
MUSE S3
EPISODE 109
S3 \~ PULANG
\~ Entah kenapa dalam hatiku aku merasa tidak nyaman. Aku takut kehilangan dirinya. Aku takut dia meninggalkanku.\~
_______________
Aku mengambil istirahat sejenak sebelum kembali melanjutkan prakter bersama Hiyori Sensei. Wanita tua bersahaja yang begitu menguasai teknik pottery, sanggarnya saat ini adalah tempatku menimba ilmu.
“Istirahatlah sebentar, Leon-kun. Kau perlu mendinginkan kepalamu agar kembali berkonsentrasi.”
“Baik, Sensei,” jawabku sembari membungkukkan tubuh. Aku merasa malu karena ketahuan sering melamun. Aku memang tak bisa berpikir jernih karena sudah hampir 10 hari Kanna tidak mau menerima ajakan VC dariku.
Sebenarnya Kanna masih bisa membalas chat tapi tetap saja rasanya aneh kalau sehari saja aku tak bisa melihat wajah imutnya.
Dengan lesu aku berjalan dan duduk di bawah lantai teras. Seperti rumah jepang lama pada umumnya, di sanggar ini juga ada teras dari kayu yang langsung terhubung dengan taman. Aku biasa duduk sambil menikmati suara gemrecik shishi odoshi pada air kolam.
“Haaah...,” ku helakan napasku sepanjang mungkin untuk mengusir rasa sesak yang bersarang di dalam dada.
Aku mengeluarkan ponsel dan mencoba untuk melakukan panggilan padanya. Namun Kanna tetap tak mau mengangkatnya.
Kanna:
Leon aku sedang kuliah.
Leon:
Baiklah.
Semangat ya
Aku menyerah, sedikit melirik ke arah jam dinding. Sudah malam, beda waktu jepang dan Indonesia sekitar 2 jam. Saat ini pukul 8 malam, jadi di Kota J pukul 6 malam. Apa Kanna ada kuliah malam? Apa kuliahnya berat? Sepertinya dia begitu sibuk.
Aku membuka akun sosial media miliknya, menscroll naik dan turun. Sesekali membesarkan salah satu gambarnya. Kanna kini terlihat sangat cantik, apa lagi badannya kini begitu langsing. Kenapa dia bisa berubah secepat ini? Apa dia benar-benar berusaha dengan keras? Apakah menjadi cantik begitu menyenangkan baginya?
“Wajahnya terlihat bahagia, senyumannya semakin manis,” senyumku juga.
Aku masih bersandar pada ambang pintu geser dari kayu saat tiba-tiba seorang teman mengaggetkanku. Dia menepuk pundakku dan mencuri pandang ke arah layar ponsel.
“Kawaii! Pacarmu?” tanyanya dalam bahasa Jepang.
“Yes, senpai. Kawaii desu-ka?” (Iya, Kak. Cantik bukan?) Aku balas bertanya.
“Yes, so cute. Namae-wa?”
“Kanna,” jawabku.
“Kanna-chan. Namanya secantik orangnya.”
“Huum, dia yang tercantik.”
“Kau pasti sangat mencintainya, Leon-kun?”
“Yeah, Sempai, so much,” senyumku bangga.
Selepas kepergian Kiro sempai. Aku kembali fokus melihat foto-foto Kanna pada layar ponsel pintarku. Aku memandang perubahannya yang begitu luar biasa. Cantik dan menggoda, siapa saja yang melihat Kanna pasti akan merasakan hal yang sama denganku.
Entah kenapa dalam hatiku aku merasa tidak nyaman. Aku takut kehilangan dirinya. Aku takut dia meninggalkanku. Aku bukan orang sukses yang bisa memberikannya semua kemewahan maupun harta yang melimpah. Sedangkan penampilan Kanna saat ini sungguh luar biasa. Pakaiannya sangat modis, tas dan assesoris yang digunakannya juga terlihat mahal.
“Kenapa kau begitu cantik sekarang, Kanna? Kau membuatku takut, Cimut.” Aku bergumam sambil mengelus wajahnya.
