MUSE

MUSE
S2 ~ BERHARGA



MUSE S2


EPISODE 43


S2 \~ BERHARGA


\~ Bakat dan juga sanse memang nggak akan pernah pergi, tinggal bagaimana caramu mengasahnya agar semakin tajam.\~


Setibanya di kantor, aku melemparkan kunci mobil pada satpam yang membukakan pintu mobilku. Aku masuk ke dalam area lobby, Aleina dan beberapa staff lain sudah menungguku.


“Ada apa?” tanyaku heran.


“Kita sudah berhasil memberi perusahaan game kecil itu, Tuan. Tapi...,” ucapan Aleina terhenti.


“Tapi apa?”


“Banyak pemain game kita protes karena kita menghilangkan karakter baru itu.”


“Ah.. begitu.. apa designer yang baru sudah datang? Suru dia segera merancang karakter baru.” Aku melangkah menuju lift khusus milikku. Mereka berempat masih mengekor padaku. Menunggu keputusan apa yang akan aku ambil.


“Tuan Arvin, anda masih belum meluluskan kandidat designer yang kami ajukan.” sepertinya kepala Tim HRD memprotes keteledoranku.


“Ah.. kau benar. Aku akan memilihnya segera. Mana filenya?” tanganku terangkat.


“Ini, Tuan.” Aleina memberikan file case, beberapa wajah designer grafis muda terlihat percaya diri pada pas foto mereka. Aku membaca sepintas tentang CV dan skill mereka, pengalaman bekerja, juga achievement mereka selama ini. Ada satu yang menarik perhatianku.


“Coba kau panggil dia. Aku mau dia masuk ke kantor minggu ini.”


“Baik, Tuan Arvin.” Aleina mengangguk dan menyerahkan kembali berkas itu pada tim HRD.


Setibanya di ruang kerjaku, Aleina langsung menyuguhkan kopi dan juga beberapa dokumen penting. Aleina selalu menyiapkan segalanya dengan baik, bahkan ia tahu kalau aku membutuhkan kopi saat ini. Beberapa hari aku memikirkan gadis itu membuat mataku tak bisa terpejam dengan nyenyak.


Aleina bisa saja menjadi seorang istri dan Ibu yang baik. Tapi dia lebih memilih mencintai seorang wanita. Mungkin traumanya terhadap kekerasan fisik dari Ayahnyalah yang membuatnya menjadi seorang pencinta sesama jenis. Kadang kita harus berhenti menghakimi orang lain. Jauh di dalam diri mereka pasti ada sebuah alasan dibalik keputusan yang mereka ambil itu.


Termasuk aku, harusnya aku bisa bertanya tetang alasan kenapa gadis itu sampi harus menjual dirinya? Atau mungkin apa alasannya meminta uang sebanyak itu? Hah.. Seandainya dulu aku lebih peduli padanya, mungkin aku tak akan kehilangan jejaknya seperti ini.


Saat itu aku hanya memberikan uang padanya karena memang merasa dia layak untuk mendapatkan uang itu. Gadis itu bisa memberikanku sebuah kepuasan yang tidak bisa diberikan oleh wanita lainnya. Lagipula uang 500 juta juga tidak ada artinya bagiku.


“Tuan Arvin.”


“Ya?” Aleina membuyarkan lamunanku.


“Apa yang anda akan lamunkan? Semua gamers dari seluruh Indonesia menanti jawaban anda.” perkataan Aleina membuatku tersentak.


OMG, Arvin!! Bodohnya aku!! Sesuatu yang harusnya bisa terpikirkan dari dulu kenapa tak pernah terpikirkan olehku?!


“Aleina!!! Good job!!” seruku bahagia, aku hampir memeluknya.


Aleina mengerunyitkan alisnya, kebingungan dengan kelakuanku yang berubah begitu drastis. Dari murung tiba-tiba terlihat sangat riang. Padahal ada masalah di dalam perusahaan yang harus segera di selesaikan.


“Apa maksud anda, Tuan.”


“Ambilkan aku proc*eat, Na!” pintaku. (Proc*eat adalah sebuah sofware untuk menggambar di dalam komputer/tablet)


“Anda mau menggambar karakter sendiri?”


“Iya, sudah lama aku tidak menggambar,” senyumku senang, aku terlihat tak sabar untuk menggambar.


Aku akan membuat karakter yang mirip dengan gadis itu. Karakter dengan rambut hitam panjang, mata bulatnya yang gelap, bulu mata yang lentik, dan juga bibirnya yang penuh dan merekah merah. Kenapa nggak aku lakukan dari dulu? Aku punya mata di seluruh penjuru negeri ini. Para gamers -ku bisa membantuku mencarinya.


— MUSE S2 —


“Aleina, suru TIM perencanaan memasukkan karater baru ini.”


“Noted.” jawab Aleina.


“Lalu suru TIM marketing dan Programer membuat pengumuman.”


“Pengumuman apa, Tuan?”


“Siapa yang bisa menemukan wanita yang mirip dengan karakter itu akan diberi hadiah 10.000 koin, dan juga item langka.”


“Anda masih mencari gadis itu? Saya kira anda sudah menyerah.” Aleina terkejut mendengarnya.


“Sebenarnya aku ingin menyerah, tapi saat mendengarmu mengatakan bahwa gamers kita ada di seluruh Indonesia, aku jadi memiliki ide gila ini.”


“Ah.. saya jadi mengerti maksud anda kemarin, Tuan.” Aleina tertawa mendengar ide dariku.


“Sekalian karakter ini bisa menjadi pengganti untuk karakter lama yang di hapus.”


“Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, anda hebat, Tuan.” Aleina mengangkat kedua jempolnya untukku.


“Sudah tak perlu memujiku, segeralah menghubungi TIM perencanaan. Segera launching karakter ini. Segara!!”


“Baik, Tuan. Ada lagi yang bisa saya bantu?”


“Oh iya, tolong kosongkan jadwalku 2 minggu ke depan. Aku akan kembali ke kota S.”


“Noted, Tuan. Perlu saya carikan sopir?”


“Aku akan menyetir sendiri, Na. Aku mengajak Arron.” tolakku.


“Baik? Kalau begitu saya permisi, Tuan.” pamit Aleina sebelum keluar dari ruang kerjaku.


Aku bangkit dan memandang baliho besar dari atas jendela kaca. Setelah ini karakter baru yang kubuat untuk dirinya akan terpasang di atas sana. Aku harap usahaku ini tidak sia-sia. Aku harap akan ada gamers yang pernah berjumpa dengan dirinya. Aku harap ada secerca harapan yang akan menuntunku pada keberadaan dirinya.


“Aku akan menemukanmu, baby, kau berharga bagiku.”


— MUSE S2 —


Meleleh Arvin..


Aku berharap kau segera bertemu dengan Kalila. ❤️❤️❤️


Muse Up..


Yuk di like dan comment.


Tinggalin banyak jejak biar authornya bahagia.


Baca juga kisah Arron, anak dari Julius dan Lenna pada novel saya dengan judul JAKA.


love yu readers..


Ayo masuk ke GC!!


Jangan lupa vote yang banyak biar Muse tambah femes.. 😂