MUSE

MUSE
S6 ~ KLISE



MUSE S6


EPISODE 3


S6 \~ KLISE


\~Tak kuasa lagi menahan hasrat yang membuncah, Gabby mendekatkan wajahnya mencium lembut bibir Krystal saat gadis itu terlelap.\~


_____________________


Seperti penggambaran dramatis pada novel-novel bercerita klise lainnya, pemakaman Krystal juga dipenuhi dengan derai air mata dan juga keluh kesah pengasihan. Mereka yang hadir terus mengasihani nasib buruk yang menimpa Krystal. Belum genap usianya 10 tahun kedua orang tua Krystal meninggal karena kecelakaan, lalu saat ulang tahunnya yang ke 17, Oma Welly, wanita yang merawatnya juga wafat karena faktor usia.


Krystal hidup sebatang kara, beruntung Gabby yang mencintainya selalu ada untuk Krystal. Arvin dan Kalila dengan tangan terbuka menerima Krystal, menganggapnya juga sebagai anak. Namun Krystal menolak, ia tak ingin pindah dari rumahnya. Akhirnya Arvin dan Kalila hanya memberikan suplay uang pada Krystal tiap bulannya. Sebagai biaya hidup dan juga kuliahnya.


Dan kini, setelah Krystal mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik, dia harus meninggal diusianya yang ke 25 tahun di tangan orang yang paling dicintainya.


Gabby membawa jenazah Krystal dan mengebumikannya di kota S, kota asal mereka. Gabby sengaja memakamkannya di samping Oma Welly.


Benarkah semua ini adalah nasib buruk?


Atau takdir kejam yang sengaja dibuat oleh seseorang?


Mendung menyelimuti area pemakaman. Pekat dan begitu gelap. Padahal saat itu baru jam 1 siang, namun rasanya sudah seperti jam 5 sore. Matahari sungguh tak mau keluar, ia memilih undur dari tahtanya, mengalah pada kawanan awan.


Satu per satu pelayat meninggalkan area makam. Tersisa satu orang yang berdiri di depan pusara Krystal dengan tegar. Tak ada air mata yang menetes dari matanya. Hanya bahunya yang sesekali naik turun dengan berat, menenangkan lara.


Dia adalah Gabby, tangan kirinya menggenggam leher biola dan tangan kanannya menggenggam busur. Pakaian serba hitamnya mulai ternoda dengan rintik hujan gremis. Langit seakan ikut menangisi kepergian cintanya.


“Gabby, ayo kita pulang.” Kalila memeluk pundak anak gadisnya.


“Sebentar lagi, Mom. Izinkan Gabby berada di sini sebentar lagi.” Gabby tetap memandang ke arah pusara, melihat tanah basah yang baru saja selesai ditimbun dengan sendu.


“Hampir hujan, Sayang.” Arvin ikut mengelus pundak Gabby.


“Kalian tunggulah di dalam mobil. Aku akan memainkan satu lagu terakhir untuknya dan menyusul kalian.” Gabby mengangkat biolanya.


Kalila menurunkan alisnya, Arvin mengangguk sebagai kode agar Kalila meninggalkan Gabby sendiri. Kalila menurut, ia menyambut tangan Arvin yang menggiringnya masuk ke dalam mobil.


Gabby terdiam sebentar, memejamkan matanya sambil mengangkat biola. Ia meletakan dagunya pada penyangga. Dengan perlahan Gabby menggesekkan busurnya. Rambut-rambut halus yang terbuat dari ekor kuda menimbulkan suara nyaring yang lembut namun mengiris hati.


Kalila yang baru saja setengah jalan ke arah mobil tak kuasa lagi menahan tangisannya saat lagu yang dimainkan Gabby terdengar. Kalila terisak, ia tahu betul perasaan anaknya pasti sangat hancur dan terluka. Gabby tak bisa menangis, dan itu membuat hatinya semakin sakit.


Apa kau bisa mendengarnya, Krystal? Rintihan sakitku yang kehilangan dirimu?!


Gabby terus bermain, mengalunkan suara yang memilukan, sebagai wujud dari teriakan hatinya yang perih karena kehilangan.


Jreeesss ...!


Hujan yang turun akhirnya menghentikan permainan biolanya. Dinginnya air mendinginkan kepala dan pikirannya. Membasahi outfit serba hitam yang dikenakannya.


