarik kartu itu keluar.


“Mama janji akan mengembalikkannya setelah mendapatkan uang, Bel!” bisik Fransisca di dekat telinga Bella lalu mengecup keningnya. Bella hanya melengguh pelan dan memutar tubuhnya, mencari posisi tidur yang lebih nyaman.





Siangnya di saat Bella sedang berputar-putar menyelusuri jalanan untuk mengais rezeki. Fransisca baru saja bangun tidur dan memakan sarapannya. Kepalanya pusing karena rasa pegar belum sepenuhnya menghilang. Wajahnya terlihat lesu dan terus berkerut sebal karena makanannya sudah dingin.


Seketika raut wajah lesunya berubah saat teringat kartu debit milik anak gadisnya. Fransisca langsung bergegas mandi, berdandan secukupnya dan bergegas untuk pergi berbelanja.


Semoga masih ada cukup uang untuk perawatan kulit juga, pikirnya senang.


Fransisca berhenti di sebuah mesin ATM, memasukkan kartu dan juga nomor PIN-nya. Tak susah menebak PIN Bella, anak itu selalu memakai tanggal kelahiran almarhum suaminya. Bella merasa tak ingin sedikitpun kenangan akan papanya yang begitu membekas dalam hatinya menghilang. Ia akan berusaha mengingat setiap ditail kenangan itu, salah satunya dengan selalu memakai tanggal lahir papanya untuk nomor PIN.


“Ck, gadis bodoh,” - decak Fransisca saat ternyata PIN-nya tidak salah - “tapi berkat kebodohanmu, Mama bisa dengan mudah meminjam uangmu.”


Fransisca terbelalak saat mengetahui isi saldo dalam rekening Bella, 15 juta sekian, ternyata anaknya ini cukup gemar menabung. Fransisca tersenyum puas, ia mengambil uang genap senilai 15 juta dan meninggalkan ganjilannya untuk Bella. Padahal uang 10 juta bukan milik Bella, dan uang 5 juta adalah uang yang Bella tabung, untuk biaya ujian masuk ke perguruan tinggi tahun ini.


“Mama akan segera mengembalikan uangmu, Ok!” Fransisca bermonolog dengan mesin ATM, ia bergegas memasukkan uang ke dalam tas jinjingnya dan berlalu pergi. Melesat menuju ke salon langganan dan beberapa butik terdekat. Menghabiskan semua uang anak gadisnya yang di dapat dengan susah payah, penuh keringat dan juga perjuangan.


— MUSE S5 —


BELLA POV


Kenapa saldo di rekeningku bisa hilang? Apa mama mengambil kartu ATM ku? Apa dia tahu PIN nya? Kenapa dia tidak bilang kalau sedang butuh uang?


Bagaimana ini?


Aku bahkan tidak berani menatap wajah Lucas saat ini. Dia pasti menganggapku pembohon atau bahkan pencuri. Tapi aku benar-benar tidak memakai uangnya. Tak hanya uangnya, bahkan uang yang ku kumpulkan untuk biaya kuliahpun menghilang.


“Mau kau bayar dengan cara apa?” Lucas berbisik di balik telingaku karena aku tak kunjung menjawab pertanyaannya.


“Maaf.” Kuangkat wajahku, membuat pandangan kami bertemu, tak kusangka Lucas punya mata coklat tua yang begitu dalam. Aku seakan terbius dengan pesonanya, menenggelamkanku dalam keindahan iris matanya. Sejenak otakku membeku, aku terdiam.


“Ella?” Lucas menggoyangakan telapak tangannya di depan wajahku. Ah, ya ampun, malunya aku ketahuan melamun karena terpesona padanya.


“Ah, maaf.”


“Apa tidak ada kata lain selain kata maaf?” Lucas mendengus kasar, sepertinya tidak suka dengan kata maaf dariku.


“Maaf.” Aku nekat mengucapkan kata itu lagi karena memang hanya kata itu yang bisa menyiratkan penyesalan di dalam hatiku saat ini.


Hah ...! Harusnya aku bisa menjaga uang itu, harusnya aku menyembunyikannya di tempat yang lebih aman.


“Sudahlah.”


“Aku pasti mengembalikan uangmu, Tuan. Aku akan mencicilnya. Maafkan aku, kau boleh menganggap aku pembohong atau pun pencuri. Tapi aku benar-benar tidak memakai uangnya.”


“Aku percaya padamu, Ella,” ucapannya singkat, namun mampu membuat hatiku membaik.


“Benarkah?”


“Benar, tapi kau tetap harus membayarnya. Aku butuh uang itu.”


“Tentu, tentu saja Tuan.” Anggukku dengan mantab.


“Berhenti memanggilku Tuan, Ella. Panggil aku Lucas, aku punya nama.”


“Baik, Tuan Lucas.”


“Tanpa embel-embel ‘Tuan’!” tukasnya sebal. Membuatku tersenyum melihat wajah garangnya.


“Kenapa tersenyum.”


“Kau terlihat tampan saat mar ..., ups!” Aku bergegas menutup mulutku yang mengacau.


