MUSE

MUSE
S4 ~ EPILOG



MUSE S4


EPISODE 28


S4 \~ EPILOG


\~ Yah, tiap orang punya sisi baik dan buruk. Tiap kejadian juga punya sisi baik dan buruk. Tidak ada yang sempurna kalau kita tidak melengkapi tiap-tiap sisi dan menjadikannya lebih baik.\~


__________________


Sepulangnya kami dari camping Keano sakit flu karena kedinginan. Rencananya aku akan datang menjenguknya setelah pulang dari cafe malam ini.


Semoga sakitnya tidak parah, kasihan si Ken. Hm, kasihan si Ra, hm, siapa yang sedang keluar saat ini? Aku bingung, hebatnya punya pacar dengan kepribadian ganda, kau berasa pacaran dengan dua orang sekaligus.


Ken dan Ra akan pergi ke psikiater untuk menjalani semua proses hipnoterapi dan mereset ulang jiwa mereka. Berharap mereka bisa bercampur menjadi satu kembali. Jadi sementara belum terwujud aku masih berpacaran, ups, sory bertunangan dengan dua jiwa.


Semoga mereka tidak saling cemburu, aku sih tak khawatir dengan Ken, karena sifatnya yang pengertian dan lembut. Masalahnya ada di Ra, dia pasti cemburu dan juga marah, apa lagi kemarin saat matahari terbit aku mencium Ken dengan mesra.


Ah ... mana dia ngambek sepanjang perjalanan pulang. Padahalkan aku mencium tubuh itu, bukan tubuh orang lain. Ck, kaya anak kecilkan sikapnya. Nyebelin banget.


Krincing Kling ... 🎶


“Welcome to Pallete cafe,” sapaku.


“Hallo.”


Seorang lelaki super tampan datang ke cafe, wah dia sangat luar biasa. Nilai 10 deh, kayaknya beberapa tahun di atasku. Terlihat dewasa dan berkelas. Hm, apa aku dandani saja Keano seperti ini?


“Pesan apa?”


“Ice pandan latte, ektra shot, lalu strawberry latte, less sugar,” tuturnya, dia membeli dua padahal hanya seorang.


“Oke, kudapan?”


“Nanti saja,” tolaknya.


“Atas nama?”


“Lucas.”


“Oke, cash atau E-money?”


“E-money.”


“OK, ini barcode dan buzzernya.”


Cowok ganteng super keren itu menscan barcode untuk membayar pesanannya dan meninggalkan sebuah senyuman sebelum meninggalkanku. Ia duduk di ujung ruangan, aku menatapnya sepintas sebelum kembali pada pekerjaanku.


“Duduknya aja kelihatan keren! Ah, tapi tetap Keano yang paling ganteng,” kikihku pelan.


Aku jadi merindukan kekasih unikku itu. Ingin segera pulang dan melepaskan rindu. Semoga flunya sudah mereda, kasihan kalau hidungnya masih memerah dan kepalanya pening.


Inggrid:


Apa kau sudah minum obat?


Keano:


Sudah


Inggrid:


Ken atau Ra?


Keano:


Ken.


Inggrid:


Cepat istirahat Ken


Aku akan ke sana sepulang kerja


Jangan lupa minum obat!


Keano:


Oke, girl.


Aku tersenyum saat membaca chatnya, syukurlah mereka sudah baikan. Aku bisa tenang dan tak terlalu khawatir.


Tak lama seorang wanita SMA seumuran Nick datang. Ia berjalan mendekati pria tampan tadi. Wah, ternyata sudah punya pacar, hm, tapi sepertinya mereka punya sedikit masalah.


“Lucas, jangan begini. Aku tidak bisa kehilanganmu.”


“Lantas apa? Kau mau aku menerimamu? Kita bakal menjadi saudara, Ela.”


“Tidak!”


“Ibumu yang menghancurkan keluargaku.”


“Hiks, itu bukan salahku.”


“Kita putus.”


“Jangan Lucas, aku begitu mencintaimu.”


“Lupakan cinta ini, Ela. Ini konyol!”


Aku samar-samar masih bisa mendengar percakapan mereka. Hm, apa yang terjadi?


Ah, sudahlah, bukan urusanku. Lebih baik aku fokus pada proses brewing.


