
MUSE
EPISODE 22
SUN RISE
\~Tangannya kembali menyentuh kedua pipiku. Entah kenapa aku tak sanggup menolaknya, ciuman ini sangat lembut, sangat enak, dan sangat memanjakan tubuhku.\~
Aku melangkah gontai masuk ke dalam rumah, Ekspresi Darren terlihat begitu terkejut. Wajahku berantakan, rambutkupun hanya aku sisir seadanya dengan jariku, mataku merah dan bengkak, belum lagi lututku yang terluka dan berdarah. Darah di lututku mungkin sudah mengering sangking lamanya aku berlutut di jalanan.
“Silahkan masuk, Nona. Tuan ada di lantai 2. Mau saya panggilkan?” tawar Darren.
Aku bergeleng lemah.
“Aku akan menemuinya sendiri.”
Sudah tidak ada lagi tempat yang bisa aku tuju saat ini selain rumah Julius. Aku nggak mau pulang ke rumah dan mengakui kalau ucapan Papa benar. Aku juga nggak bisa ke aprtemen Jessi karena dia pulang ke rumahnya di kota sebelah. Satu-satunya yang ku kenal dekat hanya Julius. Dan aku berharap dia mau menerimaku tinggal sementara di rumahnya.
Aku berjalan pelan menaiki anak tangga, lututku rasanya sangat perih. Beberapa kali aku merasa akan terjatuh. Dan hanya tinggal sisa beberapa anak tangga saat tubuhku mulai goyah dan terasa sangat lemas.
“Gawat aku akan jatuh!” pikirku kaget, aku berusaha meraih pegangan tangga.
“Awas!!” Julius menangkapku, tanggannya meraih tanganku.
Julius menarikku dalam dekapannya. Keringat dan panas tubuh Julius terasa menempel di wajahku.
“Bagaimana sih kok nggak hati- hati?” Julius menjauhkan tubuhnya.
“Kenapa nggak pakai baju!” Aku menutup kedua mataku dengan tangan, malu melihat tubuhnya yang kekar tanpa busana.
“Aku masih pakai celan!” Julius melepaskan tangan dari wajahku.
“Tetap saja!!” Aku protes.
“Bukankah kamu pernah mengintipku?! Kenapa sekarang malu?” Julius terkikih senang.
“Enak aja! Itu kecelakaan!” Aku melipat tanganku di dada, lalu mencibirkan bibirku karena sebal.
“Duduk dulu.”
“Oke..auch..” Aku meringis dan kembali hampir terjatuh.
“Lenna..” Julius menangkapku dengan lengannya yang kuat.
Dengan hati-hati dia menggendongku, wajahku memerah sangking malunya. Dia mendekapku di dadanya yang bidang, skin to skin. Jantungku bergetar hebat. Padahal baru saja aku sangat sakit hati, tapi perasaan ini seketika berubah menjadi nyaman saat di memelukku.
“Duduk di sini, aku ambilkan obat!! Bagaimana bisa lututmu terluka seperti ini?” Julius bergegas mencari kotak P3K.
“Aku terjatuh saat berjalan.”
“Kau bohong!” Julius meninggalkanku sesaat dan kembali dengan sebuah kotak penuh obat.
“Kemarikan.”
“Ach..sakit..” rintihku pelan saat cairan kuning Revanol menyentuh permukaan kulit yang terluka.
“Maaf, aku tiup ya.” Julius meniupkan udara agar rasa perihnya sedikit menghilang.
“Boleh aku menginap di sini?” tanyaku lirih.
Julius tersentak dan menghentikan tangannya.
“Kenapa? Ada masalah apa?”
“Aku belum bisa kasih tahu alasannya.”
“Papa, Mamamu bagaimana?”
Aku menggelengkan kepalaku, Julius langsung tahu dengan apa yang aku pikirkan. Itulah yang selalu aku sukai dari dirinya, dia tak banyak bertanya, tak banyak menuntut, dan selalu menjaga perasaanku.
“Aku akan menelfon Papamu.” Julius mengoleskan obat merah dan beranjak meninggalkanku.
Dari kejauhan aku masih bisa mendengar Julius berbicara dengan Papaku di telefon. Ternyata ucapan antara orang dewasa lebih di dengarkan di banding anak-anak. Bahkan Papapun memberikan ijin karena Julius yang menelfonnya.
“Papamu marah, Lenna. Tapi dia memberikan ijin malam ini saja.” Julius masuk dan memberiku kabar.
“Terimakasih, Kak,” ucapku, aku masih menghindari kontak mata dengannya.
“Setidaknya kau harus memberikan alasan yang tepat kepadaku.” Julius mendekat.
“Tapi pakai bajumu dulu.” Aku memeluk bantal sofa di sampingku. Pemandangan ini benar-benar menggoda imanku.
