
MUSE S3
EPISODE 133
S3 \~ ENDING
\~ Tanpa kesalahan kita tak akan pernah belajar, tanpa air mata kita tak akan pernah mengerti arti sebuh senyuman. Tanpa mengampuni kita tak akan pernah tau arti kata kasih. Tanpa memaafkan dirimu sendiri kau tak akan pernah bisa mengerti betapa berartinya hidupmu bagi orang lain.\~
___________________
“Kembalilah padaku, Kanna.”
“Leon?”
“Aku masih dan selalu mencintaimu. Aku akan memperbaiki semuanya, Kanna.” Aku mencium pergelangan tangan Kanna.
“Apa aku masih bernilai? Aku pernah menjadi istri orang, Leon.” Kanna tertunduk malu. Dia terus menganggap dirinya tak berharga.
Aku memeluknya, membagi dekapan hangat dalam keheningan, “tak ada yang menganggapmu tak berharga, Kanna.”
“Maaf, Leon. Aku tak bisa egois, kau berhak bahagia, juga mendapatkan wanita baik,” jawab Kanna.
“Aku bahagia bersamamu. Lagi pula siapa yang akan menjagamu?”
“Aku bisa menjaga diriku sendiri, Leon.”
“Tidak, Kanna. Aku yang akan menjagamu. Aku yang akan membuatmu bahagia. Kita jalani lagi dari awal. Kita perbaiki semuanya kembali berdua dari awal, ya.” Aku berlutut di hadapannya, menggenggam tangan Kanna yang dingin. Menenangkan jari jemarinya yang saling tertaut karena gugup.
“Leon.”
— MUSE S3 —
Sudah beberapa hari Kanna berada di sanggar milikku. Kanna tak punya tujuan untuk pulang. Diapun belum menjawab ajakanku untuk berbaikan kembali. Dia bilang masih belum bisa melupakan kesalahannya padaku, pada Zean, pada orang tuanya, dan pada Leona.
Tapi sebenarnya, Kanna tidak bersalah pada kami. Dia bersalah pada dirinya sendiri, dia hanya tak menyadarinya. Andai saja Kanna bisa memaafkan dirinya, dia pasti akan mampu mengusir rasa bersalah yang terus menghantuinya.
“TIDAKK!!! MAAF!! MAAF, sayang!” Kanna terus terbangun dan berteriak histeris.
Ia terus mengacak-acak rambutnya, memukul dirinya sendiri, bahkan tak jarang menerawang kosong sampai akhirnya nekat mengambil benda tajam.
Aku terpaksa menyembunyikan semua benda-benda tajam keluar dari pandangan Kanna. Tak jarang aku terpaksa mengurungnya di dalam kamar, takut dia berbuat macam-macam dan melukai dirinya sendiri.
“Buka!! Huhuhu..., buka!! BUKA LEON!!” Kanna berteriak sambil menggedor-gedor pintu kamar. Aku merosot di depan pintu kamar, hatiku terasa sakit melihat batinnya tersiksa.
Beberapa kali aku memanggil dokter jiwa ke rumah, melakukan terapi kejiwaan pada Kanna. Kanna terserang depresi parah, dan hampir gila. Akupun semakin frustasi dibuatnya, bukan karena Kanna yang menggila, namun karena aku tak bisa melakukan apapun untuknya. Semua ini salahku, kenapa aku dulu melakukan hal bodoh itu. Kini aku menyesalinya.
“Sudah, Kanna, jangan menangis lagi, ya!” Aku mendekap erat tubuhnya yang kini kurus kering.
“Leon, aku bersalah padamu. Aku membunuhnya!! Membunuh anak kita! Kenapa aku mesti berlari ke jalanan? Kenapa Leon?!” Kanna meraung-raung, hatinya pasti sangat menderita.
“Kau tidak salah, Kanna.”