Tak lama si cewek keluar dari cafe sambil menangis, disusul dengan cowoknya sambil menghela napas panjang. Guratan amarah terlihat memenuhi wajah tampannya. Sepertinya hubungan asmara mereka tidak berjalan semulus milikku. Memang milikku mulus? Hahaha ... nggak juga, sedihnya ;(


“Terima kasih, besok datang lagi!” seruku.


Cowok itu hanya membalasku dengan senyuman dan bergegas meninggalkan cafe.


— MUSE S4 —


Aku bergegas mandi sepulang dari cafe, ingin segera mendatangi rumah Keano. Sebelum mandi aku menyuruh bi Iyem utuk mengukus daging ayam kampung. Aku akan membawanya agar Keano cepat sembuh dari sakit flunya. Tim ayam dengan jahe dan bawang sangat ampuh untuk mengusir flu dan menabah stamina.


Aku mengenakan dress midi biru navy, model press body lengan pendek dengan gambar huruf F yang berjajar, kalian pasti tahulah merk terkemuka ini. Aku memakai celana short hitam pendek sebagai dalaman rok dan juga sepatu kets putih dengan kaos kaki panjang. Aku juga menyahut bumbag dengan warna silver metalik.


Terakhir menguncir rambutku naik seperti ekor kuda. Penampilan Inggrid beres!! Kini tinggal pakai tint, pakai bedak, pakai minyak wangi. Hohoho, siapa tahu kita bisa bermesraan setelah sekian lama. Kepolosanku membuatku enggan bermesraan dengan Ra karena takut kalau akan menjadi bayi. Tapi kemarin Ra bilang kalau bayi bisa ditunda.


Duh, kenapa aku jadi mesum sih? Hihihi ... eh, tapi tunggu!! Keano kan sedang sakit! Itu berarti Ra juga sedang sakit, jadi nggak bisa bermesraan donk?!


Hatiku kecewa, niat bermesraan gagal.


“Hish ... mikir apa sih Inggrid!!”Aku mengetok kepalaku yang isinya cuma kepingin bermesraan saja. Padahal ada selusin alasan lain untukku bertemu dengannya.


Aku bergegas turun, melihat kukusanku. Hanya butuh waktu satu jam mengukus ayam itu dan dagingnya sudah sangat empuk. Kaldu kental dan wangi jahe tercium. Aku tinggal menambahkannya dengan sedikit garam agar tidak hambar. Bi Iyem sudah menyiapkan wadahnya, teremos makan lengkap dengan bubur di atasnya.


“Inggrid pergi Dad, Mom.”


“Kemana? Kan baru pulang?”


“Ke rumah Keano, dia sakit.”


“Ah, begitu.”


“Salam buat Melody. Suru dia main ke rumah, Mommy sudah lama tak ngobrol dengannya.”


“Oke, Mom.” Aku pergi setelah mencium pipi daddy and mommy.


•


•


•


Aku mendorong papan skate sembarangan sampai masuk ke dalam garasi dan berhenti setelah menatap dinding. Dengan cepat aku bergegas masuk ke dalam rumah.


“Halo, Mi!!” ucapku dengan keras.


Mami Melody sedang menonton TV di ruang keluarga, menonton drama terpopuler abad ini. Kalian tahukan judulnya apa? Wkwkwk, drama ga ada akhlak memang.


“Halo, Inggrid. Kau bawa apa? Baunya enak.” Mami mengalihkan pandangannya padaku.


“Tim ayam sama bubur buat calon suamiku, Mi!” sahutku sambil tertawa.


“Wah, wah, kau masak sendiri?” tanya Mami heran.


“Bi Iyem, Mi. Tapi jangan bilang Keano ya.”


“Hahaha, OK. Mumpung kau di sini Mami mau pergi sebentar.”


“Hoh? Mau ke mana?”


“Mall, Mami ada kencan dengan Duren dari kopleks sebelah.”


“Eh, ya ampun, puber ke dua, Mi?” sahutku geli.


“Ya-lah, emang anak muda aja yang boleh pacaran?”


“Keano tahu?”


“Dia nggak tahu, Ya, udah titip Keano ya! Mami bisa pergi tenang kalau ada kamu.”


“Kalian jangan macem-macem kalau Mami nggak ada?!” tandasnya dengan tegas.


