MUSE

MUSE
S2 ~ NEW



MUSE S2


EPISODE 83


S2 \~ NEW


\~ Dengan bekerja aku bisa mengalihkan pikiranku dari sosok dirinya. Dengan bekerja aku bisa menyibukkan diriku dan membunuh waktu yang seakan berhenti saat aku tak bersamanya.\~


•••


“Pulanglah, Ngga. Obati lukamu!” Aku menyuruh Angga pulang. Sudah seharian dia menemaniku, saatnya dia beristirahat dan memulihkan dirinya juga.


“Baiklah aku pulang. Tapi kau jangan lupa makan, ya.” Angga memberikan syarat kepadaku.


“Iya. Aku akan makan.”


“Aku akan kemari lagi besok.” Angga mengelus rambutku.


Aku hanya membalasnya dengan seulas senyum dan anggukan pelan. Anggapun ikut tersenyum sebelum beranjak meninggalkan kamar apartemenku.


Aku keluar menuju balkon. Ternyata senja sudah mulai terlihat. Memancarkan warna jingga yang begitu cantik. Andai saja aku bisa menikmati senja seperti ini tanpa perasaan yang terluka, aku pasti akan tersenyum bahagia.


Rasa gundahku saat ini, membuatku harus menikmati senja dengan penuh linangan air mata.


— MUSE S2 —


•••


Aku melihat pantulan diriku pada cermin di kamar mandi. Melihat tubuhku dengan perasaan ngilu. Bagaimana tidak? Kiss mark yang di berikan Arvin begitu banyak dan membekas ungu kebiruan.


Aku meraba satu per satu bekas sesapannya, mulai dari leher, dada, perut, lengan, lalu naik lagi pada wajahku. Pipiku terlihat bengkak sebelah karena memang Arvin menamparku cukup keras semalam. Dia menamparku karena aku tak mau mengatakan bahwa aku adalah wanitanya, miliknya.


Ya, Tuhan. Kalau memang dia sakit, kenapa dia tak mengatakannya kepadaku dari awal? Kenapa aku harus mengetahuinya setelah semua ini terjadi? Hatiku terluka, Tuhan. Hatiku sakit...!





Aku memeluk lututku di atas ranjang, menyandarkan kepalaku di atasnya. Aku melihat bulan bersinar begitu terang. Bulan purnama memang cantik. Sayangnya terlalu pucat dan dingin.


Aku melirik pada jarum jam, sudah pukul 10 malam. Aku tidak bisa tidur, memejamkan matapun aku tak sanggup. Karena saat memejamkan mata, aku seakan-akan mengulang kejadian memilukan kemarin malam. Kejadian yang begitu menyesakkan hati dan jiwaku.


“Kenapa bayangannya nggak mau hilang?”


Aku melirik ke arah ponsel, tidak ada kabar apapun dari Arvin. Aku bukannya ingin mendengar permintaan maafnya ataupun kembali padanya. Aku hanya ingin tau, apakah dia baik-baik saja?


Apa dia sudah sadar?


Apa dia sudah mendapatkan pengobatan?


Kenapa aku masih memikirkannya?


Menyebalkan.


Aku memandang gelang pemberiannya yang melingkar pada pergelangan tanganku. Bisa ku ingat tatapan matanya yang penuh cinta saat memasangkan gelang ini padaku. Juga tatapan bahagia pada wajahnya yang begitu tampan.


Huft...,


Haruskah aku membuang gelang ini juga?


Atau mungkin aku kembalikan saja?


— MUSE S2 —


•••


Aku terlalu lelah menangis sampai akhirnya tertidur. Tiba-tiba saja fajar telah menyingsing, membuatku berkedip karena kemilau cahayanya masuk ke dalam kamar dan menusuk mata.


“Ah, sudah pagi.” Aku bangun dan menguap beberap kali.


Aku tidak boleh terus-terusan mengasiani diri sendiri. Aku pernah kehilangan orang-orang yang aku cintai dan aku berhasil bertahan. Jadi walaupun sekali lagi aku harus kehilangan orang yang ku cintai, aku pasti bisa melaluinya.


“Sudah sedikit kempes,” ku elus wajahku, memarnya sudah menghilang, jauh lebih baik dari kemarin. Salep pemberian dokter itu memang ampuh.


“Mandi dan berangkat bekerja! Ayo semangat Kalila!!! Kau pasti bisa melaluinya,” teriakku pada diri sendiri.





Kriiincling Kliiing.... 🎶


Aku masuk ke dalam cafe, Melody dan Caca memandangku dengan iba. Mereka sudah tau, aku memberi tau mereka kemarin saat aku izin tidak berangkat ke cafe.


“Kemari, La.” Melody membuka lengannya. Aku berjalan masuk ke dalam pelukannya, menangis lagi. Tak ku sangka aku akan mengasihani diriku lagi.


“Aku nggak nyangka Om Ganteng setega itu.” Caca ikut memelukku.


“Hiks...,”


“Sudah, La. Lebih cepat kau tau, akan lebih baik bukan?”


“Iya, Boss. Kak Mel, benar. Kalau sudah menikah baru tahukan repot.” Caca mengelus punggungku.


“Iya, mungkin lebih baik kalau begini,” kataku sambil terisak.


Benar kata mereka, semakin cepat aku tau sifat asli Arvin semakin lebih baik. Bayangkan kalau dia melakukan kekerasan seperti ini setelah kami menikah, bukankah itu akan sangat menyakitkan? Merasakan siksaan setiap harinya.


“Sudah, yuk, kita harus bekerja.” Melody melepaskan pelukkannya dan mengusap wajahku.


“Tidurlah di apartemenku, La. Setidaknya sampai hatimu jauh lebih baik.” Melody menawarkan bantuannya.


“Iya, Thanks, Mel,” jawabku, aku berhutang banyak hal pada Melody. Dulu saat aku terpuruk dan ingin bunuh diri, Melodylah yang menyelamatkanku. Dia yang memberikanku kekuatan dan membantuku bangkit. Menata hidup baru dan berjuang bersama.


Krrriingggcling Kling... 🎶


“Welcome to Palette cafe.”


“Hallo.” Angga terlihat masuk dan menyapa kami.


“Angga?” Melody dan Caca bersitatap.


“Butuh karyawan tambahan? Boleh aku bekerja di sini?!” Angga duduk di depan meja bar.


“Aku tak kuat membayar salary -mu,” jawabku.


“Cukup kau bayar dengan senyuman manismu, Kalila.” Angga terkikih dan menyahut apron coklat dari tanganku.


“Ih, ciyeee....” goda Melody.


“Wah, daebak! Bisa cuci mata tiap hari, nih.” Caca terkekeh.


“Dasar kalian ini.” Aku hanya bisa menghela napas panjang, dan mengizinkannya.


Akhirnya Angga ikut bekerja di cafe saat ini. Suasana cafe jauh lebih hidup dengan kedatangan Angga.


Semoga ini bisa menjadi sebuah awal baru yang baik.


— MUSE S2 —


Namanya juga cinta..


Di bayar pake senyuman mau-mau aja donk yah...


Duh kangen Arvin nih,


Siapa yang kangen juga? ✋🏻


Kira-kira Arvin udah sembuh belom ya?


Mamanya bakalan nikahin ARVIN sama Diana nggak ya??


Like & comment-nya ya readers..


Jangan Lupa VOTE MUSE


I lap yu readers


❤️❤️❤️