MUSE

MUSE
S3 - POOR ME



MUSE S3


EPISODE 125


S3 - POOR ME


\~ Ketika aku merenungkan semua ini, menarik benang kusut untuk kembali lurus. Ternyata semuanya ini terjadi hanya karena egoku, karena obsesiku, karena kehausanku akan pujian dan pengakuan.\~


_______________


“KANNA!! ARKANNA!!” Dua orang lelaki di sisi kanan dan kiri memanggil namaku.


“KEMBALIKAN!! Dia anakku!!” teriak Leon.


“Kau membohongiku Kanna??? Dia bukan anak kita...?!!” Zean berteriak, wajahnya sayu dan kecewa.


“TEGANYA DIRIMU KANNA!!!” teriak Zean.


“KEMBALIKAN DIA!!” teriak Leon.


SREEETTT...!


Mataku terbelalak lebar. Aku langsung terbangun, mimpi buruk itu kembali menghampiriku. Keringat dingin membanjiri sekujur tubuhku. Aku terus memimpikan Leon yang meminta anak ini, juga Zean yang kecewa padaku.


Hoek!! Hoek!!


Aku kembali muntah, memuntahkan makanan yang tadi malam aku makan. Sisa makanan membanjiri lantai. Menimbulkan bau tak sedap.


“Kanna?!” Zean ikut terbangun, ia mengelus punggungku. Aku malah berjengit karena takut.


“Kenapa kau setakut ini, Kanna? Kau baik-baik saja?” Zean mengerutkan dahinya.


“Maaf aku hanya kaget. Aku akan membersihkan muntahanku.” Aku mencoba bangkit, namun Zean menahan tanganku.


“Biar aku saja, kau duduk saja, bahaya kalau terpeleset.”


“Tapi, Zean...,” tak mungkin aku menyuruh Zean membersihkan barang kotor yang keluar dari tubuhku.


“It’s OK, Kanna. Bayi kita yang menyebabkan semua kekacauan kecil ini. Setidaknya aku bisa ikut menjaga si kecil dengan menjagamu.” ucapan Zean membuatku menangis. Ya, Tuhan Zean, kenapa kau begitu baik padaku?? Aku telah menipumu, ini bukan anak kita.


Zean bangkit dan membawa perlengkapan bersih-bersih. Kami memang baru saja pindah ke rumah yang baru, jadi belum punya ART. Kami melakukan segala sesuatunya berdua, walaupun kadang sesekali Mama datang dan membantuku membereskan rumah.


“Besok kita cari ART, ya, Zean.”


“Aku sudah menyuruh Orela mencari ART. Tapi memang susah kalau dizaman seperti ini. Mereka lebih memilih bekerja di pabrik atau cleaning servis.” Zean dengan cekatan membereskan semuanya.


“Aku bantu, Zean.” Aku turun dari ranjang dan hendak ikut mengelap, namun Zean malah memelototiku.


“Dibilang jangan!!” Zean marah.


“Tapi...,”


“Kanna!! Kau tidak perlu sungkan padaku! Sekarang aku suamimu.” Zean melarangku, ia kembali menyelesaikan semuanya.


Kini lantai kembali bersih dan Zean telah kembali dari kamar mandi. Ia merebahkan diri dan mencoba untuk kembali tidur. Zean mencium perutku sebelum memejamkan mata.


“Selamat malam jagoan!” ucap Zean.


“Memangnya kau tau kalau dia laki-laki?” kikihku.


“No problem. Laki-laki ataupun perempuan, anakku pasti jadi jagoan yang hebat. Sekarang banyak film tentang super woman juga kau tau?!” Zean menjawab dalam tidurnya.


“Hahaha, kau benar.” Aku merosot rebah dan mencoba untuk kembali tertidur.


— MUSE S3 —


•••


Aku memandang rintikkan air hujan dari bangku taman. Aku sering melamunkan Leon belakangan ini. Mungkin bawaan bayi, mungkin dia rindu kehadiran Papa aslinya. Hanya aku yang mengetahui kalau anak yang ku kandung adalah anak Leon. Baik Papa dan Mamakupun tak ada yang tau. Bahkan Leonpun tak pernah ku beri tau. Percuma memberi taunya karena dia pasti akan menganggapku berbohong. Baginya aku adalah wanita murahan yang sering tidur dengan Zean karena uang dan harta.


