MUSE

MUSE
JULIUS BINTORO



MUSE


EPISODE 6


JULIUS BINTORO


\~Rasa-rasanya lensa kameraku tidak akan pernah cukup menangkap indahnya mahakarya buatan Tuhan ini.\~


Tiriri tiririri...


Bunyi jam waker membuatku terbangun, jam masih menunjukan pukul 1 dini hari. Aku memang sengaja menyetelnya tengah malam. Dengan sedikit malas, ku angkat tanganku untuk mematikan jam itu. Bunyinya sangat mengganggu, selera Darren terlalu jelek dalam memilih barang.


“Oke, mari bersiap,” gumamku.


Aku mengambil handuk dan bergegas mandi. Mandi adalah cara terbaik untuk menyadarkan tubuhku yang masih lelah dan mengantuk. Setelah mandi aku mengambil beberapa buah tomat dan melahapnya, tak lupa susu low fat yang biasa ku minum langsung dari kotaknya.


Setelah kenyang aku mengambil semua perlengkapan perangku. Kamera cek, lensa cek, batre cadangan cek, tripod mini cek. Oke let's rock!


Namaku Julius Bintoro, seorang pengusaha muda dengan prestasi gemilang. Umurku baru 28 tahun hlo, muda, keren, dan berbakat. Semua orang menganggapku sempurna, sehingga aku selalu menunjukan kesempurnaanku kepada mereka. Kadang lelah juga untuk tampil selalu sempurna, tapi lama-lama jadi kebiasaan.


Aku merupakan anak tunggal dari sebuah keluarga terpandang, ayahku cukup kaya untuk memberiku modal. Tapi jangan salah, semua yang aku punya adalah hasil keringatku sendiri.


Aku mengambil jaket kulit dan kunci motor kesayanganku. Aku berjalan ke arah garasi, melewati beberapa mobil sport koleksiku dan akhirnya sampai pada motor ka****ki H2 yang baru saja ku beli. Darren pengurus rumahku sudah menungguku dengan helm racing di tangannya.


“Thx, Darren.”


“U're welcome, Sir.”


“Mari berpetualang, sayang.” Aku mencium motor kesayanganku sebelum melesat pergi meninggalkan rumah.


Udara malam terasa begitu dingin dan jalanan begitu sepi, benar-benar cocok untuk mengebut dan bersenang-senang dengan motorku.


Aku menghentikan laju motorku di kaki gunung, dan menitipkannya di sebuah pos pendakian. Setelah memastikan semuanya oke dan peralatan lengkap aku mulai menyelusuri jaur pendakian.


Inilah hobiku yang nggak banyak orang tahu. Aku adalah fotografer dengan pen name lifeangel. Di dunia maya aku begitu aktif memamerkan semua hasil fotoku. Mulai dari pemandangan, binatang, tumbuhan, dll. Tapi aku memang seorang pecinta alam, aku suka foto-foto tentang alam. Di dunia maya juga namaku sebagai seorang fotografer cukup terkenal hlo.


Setelah puas menjepret beberapa hewan noktunal aku menunggu sun rise di kaki gunung. Warna jingga yang begitu indah menyembul keluar dari belahan bumi lainnya selalu terlihat menyilaukan mata.


“Ya, Tuhan, indahnya ciptaanmu,” rasa-rasanya lensa kameraku tidak akan pernah cukup menangkap indahnya maha karya buatan Tuhan ini.


—MUSE—



(Credit to owner)


•••


“Pagi, Tuan, sarapannya sudah siap.” Darren mengetuk pintu kamarku.


Kepalaku masih terasa berat saat beranjak dari kasur, membuatku sedikit limbung ke kanan.


“Aku ingin kembali ke tempat tidur,” keluhku.


“Tuan jadi pembicara seminar hari ini.” Darren mengingatkanku.


“Ah, iya.. aku lupa. Ya, sudah aku mandi dan turun ke bawah.” Aku menepuk pundak Darren beberapa kali sebelum masuk ke kamar mandi.


“Baju apa yang mesti saya siapkan, Sir?” tanyanya sebelum meninggalkanku.


“Yang penting bukan piyama.”


Tik tik tik.. sambil sarapan aku mengutak atik pad untuk menbuat beberapa caption sebelum pict-pict cantik ini ku unggah ke medsos. Akhir-akhir ini pint**s dan Ins***ram menjadi media paling populer. Setelah puas dengan caption aku klik tombol upload and yes.. Belum lama saja sudah ada ratusan like, aku memang berbakat.


Aku terkikih dan senyum-senyum sendiri, membuat Darren pun ikutan tersenyum.


“Ada hal baik, Tuan?”


“Huum. Like like like,” senyumku padanya.


Yah karena kesibukanku di kantor aku sudah semakin jarang melakukan hobbyku ini. Jadi mau bagaimana lagi? Aku sungguh sangat bahagia saat punya kesempatan untuk melakukannya.


“Kau simpan kekasihku dengan baik, ya,” pintaku pada Darren sebelum berangkat menuju Royal Green University.


“Siap, Tuan.”


(Kekasih 1 \= kamera, kekasih 2 \= motor)


Aku mengisi seminar hari ini dengan baik, bagiku berbagi ilmu merupakan sebuah kesempatan membalas kebaikan Tuhan. Dia memberikan otak dan kemampuan, serta hasil yang baik dalam pekerjaanku.Soaku harus membalas kebaikan Tuhan lewat berbagi dengan sesama. Berbagi uang tidak akan membuat mereka sukses, tapi dengan berbagi ilmu orang tetap akan punya umpan untuk mencari ikan.