Aku tak bisa kehilanganmu, Kanna. Please, jangan rubah rasa cintamu padaku juga.
— MUSE S3 —
•••
Aku berkerja sambilan mulai dari sebagai kasir supermarket, kuli bangunan, sampai menjadi pelayan restoran ramen. Saat tidak ada kelas aku memilih bekerja supaya bisa menghasilkan sedikit uang. Aku melakukan semua pekerjaan ini demi Kanna. Menyisihkan uang gaji agar bisa mengiriminya uang setiap bulan.
Entah mulai sejak kapan Kanna memintaku untuk berhenti melakukannya. Ia memintaku fokus pada impianku dengan belajara rajin dan segera pulang. Kanna bilang dia sudah bisa menghasilkan uang dari modeling dan juga endorse. Belum lagi gaji yang diterimanya dari utube, dia bilang gajinya bisa mencapai 10 juta saat banyak orang menonton videonya.
Agak sakit juga, sih, saat mendengarnya. Melihat tidak ada lagi yang bisa aku lakukan untuknya membuatku frustasi. Aku memacu diriku demi dirinya, agar aku bisa melakukan sesuatu yang berguna untuk Kanna. Kini ia menolak semua pemberianku, menolak semua bantuanku. Dia bilang ingin berusaha sendiri. Lalu aku harus bagaimana? Sedih rasanya tak bisa melakukan apapun untuk wanita yang kau cintai.
Aku sedang melepaskan penat sehabis mandi air hangat. Pekerjaanku cukup berat diakhir pekan karena harus menjaga kasir sebuah swalayan. Aku bersantai di depan TV sembari meminum alkohol. Setengah jalan meneguk sekaleng bir, aku mencoba untuk mengecek ponsel. Tiba-tiba...,
Trrriinggg...! 🎶
Nada dering panggilan permintaan VC membuatku kaget, hampir saja ponselku terlempar karenanya.
Kanna panggilan video....
“Ah...! Akhirnya gadis nakal ini VC juga!” gumamku sedikit sebal.
“Leon...!” Kanna terlihat tak merasa bersalah. Ia memamerkan deretan giginya yang begitu rapi dan terlihat penuh. Apa yang dia lakukan pada gigi-giginya itu?
“Lihat apa yang berbeda dariku?” Kanna terus berputar dan berputar.
“Gigi?!” tanyaku.
“Salah, Leon!! Coba lihat dulu donk!! Apanya yang berubah?” Kanna gemas karena aku tak kunjung mengerti maksudnya.
Tiba-tiba Kanna membuka satu persatu kancing bajunya. Membuatku melongo melihat pemandangan indah ini. Kenapa dada Kanna begitu besar dan perutnya begitu ramping sekarang? Padahal dulu perutnya begitu besar sampai dadanya terlihat tenggelam. Aku baru menyadari ternyata dada Kanna begitu luar biasa indahnya. Mesumnya aku!
Aku menelan ludahku, kepala bagian bawahku menjadi pusing dan cenat-cenut. Kanna bisa membuatku menggila dengan kelakuannya saat ini. Tanpa menunggu lagi aku langsung mematikan panggilan ini.
Kanna:
Kenapa di matiin? 😡
Leon:
Aku tak tahan godaannya!
Kau membuatku gila. 😱
Kanna:
Kau tak ingin melihatnya lagi? 😏
Tring... 🎶
Sebuah foto sexy memenuhi layar ponselku.
Seketika itu juga wajahku memerah dan terasa panas. Setiap bagian tubuhku bergetar hebat karena foto manisnya itu.
Leon:
Tunggu saja aku pulang Kanna!
Aku pasti akan menerkammu.
Kanna:
Ampun tuan singa.
Takut... 🥺
Oh..., Kanna, Kanna, kau benar-benar begitu berbahaya!
Aku langsung berlari untuk kembali masuk ke dalam kamar mandi, mengguyur kepala dengan air dingin agar pikiran kotor dan juga nafsuku menghilang.
Awas saja, Kanna! Akan aku balas saat pulang nanti! Aku pasti akan menerkammu dan melahapmu habis-habisan.