“Contohnya?” Aku balik bertanya.


“Jangan bikin bayi! Kalian belum menikah.”


“Oh, kata Keano bisa kok bikin tanpa menjadi bay— hemp ...!” tiba-tiba tangkupan tangan Keano membungkam mulutku.


“Mama mau pergi?”


“Iya, ini mau pergi. Kamu nggak apa Mama tinggal? Masih panas badannya?”


“Udah nggak panas, tinggal sumer (hangat) aja,” jawab Ra, lalu menarikku masuk ke dalam kamarnya.


“Mulut ember emang!” celetuk Ra sebal.


“Kok bisa? Kan aku bicara apa adanya.”


“Nggak di depan Mama juga kali!” Ra mencubit hidungku, “andai aja aku nggak flu, sudah ku hukum mulutmu, girl!”


Wah, mau donk dihukum. batinku cekikikan.


Aku senyam-senyum sendiri dan mengekor Ra duduk di ranjang. Ra langsung berbaring karena badannya sedang lemas. Aku menaruh punggung tanganku ke atas dahinya dan membandingkannya dengan suhu tubuhku. Sedikit lebih tinggi, walaupun tidak terlalu tinggi.


“Ra, mau makan? Aku masak Tim Ayam biar staminamu kembali,” tawarku.


“Boleh.”


Aku menaruh teremos di atas meja belajar, mengeluarkan bagian atas teremos yang berisi bubur. Lalu menuangkan kaldu ke atas bubur, dengan sendok aku mensuwir daging ayamnya.


Aroma gurih kaldu memenuhi ruangan, rasanya yang sedikit pedas, asin, dan gurih pasti memunculkan nafsu makan pada orang yang lagi sakit. Mommy sering memasaakkan tim ayam seperti ini saat aku sakit dulu. Kini giliranku memasaknya untuk orang yang ku sayangi (padahal yang masak Bi Iyem).


“Akkhh!” Aku menyuapi Ra.


“Emmmp!!” Aku mendubling suapannya.


“Ck, dasar! Kaya anak kecil aja.” Ra menggelengkan kepalanya geli.


“Sudah makan aja, nggak usah protes.”


“Oke.”


“Enak nggak?”


“Enak. Kau yang masak?”


“Tentu saja.” Aku berbohong demi pujian.


“Serius?”


“Iyalah! Demi ayangku.” Aku menepuk pundaknya.


“Jangan lebay! Itu mengerikan! Tidak cocok dengan karaktermu.”


“Hahaha, jahat! Padahal aku cuma ingin bersikap sok manis di depan pacar.” Aku mengulum senyuman kecut! Cowok kampred emang! Padahal aku sudah sengaja pakai dress cantik biar dipuji. Ternyata dilirik pun tidak, apa lagi dipuji?


Tak lama Ra sudah berhasil menyelesaikan makan malamnya. Ia mengambil obat di atas nakas samping ranjang dan meminumnya. Ra sempat bersin beberapa kali sebelum akhirnya kembali rebahan. Tubuhnya sedikit menggigil kedinginan, terlihat dari selimut tebal yang di pakainya saat ini.


“Ck, dokter kok sakit!”


“Hei!! Dokter juga manusia!” sergahnya.


“Hilih!! Ngeles!! Bilang aja nggak bisa jaga diri,” ujarku sebal, sekalian aja aku bikin dia ikutan sebel.


“Siapa yang kemarin suru aku berendam di danau gara-gara ponselnya kecemplung?”


“Hahaha! Aku! Makasih, ya, Ra, buat pembuktian cintamu!” Senyumku senang.


“Dasar cewek bar-bar emang,” lirih Ra.


“Maaf, maaf, sini aku peluk biar cepetan sembuh.” Aku merebahkan diri di samping Ra dan memeluk tubuhnya dari belakang. Ra malah mendorongku sampai jatuh ke lantai.


“Woi!!” protesku.


“Nanti ketularan!” tandasnya.


“Biarin ketularan!” Aku sebal dengan kelakuannya. Bilang baik-baik kek, main dorong aja.


“Minta maaf, Ra!” Aku meloncat naik ke atas tubuhnya, menindihinya dengan tubuhku.


“Ya, ampun, kenapa kau begitu kejam?! Aku baru sakit Inggrid! Jangan memancingku!”


