MUSE

MUSE
S2 ~ KENANGAN



MUSE S2


EPISODE 66


S2 \~ KENANGAN


\~Aku tak akan menyangka bahwa aku akan begitu merindukan senyuman itu. Merindukan keluarga itu. Dan merindukan canda tawa kami saat itu.\~


•••


Memangnya cinta bisa menghilang begitu saja?


Memangnya perasaan bisa berpindah begitu saja?


Memangnya apa yang pernah kita jalani bersama bisa terhapus begitu saja?


Aku mencintai Kalila sejak pertama kali ia masuk ke SMA. Aku bukanlah tipe laki-laki yang bisa dengan mudahnya mengungkapkan perasaan. Makanya aku baru berani mengungkapkan perasaanku padanya saat naik ke kelas 3 dan Kalila naik ke kelas 2.


Kalila sangat cantik, ia begitu periang dan juga murah senyum. Sikapnya yang kalem dan lemah lembut membuatku tak bisa tak mengkhawatirkannya. Pasti akan banyak laki-laki yang menyukai sikapnya, dan aku tak ingin membagi Kalila dengan orang lain.


Kalila sangat suka menggambar menggunakan pensil arang juga pastel oil. Ia suka gambar dengan gaya-gaya abstrak yang penuh warna. Kalila juga menyukai warna-warna pastel yang lembut. Kadang Kalila juga mengganbar realis seperti sket wajah anak-anak, wanita tua, hewan, dan juga pemandangan alam.


“Kau tak menggambarku, La?”


“Mainkan dulu lagu untukku, Ngga.”


Kalila pernah menggambarku saat sedang bermain gitar. Memang itulah keseharian yang sering kami lakukan. Kalila bersandar di punggungku sambil menggambar, dan aku memetik gitar untuk menemaninya menggambar.


“Ini sudah jadi.” Kalila menyerahkan sket gambar diriku.


“Kok jelek gini?!” protesku. Gambarnya jelek sekali, nggak kayak biasanya.


“Gerak terus, sih, kan susah gambarnya.” jawabnya.


“Kan kamu yang suru aku sambil main gitar,” cubitanku bersarang pada hidungnya.


Kalila menyahut lagi gambarnya dan membandingkannya dengan wajahku.


“Nggak jelek, kok, gantengan gambarnya malah.” tawanya. Aku tahu dia sedang mengajakku bercanda.


“Enak, aja, sini aku hukum!!” Aku menggelitik perutnya.


Kalila tertawa dan memohon ampun. Aku tak memberi ampun, menggelitiknya lagi sampai ia menarik kata-katanya barusan.


“Hahaha.... Ampun, Ngga!” tawanya sambil mengatur napas.


“Nggak, bilang dulu, gantengan mana gambarnya sama aku?” Aku masih mengunci tangannya di belakang pinggang.


“Gantengan ka..., gambarnya!” Kalila ternyata masih tak mau kalah.


“Beneran?!”


“Bener.”


“Nggak nyesel?”


“Enggak.”


“Sini...!”


Aku mengelitikki perutnya lagi. Kalila memberontak membuat keseimbangan kami oleng. Kami berdua sama-sama terjatuh di atas karpet pink. Wajah Kalila berada begitu dekat dengan wajahku. Bisa ku rasakan hidungnya menyentuh hidungku. Alunan napasnya yang menderu lelah terasa hangat.


Bola matanya yang bulat memandangku dengan penuh binar cinta yang meluap. Aku tahu Kalila mencintaiku, dan aku juga mencintainya.


Aku mengelus wajahnya dan merapikan rambutnya ke belakang telinga. Kedua tanganku terselip pada tengkuknya, aku menariknya semakin mendekat agar aku bisa menciumnya.


Aku mencium bibirnya yang ranum dan penuh. Pertama memang hanya sebuah kecupan ringan, tapi lama-lama berubah menjadi lumatann mesra. Kalila sesekali tersenyum saat kami mengadu napas. Detak jantungku yang terus melaju dengan cepat menandakan bahwa aku begitu mencintainya. Ya, aku mencintainya.


“Jadi gantengan mana?” tanyaku lagi.


“Gantengan kamu.” Kalila memelukku.


“Ya, donk, pacarnya siapa dulu?” godaku.


“Pacar Kalila!! Angga milik Kalila.” Kalila tertawa sambil berteriak.


Kalila memandangku, dan aku memandangnya lekat. Tak ingin lepas barang sedetikpun.