Tunggu aku pulang gadis manisku yang nakal.
— MUSE S3 —
•••
Setelah perjalanan hampir 8 jam, aku mendarat dengan mulus di bandara internasional milik ibu kota. Bandara tersibuk seantero negeri ini begitu luar biasa padat. Banyak manusia dari berbagai kalangan suku bangsa, baik dalam maupun luar negeri berjubel pada bagian imigrasi kedatangan.
“Next...!”
“Ini,” tanganku menyerahkan paspor pada petugas imigrasi.
“Tattonya keren,” pujinya saat melihat tanganku.
“Thanks, Pak,” jawabku sambil nyengir.
“Ini. Next!!” pria muda itu menyerahkan buku hijau kecil padaku sembari berteriak pada antrian berikutnya.
Aku bergegas mengambil semua barang-barangku pada bagian pengambilan bagasi. Menunggu dengan sabar. Sembari menunggu aku mengabari kedua orang tuaku kalau aku sudah sampai di ibu kota. Rencananya aku akan menginap seminggu di ibu kota sebelum mengunjungi mereka di desa T. Aku akan melepaskan lelah dan juga rinduku pada Kanna sebelum menemui keluargaku. Papa dan Mama belum bisa beranjak dari sana karena kondisi Nenek yang semakin menurun.
Seorang wanita cantik dengan tubuh langsing langsung mendekatiku saat aku keluar dari pintu bandara. Rambutnya yang ikal berwarna coklat keemasan. Bibirnya yang tipis terpoles lipstik berwarna merah menyala. Matanya tertutup kaca mata hitam.
Gadis itu memakai rok mini putih dan atasan tank top berwarna senada dengan merk Gu*ci tertera pada bagin depan dadanya yang sintal. Jaket denim biru muda menjadi outernya. Ia juga memakai topi baseball dan sepatu model warrior shoes berwarna putih. Anting-anting bulat besar menghiasi kedua telinganya dan terus bergoyang saat ia berlari mendekatiku.
“Leon!!” teriaknya dari kejauhan.
“Siapa, ya?” Aku sedikit bingung.
Gadis itu semakin mendekat sampai akhirnya meloncat untuk memeluk diriku.
“Aku kangen, Leon!!” Ia memelukku sangat erat.
“Kanna??? Kau Kanna?” Aku melongo setengah tak percaya! Kanna begitu cantik, dia begitu menggemaskan. Dan yang pasti, dia begitu langsing dan modis. Aku benar-benar tak bisa mengenalinya.
“Iya, ini aku, pacar!!” Kanna melepaskan kaca mata hitamnya.
“Kanna?”
“Iya, aku Kanna, Leon!”
Aku memandangnya sejenak sebelum menarik dan melumatt bibirnya dengan kasar. Tak terbendung lagi rasa rindu yang terus menumpuk di dalam hatiku. Aku benar-benar merindukannya.
Aku tak percaya, aku benar-benar telah menyentuhnya saat ini. Berbagi kehangatan lewat sebuah pelukan, juga rasa manis dari bibir tipisnya. Aku ingin menghabiskannya, sampai tak ada lagi yang tersisa.
Tanpa mempedulikan pikiran dan pendapat orang lain aku mencium dan terus mengullum bibir indahnya. Menciumnya dengan sedikit kasar dan tak beraturan, dalam dan panjang. Iramanya begitu cepat dan meluap-luap.
“Leon, berhenti! Nggak bisa napas!” Kanna terkikih.
“Aku sangat rindu padamu, Kanna!” Aku menyatukan dahi kami.
“Aku juga, Leon.” jawab Kanna.
“Cium aku lagi, Kanna! Yakinkanlah bahwa kau juga merasakan hal yang sama.”
“Tentu saja, Leon! Selama yang kau mau!”
Kanna tersenyum dan mengalungkan lengannya pada leherku. Wajahnya terangkat untuk mengecup bibirku, kembali melumattnya dengan lembut. Aku ikut melingkarkan tanganku pada pinggang rampingnya sampai Kanna terangkat.