“Oh iya. Aku baru selesai olah raga, aku mandi dulu.” Julius masuk ke dalam kamarnya.
Aku menghela nafas lega, setidaknya aku bisa menenangkan hatiku hari ini. Aku mengambil hpku, banyak misscall dan chat dari Alex. Tanpa sadar aku kembali menangis saat membacanya. Kenapa dia begitu tega padaku? Apa salahku?
—MUSE—
“Ini kamarmu, pakai saja. Ada pakaian bersih yang baru saja di beli Darren. Semoga pas dengan ukuranmu.” Julius membuka pintu dan menyuruhku masuk.
“Terima kasih, Kak,” anggukku.
“Ingat kau masih berhutang penjelasan. Saat perasaanmu tenang ceritakan padaku.” Julius mengelus lenganku.
“Huum.” Aku kembali mengangguk.
Aku merebahkan diri di atas kasur empuk, sprei putih dengan bunga-bunga kecil membuat perasanku senang. Julius duduk di pinggir ranjang dan melihatku.
“Mandi sana.”
“Sebentar, aku masih menikmati kasurku.”
“Apa perlu aku mandiin?” goda Julius.
Aku langsung berdiri dan beranjak masuk ke kamar mandi.
“Lukanya jangan kena air.” teriak Julius dari luar.
“Iya bawel!!”
Julius sudah kembali ke kamarnya saat aku selesai mandi. Aku mengelap rambutku yang basah dengan handuk kering.
Aku kembali merebahkan diri ke kasur, bayangan wajah wanita itu masih terlihat jelas di benakku. Wajahnya terlihat begitu mencintai Alex.
Apakah malah aku yang datang dan merusak hubungan mereka?
Aku menepis pikiranku dan berusaha tidur. Namun hatiku yang terluka tak mengijinkan mataku terpejam. Aku masih bisa mendengar denting jam berdenting, di setiap detik demi detiknya.
“ARG!!!” Aku menggeram sebal karena nggak bisa tidur.
“Aku lapar.” Aku memegang perutku yang terus krucukan.
Aku menyibakan selimut dan bangkit berdiri. Aku melirik jam, jam 12 malam. Ternyata sudah tengah malam.
Aku membuka pintu pelan supaya tidak membuat suara berisik dan membangunkan orang lain.
Kriyeet..
Aku kaget karena mendengar pintu lainnya juga terbuka.
“Lenna??!”
“Kak ius..?!” Aku juga ikutan kaget melihatnya.
Aku memandang Julius dari ujung rambut sampai kaki. Dia memakan jaket hitam tebal dan sepatu sport. Bahunya menyandang backpack berwarna biru navy.
“Kenapa kau belum tidur?” Kami menanyakan hal yang sama berbarengan.
“Kau mau ke mana?”
“Memotret.” Julius menutup pintu kamarnya.
“Tengah malam begini?” tanyaku.
“Iya.”
Aku mendekati Julius dan memohon kepadanya untuk mengajakku.
“Aku ikut, ya?”
“Nggak.”
“Repot.”
“Aku nggak akan merepotkanmu.Plisss...” Aku memelas.
“Baiklah. Tapi jangan merepotkanku.”
“Siap. Aku ganti baju dulu.”
Julius sudah menungguku di atas motornya, lengkap dengan helm dan sarung tangan.
“Pakai ini.” Julius menyodorkan helm kepadaku.
“Aku naik, ya?” Aku berpegangan pada pinggang Julius, sedikit kesusahan karena jog motornya sangat tinggi bagiku.
“Siap?”
“Yup.”
Kami berangkat, aku nggak tau kemana tujuan kami. Aku juga nggak bertanya, karena yang aku inginkan hanya mengusir rasa penat dan perih yang terkumpul di dadaku.
“Lenna kau OK kan?” Julius membuka kaca Helmnya.
“Oke, Kak,” teriakku.
“Kalau gitu aku agak sedikit ngebut ya.” Julius meminta ijin.
Aku mengangguk mengijinkannya.
Aku melingkarkan tanganku ke pinggangnya untuk berpegangan. Punggung Julius terasa sangat nyaman, seandainya nggak pakai helm mungkin aku bisa mendengar detak jantung Julius yang berdegup kencang.
“Sudah sampai, Kak?” tanyaku nggak sabar.
“Sebentar lagi.” teriak Julius.
Aku membuka kaca helmku dan merasakan terpaan angin malam yang dingin. Sejuk dan dingin, rasanya kulit wajahku menjadi kaku, tapi entah kenapa aku menyukainya.
“Sampai.” Julius menghentikan laju motornya.
“Di mana ini? Gelap sekali.”
