MUSE

MUSE
S7 ~ BEKAS LUKA



MUSE S7


EPISODE


S7 \~ BEKAS LUKA


\~Levin selalu menganggap luka di pundak Leoni adalah kesalahannya, dan Leoni menganggap luka Levin adalah kesalahannya. Keduanya lantas berpelukkan, menyalurkan rasa hangat perasaan mereka masing-masing.\~


________________


“Aku akan ke Madrid bulan depan! Aku akan mengikuti pelatihan menjadi seorang pembalap profesional.” Levin mencubit pipi Leoni.


“Apa kau bilang??” Leoni langsung kehilangan ekspresinya.


“Aku akan ke Madrid, Singa! Bulot banget sih!” Levin memutar kursi Leoni.


“Berhenti Levin!! Pusing!”


“Besok kita jalan yuk, kencan pertama. Sudah lama aku tak bermain di game center.” Levin memeluk Leoni dari belakang. Leoni masih terdiam, hatinya bergetar, jantungnya pun berdetak cepat.


“Kok nggak dijawab?” Levin penasaran kenapa Leoni malah diam tak bersuara.


“Singa??”


Air mata tiba-tiba menetes dari pelupuk mata Leoni. Gadis itu menangis, membuat Levin keheranan. Kenapa Leoni malah menangis? Apa dia melakukan kesalahan?


“Kenapa menangis? Apa kau marah karena aku memutar kursinya?” tanya Levin heran.


“Huwwaaa!! Aku nggak mau pisah!! Masa pacaran baru satu hari belum genap sudah mau ditinggal pergi sih?!!” Leoni menangis, ia memukul pundak Levin beberapa kali.


“Ya ampun, kau marah karena aku akan pergi?? Kita kan nggak putus.” Levin bingung.


“Jahat!! Kau nggak ngerti perasaanku, Vin!! Kita tak terpisah satu komplek perumahan hlo!! Kita terpisah satu samudra satu benua!!!!” Leoni memukul Levin lagi.


“Ya ampun, kan masih ada video call, kita bisa berbicara.”


“Jamnya beda, kegiatamu pasti padat, begitu juga aku!! Bagaimana kalau kita susah berkomunikasi, bagaimana kalau ada cewek cantik dan kau selingkuh?!”


“Hei hei, Singa. Kau berpikir terlalu jauh. Aku janji nggak akan selingkuh! Lagi pula dunia ku bukan dunia untuk wanita dan aku home schooling di sana.” Levin mengusap air mata Leoni.


“Sebenarnya itu semua hanya alasanku, Vin. Apa kau tahu apa yang paling membuatku gusar bila kau pergi mengejar impianmu?” Leoni dengan tersenggal-senggal bertanya pada Levin, remaja pria itu bergeleng tanda tak tahu.


“Aku takut kau terjatuh, aku takut kau kecelakaan. Tak tahukan kau betapa hatiku gusar saat kau bertanding dengan Farel? Aku takut kehilanganmu, Vin. Aku takut kau menggelepar tak berdaya di depanku.” Leoni menaruh dahinya pada dada Levin. Gadis itu benar-benar takut membayangkan hal-hal buruk yang bisa saja menimpa Levin di dalam track.


“Hiks, kenapa tak kau lupakan saja impianmu, Vin? Teruskan saja perusahaan ayahmu, atau kerjakan yang lain?” tanya Leoni.


“Aku benar-benar memimpikannya, Singa. Aku menikmati saat-saat angin kencang menerpaku. Merasakan adrenalin yang terpacu saat mengitari track. Melaju pada kecepatan 150 km/jam pada track melingkar. Menantang angin!”


“Menantang maut!!” sahut Leoni kesal, air matanya kembali bercucuran.


“Hei, jangan menangis lagi. Ayolah, ini tak semenakutkan pikiranmu.” Levin menyeka lagi air mata Leoni yang tak kunjung berhenti mengalir.


“Huhuhuhu!!!” Leoni semakin terisak.


“Aku berjanji akan selalu kembali padamu setiap kali bertanding, Singa. Aku berjanji tak akan meninggalkanmu!!” Levin memeluk Leoni erat, begitu pula Leoni, ia tak mau melepaskan pelukkannya.





Setelah berhenti menangis dan menata hatinya Leoni kembali berkutat pada patung yang tergeletak di depannya saat ini. Patung Michael itu baru jadi separuh jalan. Padahal Leoni harus segera mengumpulkannya, tapi tangan itu enggan untuk kembali bekerja.


