
MUSE S6
EPISODE 22
S6 \~ TEGANG
\~ Jauh di dalam hati Adrian ia pernah memendam rasa cinta pada sosok Gabby, ia menepisnya karena hati Gabby hanya tertuju pada Krystal. Sekarang, sepeninggalan Krystal, lagi-lagi Gabby memberikan hatinya untuk orang lain.\~
________________________
“Setelah aku sampai di kamar 1405, aku sudah menemukan Krystal tergeletak tak bernyawa. Seluruh tubuhnya memar dan ada pisau yang menancap.” Pandangan Adrian kosong, penyesalan merengkuh hatinya karena terlambat datang.
“Lalu?? Kenapa kau tak mengatakan yang sejujurnya??” Gabby meneteskan air matanya.
“Krystal menyuruhku memfitnah Ivander. Sebagai adik aku tak tega, sebagai sahabat aku tak bisa menolak permintaan terakhirnya. Jadi aku meminjam emosimu, Gabby. Aku meracuni hatimu agar membenci Ivander.” Adrian ikut meneteskan air matanya. Kegalauan membuatnya bimbang, ia terpaksa mengikuti sekenario yang telah disiapkan oleh Krystal.
“Kau jahat!!!” Isak Gabby lemas. “Kalian jahat!” Gabby bahkan tak menyangka bahwa orang yang sudah mati pun bisa punya andil dalam sekenario perkara ini. Gabby merasa hina, ia begitu membenci Ivander dulu, untung saja ia tak berhasil membunuh pria yang dicintainya itu. Coba saja ia berhasil membunuh Ivander, tentu saja tak terbayangkan penyesalan yang akan dirasakannya kelak.
“Maka dari itu, aku menyesal, aku memintamu untuk tidak meneruskan kasus ini. Tidak menuntut balas pada Ivander.” Adrian mengusap wajahnya kasar, rasa yang bercampur aduk di dalam hatinya membuatnya menggila. Wajah Adrian terlihat lega, pada akhirnya ia bisa mengatakannya secara jujur kepada Gabby.
“Tapi Krystal dibunuh, Dri!! Bagaimana caranya bunuh diri dengan menancapkan pisau?” Gabby melihat ke arah foto pisau yang menancap di dada Krystal. Ada yang aneh, sepertinya tidak biasa. Tapi apa??
“Kau benar, ia tak mungkin mengakhiri hidupnya sendiri dengan pisau yang menancap di dada. Terlalu susah untuknya, terlalu beresiko, ia akan merasakan rasa sakit yang tak terbayangkan.” Adrian ikut mengamati foto mengenaskan itu.
“Aku akan menginap di kamar 1405 malam ini.”
“Kau yakin??” Adrian tampak syok.
“Aku harus menemukan kebenaran kasus ini, aku telah berjanji kepada Krystal.” Gabby menghapus air matanya, mengumpulkan semua foto dan memasukkannya ke dalam tas. Ia lalu bangkit hendak keluar dari ruangan Adrian.
“Gabby!” Panggil Adrian.
“Ya?”
“Apa Ivander sudah berhasil mendapatkan hatimu?” tanya Adrian ragu.
“Iya.” Angguk Gabby.
“Baguslah, selamat, ya.” Adrian menunduk lesu, jarak untuknya untuk mendapatkan pengakuan dari Ayahnya semakin jauh.
“Adrian.” Gabby memeluknya, “selama ini aku mengenalmu sebagai pribadi yang baik dan menyenangkan. Kau tak harus menjadi seperti Ivander untuk mendapatkan simpati siapa pun.” Gabby melepaskan pelukkannya, memandang lekat ke arah Adrian.
“Bagaimana bisa?! Mamaku menyuruhku untuk ....”
“Ssssttt ....!” Gabby menyela kalimat Adrian, “lakukan untuk dirimu sendiri, Adrian. Jangan untuk Mamamu. Ivander keras kepadamu juga bukan karena Mamamu, tapi karena dia sayang kepadamu. Ia ingin kau sukses dengan tanganmu sendiri.”
“Apa menurutmu aku bisa sukses?”
“Tentu saja, Adrian, asal kau percaya pada dirimu. Pergilah dari bayang-bayang Ivander, lakukan apa yang kau sukai.” Gabby mengecup pipi Adrian.
“Aku suka otomotif.”
“Maka jalanilah! Ini hidupmu! Bukan hidup orang lain.” Gabby tersenyum, Adrian ikut tersenyum.