“Kau bisa masuk angin.” Adrian memayungi Gabby.


“Apa kau ingat senyuman manisnya, Adrian? Kita berteman cukup lama. Kita bertiga selalu bersama?” Gabby melirihkan suaranya.


“Iya, Gabby. Aku ingat.”


“Jadi kau pasti tahu betapa aku mencintai Krystal?!” Gabby akhirnya melelehkan air matanya.


“Gabby.” Adrian memeluk Gabby, mengelus lengannya.


“Bagaimana Ivander?”


“Dia dibebaskan, alibinya kuat. Tak ada bukti yang memberatkannya atau bahkan menjurumuskannya sebagai tersangka.”


“Hahahaha!!!” Gabby tertawa lantang.


“Gabby, lupakan semua ini. Hiduplah dengan tenang, jangan berurusan dengan Ivander, dia bukan pria yang bisa kau lawan!” tukas Adrian.


“Tidak!! Aku pasti membalas Ivander!! Aku pasti akan menghabisinya dengan tanganku sendiri.” Gabby meninggalkan Adrian, kembali masuk pada derasnya hujan yang menyembunyikan air mata kesedihannya.


“Sialan!” geram Adrian.


— MUSE S6 —


Gabby membanting tasnya ke atas sofa. Setelah rehat di kota S selama beberapa hari, ia kembali ke kota J. Dengan malas Gabby berjalan menuju ke kamar apartemennya, tidur di atas ranjang empuk. Sekilas kenangan akan indahnya kebersamaan bersama Krystal berputar balik dalam pikirannya.


Aku merindukanmu, Krys ..., gumam Gabby dalam hatinya. Ia meringkuk dan memeluk boneka sapi yang cukup besar. Boneka itu adalah kado dari Krystal saat ulang tahunnya dulu.


Gabby kembali terisak, menangis tersedu-sedu. Sebenarnya dari mana semua awal kejadian ini terjadi?





Beberapa tahun yang lalu ...


Kelulusan SMA. Arvin dan Kalila berfoto bersama dengan Gabby, mereka mengabadikan kenangan bahagia bersama-sama. Gabby menarik lengan Krystal sahabatnya untuk ikut bersama.


“Jangan pedulikan aku, Gab. Aku bisa berfoto dengan yang lainnya.”


“Tidak, Krys, kau bagian dari keluarga kami, tentu saja kita harus berfoto bersama.” Gabby terus memaksa Krystal untuk berfoto dengan keluarganya.


“Baiklah.”


“Kemari, Nak! Ayo foto bersama.” Kalila merangkul pundak Krystal dan Gabby.


Setelah prosesi foto dan perpisahan singkat dengan kawan-kawannya, Gabby dan Krystal menikmati cake di Palette cafe. Mereka berbicara tentang jurusan yang akan mereka ambil untuk kuliah. Gabby tentu saja akan mengambil jurusan seni musik karena bakatnya bermain biola tak bisa disia-siakan begitu saja.


“Kau mau masuk jurusan apa, Krys?” tanya Gabby.


“Antara bisnis atau sastra inggris.” Krystal melahap cakenya.


Gabby tersenyum, menatap wajah cantik Krystal yang begitu imut saat memakan cakenya dengan bahagia. Gabby bersyukur Krystal tetap tumbuh menjadi gadis yang manis dan ramah, ia selalu ceria dan penuh kehangatan, padahal Krystal baru saja kehilangan Oma tercintanya.


“Kau akan kuliah di mana?”


“Ibu kota. Aku ingin meninggalkan kota ini. Mencari kota besar untuk meniti karirku kelak,” jawab Krystal sambil tersenyum.


Gabby menggenggam tangan Krystal, “kita berjuang bersama, ya.”


Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk hijrah, berkuliah di ibu kota. Sekalian mengadu nasib, mencari uang dengan bakat yang mereka punya.


Gabby masuk ke salah satu universitas swasta, jurusan seni. Krystal juga, ia masuk jurusan sastra Inggris. Saat OSPEK, mereka mengenal Adrian. Adrian mengambil jurusan bisnis, mereka bertiga menjadi sahabat dekat bahkan setelah OSPEK berakhir. Gabby menyewa sebuah apartemen dan mengajak Krystal tinggal bersama.


