
MUSE S5
EPISODE 29
S5 \~ HERO
\~ I’m Knight of the Queen \~
___________________
AUTHOR POV
“Namanya, Aiden.”
Setelah melahirkan, Bella merawat si kecil Aiden dengan penuh kasih sayang. Bella memberinya nama Aiden yang berarti nyala api kecil, Aiden memang memberikan Bella seberkas cahaya ketika dunianya terasa begitu gelap gulita. Aiden-lah yang memberinya kekuatan dan keinginan untuk bertahan hidup.
Namun, ternyata perjalanan menjadi seorang mama muda tidaklah mudah. Bella yang saat itu masih berusia 18 tahun benar-benar kalut dan stress. Melahirkan dan merawat anak di usia muda tidaklah semudah yang Bella bayangkan. ASI nya bahkan tidak keluar, terpaksa Bella memberikan susu formula pada Aiden kecil. Belum lagi saat Aiden sakit, rewel, dan juga merenggek. Bella benar-benar kualahan.
Walaupun dibantu oleh bibi Elise, namun Bella tak ingin merepotkan bibinya yang sudah tua, apa lagi baby Aiden terlihat sangat aktif dan juga pintar.
Sampai suatu ketika uang pemberian Lucas semakin menipis. Saat itu Aiden berusia dua tahun, Bella mulai meninggalkan Aiden untuk bekerja menjadi pelayan rumah makan, kasir mini market, sampai menjual makanan keliling dibantu oleh Sekar. Semua dilakukan oleh Bella agar Aiden hidup berkecukupan.
Aiden akan masuk ke PAUD sebentar lagi, Bella harus menghasilkan uang agar pendidikan anaknya terpenuhi. Belum ditambah harga susu yang kian melejit karena Aiden minum sangat banyak. Aiden tipe anak yang lebih suka minum susu dari pada makan makanan padat.
“Duh, lelahnya.” Bella merenggangkan kakinya.
“Istirahat dulu, Bell.” Elise mendekati Bella dengan segelas air putih hangat.
“Siapa mereka, Aunty?” Bella memandang ke arah dua orang pria berwajah asing yang sedang asyik mengobrol di sanggar.
“Murid Yoga sekaligus teman, Aunty. Mereka dari benua seberang. Mereka dulu kemari hanya untuk berbulan madu, tapi akhirnya jatuh cinta dengan pulau ini dan menetap di sini,” jawaban Elise hampir membuat Bella menyemprotkan air dari dalam mulutnya.
“Mereka berbulan madu?? Kan laki-laki dengan laki-laki?” lirih Bella di telinga Elise.
“Ck, itu hal biasa di sana, Bella. Ayo kita temui mereka. Mereka sangat ramah dan juga baik.” Elise mengajak Bella bertemu dengan teman-temannya.
“Ini keponakanku, Bella.”
“Wah, cantik sekali kau, Nak. Perkenalkan, namaku William dan ini kekasihku Mark.” Seorang pria yang dengan potongan undercut dan kumis tipis menyapa Bella, gerakannya memang sedikit gemulai bila dibandingkan lelaki pada umumnya.
“Ha-halo, Uncle.”
“No, not uncle, call me Will, Sweety!” Dia menolak Bella memanggilnya dengan sebutan paman. Sedangkan pria kekar dengan rambut botak di sampingnya hanya diam.
Mereka mengobrol cukup lama, Bella menceritakan semua pengalaman pahitnya dan bagaimana dia harus berjuang demi Aiden belakangan ini. William menceritakan juga bahwa dia dulu adalah penari tiang di club khusus gay. Sampai akhirnya dia bertemu dengan Mark dan menikah, kini William hanya menggunakan ilmunya untuk melatih para dancer muda.
“Apa kau mau belajar pole dance, Bella? Aku bisa mengajarimu, kau bisa mencari uang dengan mudah karena cantik dan tubuhmu sangat indah.” William menawarkan Bella keahliannya.
“Tidak!! Jangan jadi wanita malam, Bella,” sergah Elise, dia tak ingin keponakannya menempuh jalan yang salah.
“Ck, Elise, kau terlalu kaku. Belum tentu penari juga menjual diri!! Lagi pula semua pilihan untuk menjadi baik atau buruk tergantung Bella sendiri.”
“Ucapan Will tidak salah, Aunty. Biarkan Bella mencobanya.” Bella tersenyum dan menggenggam tangan Elise.
Bella memang tak tertarik dengan dunia malam, namun mendengar penghasilan yang bisa diraupnya dalam sekali pentas membuat Bella tergiur. Toh sudah tak ada lagi yang harus dia pertahankan selain anaknya saat ini. Elise tak ingin nama Bella dicap sebagai wanita murahan dan juga j4lang. Namun Bella adalah seorang wanita yang sudah memiliki anak dan hidup tanpa suami, sudah dari dulu orang-orang menganggapnya sebagai wanita j4lang.