“Terima kasih, Pak.” ucap seorang panitia seminar.


“Sama sama. Senang bisa diundang sebagai pembicara.”


“Kehormatan kami, Pak. Anda mau datang.”


“Iya.”


“Mau minum kopi dulu, Pak?” tanyanya ramah.


“Sory, aku terburu-buru, ada pekerjaan di kantor yang harus ku selesaikan.” Aku menolak undangannya dan bergegas keluar aula.


Aku menuruni beberapa tangga menuju parkiran motor khusus karyawan. Aku sengaja memarkirkan motorku di tempat yang sepi supaya nggak ada orang iseng yang menaikinya atau berfoto dengannya. Jangan sampai kekasih ke duaku ini lecet di tangan orang-orang yang tak bertanggung jawab.


Tapi ternyata keadaan tak sesuai dengan harapanku, aku melihat motorku jatuh tepat di depan mataku. Kekasihku... sial.. ngapain sih tu cewek pake nyandar-nyandar segala?


“Hei.. apa yang kau lakukan pada motorku?” seruku marah.


“Ma..maaf aku nggak sengaja.” jawabnya lirih, tangannya masih grayangan, matanya seperti rabun.


“Ini motor kesayanganku, aku baru saja membelinya.” Aku membalasnya dengan nada tinggi. Jujur saja siapa yang nggak marah kalau barang kesayangannya disakiti?


“Aku sungguh minta maaf, aku beneran nggak sengaja. Aku pasti akan mengganti kerusakannya.” Dia menundukan kepalanya, terlihat takut kepadaku.


“Sudahlah aku harus bergegas.” Aku melirik jam di tanganku, aku sudah hampir terlambat untuk meeting.


“Tunggu! Ini no ponselku. Aku akan membayar ganti ruginya.” gadis itu menyerahkan secarik kertas padaku.


Aku memandangnya sejenak sebelum menerima kertas darinya. Ternyata dia sangat putih, seluruh tubuhnya putih, rambutnya, alis, sampai bulu matanya pun putih. Sekilas aku bisa melihat bola matanya yang berwarna Violet, warna mata yang sangat jarang.


Aku memasukan kertas itu ke dalam saku celana dan bergegas pergi meninggalkannya.


—MUSE—


.


.


.


“Capek sekali.” Aku bergelayut manja di kursi kerjaku.


Hari ini sungguh apes, motorku lecet parah dan harus masuk ke bengkel. Untuk beberapa hari kedepan aku nggak bisa menaiki kekasihku itu.


“Ini jus anda, Tuan.” Darren meletakan sebuah gelas panjang dengan cairan berwarna hijau di dalamnya.


Aku habiskan jus kale dalam satu kali minum. Ternyata rasanya tak seburuk baunya yang menyengat.


“Thx, Darren.”


“Sama-sama, Tuan.”


Darren meninggalkanku sendiri di ruang kerja. Aku membuka laptop untuk melihat-lihat akun medsosku.


Skrolll skrolll..


Comment comment..


Saxxxxi : good, sukak banget sama karyanya.


Djxxxxxy : bagus banget..


Lonxxxxrl : pameran donk min.


Katxxxx89 : jual pemutih baju dan wajah.


...


...


...


“Pameran, pameran terdengar menarik. Apa aku bikin pameran aja, ya?” gumamku, tanganku masih asyik menscroll mouse dan menurunkan layar.


Aku merogoh kantong celana untuk mengambil ponsel dan menemukan secarik kertas dengan deretan angka.


“Hmm.. nomer cewek tadi, ya?” Aku mengingat-ingat kembali pertemuanku dengan si gadis putih itu.


“Isengin ah,” dengan cepat jari jemariku mengetik chat untuknya.


Julius:


Hai.


Aku yang punya motor tadi


Katanya kau mau bertanggung jawab.


“Balasannya lama banget.” Aku mulai bosan menunggu balasan saat tiba-tiba terdengar chat masuk.


Lenna:


Hai juga.


Maaf sebelumnya.


Motor kamu mahal sekali.


Kira-kira berapa biaya betulinnya?


Oh ternyata gadis ini ngerti juga kalau kekasihku itu barang mahal.


Julius:


Siapa namamu?


Mahasiswa?


Jurusan?


Lenna:


Iya mahasiswa


Jurusan Bisnis.


Uang sakuku nggak banyak


Di cicil boleh?


“Dicicil? Lu pikir bank plecit,” seruku geli.


“Bohongin ah, seru kayaknya.”


Julius:


Biayanya nggak mahal kok


Cuman 50 juta aja.


Bisa kok dibayar pake cara lain.


Lenna:


50 juta?


Cara apa, Om?


“Eh sialan panggil 'OM' lagi!” umpatku sebal.


Julius:


Pake tubuh


Gimana mau ngga?


...


...


...


Nggak ada balesan.


Ah bodo amat, padahal aku cuman mau jadiin dia model aja karena unik dan menarik.


Olah raga bentar dulu deh trus mandi.


—MUSE—


Like, comment, and +Fav


Follow dee.meliana for more lovely novels.


❤️❤️❤️


Thank you readers ^^