Kami sangat bahagia kala itu, Kalila sangat mencintaiku, dan aku sangat mencintainya.





“Gara-gara Angga, nih, Ma. Godain Kalila terus.” Kalila mencomot roti kering dari dalam toples.


“Enak aja, siapa duluan yang gambar jelek begini?” Aku menunjukkan gambar wujud diriku pada Tante Fara.


“Duh, gantengan gambarnya, ya?” jawab Tante Fara sambil terkikih.


Yaelah, ternyata Ibu dan anak sama aja.


“Nggak apa-apa, Tan. Saya rela dihina asal jadi menantu Tante.”


“Ngarep, Ma. Angga ngarep!” Kalila terkekeh dan memeluk lengan Mamanya.


“Dasar, kaliankan masih kecil!” Tante Fara bergeleng, tak habis pikir dengan pembicaraan kami.


Aku tak pernah menyangka bahwa aku akan begitu merindukan senyuman itu. Merindukan keluarga itu. Dan merindukan canda tawa kami saat itu.


— MUSE S2 —


•••


Aku lembur hari ini, banyak pekerjaan yang menumpuk karena departemen perencanaan telah kehilangan manager hampir 2 minggu. Sudah hampir pukul delapan saat aku melirik ke arah jam Dinding.


“Aku harus membuat kopi,” pikirku, aku harus beristirahat sejenak untuk menghilangkan rasa kantukku.


Aku melihat Kalila keluar dari lift dan menundukkan kepalanya pada Aleina, sekretaris Tuan Arvin. Aku heran, kenapa Kalila kemari?


Aku memutuskan untuk diam dan mengamatinya. Wajah cantiknya sama sekali tak berubah, bahkan lebih cantik dari dulu. Sampai sekarang aku masih berharap bisa menikmati wajah cantik itu setiap hari. Mendengar tawanya yang begitu riang lagi. Membalas senyumnya yang begitu manis lagi.


Kalila memutar matanya dan mengamati sekelilingnya. Sepertinya dia baru pertama kali kemari. Kenapa dia kemari? Apa benar dia ada hubungan dengan Tuan Arvin? Hubungan apa? Bagaimana mereka bisa saling mengenal?


Tak lama setelah aku sadar dari lamunanku, Kalila sudah tertidur di atas sofa. Tak mungkin dia tak lelah, dia telah bekerja seharian dengan tubuh mungilnya.


Aku berjalan menghampirinya, melepaskan jasku dan menyelimutkannya pada Kalila. Ac tiap ruangan diatur secara central, dan pastinya menjadi terlalu dingin saat malam hari. Dia bisa jatuh sakit kalau kedinginan.


“Kalila, kenapa kau begitu kurus sekarang?” pikirku, aku mengelus wajahnya lembut. Kalila melengguh pelan sebagai jawaban.


Aku membungkuk untuk mengamati tiap ditail wajahnya. Bulu matanya yang lentik menutup sempurna, rona pipinya terlihat sedikit kemerahan karena dingin. Bibirnya masih begitu menggoda, merekah merah dan begitu penuh.


Aku memang kurang ajar, aku memang lelaki berengsek, tapi sungguh aku tak bisa menahan godaannya.


“Sekali ini saja, Kalila.” Aku mengecup bibirnya saat dia tak sadarkan diri. Hanya sebuah kecupan ringan karena aku tak mau membangunkannya.


Aku mengangkat kembali tubuhku dan meninggalkannya untuk kembali ke dalam ruanganku. Tak lama Tuan Arvin datang, ia membangunkan Kalila. Ia mengaku bahwa jas itu miliknya. Kini aku tahu bahwa bukan hanya aku yang menginginkan Kalila. Laki-laki itu juga.


Mungkin aku memang tak lebih unggul darinya dalam hal ekonomi. Namun cintakupun tak kalah besar, Kalila. Dan aku akan memperjuangkannya.


— MUSE S2 —


Anggakuh....😭😭😭


Aku tahu hatimupun syakit..


Ya Tuhan readers..


Tetep dukung kisah cinta mereka ya readers


Arvin ❤️ Kalila ❤️ Angga


LIKE


COMMENT


VOTE!!!


Vote yang banyak pleaseeeeeee!!!!


Biar semangat up nya


Kemarin dari 78 merosot jd 130...


Kan authornya sedih..


😭😭


Makasih banyak yang udah bantu perjuangin ratting MUSE sampe rela vote tiap hari...


Aku cinta kamoh semua..


❤️❤️🤗