Adrian melepaskan tangan Gabby dan merelakan wanita cantik itu pergi dari ruangannya. Jauh di dalam hati Adrian ia pernah memendam rasa cinta pada sosok Gabby, ia menepisnya karena hati Gabby hanya tertuju pada Krystal. Sekarang, sepeninggalan Krystal, lagi-lagi Gabby memberikan hatinya untuk orang lain.
“Bye, Gabby!”
— MUSE S6 —
Kembali ke kamar 1405, Gabby masih menerka-nerka sendiri. Ia beberapa kali juga keluar masuk kamar untuk mengecek bagian koridor, lift, dan letak CCTV.
Gabby yang tengah fokus dengan penyelidikkannya tak menyadari kehadiran seseorang. Ia telah mengamati Gabby semenjak datang ke hotel ini. Bersembunyi di balik tikungan dinding foye, area blind spot sebelum menuju ke lift. Ia terus mencoba untuk mendekati Gabby, sedang menunggu saat yang tepat.
Hening, telalu hening, hanya suara langkah kecil kaki Gabby dan napasnya yang terdengar. Mendadak Gabby merasa merinding, bulu kuduknya berdiri. Apa lagi AC koridor semakin terasa dingin karena di luar sedang turun hujan deras. Gabby menggosok tengkuknya yang berdesir. Tiba-tiba sekelebat bayangan dan langkah kaki membuat Gabby tersentak.
“Siapa??” jengit Gabby, ia langsung menoleh pada sumber suara.
“Selamat malam, Nona.” Ternyata hanya seorang bell boy yang kebetulan lewat setelah selesai mengangkut barang tamu lain. Ia terlihat mendorong troli, karpet membungkam suara roda troli.
“Hah ...! Aku kira siapa?” Gabby menghela napas lega.
Lebih baik aku kembali ke kamar, batin Gabby, ia agak merinding juga dengan suasana sepi seperti ini.
Lorong lantai 14 kebanyakkan berisi kamar-kamar suite, jarang ada orang biasa yang menginap di sini karena sudah pasti orang-orang kaya yang mengisinya. Dan kebetulan hari ini juga bukan hari libur, tak ada yang menginap untuk menghabiskan liburan. Paling hanya beberapa petinggi perusahaan yang sedang dinas dan membutuhkan kamar suite yang datang ke lantai 14.
Dengan kasar Gabby menghenyakkan pantatnya pada tepi kasur. Menenangkan hatinya yang ketakutan dengan segelas air putih. Tak ada apapun, namun jantungnya berdebar tak karuan. Mungkin karena kaget, mungkin juga karena ia terlalu tegang.
“Shit!!” umpat Gabby, ia mengambil biolanya, mencoba memainkan biolanya dengan santai, mengusir ketakutannya.
Mungkin karena terlalu terburu-buru, Gabby lupa untuk mengecek pintu kamarnya, ternyata pintu belum terkunci sempurna. Sepasang mata terlihat memandang punggung Gabby dari celah-celah pintu, mengamati dengan seksama, seakan menunggu kesempatan untuk membekap Gabby dan menghabisinya.
Suara biola membuat hati Gabby sedikit tenang. Ia memainkannya perlahan, mengalunkan melody yang paling disukai oleh Krystal. Suaranya menyayat hati Gabby, lagu ini penuh dengan kenangan indah antara dirinya dan juga Krystal.
Krrriiittt ...!
Srak ... Srak ...
Langkah kaki mengagetkan Gabby, ia tersentak. Namun terlambat, belum sempat Gabby menoleh seseorang telah berdiri di belakangnya. Memeluknya spontan.
“AAAKKH!!” jerit Gabby ketakutan.
“Hei?!” Ternyata Ivander yang memeluknya. Ia heran karena Gabby menjerit begitu kencang,
“Hah ... hah ... hah ...!” Gabby mengatur napasnya yang tersengal, mencoba menghentikan ketakutan yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
“Kau tidak apa-apa?” Ivander menepuk punggung Gabby.
“Tidak, aku hanya kaget.” Gabby menarik napasnya sepanjang mungkin.
“Kau membuatku ketakutan, Ivander!! Kenapa tidak bersuara?!” Gabby terjatuh lemas di atas tempat tidur.
“Hmm, kau bermain biola, dan aku tak ingin merusak suaranya. Jadi aku sedikit mengendap-endap saat masuk.” Ivander terkikih.