Baiklah, lumayan untuk menghemat biaya hidup. Pikir Krystal saat itu, sebenarnya Krystal mulai risi dengan perhatian Gabby yang sudah terlewat wajar untuk seukuran sahabat. Dari pada sahabat atau saudara, perhatian Gabby lebih mirip seorang kekasih pada umumnya.


“Kau mau ini, Krys?” tanya Gabby. Ia menunjukan berbagai macam barang couple untuk mereka berdua mengisi apartemen.


“Iuh ...! No, Gab! Aku bukan pacarmu,” tandas Krystal.


Gabby mengembalikan semuanya sambil tersenyum kecut. Ia merasa aneh pada dirinya sendiri. Entah sejak kapan benih cinta itu muncul dalam hati Gabby. Mungkin saat SD, atau mungkin SMP, atau saat SMA? Entahlah, Gabby sudah tidak ingat karena mereka sudah bersama sejak dari kecil.


Awal mulanya Gabby hanya suka dengan cara Krystal merias diri, suka dengan cara Krystal menata fashionnya. Gabby akhirnya mengikuti gaya Krystal, menjadi seorang cewek manis dan juga imut. Semua lelaki disekolahan menyukai Gabby karena dia memang cantik, namun sayangnya mata Gabby hanya tertuju pada sosok Krystal. Sedangkan Krystal yang selalu bersama Gabby, selalu menaruh iri, kenapa Gabby punya segalanya sedangkan dia tidak? Bahkan sampai seluruh pria disekolahnya pun suka pada Gabby.


Krystal tak pernah tahu, bahwa jauh di dalam lubuk hatinya, Gabby terus merasa menderita. Perasaannya yang memang begitu mencintai Krystal adalah hal yang tabu di mata masyarakat. Hal yang diluar norma dan aturan, tidak semua orang bisa menerima hal ini, termasuk Krystal. Maka dari itu Gabby tak bisa mengutarakannya pada Krystal, lebih memilih untuk mencintainya dalam diam.


Gabby biasa bercerita dengan Adrian, menceritakan keluh kesah akan hasratnya yang terus terpendam.


“Aku tahu cintaku ini salah, aku tahu ini sebuah penyimpangan, Dri. Tapi aku tak bisa menyelak batinku, aku tak bisa menyangkal perasaanku. Sekeras apapun aku mencoba untuk mengalihkan rasa ini, aku gagal.” Gabby memutar gelas kaca berisi alkohol pada meja bar.


“Aku tak bisa memberimu solusi, Gab. Perasaan manusia adalah hal yang rumit.” Adrian ikut menenggak cairan hangat itu.


“Andai saja aku mengungkapkannya, apakah dia akan menjauhiku?” Gabby membenamkan wajahnya pada lipatan siku.


“Bisa jadi.” Adrian menepuk punggung Gabby. “Ayo aku antar pulang! Krystal pasti sudah menunggumu di rumah.”


“Baiklah.” Gabby menurut.


Begitulah kehidupan mereka selama empat tahun perkuliahan. Gabby terus membantu Krystal menapaki kehidupannya, mendukung dari belakang, memberikan dorongan. Sedangkan Krystal semakin hari semakin dimabuk kesenangan, hidup dalam glamornya kehidupan ibu kota. Menghabiskan banyak uang dan pergi ke club-club malam.


Sampai suatu saat Krystal pulang dalam keadaan mabuk. Gabby terpaksa menjemputnya pada sebuah club besar. Krystal terus merancau bahkan sampai ke dalam kamar apartemen mereka. Krystal menepuk pelan pipi Gabby.


“Hidupmu enak, ya? Berlimpah harta kekayaan! Disukai para cowok! Punya keluarga yang utuh! Nggak sepertiku!” rancau Krystal.


“Jangan begitu, Krys, keluargaku juga keluargamu.” Gabby melepaskan pakaian Krystal dan membantunya berganti piyama yang lebih nyaman.


“Kenapa kau begitu baik padaku? Hiks ..., apa kau suka padaku?” tanya Krystal sambil cegukkan.


Gabby diam sesaat sebelum berkata dengan lirih, “iya, aku suka padamu, Krys, aku cinta padamu.”


Krystal tak begitu mendengar penuturan Gabby, ia langsung meloncat naik ke atas ranjangnya. Dengan segera Krystal menutup mata, tertidur. Gabby mendengus kasar, ungkapan cintanya tak dihiraukan oleh Krystal.