“Leon...,” panggilan Kanna membuatku menggila. Aku menggigit lembut bibir bagian bawahnya sebelum mengakhiri ciuman kami.
Kanna tertawa dan mengambil tisu basah dari dalam tasnya. Ia mengelapkan tisu pada bibirku yang penuh dengan warna merah dari lipstiknya.
Semua orang memandang kelakuan kami. Mereka tak henti-hentinya berdecak, ada yang ilfil, ada yang sebal, ada juga yang ikut bahagia. Kanna juga langsung menunduk malu-malu, ia lalu memegang tanganku seraya berbisik, “who care?”
Aku tertawa mendengarnya. Itulah ucapan yang pernah ku ucapkan saat kami berciuman di tengah jalan menuju taman kota. Ternyata Kanna masih mengingatnya.
“Kau banyak berubah, Kanna.” Aku mendorong troli barang sembari bercakap dengannya.
“Kau juga, Leon. Kenapa sekarang badanmu penuh tatto?” Kanna keheranan, tattoku memang banyak.
“Teman satu apartemenku adalah seniman tatto. Dia sangat luar biasa, aku suka karyanya,” jawabku.
“Rambutmu sekarang juga panjang, ya?” Kanna menarik rambutku.
“Kan cuma sedikit, hanya sebatas telinga. Kalau kau tidak suka aku akan memotongnya besok.”
“Nggak, kok, aku suka. Kau terlihat lebih garang. Mirip singa beneran.” kekeh Kanna.
“Itu pujian atau ledekkan, sih?!” tanyaku gemas.
“Pujian, donk. Aku suka rambutmu. Hitam, mengkilat, dan juga lurus.” Kanna melirikku.
“Kau juga kini sangat cantik,” pujiku.
“Kan pacarnya, Leon!” seru Kanna, wajahnya terlihat bahagia. Syukurlah Tuhan, Kanna masih begitu mencintaiku.
•
•
•
Kami tiba di rumahku. Rumah yang aku tinggalkan setahun yang lalu. Baunya sedikit apek, namun tidak terlalu menyengat. Tidak ada debu tebal ataupun sarang laba-laba. Aku menemukan secarik notes di atas kulkas. Ternyata dari Mama, dia dan Papa datang seminggu yang lalu untuk membersihkan rumah dan mengisi kulkas dengan bahan makanan beku yang mungkin saja aku butuhkan saat pulang nanti.
Aku tersenyum melihat surat dari Mama. Benar-benar Papa dan Mama yang pengertian. Tanganku gerayangann saat membuka kulkas dan melihat-lihat isinya. Ternyata Mama juga banyak menyiapkan minuman dingin. Aku mengambil dua buah dan memberikan salah satunya pada Kanna,
“Mama yang siapin,” kataku.
“Wah, Tante sangat pengertian.”
“Iya, nanti aku akan meneleponnya untuk berterima kasih,” kataku.
Tak lama setelah obrolan ringan Kanna pamit padaku.
“Beristirahatlah, Leon. Aku akan kemari malam nanti.” Kanna tersenyum dan mengecup pipiku.
“Thanks, Kanna.”
“Istirahatlah!! Kau harus menebus kepergianmu malam ini!” Kanna membuatku kehabisan kata-kata dan juga salah tingkah.
“Hati-hati!”
“Bye, Leon.”
“Bye, Kanna,” balasku sambil melambai.
Wajahku memerah saat ucapan Kanna terngiang kembali. Apa yang harus aku lakukan untuk bertanggung jawab? Menari dalam benakku foto manis dan sexynya tempo hari.
Wajahku langsung memerah dan jantungku berdegup tak menentu. Aku harus menghentikan pikiran mesumku, karena...,
“Bisa-bisa aku mimisan!”
— MUSE S3 —
Wkwkwkwk
Emang mau ngapain Leon?
Dasar si singa mesum.
❤️❤️❤️🤭
Next episode ya!
Kasih bintang 5 donk gaes!! Biar MUSE bintangnya bagus. Makasih! Semuanya emezing, semuanya aku cintah...