
MUSE S2
SPECIAL EPISODE
S2 \~ HAMIL LAGI!
\~Arvin selalu berhasil membungkam amarahku dengan gairahnya. Selalu berhasil membuatku terdiam karena pesonanya. Ia selalu bisa membuatku kehabisan amunisi untuk mengerutukinya\~
_________________
KALILA POV
Hai, ketemu lagi denganku. Pada kangen nggak sih? Kali ini aku ingin bercerita sedikit tentang hubunganku dengan Arvin yang sedikit memanas. Di usia pernikahan kami yang menginjak 7 tahun, sikap pencemburunya semakin tak terkendali.
Simak yuk, jangan lupa kasih like dan comment terbaik kalian ya, gaes. 😘
Hujan deras membasahi pekarang kecil di depan Pallete cafe, menimbulkan aroma tanah yang menggetarkan kenangan. Yah, bagiku hujan memang penuh dengan kenangan, dan aromanya adalah sihir yang kuat. Membius masuk dan mengulik kembali kenangan-kenangan manis juga pahitnya kehidupan.
Aku baru saja kembali bekerja di cafe setelah satu tahun rehat karena melahirkan anak ketigaku, Gabby. Gabby kini berusia satu tahun, aku sudah tidak memberinya Asi lagi, jadi bisa kembali bekerja di cafe. Ah, aku benar-benar merindukan aroma kopi dan bau roti ham yang dipanggang, benar-benar aroma yang serasi.
“Boss, jangan melamun!” Caca mengetuk nampan kayu untuk membuatku tersadar.
“Paan sih, Ca?” Aku terkikih.
“Itu meja 6, tambah hot mochiatto dan caffe latte dengan gula yang dipisah.” Caca menunjuk sekawanan pemuda kantoran yang sedang duduk, mengobrol, dan sesekali tertawa bersama. Sepertinya mereka sedang menghabiskan waktu istirahat siang sembari menunggu hujan reda.
“Ok!” Aku mengangguk paham.
Tak lama pesanan tambahan mereka jadi, Caca membawa nampan dan menyuguhkannya. Caca lalu kembali dengan wajah berseri, ia terkikih pelan saat kembali padaku. Membuatku keheranan, rasa heranku terjawab saat ia memberikan secarik kertas dari para cowok itu.
“Apaan ini, Ca?” tanyaku.
“Hahaha, buka aja, Bos!” Caca duduk di depanku. Bersangga dagu dengan tangannya, ia menunggu reaksiku dengan antusias.
Aku bergegas membuka kertas itu, terlipat seadanya, kertas bekas bill tagihan kopi. Di dalam lempitan kertas itu, tertulis,
Hai, cantik, boleh kenalan? Boleh minta no ponselnya?
“Hah?” Wajahku menghangat saat membacanya. Siapa coba wanita yang tidak suka saat ada yang memujinya? Caca langsung terkikih dengan ekspresiku, Melody yang kebetulan telah menyelesaikan panggangannya ikut nimbrung.
“Wah, daebak! Ibu tiga orang anak masih laris manis aja?!” Melody melepaskan sarung tangan anti panas dan mentowel pipiku.
“Bener, Boss masih tetap cantik dan langsing padahal udah turun mesin tiga kali!” Caca menscan diriku dari atas ke bawah.
“Foto dan tunjukan pada Arvin!” Melody iseng ia merebut kertas itu dariku.
“Jangan, Mel!!” Aku gelagapan dan langsung merebut kembali. Jangan sampai Arvin tahu, bisa gempar dunia ini.
“Jadi penasaran gimana tanggapan Om Ganteng kalau tahu ada cowok yang menggodamu, Bos.” Caca tertawa.
Ugh, sudah bisa kupastikan Arvin akan menatap tajam mereka dan menghajarnya bila perlu. Ingat kisah Anggakan, duh, jadi rindu pada Angga. Sekarang dia sudah menikah belum, ya?
“Ayo kembali bekerja, jangan hiraukan mereka!” Aku menepis angan-angan Caca dan Melody seputar kelakun Arvin yang kelewat sadis dulu.
“Jadi aku harus jawab apa ke mereka?” tanya Caca.
“Jujur saja, Ca, bilang aku sudah bersuami dan dikaruniai dengan tiga orang anak.”
“Yah, sayang donk! Ganteng-ganteng,” decak Caca.
“Ya udah buat kamu aja, bagiku Arvin paling ganteng.” Aku tergelak, kini tak lagi susah bagiku untuk mengakui bahwa pria itu adalah pria ter-hot dan paling ganteng sedunia.
“Hoek!! Mo muntah, kau bucin juga sekarang, La?!” Melody terkekeh, ia menyenggol pinggulku dengan pinggulnya.
“Yup, tergila-gila!” seruku. Ah, indahnya cinta.