Sekejap Gabby menatap bibir merah Krystal yang sesekali bergerak. Bibir itu tampak begitu menggiurkan bagi Gabby, dengan ragu-ragu Gabby mengangkat tangannya, mengelus pipi mulus gadis berambut ash brown ini.


“Kau cantik, Krys.” Puji Gabby.


Tak kuasa lagi menahan hasrat yang membuncah, Gabby mendekatkan wajahnya mencium lembut bibir Krystal saat gadis itu terlelap.


Gabby tahu, kisah cintanya bukanlah kisah cinta yang klise seperti kebanyakan pasangan pada umumnya. Kisah cintanya terlalu rumit dan juga menyesakkan.


— MUSE S6 —


Di lain tempat, Ivander tengah berganti pakaian, Ayahnya menyuruh Ivander menggantikannya memberi selamat pada Adrian atas kelulusannya. Pada punggung Ivander yang lebar terdapat banyak bekas luka. Takdirnya sebagai seorang anak haram dari Zean dan sekretarisnya Orela membuat kisah klise tersendiri dalam hidupnya.


Bagaimana tidak?! Orela meninggal setelah melahirkannya. Lalu Zean menikah lagi, Ibu tirinya selalu menghajarnya dengan kejam saat ia melakukan kesalahan. Tak hanya sabuk kulit, wanita itu bahkan berani memukul Ivander dengan rotan atau pun gagang sapu.


Ivander masih terlalu kecil untuk melaporkan kejahatan ibunya pada sang ayah. Terlalu takut melakukan kesalahan karena ayahnya pun tak begitu mencintainya.


Beruntung Ivander terlahir sebagai seorang anak yang sangat cerdas. Setelah lulus SMP, Ivander meminta ayahnya untuk mengirimnya sekolah ke luar negeri. Ivander tinggal di luar negeri selama beberapa tahun. Ia kembali dan bertekat untuk mengambil semua haknya sebagai seorang anak sulung. Membuktikan pada sang Ayah bahwa semua yang dikerjakannya selalu berhasil.


Kemenangan Ivander tentu saja membuat hati Ibu tirinya geram. Berbagaimacam cara telah ia coba, mulai dari cara halus sampai yang terkotor, namun tetap saja Ivander selangkah lebih maju dibandingkan wanita ular itu.





BRUK!


Ivander menabrak seseorang gadis saat berjalan pada koridor kampus.


“Maaf, aku terburu-buru.”


“Tak apa, aku juga salah karena berjalan sambil membaca ponsel.” Ivander membantunya bangkit.


Gadis itu mengangkat wajahnya, menatap Ivander secara langsung. Wajah tampan Ivander tersuguh di depannya. Hidung mancung, alisnya yang tebal dan teratur, sorot matanya yang tajam berwana coklat muda. Ivander memang masih memiliki keturunan barat, jadi wajahnya punya garis rahang yang tegas.


“Sekali lagi, maaf.”


“Tidak apa, oh iya, bisa aku bertanya di mana fakultas ekonomi? Aku sedang mencari adikku.”


“Erm, di sini fakultas sastra,” jawab Krystal, ia diam-diam mengagumi wajah tampan Ivander dan tampilannya yang sangat maskulin.


“Apa kau kenal Adrian? Dia lulus sidang skripsinya hari ini, aku ingin memberinya selamat.” Ivander menunjukan wajah Adrian dari layar ponselnya.


“Ah, sama! Aku juga terburu-buru karena ingin memberinya selamat,” sergah Krystal senang.


“Kau temannya?”


“Iya, teman baik. Kau siapanya?”


“Aku kakaknya, Ivander.”


“Wah, kenalkan, aku Krystal.” Senyum Krystal, Ivander ikut tersenyum dan menjabat tangan Krystal.


Itulah, kali pertama Krystal berjumpa dengan Ivander. Kehadiran Ivander membuat hati Krystal bahagia, baginya tak ada lelaki lain yang lebih sempurna dibandingkan Ivander. Hidupnya pasti akan sangat beruntung bila bisa menikahi lelaki tampan dan mapan seperti Ivander.


Krystal tak tahu, kalau dibalik senyuman Ivander tersimpan sosok pria yang dingin dan kejam.


— MUSE S6 —


Muse Up.!!


Jangan lupa vote!!


Like!!


Comment!!