Usia kandunganku kini memasuki bulan ke lima, yang artinya sudah hampir 6 bulan. Kalian taukan aku berbohong pada Zean. Aku membuat usia kandunganku lebih muda 3 minggu dari usia sebenarnya.


Aku sudah tak lagi mual dan muntah sejak semester pertama berlalu. Nafsu makanku terus melonjak drastis. Aku selalu lapar, bahkan di tengah malampun aku kelaparan. Mama banyak membawakanku makanan dan juga sup penambah tenaga. Belum lagi obat-obatan dan vitamin dari dokter yang membuat bayiku semakin sehat.


Awalnya aku ingin menggugurkan anak ini setelah menikah dengan Zean. Aku benci karena rasa mual dan muntah terus sja melanda saat hamil muda. Aku tak tahan dengan siksaannya.


Namun bulan berganti bulan dan anak ini tumbuh semakin menguat di dalam rahimku. aku melihat perkembangannya dari layar monitor USG, hal ini membuat jiwa keibuanku mulai tumbuh. Aku mulai menyayanginya. Walaupun tak pernah ada rasa cinta saat Leon membuatnya, namun dia adalah benih hasil cintaku kepada Leon, dan aku akan menjaganya.


Dengan melonjaknya nafsu makanku, maka melonjak pula berat badanku. Kalian pasti tau kalau berat badanku susah terkontrol. Aku sudah naik hampir 17 kilo di semester ke dua ini. Tubuhku mulai tambun, timbunan lemak menonjol di mana-mana. Aku juga semakin buruk rupa karena perubahan hormonal. Kulitku menjadi kusam dan berjerawat, kering dan juga pucat. Aku malas berdandan dan lebih memilih untuk menghabiskan waktu dengan beristirahat. Punggungku sangat pegal, dan kakiku bengkak, jadi aku hanya berdiam diri di dalam rumah.


Zean sekarang sedikit bersikap dingin terhadapku. Mungkin karena aku tak pernah menggubris ajakannya melakukan hubungan intim. Aku tak ingin Zean melukai anak ini, juga tak ingin Zean melihat tubuhku yang semakin hari semakin tak berbentuk. Tubuhku yang gendut membuatku susah untuk bergerak, jangankan bermain cinta, berjongkok untuk berkemih saja semakin susah rasanya.


Aku sama sekali tak menanggapi sikap Zean yang semakin dingin. Bagiku saat ini hanya ada aku dan bayiku. Aku lebih memilih mengelus perutku, mengajaknya berbicara, dan membacakan dongeng dibanding dengan melayani suamiku, memenuhi kewajibanku sebagai seorang istri.


“Hallo, jagoan! Mamamu makan apa saja hari ini? Dia semakin gendut saja.” ledek Zean, dia mengajak perutku berbicara. Telingaku panas mendengarnya, memang kenapa kalau aku gemuk?


“Apa maksudmu, Zean?” Aku menaikkan nada suaraku.


“Lihat dirimu, Kanna. Kau semakin hari semakin gemuk.” Zean menjawab ucapanku. Wajahnya tampak tidak puas dengan caraku berbicara.


“Aku begini karena hamil,” kataku membela diri.


“Benar!! Kau berubah karena hamil. Aku tidak masalah! Tapi setidaknya perbaiki dirimu! Pakai pakaian yang bagus, sisir dan tata rambutmu! Pakai skin care yang aman! Sambut suamimu pulang dengan wajah yang cantik dan berseri! Bukan daster* rombeng dan wajah kusut seperti ini!” Zean menghujaniku dengan berbagai wejangan.


(|* baju tidur model rok.)


Memang benar aku tak pernah merawat diriku saat ini, sepertinya sudah menjadi bawaan bayi, aku tak pernah suka berdandan.


“Zean!! Katanya kau mau menerimaku apa adanya?” teriakku.


“Jangan memutar balikkan ucapanku, Kanna!!!”


“Jadi kini kau tak lagi cinta karena aku gendut?!” Aku mulai terisak, wanita hamil benar-benar mudah terbawa suasana.