Caca kembali lagi setelah membereskan gelas dan piring kotor. Ia bilang kalau para cowok itu tak percaya bahwa aku telah bersuami dan punya tiga orang anak. Hahaha, memang keuntungan kalau menikah di usia muda, selalu aja tampak awet muda. Aku menikah dengan Arvin saat usiaku 19 tahu, kini aku baru 26 tahun. Masih tergolong sebaya dengan mereka.
“Boss, mereka kemari!” Caca memberi kode padaku.
“Hah??” Aku kelimpungan, salah tingkah juga.
Tiga orang cowok dengan kemeja rapi dan dandanan danddy ala-ala pekerja kantoran datang mendekatiku. Mereka mengulurkan tangan seraya memperkenalkan diri. Tak dipungkiri mereka tampan, tapi tetap saja tak ada yang bisa mengalahkan pesona suamiku. Hahaha, walaupun lebih berumur tapi Arvin jauh lebih tampan dan hot.
“Boleh kenalan? Aku Bisma,” ucapnya.
“Aku Tegar, dan dia Andy.” Tegar ikut memperkenalkan diri.
“Um ... aku Kalila,” jawabku kikuk.
“Aku Melody.” Melody ikutan nimbrung.
“Caca.”
“Kalian cantik.” Puji mereka.
“Thanks,” jawab Melody, Caca tertawa.
“Tukaran nomor ponsel yuk.” Mereka bertiga mengeluarkan ponsel.
“Maaf, di antara kami bertiga hanya dia yang lajang!” Aku menunjuk Caca, gadis itu nyengir dengan lebar.
“Ah, masa sih??” Mereka masih tetap tidak percaya, duh, apa perlu aku menunjukkan foto-foto mesraku dengan Arvin.
“Boss!! Boss!! Gawat, Om Ganteng datang!” Tiba-tiba saja mata Caca terkesiap saat mobil sport oranye tiba dipekarangan cafe.
“Hah??” Aku mencelos, duh, bagaimana ini? Mana mereka belum mau beranjak pergi.
“Panjang umur banget diomongin nongol!” Melody tertawa.
“Bagaimana? Kita saling kenal aja dulu, kalau cocok kita jalan. Kalau nggak kita temenan aja!” tukas mereka, dan Arvin sudah berada di belakang mereka saat ini. Aku menggigit bibir bawahku, Arvin pasti mendengarnya.
“Siapa yang kalian ajak jalan?” Arvin menatap ketiganya dengan dingin dan tajam. Dih, tuh kan dia denger.
“Dia?” Ketiganya seakan meminta penjelasan padaku siapa lelaki yang menatap buas di belakang mereka.
“Suamiku,” jawabku.
“Ye, dari tadi dibilangi kagak percaya!” Melody terbahak, melihat wajah ketiganya memucat.
“Ma—maaf, Boss! Nggak tahu kalau istrinya.” Ternyata ketiga orang pria itu adalah pegawai yang bekerja di kantor Arvin. Sontak saja Caca tertawa dan Melody semakin tergelak, akupun mau tak mau ikut tertawa.
Arvin masih melotot galak, aku keluar dari belakang meja bar dan menggandeng tangannya. Dengan gelengan pelan aku mengkode agar Arvin tidak marah dan menghukum ke tiganya.
“Sialan! Berani-beraninya mereka merayumu.” Arvin menatap kepergian ketiga pria sialan itu.
“Tumben kemari?”
“Nggak boleh?” tanyanya sebal, apa dia sedang cemburu saat ini?
“Boleh, aku hanya kaget, bagaimana dengan anak-anak?”
“Mama Rose bersama dengan mereka,” jawab Arvin.
“Ah begitu. Kau mau minum apa? Aku buatin.” Kucoba menurunkan kadar amarahnya dengan minuman manis.
“Apa saja, apa yang kaubuat aku suka,” kata Arvin, Melody dan Caca langsung terpingkal.
“Hlah bucin akut ini ma!”
“Biarin!” Arvin menghalau mereka.
Aku terkikih, tanganku bekerja untuk membuatkan secangkir kopi latte panas, ditemani roti ham dan keju yang gurih membuatnya pas untuk menunggu hujan reda.
“Besok tak usah jaga cafe lagi!”
“Kenapa?”
“Aku nggak rela semua orang menginginkanmu!”
“Ya, ampun, Kak! Lagi-lagi Kakak cemburu!” Aku mencibirkan bibirku sebal, dulu Arvin juga pernah cemburu dengan tukang sayur, terus penjual cireng, terus petugas mal tempatku membeli sepatu, dan yang paling baru adalah abang tukang bakso yang sering lewat di depan rumah. Lama-lama Arvin semakin pencemburu.
“Iyalah! Istri digodain masa nggak cemburu? Emang kamu enggak cemburu kalau aku digodain cewek?” Arvin nyolot. Okelah, kini aku kehabisan kata-kata.
“Sudah habiskan minumannya dan kita pulang.” Aku mengajaknya pulang, moodku rusak dan aku tak ingin meneruskan perdebatan itu.