“Bella titip Aiden ya, Bella akan pulang setiap hari Senin dan Selasa,” ujar Bella.
Akhirnya Elise merelakan keponakkannya mengais rupiah di club-club malam pusat kota. Dengan bermodal wajah cantik, tubuh indah, dan kemampuan pole dance yang pas-pasan Bella meniti karirnya dalam dunia ini.
Bella semula hanya menerima gaji kecil, namun dia tak putus asa. Ia terus mempelajari gerakan-gerakan dansa dari William. Tak jarang otot-ototnya terluka, tak jarang pula Bella hampir menyerah. Apa lagi banyak pria yang mengganggunya, menawari Bella uang mereka agar dia mau melayani tidur satu malam.
Bella selalu menolak dan akhirnya menimbulkan keributan di dalam club malam. Pihak managemen akhirnya memutuskan kontrak sepihak dengan Bella. Nyatanya bekerja dalam industri hiburan malam pun tak semudah yang Bella bayangkan. Ia tak bisa menjadi tetap bersih saat mencelupkan diri di tengan-tengah kotoran.
“Berat juga!!” Bella mengeluh, ia menangkupkan tangannya di depan wajah. Menangis dalam kesendiriannya, ingin menyerah pada keadaan, mungkin bukan tempatnya di panggung ini, mungkin bukan tempatnya di dunia ini.
“Tidak, aku tidak boleh menyerah!! Demi Aiden!!” Bella mengelus gambar wajah bayi laki-laki tembem pada layar ponselnya.
Dengan segera Bella kembali bangkit, mengambil acang-ancang untuk latihan dan menari. Dengan sisa uang dari Lucas, Bella menyewa sebuah rumah kecil di pusat kota. Ia memasang tiang untuknya berlatih setiap hari. William dan juga Mark yang melihat betapa besarnya dedikasi Bella akhirnya memutuskan untuk membantu Bella. Mark menjadi bodyguard dan manajer Bella. Sedangkan William mencarikan Bella job dan juga melatihnya.
Bella tak pernah menanda tangani kontrak lebih dari tiga bulan dengan sebuah club. Bukannya tidak ingin menetap, tapi Bella tak ingin ada orang yang menyadari keberadaannya. Tak ingin kehebohan yang bisa mengundang keluarganya di kota S. Namun, yang paling Bella takutkan adalah Lucas mengetahui keberadaannya dan datang untuk merebut Aiden.
Bella juga mengajukan syarat agar pihak club menyita semua alat rekam dan ponsel milik tamu yang masuk untuk melihatnya. Tujuannya tetap sama, agar Lucas tak bisa menemukannya.
— MUSE S5 —
Kini sudah empat tahun Bella menjalani profesinya sebagai seorang pole dancer. Nama panggungnya BQ semakin terkenal orang. Tak jarang tamu-tamu VIP menyuruh Bella untuk datang dan menuangkan minuman pada mereka. Bella menurut, ia menuangkan alkohol dan mengobrol dengan mereka.
Bella harus berusaha berbaur dan menjadi kotor, tak bisa selamanya menjadi bersih kalau lingkungannya saja kotor, bukan? Selama dia tak harus menjual diri dan terjerumus pada obat-obatan terlarang Bella masih mentorerirnya. Lagi pula, Mark selalu berjaga di sampingnya dengan wajah garang.
Kontrak terakhirnya membawa Bella menemui Nick malam itu. Bella tak memperpanjang kontraknya terlebih dulu karena sudah berjanji akan membawa Aiden jalan-jalan berlibur ke pantai saat libur sekolah.
“Mami ... Mami ... Aiden mau jeruk!” Aiden menunjuk ke arah para pedagang buah pada pasar dekat pantai.
“Iya, Mami beliin, tapi Aiden temenin Nini* Elise dan Aunty Sekar dulu, OK?!” Bella mencubit pipi anaknya yang gembul. (|* nenek.)
“OK, Mami. Aiden mau yang manis, ya, semanis senyuman Aiden.” Aiden menunjuk kedua pipinya dengan jari telunjuk, membuat Bella gemas dan langsung memeluk tubuh mungil putranya.
“Ah, kecil-kecil kok narsis sih?!”
“Hihihi ... biar Mami tersenyum.”
Setalah puas mengusik rambut Aiden, Bella menyuruh Aiden berlari ke arah Nini dan juga Aunty -nya, kembali bermain pasir pantai. Membuat istana dari pasir bersama dengan Sekar.
Bella berjalan menyelusuri area para pedagang. Ia terlihat cantik dengan balutan kain pantai dan juga tank top kuning. Di telinganya terselip sebuah kelopak bunga jepun. Keindahan kelopaknya melengkapi kecantikkan alami mama muda satu ini.