“Di kaki gunung. Jalur pendakian, di sana ada posko.” Julius menunjuk sebuah rumah kecil, ada beberapa orang di sana. Ada beberapa orang yang membawa tas ransel super besar dan siap mendaki.
“Jangan bilang kita mendaki gunung.” Aku syok, aku nggak ada persiapan apapun.
“Nggak sampai puncak kok.” Julius tersenyum.
“Aduh aku kebelet pipis. Aku pipis di mana donk?” tanyaku.
“Tuh kan, repot bawa anak cewek.” Julius menyentil dahiku.
Kami berjalan bergandengan masuk ke dalam hutan, Julius terlihat santai. Sepertinya dia sering melakukan hal ini, dia bahkan hafal beberapa jalan.
“Kau nggak takut tersesat?”
“Kan sudah ada GPS, ada sonar tanda bahaya, ada ponsel .”
“Kalau bertemu binatang buas gimana?”
“Malah seneng donk, kan aku emang wild life fotografer. Cuman kalau hutan yang sudah dijamah manusia gini kebanyakan sudah nggak banyak binatang buasnya.”
“Kalau ular?”
“Ck.. kamu kebanyakan nanya, deh. Tadi siapa yang minta ikutan?” Julius menggerutu.
“Iya..iya..”
“Kamu capek?”
“Sedikit, gara- gara lututku perih jadi jalannya agak susah.” Aku beralasan.
“Mau aku gendong?” goda Julius.
“Nggak perlu.”
“Kita sampai, hati-hati jatuh.” Julius menggandengku melangkah mendekati sebuah tebing.
“Serem banget.”
“Jangan deket-deket tepian.”
“Kak, pulang aja yuk,” ajakaku takut.
“Tunggu dulu, sebentar lagi mataharinya terbit.” Julius menarikku untuk duduk di sampingnya.
“Tempat ini Kakak yang temuin?”
“Iya, nggak sengaja dulu. Dari sini bisa lihat matahari terbit bagus banget.”
“O...”
“Ini minum.”Julius menyodorkan kopi panas dari tremos kecil yang dibawanya.
“Terima kasih.”
“Kau kedinginan?” tanya Julius, dia melepaskan sarung tangannya dan menyentuh lembut ke dua pipiku.
“Nggak kok.” Aku bergeleng. Kehangatan tangannya terasa di kedua pipiku.
“Aku bawa selimut.” Julius mengeluarkan selimut kecil dari tas ranselnya.
“Seperti doraemon saja.” Aku terkikih.
“Hahahahaha.” Dia tertawa.
Kami berbagi selimut dan kehangatan di tengah bukit. Sesekali aku menenggak kopi panas dari tutup tremos. Kopi itu sangat pahit dan kental, tapi entah kenapa terasa sangat manis di hatiku.
“Sebenarnya kau ada masalah apa, Lenna?” Julius menatapku lekat.
“Aku melihat Alex mencium wanita lain.”
“Kau cemburu?”
“Aku kira dia mulai menyukaiku.”
“Lalu kenapa kau sangat sakit? Bukankah kalian tidak berpacaran.”
“Kau betul, Kak. Kami tidak berpacaran, aku tidak ada hak untuk marah.” Aku menguatkan diriku untuk tersenyum dan menerima kenyataan.
Julius merangkul pundakku, kembali berbagi kehangatan. Dalam dekapan lengannya yang kokoh aku merasa sangat aman saat ini.
“Lihat mataharinya keluar.” Julius mengambil kameranya.
“Wah cantik sekali.” Aku terkagum kagum.
“Aku foto?”
Aku tersenyum dan mengangguk. Julius mengambil beberapa fotoku dengan matahari terbit. Aku sedikit meloncat, bergaya, dan tertawa riang, aku melepaskan kesedihanku. Kesedihan itu menguap bersamaan dengan sinar matahari yang perlahan keluar.
“Kau cantik Lenna.” Julius menggandeng tanganku dan mengajakku untuk kembali duduk.
“Mataharinya sangat cantik, aku nggak menyesal dengan rasa capeknya,” senyumku lebar, aku kembali duduk di samping Julius dan menikmati sinar matahari pagi yang hangat.
Wajah kami bertemu, dan bisa kurasakan Julius mendekatiku pelan.
“Lupakan Alex, Lenna. Pacaran denganku saja.”
Julius mencium lembut bibirku, kehangatan sinar matahari ternyata kalah dengan hangatnya bibir Julius yang ******* bibirku.
Tangannya kembali menyentuh kedua pipiku. Entah kenapa aku tak sanggup menolaknya, ciuman ini sangat lembut, sangat enak, dan sangat memanjakan tubuhku.
—MUSE—
Like, comment, and +Fav
Follow dee.meliana for more lovely novels.
❤️❤️❤️
Thank you readers ^^