“Kanna!!!” Zean marah, nada suaranya sangat tinggi.


“Baiklah, kalau kau tak lagi mencintaiku.” Aku menangis dan masuk ke dalam kamar.


Tidak hanya satu dua kali pertengkaran ini terjadi. Hampir setiap hari Zean marah padaku dan aku marah padanya. Hatiku yang tak pernah mencintainya dengan tulus membuatku tak pernah merasakan rasa sakit yang sebenarnya. Hanya rasa sakit karena trauma masa lalu tentang body shamming yang membuatku menangis.


Aku tak pernah menganggap Zean, aku tak pernah merasa mencintainya, sampai suatu saat aku merasa benar-benar merasa kehilangan dirinya. Dan semua itu sudah terlambat, aku kehilangan segalanya karena kesalahanku sendiri.


— MUSE S3 —


•••


Pagi ini langit tampak begitu gelap. Awan petang menyelimuti angkasa. Hujan selalu menyimpan kenangan akan masa-masa indah sekaligus menakutkan. Selain kenangan akan Leon, aku juga mengingat kenangan akan Zean yang mencintaiku sepenuh hati.


Aku tersadar bahwa semua ucapan Zean tidaklah salah. Tubuh istri adalah milik suami, kebijaksanaan istri adalah mahkota suami. Penampilannya adalah cerminan suami. Sebagai istri seorang pengusaha aku tak sepantasnya terlihat berantakan.


Aku melepaskan semua pakaianku. Menggosok seluruh tubuhku dengan lulur dan sabun yang lembut. Aku mengoleskan body butter dengan aroma mawar yang manis. Aku juga menyisir rambutku dan mengucirnya rapi ke belakang. Tak lupa aku memoleskan bedak dan juga lip tint.


Aku bergegas turun, berharap bisa melepaskan kepergian Zean ke kantornya dengan senyuman yang manis. Namun terlambat, Zean sudah berangkat. Hanya terlihat Bi Sidah yang sedang membereskan piring kotor di atas meja makan.


“Tuan sudah berangkat, buru-buru, katanya ada meeting.” ucap Bi Sidah sebelum aku sempat bertanya.


“Oh, begitu,” nada kecewa keluar dari mulutku. Padahal aku sudah berdandan cukup cantik.


“Eh, Non. Ini amplop Tuan ketinggalan.” Bi Sidah tergesa-gesa menghampiriku.


“Dasar, Zean. Dia teledor sekali.” Aku tersenyum, ini kesempatanku untuk mengantarkan dokumennya.


Aku langsung kembali ke dalam kamar, memoles wajahku dengan sentuhan make up. Aku mencari baju paling cantik dan menyemprotkan parfum yang wangi. Walaupun sekarang aku gendut, tapi penampilanku cukup modis.


“Cantik banget, Kak. Hamil berapa bulan?” tanya si sopir ojol basa-basi.


“Sudah hampir 6 bulan,” kataku jujur.


“Laki-laki atau perempuan?”


“Perempuan.”


“Wah, pasti cantik kaya Mamanya.”


“Hehehe, makasih,” jawabku senang. Mendengar pujin di pagi hari membuat moodku semakin bagus.


“Papanya pasti seneng, saya juga punya anak perem..., bla, bla, bla,” lelaki muda itu berbicara panjang lebar.


Aku hanya terdiam, Papanya tak pernah mengetahui keberadaanya. Bagaimana dia bisa merasa bahagia saat anak ini lahir? Tanpa sadar air mataku menetes, aku cepat-cepat menghapusnya dengan punggung tangan.


“Kok nangis?”


“Terharu.” Aku berbohong.


“Sudah sampai, Kak. Semoga lancar persalinannya.”


“Terima kasih,” senyumku sembari menutup pintu mobil.


Aku berjalan menuju ke ruang CEO, ruang kerja Zean yang terletak di paling ujung koridor lantai 4. Semua pegawai menyapaku dengan senyuman manis. Mereka tau kalau aku adalah nyonya boss di tempat ini.


Aku memantapkan langkah kakiku, menghapus kesedihan yang bersarang di dalam hatiku karena teringat akan sosok Leon di dalam taxi tadi.