Belaciaquin!! Kau benar-benar tidak tahu malu, malah memuji seorang pria terang-terangan seperti ini!


“Kau juga cantik, apa lagi saat tersenyum, Ella.” Lucas malah balik memujiku, membuat wajahku menghangat.


“Ah, sudah malam. Aku harus bergegas pulang, Lucas.” Dengan kikuk aku bangkit berdiri, mengambil jaket dan juga tasku.


“Sudah mau pulang?”


“Iya, maaf ya, sekali lagi aku minta maaf. Aku pasti akan segera membayarnya.” Aku membungkukkan tubuhku padanya.


“Hei! Di mana rumahmu?”


“Kenapa?” tanyaku.


“Jaga-jaga agar kau tidak kabur,” jawabnya.


Masuk akal juga ucapannya. Aku lantas mencari pena dan juga kertas, menuliskan alamat rumahku dan memberikan kertas itu padanya.


“Ini alamatku, aku tidak akan kabur. Aku pasti menukar uangnya.”


“Baiklah.”


“Aku pulang ya.”


“Hati-hati.”


“Anda juga.”


Aku bergegas keluar dari cafe, menaiki motor matic tua kebangganku, satu-satunya peninggalan dari papa yang masih tersisa.





Di dalam rumah, mama sibuk membongkar barang belanjaannya. Dress-dress seksi dengan berbagai bahan gemerlapan tersebar. Ada sepatu, tas, dan beberapa make up. Aku langsung mendelik setengah tak percaya. Jadi benar mama membelanjakan uangku? Untuk semua ini? Untuk barang-barang tidak berguna ini?


“MA!!” bentakkanku membuatnya menoleh.


“Wah, anakku yang cantik sudah pulang.” Mama bangkit untuk mendekatiku.


“Mama belanja semua ini dengan uang tabunganku?” tanyaku dengan nada tinggi.


“Mama hanya meminjamnya, Mama akan segera kembaliin,” jawabnya ringan. Tak tahukan dia bahwa yang 10 juta itu bukan uangku?


“Ma!!” Aku geram, ingin marah namun mama lebih fokus pada barang-barang belanjaan di depannya.


“Lihat ini, Bel!! Cantik bukan? Pasti terlihat seksi di badan Mama. Apa kau mau pakai juga?” Mama bangkit, menyodorkan baju gemerlapan berwarna merah.


“Ma!! Itu semua bukan hanya uang Bella!! Itu uang orang lain.” Aku menepis tangannya yang mengepas baju di depan tubuhku.


“Cerewet banget sih?!” Mama mendorongku sampai terjatuh ke belakang.


“Itu juga uang yang Bella kumpulin untuk sekolah!” teriakku.


“Ngapain sekolah?!! Kan Mama sudah bilang! Nggak ada gunanya! Paling lulus cuma bisa jadi karyawan biasa kayak Papamu! Habis itu mati terus ninggalin hutang banyak!” Mama mendekatiku, ikut berteriak di dekat wajahku.


“Papa ngelakuin itu juga demi kita, Ma. Biar kita punya rumah, biar kita nggak kepanasan, nggak kehujanan,” isakku.


Siapa yang bakal menyangka kalau papa akan pergi secepat itu? Siapa yang menyangka kalau dia akan meninggal karena kecelakaan kerja saat meninjau proyek? Andai dia tidak meninggal, dia pasti juga akan bertanggung jawab atas hidup keluarganya.


“Omong kosong, Bel!! Tak usah mengungkit masa lalu! Nyatanya kita tetap hidup menderita dan berkekurangan!” Mama menjambak rambutku sampai kepalaku tertarik ke belakang.


“Ach ..., sakit Ma, sakit!!” teriakku memohon pengampunan.


“Sudahi saja sekolahmu! Ikut Mama bekerja, siapa tahu ada orang kaya yang mau membelimu. Jangankan uang 15 juta! Kalau kau bisa menggaetnya rumah, perhiasan, kemewahan, segalanya bisa kau dapatkan.”


“Mama menyuruhku mel4curkan diri???” Aku terbelalak, ibu macam apa yang tega menjual anaknya? Sudah gilakah dia?


“Ck, dari pada kau berikan keperawananmu untuk pacarmu kelak yang nggak punya apa-apa? Jangan mengulang nasib buruk Mama dalam hidupmu.” Mama melepaskan tangannya dari rambutku. Berjalan kembali ke sisi meja tamu, mengambil sebatang rokok dan menyulutnya.


“Kenapa, Ma? Kenapa kau berubah? Kenapa Mama sekarang membenci Bella?” Aku mulai terisak, dulu dia wanita yang lembut dan penuh pengertian.


“LIHAT KITA BELLA!! Lihat keadaan kita?!! Kau kira dengan apa aku memberimu makan?? Dengan apa aku membesarkanmu??? Dengan hasil aku membuka pahaku, membiarkan para lelaki b*jingan itu menyentuhnya!! Berteriak dan memberikan kepuasan palsu!!!” Mama terus marah-marah, dia berteriak bak orang gila, menyalurkan semua uneg-uneg di dalam hatinya.