“Aku salah Leon. Aku salah!!! Hukum aku Leon. Pukul aku, ya!! Salahkan aku!!” Kanna mencengkram kaosku, dia menghantamkan dahinya pada dadaku beberapa kali. Mungkin bagi Kanna, hukuman adalah cara paling mudah baginya untuk melupakan kematian Leona.
“Kanna!!” Aku mengangkat wajahnya, menyelipkan kedua telapak tanganku pada tengkuknya. Aku membuatnya memandang diriku.
Air mata Kanna terus mengalir, lingkaran matanya mulai cekung dan menghitam. Bisa ku lihat hidungnya sembab karena terlalu banyak menangis. Kanna tak berani memandangku, ia mengalihkan bola matanya ke arah lain.
“Lihat aku, Kanna!! ARKANNA!!”
“Hiks ...!”
Aku langsung menciumnya, melumatt bibir tipisnya. Membuatnya meronta perlahan sampai akhirnya diam dan memilih untuk menikmatinya.
“Benar begitu, Kanna. Rasakan saja, rasakan saja betapa kau berharga untukku.” Aku kembali mencium bibirnya, kali ini lebih dalam dan berirama.
Detak jantungku semakin cepat, melaju seiring dengan deruan napas kami yang semakin terasa berat.
“Kemari, ikutlah denganku!” Aku menggandeng tangan Kanna. Kanna menurut, dia mengekor di belakangku.
“Ambil ini, Kanna!” Aku memberikan sebongkah tanah liat pada telapak tangannya. Kanna hanya terdiam dan memandang tanah liat itu.
“Apa kau masih ingat dulu saat kita SMA, ada beberapa orang mengejekmu? Kau sedih dan menangis, lalu aku mengajakmu membuat sebuah vas bunga?” tanyaku.
“Iya.” jawab Kanna.
“Ayo kita buat lagi vas bunga itu, Kanna.”
Aku bergegas duduk di depan meja putar, tanpa menunggu izinnya aku menariknya masuk dalam pangkuanku. Kanna meletakkan bongkahan tanah liat itu di atas meja putar. Aku memercikkan sedikit air ke atasnya.
“Kau lihat, Kanna. Tanah liat ini begitu pucat, kotor, dan tak berbentuk.”
“Benar.” jawab Kanna.
“Sama seperti manusia, Kanna. Tak ada manusia yang terlahir sempurna. Mereka harus mengalami kesulitan dan pergumulan hidup. Sama halnya dengan meja ini.” Aku memutar mejanya dan meletakkan tangan Kanna pada bongkahan tanah liat. Membentuknya menjada badan sebuah vas.
Perlahan bejana itu terbentuk dengan rapi membentuk tabung panjang. Kanna terdiam, ia terus memperhatikan putarannya, memperhatikan tangannya yang bergerak mengikuti instruksiku.
“Lalu, dengan goresan dan torehan, bejana itu perlahan punya wujud dan juga karakter. Namun, semuanya belum memiliki nilai.” Aku menghentikan meja putar, memotong bagian ujung bawah dengan senar, lalu mengangkatnya ke tungku perapian. Kanna diam dan terus memperhatikan tindakkanku.
“Bejana itu harus di bakar dalam suhu yang sangat panas, Kanna. Agar dia merekat sempurna dan tak mudah pecah.” Aku berjongkok di hadapannya, menggenggam erat tangannya.
“Leon...,” Kanna kembali meneteskan air matanya.
“Itulah proses kehidupan Kanna. Tak ada manusia yang terlahir sempurna, kesalahan, keburukan, dan masalah hiduplah yang membentuk jiwa manusia. Semakin kuat dan semakin indah.” Aku menggandengnya, menuju ke tempat pengecatan.
“Setelah dibakar, bejana itu masih harus dikikir, di lukis, sampai akhirnya dipoles dengan sempurna. Maka barulah dia punya nilai seni dan nilai materi,” senyumku.
