
MUSE S7
EPISODE
S7 \~ PACARAN
Berikan saja apa yang menempel pada tubuhmu.” Levin mendaratkan sebuah ciuman di bibir Leoni. Bibir Levin terasa basah dan hangat. Leoni berkedip beberapa kali saat Levin mulai melumatt bibirnya dalam.
_________________
1 bulan kemudian ...
Hingar bingar sorak kelulusan menyambut semua pelajar seantero negeri ini. Pengumuman kelulusan diumumkan serentak. Semunya melepaskan seragam biru tua dan akan menggantinya menjadi abu-abu.
“Ayo ucapkan Levin!!!” Inggrid memasang kameranya di atas tripod, mengeset timer dan langsung berlari masuk pada rombong keluarganya.
“LEVIIINN!!!” Teriak semuanya. Levin tersenyum. Semuanya tersenyum bahagia juga, Nick mengacak rambut Levin, Gabby mencubit pipinya, Inggrid menggelitik perut adik bontotnya. Kalila mencium pipi Levin, Arvin berdiri di belakang dan merangkul pundaknya. Levin tak bisa membalas karena tangannya penuh dengan bunga.
“Sekali lagi!!” Inggrid berlari ke arah kameranya.
“Ayo!!!” teriak 4 bersaudara itu lantang.
“LEVIN!!!” Sekali lagi mereka berteriak lantang.
Levin membawa semua bunga, boneka, dan juga banyak hadiah kelulusan lainnya. Dari adik kelas dan juga para kakaknya. Levin mendapatkan peringkat pertama pararel dalam satu kota untuk nilai ujian tertinggi. Empat nilai 10 dan satu nilai 9,9. Levin sengaja membuatnya salah, karena nilai sempurna hanya milik Tuhan. Gara-gara hal ini Leoni memukul kepalanya.
“Sudah menentukan mau masuk SMA mana? Mau SMA kak Gabby juga?” tanya Nick.
Levin menunduk, ia telah melanggar janjinya jadi mau tidak mau Levin terpaksa mengubur impiannya untuk menjadi seorang pembalap profesional. Semenjak kejadian itu Levin terpaksa menyerah, dan merelakan segalanya.
“Levin!!” Seseorang memanggilnya.
“Heh, Anak kecil pacaran!!” ledek Nick.
“Apaan seh?!! Salah Abang sendiri kagak laku, kuliah jauh-jauh juga masih aja jadi jomblo akut!!” Levin membalas ledekkan Abangnya.
“Hahaha, yahud, Vin!! Kena telak!” Inggrid memberikan dua buah jempolnya pada Levin.
“Udah sana semperin dulu!!” Gabby mendorong bahu Levin, meraih semua bunga dan hadiah dari tangan Levin agar pemuda itu leluasa bergerak.
“Daddy akan bicara denganmu siang ini, Vin. Setelah berbincang segera pulang ya!” Arvin menggandeng tangan Istrinya.
“Baik, Dad.”
Levin berlari ke arah Leoni, seperti Levin, Leoni juga mendapatkan bunga dan beberapa hadiah dari teman dan orang tuanya. Leon dan Kanna sedikit menjaga jarak di belakang Leoni. Membiarkan mereka berbicara secara pribadi.
“Congratz, ya!” Leoni memberi selamat.
“Kau juga.”
“Mau ngobrol?” tanya Leoni.
“Boleh.”
“Ma, Leoni ke taman dulu ya.”
“Iya, Papa Mama tunggu di mobil ya.” Kanna membalas teriakan anak gadisnya. Leoni melambai ringan. Ia menyeret Levin ke taman sekolahan, mencari tempat yang lebih sepi untuk berbincang.
“Kau mau masuk ke SMA mana?” tanya Leoni, keduanya duduk di bangku besi bercat hitam.
“Belum tahu, kalau kau?” Levin menatap Leoni, Leoni menyisir rambutnya yang mulai memanjang ke belakang telinga.
“Aku akan masuk SMA khusus seni. Mengambil jurusan stone crafter. Mencoba menggeluti hobiku dengan lebih serius.” Leoni menunduk, disaat ia memutuskan meraih impiannya, Levin malah kehilangan impian itu, dan itu karena dirinya. Andai saja Leoni tidak terlalu bodoh dan naif sampai terjebak tipu daya Farel, tentu saja saat ini Levin telah menentukan tujuan hidupnya.
“Selamat deh!” Levin tersenyum, wajah Leoni menghangat melihat senyuman Levin.
Leoni sampai sekarang tak pernah sadar bahwa ia telah menyampaikan isi hatinya pada Levin saat ia mengantuk. Ia juga tak pernah tahu bahwa Levin mencuri ciumannya sebanyak tiga kali saat tertidur.
“Ah, bekas lukanya panjang sekali.” Leoni mengelus bekas luka Levin, jahitannya sepanjang 20 cm lebih. Mata Leoni berkaca-kaca, bekas luka itu juga karena dirinya.
“Terlihat keren kan?” Levin mencoba menenangkan hati Leoni.
“Keren apanya?!” Leoni mengusap matanya yang mulai berair.
“Aku juga pernah melukaimu sampai berbekas. Anggap saja adil, kau telah membalasku.” Levin menepuk pundak Leoni yang juga ada bekas luka karena terjatuh dari sepeda.
“Hiks ...!” Leoni merangkul Levin, ia menangis. “Maafkan aku, Vin. Maaf.”
“Cup ... cup ... cup ...! Nanti ingusmu nempel di seragamku.” Levin menepuk punggung Leoni.