Ku tarik nafas dalam-dalam sebelum menekan handle pintu ruang kerja Zean. Namun dari dalam ruangan terdengar samar-samar desahan seorang wanita. Desahan rasa nikmat itu bercampur dengan rancauan Zean.


DEG...! Jantungku kembali berdebar tak karuan.


Apa yang terjadi di dalam?


Apa Zean mengkhianatiku?


Apa Zean berselingkuh?


Aku membuka pelan pintu, mencoba untuk mengintip ke dalam ruangan itu.


“Lebih dalam, Zean!” suara wanita itu terdengar lirih. Aku mengenalinya, dia Orela, sekertaris Zean.


Mereka berdua melakukan hubungan menjijikan itu di dalam kantor. Bercumbu mesra di atas sofa.


Aku mundur beberapa langkah, tubuhku mulai limbung. Hatiku terasa begitu sakit, tanganku terasa lemas sampai tasku terjatuh. Menimbulkan suara yang menarik perhatian.


“Siapa?” Zean berteriak dari dalam.


Aku tak ingin Zean mengetahui keberadaanku, aku melingsut dan berlari pergi.


Aku menyelusuri koridor demi koridor. Lantai demi lantai. Mempercepat langkah kakiku. Perutku terus mulas dan mengencang karena rasa takut dan tegang. Aku keluar dari gedung perkantoran dan terus berlari, menjauh pergi secepatnya. Aku tak ingin melihatnya, aku tak ingin mendengar kalimat apapun keluar dari mulutnya.


Hatiku begitu sakit...


Air mataku tak berhenti mengalir...


Keringat membasahi tubuhku...


Perutku semakin kencang dan kaku...


Putriku meronta, ia menggeliat di dalam perut. Memprotes kelakuan Mamanya...


Aku tak peduli, aku hanya ingin pergi, ingin berlari dari kenyataan pahit ini...


Hujan mulai turun. Membasahi semua pakaianku, rasa dingin mulai menghujam dan membuatku bergetar hebat. Namun dinginnya hujan tak memperlambat laju langkahku. Aku terus menembusnya, berlari menyelusuri tiap jalan demi jalan. Aku tak punya tujuan, aku tak punya arah, dan aku ingin meyerah!! Aku ingin....,


Tiiiiinnnn.......


BRUUUKKK....!


Sebuah mobil menabrak tubuhku, membuatku terpental dan berguling pada jalanan licin.


Aroma anyir darah tercium pekat. Hujan deras menyapu darah yang keluar dari balik rokku. Mataku masih terbuka lebar. Melihat langit gelap yang menyelimuti angkasa.


Aku bahkan tak bisa merasakan rasa sakitnya. Aku bahkan tak lagi bisa merasakan denyutan nadinya pada perutku.


Baik Leon...


Baik Zean...


Baik bayi ini...


Baik tubuh dan jiwaku...


Semuanya telah meninggalkan aku...


Kini, hanya kekosongan, air mata, penderitaa, dan luka batin yang ku terima.


Oh, Poor Kanna.


Ketika aku merenungkan semua ini, menarik benang kusut untuk kembali lurus. Ternyata semuanya ini terjadi hanya karena egoku, karena obsesiku, karena kehausanku akan pujian dan pengakuan.


Harusnya aku tetap menjadi Kanna yang gendut, Kanna yang mirip Bab1. Kanna yang mencintai Leon dan Kanna yang dicintai Leon.


Oh, Poor me...


Kini...


Kau kehilangan semuanya Kanna.


Kau kehilangan segalanya...


Lalu demi apa?


Demi apa aku begini?


— MUSE S3 —


😭😭😭😭


Menangislah Kanna.. menangislah dalam dekapanku.


Author enaknya hiatus pas lebaran nggak nih??


MUSE UP!!


YUK DUKUNG CINTA KANNA DAN KISAH HIDUPNYA.


VOTE, LIKE, dan COMMENT


PASTIKAN KALIAN PENCET TOMBOL LIKE DAN VOTE YA BAE!!!


Terima kasih sudah membaca,


Terus Sebarkan rasa cinta untuk banyak orang. Dan berbuat baik bagi sesama


Love,


Dee ❤️❤️❤️