“Ini teh panas dan mi instan! Kau suka yang pedas dengan telur dan sosiskan?!” Levin kembali dengan plastik dari mini market. Di dalamnya ada makanan dan minuman panas.


“Thanks, tapi aku tidak lapar.” Tolak Leoni.


“Ayolah, perutmu pasti lapar setelah menangis.” Levin membuka cup, uap panas dengan bau menggiurkan menguar sampai ke hidung Leoni.


Krucuuukkk ..... ucapan Leoni disahut oleh bunyi perutnya sendiri.


“Wkwkwkwkw!!” Levin terbahak, wajah Leoni memerah.


“Sudah ayo makan! Mumpung Mi nya sudah matang. Takut melar.” Levin menaruh sumpit pada tangan Leoni.


Akhirnya mereka menikmati makan mi instan berdua. Melupakan kegundahan hati sesaat. Rasa mi yang pedas dan gurih mulai membangkitkan mood Leoni kembali. Gadis itu mulai sedikit ceria.


“Ada kuah di dekat bibir.” Levin mengusap bibir Leoni dengan ibu jarinya.


“Ah ...” Wajah Leoni merona kemerahan.


“Apa di sekitar bibirku juga ada?” tanya Levin. Leoni menatap bibir Levin, bibir merah merekah itu tampak menggodanya. Tak ada sisa kuah belepotan di bibir Levin, tapi Leoni berbohong.


“Ada, mau aku bersihkan?” tanya Leoni.


“Boleh,” jawab Levin.


Leoni menyentuh bibir Levin perlahan dengan jari telunjuknya. Sekejap kemudian gadis itu mendaratkan sebuh ciuman ke atas bibir Levin. Levin terbelalak kaget, namun memilih untuk terdiam. Membiarkan Leoni melummat bibirnya lembut.


“Apa pemandangan di sana indah?” tanya Leoni begitu menyelesaikan panggutan mereka.


“Entahlah, mereka punya empat musim. Pasti sangat indah.” Levin mengelus punggung tangan Leoni.


“Apa wanita di sana cantik-cantik?” tanya Leoni lagi.


“Spanyol terkenal dengan wanita cantiknya,” jawab Levin.


“Ck, kenapa kau tak berbohong saja sih? Kenapa malah setuju saja kalau aku bilang itu. Dasar cowok nggak peka.” Leoni ngambek, Levin kembali menggaruk kepalanya padahal tidak gatal.


“Secantik apapun cewek di sana, di sini ada cewek yang lebih cantik.” Levin mentowel dagu Leoni.


“Gombal!!” dengus Leoni, tapi wajahnya merona.


“Hahaha, sudahlah! Jangan mikir hal-hal aneh! Kau juga harus berusaha mengejar impianmu!” Levin menunjuk ke arah patung, berharap Leoni segera mengerjakannya kembali.


“Detail pada bagian tombak dan sayap sangat susah.” Leoni menghela napas.


“Mau aku bantu?” tanya Levin.


“Namanya bukan karyaku donk!”


“Ah, iya juga.” Levin mengangguk.


Leoni menatap patung lalu menatap lengan Levin, menatap patung lalu menatap lengan Levin.


“Vin, kau tahukan Papaku punya banyak tatto?” Leoni mengelus bekas luka Levin.


“Tau.”


“Apa kau mau mencobanya? Menutupi bekas luka ini? Kau bisa jadikan bekas luka memanjang ini menjadi tombak Michael.” Leoni menunjuk patungnya.


“Aku harus ijin pada daddy mommyku dulu, karena aku masih di bawah umur. Tapi itu ide yang luar biasa girl.” Levin mengangguk senang.


“Kau bisa mencobanya dengan yang tidak permanen, Vin.” Leoni menurunkan kerah bajunya, “Saat aku besar nanti, aku juga akan menatto bekas luka di pundakku dengan gambar bunga matahari.” Leoni tersenyum, Levin mengelus pundak Leoni yang berbekas lalu mengecupnya pelan.


“Noda yang punya banyak arti dan kenangan.” Leoni tersenyum, ia mengelus wajah Levin.


Levin selalu menganggap luka di pundak Leoni adalah kesalahannya, dan Leoni menganggap luka Levin adalah kesalahannya. Keduanya lantas berpelukkan, menyalurkan rasa hangat perasaan mereka masing-masing.


...ooooOoooo...


...Wkwkwkkwkwkw...


Setelah lama tidak update aku kembali gaes. Belle harap kalian nggak mayah ya. 😝😝😘😘