“Hehehe, aku tak akan melepaskanmu sampai kau minta maaf.” Aku sengaja memainkan jariku pada perutnya.


“Shit!!” Ra akhirnya mencoba untuk terduduk dan menarik tubuhku sampai rebah dan menindihnya.


“Jangan salahin aku kalau tertular flu! Kau sendiri yang memancingku!!” Ra mengecup bibirku dan mengullumnya dengan penuh gairah.


Aku menikmatinya, ciuman itu, bibir yang sedikit kering itu tetap terasa begitu memanjakan diriku. Aku membalasnya, menyesapnya dengan penuh gairah, menyalurkan rasa rindu yang membuncah keluar.


Rasa manisnya bertukar di dalam rongga mulut, menyisakan keingan yang lebih dan lebih lagi. Kenikmatan yang telah lama terkecap itu datang kembali.


Suhu tubuh Ra semakin memanas, wajahnya memerah, begitu pula wajahku. Sambil sesekali tersenyum Ra mengubah posisi kami, membuatku berada di bawah tubuhnya. Tanpa sadar tanganku terus mengelus tiap-tiap jengkal permukaan ototnya yang keras. Ra menanggapinya, ia memainkan semua jarinya ke atas kulitku.


“Arg ...!” Mulutku dengan mudahnya meloloskan suara rancauan dan desahan. Membuat Ra semakin bersemangat.


BRUUK!!


Ra ambruk ke atas tubuhku!!


“Ra??” Aku menggoyangakan tubuhnya.


“Sorry Inggrid, nggak kuat.”


“Yah!! Masa setengah jalan doang?!”


“Lihat saja besok kalau aku nggak lagi sakit! Aku buat kau membayar semuanya.” ancam Ra.


“Akan ku buat kau tak berhenti berteriak semalaman!” imbuhnya.


“Cowok mesum emang.”


“Cewek bar-bar emang.”


“Inggrid! Kau tidak apa-apa? Apa mau aku yang melanjutkannya?” tiba-tiba suaranya melembut.


“Ken?”


“Iya, ini aku girl! Beri kesempatan untukku, OK.”


“Kesempatan apa?”


“Merasakan tubuh indahmu!” Alis Ken naik turun.


“OK!” jawabku riang.


“Hei!!” Ra muncul kembali.


“Ra, kau masuklah, giliranku!!” Ken kembali lagi.


“Sialan!! Yang nggak kuat tubuh kita beego!! Bukan akunya!” Ra protes.


“Ah, sial!” umpat Ken kecewa.


“Puft ... hahaha ...!” Aku hanya bisa tertawa melihat konyolnya hubungan kami ini.


Jadi beginilah keadaan kami sekarang. Baik Ken dan Ra punya arti yang sama besarnya dalam hidupku. Mereka memberikan warna dan kekonyolan sendiri dalam hari-hariku belakangan ini.


Yah, tiap orang punya sisi baik dan buruk. Tiap kejadian juga punya sisi baik dan buruk. Tidak ada yang sempurna kalau kita tidak melengkapi tiap-tiap sisi dan menjadikannya lebih baik.


Bantu comment yuk, berikan komentar terbaik kalian di episode kali ini. Bagaimana kalian membaca dan menanggapi cerita saya ini. Komentar terbaik akan mendapatkan pulsa sebesar 25 ribu untuk 4 orang komentator. Ditunggu komentarnya sapai tanggal 1 Juli 2020, diumumkan tangal 2 Juli 2020. Kapan lagi baca novel, tulis komentar, dapet hadiah!!!


Cepetan ikut!!


Jangan lupa like dan commentnya.


Tunggu keseruang kisah Inggrid dan Keano di extra part mereka. Seberapa bucinnya Ken dan Ra? Bisakah mereka bersatu?


Inilah kisah cinta si Malaikan dan Iblis, hanya kisah cinta biasa namun bisa membuatmu merasa luar biasa \~❤️


Habis ini ada MUSE S5


Kisah cinta si Lucas—Bella—Nick


Dukung saya ya, kasih VOTE baik poin maupun koin.


Love yu so much gaes.


Have a nice day


And God bless


Bagilah cinta untuk banyak orang!!


Sweet, dee


❤️❤️❤️