Selama perjalanan pulang aku memilih untuk terdiam, bukan salahku kalau para pria itu mendekatiku. Aku bisa menjaga diri dan tak pernah mengkhianatinya. Hanya dia yang ku sayangi, tak bisakan dia mengerti?!
Aku mencintai pallete cafe, dan aku suka bekerja di sana. Permintaannya yang menyuruhku berhenti bekerja membuat hatiku sedih. Moodku hilang, dan sepertinya Arvin tahu aku sedang ngambek padanya.
“Baby! Kau marah?” tanyanya sambil mengemudi.
“Tidak.”
“Tidak berarti iya.” Arvin melambatkan laju mobilnya, mencari jalanan sepi dan menepi.
“Aku tidak marah,” sergahku, padahal aku marah. Namanya juga wanita, hatinya serumit isi tasnya.
“Kau pasti marah! Ya ampun, Baby! Apa salah bila aku cemburu padamu? Aku benar-benar mencintaimu, Kalila, kau tak suka bila ada yang menggodamu.” Arvin mengusap pipiku. Entah kenapa aku jusru menangis dan menatapnya nanar. Aku benci dengan sikap posesifnya, cemburu memang tidak salah, asal dengan alasan yang jelas.
“Aku tidak menanggapi mereka, Kak! Aku bilang aku bersuami, anakku tiga.” Aku menagis.
“Iya, iya, maaf, aku salah. Sudah jangan menangis lagi!” Arvin memeluk dan menepuk pundakku. Aku menepisnya, Arvin menghela panjang.
“Kemarilah!” Arvin menarik tubuhku agar aku naik ke pangkuannya. Aku duduk berhadapan dengan Arvin di dalam mobil. Jarak setir dan sandaran terlalu sempit bagi kami berdua. Arvin mengelus rambut dan turun ke wajahku. Tangannya yang lebar mencekal daguku agar aku tak menolak saat sebuah ciuman mendarat mesra di atas bibir ranumku.
“Aku mencintaimu, Kalila. Aku minta maaf kalau cintaku begitu buta.” Arvin menyesappkan ciumannya lebih dalam lagi, membuat tubuhku melemas.
Hujan deras mengguyur mobil kami, hawa dingin mencoba merasuk masuk, namun tertahan dengan kehangatan dari ciuaman dan dekapan Arvin.
Kami bertukar rasa manis, lumattan-lumattan mesra, permainan tangan dan juga lengguhan pelan. Aku menyerah saat tangannya mulai bergriliya ke sekujur tubuhku. Melucuti satu persatu pakaian yang kami kenakan.
“Argh!” Aku mulai merancau, kenikmatan yang timbul karena persatuan dan gerakan pelan yang berirama tak bisa dideskripsikan dengan kata-kata.
“Teriaklah, Baby!” Pinta Arvin.
“Argh!!” Rancauku.
Arvin selalu berhasil membungkam amarahku dengan gairahnya. Selalu berhasil membuatku terdiam karena pesonanya. Ia selalu bisa membuatku kehabisan amunisi untuk mengerutukinya, ia selalu bisa membuatku kehabisan kata-kata saat kami bersatu.
“Sudah tidak marah?” tanya Arvin setelah kami terpuaskan bersama.
“Dasar!” Aku memukul dada bidangnya.
“Sudah lama kita tidak bergoyang di dalam mobilkan, Baby! Seharusnya kita sering melakukannya di tempat sempit seperti ini. Rasanya lebih menantang!” Arvin mengecup keningku, dasar lelaki mesum. Ah, tapi aku mencintai pria mesum ini.
“Sempit, tidak enak!” Aku menggigit bibirnya gemas.
“Hahaha, kau tak mau mengakuinya, Kalila. Kau masih saja mirip kucing.” Arvin kembali mendekapku, napasnya yang panas terasa menggema ditelinga.
“Aku akan menghamilimu lagi! Biar semua lelaki tahu, kau milikku. Biar tak ada lagi yang mendekatimu, Baby!” bisiknya penuh gairah lalu mengecup leherku. Napanya yang panas membuatku melemas.
Yah dan begitulah, lima bulan kemudian aku hamil Levin. Anak ke empat kami. Tujuannya tercapai, membuatku hamil jadi tak akan ada pria yang melirikku. Memang Arvin paling ahli membuatku sebal namun sekaligus begitu mencintainya.
“I love you, Kalila.”
“I love you, too.”
“Segeralah tumbuh besar supaya bisa daddy jenguk ya, Nak!” Arvin mengelus perutku.
“Dasar!” Aku mengelus pucuk kepalanya sambil bergeleng heran.
— MUSE S2 —
Ah kangen Arvin dan Kalila
Dulu siapa ya yang request bikin anak lagi?? Udah aku wujutin ini. Wkwkwkwk
Abis ini S3 ada Leon dan Kanna ya, hihihi, ada request nggak hayo?!
Jangan lupa like dan commentnya gaeskuh