Aku membantu Kanna mencuci tangannya, wajah Kanna mulai terlihat lebih cerah. Senyumnya kembali mengembang dan menatapku dengan hangat. Aku ingin dia kembali menjadi Kanna yang dulu, yang imut dan juga penuh kelembutan.
“Mungkin semua ini proses kehidupan kita, Kanna. Untuk menjadi barang yang indah dan bernilai. Tanpa kesalahan kita tak akan pernah belajar, tanpa air mata kita tak akan pernah mengerti arti sebuh senyuman. Tanpa mengampuni kita tak akan pernah tau arti kata kasih. Tanpa memaafkan dirimu sendiri kau tak akan pernah bisa mengerti betapa berartinya hidupmu bagi orang lain. Khususnya aku.”
“Hiks, Leon.” Kanna memelukku dengan erat, menangis terisak-isak. Aku menepuk punggungnya lembut.
“Menangislah, Kanna. Buanglah semua penyesalan lewat air matamu. Buanglah semua amarah dan benci dengan isakanmu. Lalu bangkit dan mulailah semuanya bersamaku...,” air mata ikut mengalir dengan deras membasahi wajahku.
Kanna mengangguk, dalam isakkannya dia terus mengucapkan kata maaf, memaafkan dirinya sendiri.
“Aku mencintaimu, Kanna.” Aku mengecup bibirnya lembut.
“Aku juga mencintaimu, Leon.”
— MUSE S3 END —
Wah MUSE S3 TAMAT
Nantikan epilog-nya ya
Terus bagaimana kesan dan pesannya?
Cerita ini ada kisah nyatanya hlo.
Versi nyata:
Kanna begitu depresi karena tubuhnya gemuk setelah melahirkan 3 orang anak. Lalu Zean berselingkuh darinya. Kanna depresi berat sampai menjadi seorang bulimia akut. Lalu ditolong oleh Leon yang adalah mantan pacarnya.
Tapi bedanya, Zean meminta maaf. Kanna kembali pada Zean dan menjadi istri yang cantik kembali. Tapi tetap dengan bulimia yang dia idap, juga trauma psikis yang luar biasa. Kanna sangat cantik dan membuat semua orang kagum, walaupun jauh di dalam hatinya dia pasti sangat tersiksa.
Sebagai wanita kita memang harus menjaga kecantikan diri dihadapan suami. Karena tubuh istri adalah kepunyaan suami. Berolah raga, tetap sehat, tampil bersih dan cantik saat suami pulang kerja, itu adalah bentuk sebuah kecantikan. Baik suamipun hendaklah mencintai istrimu, kalau memang ingin tampil cantik dukung dia dengan apa yang kamu punya, seperti kata-kata semangat, ucapan sayang, atau olah raga bersama. 🤗🤗
Oh, ya, gaes! Melayani dengan tulus dan tunduk pada perkataan suami adalah bentuk dari kecantikan yang sejati. Belajarlah tunduk pada suamimu gaes, dia akan mencintaimu dengan segenap hati.
Memang menjadi wanita itu berat, orang bilang menjadi cantik itu sangat menyakitkan. Padahal sebenarnya Tuhan menciptakan semua wanita cantik apa adanya.
Belajarlah dari pengalaman hidup Kanna.
Mau gendut, kurus, langsing...
Mau lurus, keriting, ikal...
Mau putih, coklat, hitam...
Mau sipit, belok...
KALIAN BERHARGA GAES!!!!
Terus enaknya MUSE lanjut nggak nih ke S4?
Kalau cerita anak-anaknya Arvin saya buat bakalan bosen nggak?
Ada Inggrid-Keano —> angel and demon
Ada Nick-Bella —> unconditional love
Ada Gabby-Ivander —> revenge
Ada Levin-Leoni —> school life.
Oke gaes, see you next episode.
Jangan lupa baca novel saya yang lain!
Bagi cinta untuk banyak orang.
Jadikan hidup berarti untuk sesama.
Love, dee
❤️❤️❤️