“Sialan! Aku benar-benar hampir mati berdiri karena kaget!” Gabby mengelus dadanya.
“Lagi pula kenapa kau tak mengunci kamarnya? Kenapa juga kau menginap di kamar ini sendirian?” Ivander menatap sekeliling, kini suasana kamar itu tak lagi sama, terasa dingin dan menyesakkan karena pernah ada pembunuhan di dalamnya.
“Aku ingin segera menemukan kebenaran tentang kematian Krystal.” Gabby tertunduk, mendekap erat lututnya.
“Aku sedang mengumpulkan informasi juga, Gabby. Ini daftar tamu yang menginap di hotel ini saat kejadian itu terjadi.” Ivander menyerahkan beberapa lembar kertas pada Gabby.
“Park Jae Hyung???!!” Gabby membelalak kaget tak ayal menemukan nama yang tidak asing pada pengelihataannya juga menginap di hotel yang sama. Mungkinkah?!
“Siapa dia?” tanya Ivander.
“Tunangan Krystal. Mereka berpisah karena Krystal lebih memilih dirimu yang brengsek!” cerca Gabby.
“Ah, begitu.” Ivander menggaruk kepalanya, merasa tak enak pada Gabby.
“Dia menginap satu malam? Kamar 1410? Satu lantai.” Gabby semakin mencurigai Jae Hyung, pilot berkebangsaan Korea, juga mantan tunangan Krystal. Dia punya motif kuat untuk membunuh Krystal.
“Kau mau aku mengumpulkan informasi tentangnya?” Ivander duduk di samping Gabby.
“Tentu saja, Van!” Gabby mengangguk mantap. Sepertinya secerca harapan untuk menangkap pembunuh Krystal mendapatkan titik terang.
“Baiklah. Sekarang kau beristirahatlah! Malam sudah larut.” Ivander bangkit, menutup pintu kamar dan hendak menguncinya, “lain kali pastikan pintunya terkunci!” Ivander menutupnya, namun seakan pintu itu tak mau terkunci.
“Sepertinya handelnya agak los, biar besok maintenace yang mengurusnya.” Ivander tak ambil pusing, dia menutup pintu dengan sentekkan besi. Kini pintu tertutup sempurna.
“Pantas saja kau bisa masuk, setahuku aku sudah menutupnya, ternyata loss, ya,” tungkas Gabby.
“Dasar, apa pihak hotel tidak memeriksanya? Ck, apa mereka selama ini makan gaji buta?!!” geram Ivander, sebagai pemilik ia merasa malu ada ketidak beresan yang fatal pada hotelnya.
“Sudahlah, Van. Kemarilah, aku butuh pelukkanmu.” Gabby memanggil Ivander masuk dalam dekapannya, Ivander dengan senang hati menurut, ia juga merindukan kekasih cantiknya ini.
“Bagaimana kau tahu aku kemari?” tanya Gabby.
“Adrian yang memberitahuku.”
“Ow, begitu.”
“Dia memintaku menemanimu dan menjagamu,” tutur Ivander.
“Dia orang yang baik. Kau harus menyayanginya! Jangan keras-keras padanya, OK?” Gabby mencubit hidung Ivander.
“Oke, asal kau memberikan servis ekstra padaku malam ini, Schatz!!” Ivander melepaskan pelukkannya seraya mencopot kaos dari tubuh atletisnya.
“Dasar!” Gabby menurut, ia mengecup perut keras Ivander yang berlutut di atas kasur, tepat di depannya.
“Yeah, Baby, so wie das.!” Ivander mengerang pelan saat Gabby memainkan kecupan panasnya pada perut Ivander, geli namun membuatnya ketagihan.
“Kini giliranmu!” Gabby mencopot pakaian bagian atasnya, Ivander mengeringai, dengan segera ia membubuhkan sesapan-sesaapan nikmat pada sekujur tubuh Gabby. Dimulai dari leher, turun ke dada, dan perakhir pada lubang paling pribadi miliknya. Membuat Gabby mendesaah tak karuan menikmati cumbuh Ivander.
“Argh!!” rancauan dan derak kenikmatan lagi-lagi menutup malam indah mereka. Menghempaskan sejenak pemikiran akan kematian Krystal.
— MUSE S6 —
MUSE UP.
Sudah hampir Klimaks!!
Ditunggu ya, semoga bisa membuat kalian semakin tegang dan gak sabaran tahu siapa pembunuhnya.
Hehehe 😘😘
Like comment vote