Leoni tertawa dengan cara Levin menyuruhnya berhenti menangis. Macam bocah ingusan saja. “Seragammu sudah tak akan terpakai lagi! Ini hari terakhir!” selak Leoni, ia menghapus air matanya. Masih sesunggukkan tapi sudah jauh lebih baik.
Keduanya kembali menikmati hembusan angin dari pohon mangga yang rindang. Leoni membetulkan anak rambut. Setelah tenang dan tak lagi menangis Leoni menatap lagi ke arah Levin.
“Aku tak membawa hadiah apa pun untukmu!” jawab Levin.
“Minta kancing paling atas seragammu saja sebagai hadiah.”
“Kenapa?” Levin terperangah dengan permintaan Leoni yang aneh, kancing seragam?
“Kata Papa, di Jepang ada mitos kalau mendapatkan kancing seragam teratas dari orang yang .... eum .... pokoknya ada deh alasannya.” Leoni tak sanggup mengatakan apa alasannya. Tangannya melepaskan kancing seragam milik Levin. Gadis itu mencoba untuk mencabutnya, tapi susah.
— Hanya Mitos dari komik yg pernah author baca, dapat kancing paling atas akan jadian langgeng dengan orang itu (kancing melambangkan ikatan). Kebenarannya tidak bisa dipastikan. Jadi jangan hujad author karena ini hanya fiksi 🙏🏻 —
“Ini!” Levin mencabut kancingnya dengan mudah, lalu memberikannya kepada Leoni. Mata Leoni berbinar bahagia.
“Jangan berikan sisa kancing lainnya pada orang lain, OK!!” tukas Leoni.
“Kalau kau mau aku akan memberikan semuanya kepadamu.” Kikih Levin.
“Nggak, satu saja. Makasih ya.” Leoni menyeringai senang.
“Lalu apa hadiah untukku?” Levin menyeringai licik.
“Kau juga mau kancingku?” Leoni melirik ke arah Levin, masa iya dia tertarik dengan mitos itu juga?
“Nggak, aku nggak butuh kancingmu. Untuk apa?” Levin bergeleng.
“Aku akan memberimu hadiah besok,” ucap Leoni.
“Maunya sekarang.” Levin menarik bahu Leoni, kini pandangan keduanya kembali bertemu.
“Aku tak membawa apapun saat ini,” sergah Leoni.
“Berikan saja apa yang menempel pada tubuhmu.” Levin mendaratkan sebuah ciuman di bibir Leoni. Bibir Levin terasa basah dan hangat. Leoni berkedip beberapa kali saat Levin mulai melumatt bibirnya dalam.
Bagaimana ini? Leoni kebingungan, apa yang harus ia lakukan? Leoni tak pernah berciuman sebelumnya. Levin terus mengullum bibirnya, membuat Leoni kehabisan napas. Leoni terlalu kaget, ia bahkan tak sempat menarik napasnya.
“Kenapa diam saja? Katanya mau memberiku hadiah?” Levin menghentikan ciumannya.
“Eee .... i ... itu, bagaimana aku harus membalasnya?” Wajah Leoni merah padam.
“Cukup pejamkan matamu, nikmati, biarkan nalurimu yang bekerja.” Levin menangkup wajah Leoni, ia mulai mendaratkan lagi bibirnya. Kali ini Leoni menurut, ia memejamkan matanya. Menikmati lumattan mesra dari bibir Levin. Leoni mulai bergerak, membalas ciuman dalam dari Levin.
Tangan Levin bergerak turun, mengelus leher Leoni, semakin turun ke depan dadanya.
“Kau mau apa?” Leoni tertegun. Hello ... mereka baru saja lulus SMP!! Masa iya mau niruin adegan di bukunya Levin.
“Pikiranmu jorok pasti!” tuduh Levin.
“Trus ngapain tangannya turun?” Leoni nggak mau kalah.
Levin tak menjawabnya, ia kembali mencium dan menikmati bibir Leoni, mengulumm dalam-dalam bibir kucing manisnya. Tangan Levin kembali ke depan dada, ia mencabut satu buah kancing dari seragam Leoni.
“Akh!!!” Leoni mencengkram seragamnya yang terbuka.
“Kita impas.” Levin tersenyum sambil menaik turunkan alisnya.
“Mulai sekarang kau kekasihku, Singa!!” Levin melepaskan jaket dan memberikannya pada Leoni. “Jangan berikan kancingnya pada siapa pun juga!!” Levin menggandeng tangan Leoni. Rasa hangat menjalar sampai ke relung hati Leoni, menjalar dalam bentuk getaran pelan yang berdesir sampai perutnya terasa geli.
“Siapa yang setuju jadi kekasihmu?” Leoni meledek Levin. Levin menghentikan langkahnya, lalu menatap lamat Leoni. Gadis itu tersenyum manis seraya berkata, “Katakan dulu kalau kau cinta padaku! Baru aku mau jadi kekasihmu.”
“Aku cinta padamu!! AKU CINTA PADAMU!! AKU CINTA PADAMU, SINGA!!!” teriak Levin, Leoni mendelik galak, semua anak-anak memandang ke arah mereka. Berkasak-kusuk. Leoni padahal berniat menggoda Levin, malah Levin yang berbalik menggodanya.
“Puas?” Levin terkikih.
“Sialan!!” umpat Leoni.
“Sekarang mau jadi pacarku?”
“Mau!!” Leoni memukul kepala Levin.
“Dasar Bar-bar.” Levin bergeleng.
“Yang penting kau suka.” Leoni menggenggam erat tangan Levin.
...— MUSE S7 —...
...Hei, mon maaf ya. Sekarang MUSE update tiap hari RABU saja....
...Selamat menikmati kemanisan Levin dan Leoni....
...💋💋💋💋💋...