“Sekarang aku sudah tua!! Tidak ada yang mau menjamahku!! Lantas hidup kita harus bagaimana? Katakan?? Katakan bila kau punya solusi yang lebih baik???” Mama meniupkan asap rokok di depan wajahku, membuatku terbatuk-batuk karena sesak.


“Hiks ..., aku bisa mencari nafkah untuk kita,” ucapku.


“Oh, ya?? Dengan apa? Kurir jasa pengantar barang? Yang membuat kulitmu menghitam di bawah terik matahari?? Yang penghasilan dengan jerih payahnya tidak sebanding?” Mama mengangkat tubuhnya dan memandangku dengan nanar.


“Setidaknya itu uang halal!!” seruku, air mata turun membanjiri wajahku. Membuang semua rasa sesak di dada yang kian meluap.


“JANGAN BICARA TENTANG HARAM DAN HALAL!! KU BESARKAN KAU DENGAN UANG ITU!! Kenapa?? Muntahkan semua makanan yang kau makan kalau itu haram bagimu!!!” Mama berteriak, kemudian menendangku, menjatuhkan tubuh mungilku sampai kepalaku terbentur lantai.


“Hiks ...,”


“Aku melahirkanmu, merawatmu, membesarkanmu, dan ini balasanmu?” Mama mematikan rokoknya dan duduk di sofa. Matanya berkaca-kaca.


“Maafin, Bella , Ma. Maaf.” Aku sadar betul bagaimana perjuangan Mama membesarkanku sebagai seorang single parent tidaklah mudah. Apa lagi di zaman seperti ini dengan kejamnya keadaan kota besar belakangan ini.


Mama diusir dari rumahnya karena hamil diluar nikah dengan papa. Dia memilih hidup berbahagia dengan suaminya dibanding menuruti kata orang tuanya untuk menggugurkanku. Kini sepertinya dia menyesalinya, sepertinya dia membenciku karena aku terlahir di dunia ini dan malah menjadi beban untuk kehidupannya.


“Sudahlah!! Mama mau pergi! Kau makan apa terserah! Makanlah dengan uang halalmu itu!” Mama kembali bangkit dan pergi ke dalam kamarnya.


Aku masih tersungkur dan menangis. Kepalaku juga masih terasa sakit karena terantuk lantai. Sepertinya akan memar dan benjol. Aku harus mengoleskan salep atau besok akan membengkak.





Aku berjalan pelan menuju ke sebuah mini market. Membeli sebuah mi instan dan juga sebotol teh dingin siap minum. Aku meminta air panas pada petugas mini market untuk memasak mi-nya.


Sambil menunggu mi-nya matang aku berjalan menuju ke bangku taman di samping mini market. Duduk menyendiri di bagian taman yang terlihat paling sepi. Untunglah taman tidak begitu ramai di malam hari. Aku sungkan saat orang-orang memandang ke arah wajahku yang kacau karena habis menangis.


Aku membuka cup mi instan, mengaduknya beberapa kali sebelum memakan isinya. Memakannya sambil menangis.


Tidak ada yang bisa aku makan selain mi saat ini. Aku harus mengumpulkan kembali rupiah demi rupiah untuk membayar hutangku pada Lucas, juga uang sekolahku yang terlanjur menghilang.


“Ah, kenapa air matanya tidak mau berhenti.” Aku menghapus kembali lelehan air mata yang jatuh bak air terjun.


Aroma sedap mi nyatanya tetap tak bisa membangkitkan nafsu makanku saat ini. Aku hanya memutar-mutar mi di dalamnya sampai mi itu mengembang. Aku hanya memakan beberapa suap saja sebelum akhirnya sebuah suara membuatku terkejut.


Triing ... 🎶


Bunyi panggilan terdengar, aku cepat-cepat merogoh saku jaket hoodie untuk mengambil ponsel.


Lucas is calling ...


Deg ...


Ada apa lagi ini Tuhan?


Kenapa dia menelefonku?


Apa dia membutuhkan kembali uangnya?


Bukankah tadi dia bilang akan memberiku waktu?


“Ha—halo,” sapaku.


“Kenapa suaramu sengau? Kau habis menangis?” tanyanya dari ujung seberang.


“Tidak kok,” sanggahku.


“Apa ada yang menyakitimu?” tanyanya lagi, membuatku heran, kenapa pria ini begitu perhatian padaku?


“Tidak ada,” jawabku.


“Apa kau baik-baik saja, Ella?” Pertanyaan Lucas membuat lidahku kelu, aku kembali menitikkan air mataku.


“I-iya, aku baik-baik saja.” Setelah mengatur napas aku menjawab pertanyaannya.


“Aku tahu kau sedang tidak baik-baik saja.”


Aku tertegun, suaranya semakin mendekat sampai akhirnya menggema di sampingku. Ponselku langsung terjatuh begitu aku melihat bayangan dirinya berdiri di belakangku.


Sejak kapan dia di sana? Sejak kapan dia melihatku dalam keadaan seperti ini?


“Lu—Lucas ...,” lirihku.


— MUSE S5 —


MUSE UP


LOVE ❤️


LIKE 👍


COMMENT 🥳


VOTE 🙏🏻