Bella tak sengaja menjatuhkan beberapa buah jeruk yang dipilihnya karena ada seekor semut nakal yang menggigit sela jarinya. Jeruk itu menggelinding dan terhenti pada kaki seorang pria seumurannya. Pria itu tak lain adalah Nick yang kebetulan melintas untuk mencari air mineral.
Nick memandang Bella, Bella pun mendekat dan memandang ke arah Nick. Hidung yang mancung, bibirnya yang merekah, dan juga rambut hitamnya selalu berhasil membuat banyak orang terkesima. Nick memang tampan dan sedikit manis karena wajahnya mirip dengan Kalila. Semakin tampan dengan kaca mata hitam, balutan kemeja pantai, dan celana jeans rapped pendek.
“Wah, terima kasih, aku tak sengaja menjatuhkannya,” Bella menghampiri pria jangkung di depannya. Tangannya menerima jeruk dari Nick.
Wajah Nick seketika mengeras, ia terkesiap saat mendengar suara Bella, ia merasa mengenali suara itu. Bukankah suara itu adalah suara dari wanita yang sedang dicarinya beberapa hari belakangan ini?
“My Queen?” sergah Nick, ia menarik siku lengan Bella dengan tangan kirinya.
“Ya?!!” Bella kaget, ia melirik ke arah jemari Nick yang mencegahnya pergi. Ada tanda lahir yang mirip dengan bintang pada buku jari tengahnya. Bella langsung bisa mengenali tanda itu dengan baik. Dia adalah pahlawan yang menyelamatkannya dulu. Tanpa Nick, mungkin Bella sudah kehilangan Aiden.
“Ini aku,” jawab Nick sambil melepaskan kaca mata, “apa aku bilang!! Kita pasti bertemu lagi, My Queen!!”
Bella tersenyum, ia tak habis pikir dengan segala kebetulan yang terjadi. Padahal Sabtu malam lalu Bella baru saja menolak kehadiran Nick dalam hidupnya, namun kenapa pagi ini dia begitu merasa besyukur bisa bertemu dengan Nick. Mungkin karena Bella akhirnya bisa membalas budi pria penyelamatnya ini?!
“Hai,” sapa Bella. Ia melepaskan kaca mata hitamnya dan memandang Nick dengan binar mata yang menyiratkan rasa rindu dan juga penantian.
“Emp ... apa ada sesuatu di wajahku?” Nick jadi bingung dan canggung.
“Iya, boleh.”
“Apa empat tahun lalu kau pernah menyelamatkan seorang gadis saat hujan deras? Kau memboncengkannya?” Bella memberikan jeruk pada pedagang dan membayarnya.
“Ehm ..., menyelamatkan seseorang?” Nick berpikir sambil mengingat-ingat.
“Iya, saat itu hujan, tubuhnya penuh lumpur dan darah.” Bella memandang Nick dengan antusias.
“Ah, iya, pernah, rumahnya di alamat inikan?! Aku tak bisa melihat wajahnya karena saat itu hujan sangat deras.” Nick menjabarkan ingatannya.
Seulas senyum manis langsung terkembang di wajah cantik Bella. Ada rasa bahagia memenuhi hatinya karena bisa bertemu dengan pahlawan penyelamat hidupnya dulu.
“Tapi memangnya kenapa?” tanya Nick bingung.
“Aku wanita itu,” jawab Bella.
“Oh, ya???!” Nick pun kaget, tak pernah menyangka ada kebetulan seperti ini, “kenapa dunia begitu sempit? Hahaha ...!”
“Iya, dunia begitu sempit. Aku tak pernah menyangka bisa bertemu denganmu. Oh, iya, siapa namamu kemarin?” tanya Bella.
“Jahat!! Kau sudah melupakan namaku, My Queen.” Nick merajuk.
“Hei!! Kau terlalu tua untuk ngambek.” Bella terkikih, Nick juga.
“Namaku, Nicholas, biasa dipanggil Nick atau Nicky, kau bisa memanggilku dengan salah satunya, asalkan jangan kau panggil aku dengan sebutan d*ck!” Nick tertawa renyah dengan guyonannya sendiri.
“Bisa saja kau!! Oh, ya, Nick, apa kau kemari untuk berlibur?!”
“Tidak, aku kemari untuk bersekolah. Aku kulih di institut seni, juga membuaka toko kecil-kecilan.” Nick membawakan belanjaan Bella.
“Tidak usah, aku bisa membawanya.”
“Tidak apa-apa, sudah tugas pria.”
Mereka berdua berjalan dan saling mengobrol ringan. Bertukar informasi mengenai kehidupan masing-masing. Bella dan Nick sangat terkejut saat mengetahui kalau ternyata mereka satu sekolahan.
“Jyahahah ... kenapa dunia sesempit ini?!” Bella tertawa cukup lantang, kini giliran Bella menemani Nick membeli air mineral.
“Benar juga, ya, padahal kita satu SMA. Bagaimana aku tak mengenalimu dulu? Apa kau termasuk gadis yang tertutup?” Nick membayar orang berparas asia, pemilik toko kelontong.
“Yah, aku miskin dan juga sering di-bully, mereka memanggilku ‘Gadis Gembel’ tentu saja tak mungkin terlihat oleh pria setampan dirimu.” Bella menghela napasnya panjang, Nick mencoba untuk mengingat kenangan mereka.
“Tunggu, jangan bilang kau gadis yang dulu sempat diejek di depan pintu gerbang sekolah.”
“Bagaimana kau tahu?? Tunggu!! Jangan bilang kau pria berjas hujan yang naik otoped?!” Bella menutup mulutnya tak percaya.
“Iya, benar itu aku.” Nick sangat senang, obrolan mereka sangat menyambung.
Tak terasa Nick sampai pada tokonya, ia memberikan sekardus air mineral pada pegawainya dan kembali pada Bella. Nick membawa dua botol mineral dingin dan memberikan salah satunya kepada Bella.
“Wah, tak ku sangka bisa bertemu dengan teman SMA. Yah, walaupun kita tak saling mengenal dulu.” Nick meminum airnya.
“Benar, tak banyak kenangan indah di sekolah dulu. Hanya hinaan dan juga kepahitan yang terasa sampai ke ulu hatiku.” Bella menerawang ke arah lautan luas, ia ikut menenggak air pemberian Nick.
“Yah, itulah hidup.” Nick mengangkat bahunya.
“Aku berharap bisa menghapus kenangan akan masa SMA-ku yang pelik.” Bella tersenyum kecut.
“Aku juga berharap bisa menghapus kenangan konyol dan memalukan saat SMA dulu.” Nick ikut tersenyum.
“Memang apa yang memalukan?”
“Seorang cewek di SMA pernah melihat barang pribadiku saat kencing di toilet cowok! Bayangin betapa malunya aku?!” Nick menoleh memandang wajah Bella. Sekejap kemudian Nick merasa sangat keheranan karena wajah Bella semerah kepiting rebus.
“Jangan bilang kalau cewek itu kamu juga!!!” Nick menyenggol bahu Bella.
“Maaf!! Maaf!! Aku saat itu benar-benar kebelet!!” Bella menutup wajahnya dengan tangkupan tangan.
“Dih, masa iya ini juga kebetulan?!” Nick duduk pada pasir pantai yang menghangat karena cahaya matahari.
“Makasih, ya, sudah memberiku tisu waktu itu.” Bella mengikutinya.
Mereka berdua duduk sambil menikmati hembusan angin pantai yang hangat. Bella menatap wajah tampan Nick dan tersenyum hangat.
“Kau memang seorang hero, Nick!! Kau sudah menolongku tiga kali.” Bella meninju pelan lengan Nick.
Wajah Nick tersipu mendengar pujian dari Bella. Jantungnya pun ikut berdebar tak karuan saat memandang senyuman manis wanita itu saat ini. Hanya butuh waktu seper sekian detik dan Nick sudah terpesona akan sosok hangat seorang Belaciaquin.
“Aku memang Knight of the Queen,” ucap Nick bangga.
Bella tergelak, ia benar-benar senang dengan pertemuan, obrolan, dan gurauan ringan dari Nick. Bella tak pernah menyangka bahwa orang di depannya ini pernah menyelamatkan hidupnya sebanyak tiga kali. Tanpa pertolonhan dari Nick mungkin Bella sudah kehilangan Aiden.
“Mami!!” Suara Aiden mengagetkan keduanya.
“Aiden!! Jangan berlari, Boy!!” Bella mencegah Aiden berlari dengan kaki mungilnya.
“Jeyuk!! Aiden mau jeyuk, Mami!!”
“Mami??? Kau sudah punya anak??!!” tanya Nick, wajahnya terlihat syok.
“Iya, perkenalkan ini putraku, Aiden.” Bella tersenyum, ia mendekap tubuh mungil Aiden dalam pelukkannya.
DEG!!
Ada rasa yang tak tertafsirkan dalam diri Nicholas saat ini. Nampaknya dia telah jatuh hati pada wanita bersuami?!
— MUSE S5 —
Awh ... romantisnya kisah Nick dan Bella ini!! Bikin berdebar.. ah andai saja aku juga punya pahlawan pelindung yang selalu menolong di belakangku.
Sweet!!!! ❤️❤️❤️😤😤
Love
Like
Comment
Vote
Gaes!!! ❤️❤️❤️