
MUSE S3
EPISODE 134
S3 \~ EPILOG
\~ Benar kata Leon. Sikapi hidup dengan baik, rasakan kenikmatannya saat kita bisa selalu bersyukur dengan apa yang kita miliki \~
_______________
Siang hari yang cerah, aku baru saja kembali dari seminar kecantikan. Menjemput putri semata wayangku yang kini memasuki SMP kelas IX, sebentar lagi ujian kelulusannya masuk ke jenjang yang lebih tinggi.
Aku khawatir dengan nilainya yang terus merosot tajam akhir-akhir ini. Jadi aku memanggilkan seorang guru les untuknya. Kami berjanji bertemu dengan guru les privatnya di cafe dekat rumah kami. Palette cafe, kalian pernah mendengarnya bukan? Yup, cafe milik Kalila kini diurus oleh anak tertuanya Inggrid.
Setelah aku menikah dengan Leon, kami memutuskan untuk pindah ke kota S. Membangun hidup yang baru, keluar dari bayang-bayang masa lalu yang menyesakkan.
“Mama, kenapa jemputnya siang sekali?!” gerutu Leoni, saat aku tiba di depan gerbang sekolahannya.
“Maaf, Mama harus jadi pembicara dalam seminar,” ku tautkan alisku mengiba permintaan maaf.
“Jangan marah, donk!” Aku merangkul pundak anak gadisku itu.
Leoni anak yang manja, dia begitu karena anak tunggal. Papanya sangat sayang padanya, begitu juga aku. Mungkin bawaan dari cara didik kedua orang tuaku menurun kepadaku. Memanjakannya dengan limpahan kasih sayang.
Leoni sangat mirip dengan Leon, baik wajah, perawakan, juga karakternya. Cara duduknya saja mirip, sampai kadang aku harus mengingatkannya kalau dia itu wanita, bukan laki-laki, kalau duduk harus menutup pahanya. Haduh...! Padahal sikap Mamanya saja seanggun ini, tapi anaknya benar-benar tomboi.
“Ayo temui calon guru les privatmu.” ajakku setibanya di Pallete cafe.
“Welcome to Pallete cafe!” seru seorang lelaki tampan dari dalam ruangan, tangannya sibuk membereskan meja dan cangkir kotor, sesekali ia membetulkan letak kaca matanya.
“Mau pesan apa?” tanya wanita cantik dengan dandanan eksentrik dari balik meja kasir.
“Kau pasti Inggrid, anak tertua Kalila?” tebakku.
“Benar.” Inggrid tersenyum manis.
“Pesan latte tiga dan juga cake wortel.”
“Siap, tante.”
Setelah membayar dan menerima pesanan, aku duduk pada kursi sofa dan menunggu guru les Leoni dengan sabar. Tak lama pria yang membersihkan meja tadi melepaskan apronnya dan mendekatiku. Dia cukup tampan dengan kaca matanya. Tanpa ragu dia mengulurkan tangannya dan menjabat tanganku.
“Keano. Guru les privat yang anda hubungi tadi.” sapanya.
“Kanna, Mamanya Leoni. Ayo sayang, jabat tanganmu!” Aku menyuruh Leoni juga berkenalan dengan guru lesnya. Aku kira Leoni bakalan menolak, tapi ternyata...,
“Kakak tampan sekali!! Pacaran denganku?” Leoni menulurkan tangannya, menjabat tangan Keano dengan mata berbinar. Ucapannya membuat kami bertiga syok.
“Enak aja, dia pacarku!!” tiba-tiba Inggrid ikutan nimbrung.
Suasana sedikit canggung sampai sebuah suara mengagetkan kami.
“Hei cewek bar-bar!! Ngapain di sini?!” serorang pria cilik yang mirip dengan Kalila terlihat bingung dengan keberadaan Leoni.
“Bertemu dengan lelaki masa depanku!!” seru Leoni.
“Aduh!! Sakit, Ma!” protes Leoni.
“Siapa pria masa depanmu?” Aku syok mendengarnya. Coba Papanya ada di sini, pasti sakit hati saat mendengarnya.
“Dia!!” Leoni menunjuk Keano yang dari tadi hanya diam.
“Enak aja!! Dibilang dia pacarku!” Inggrid merangkul pundak Keano.
“Hahaha, cewek bar bar jatuh cinta!” ledek cowok tengil dengan seragam yang sama dengan Leoni. Ia masuk ke dalam dan mengambil segelas air dingin.
“Siap dia sayang?” tanyaku pelan.
“Dia Levin, teman sekelas sekaligus musuh bebuyutanku!!” Leoni memincingkan matanya sampai tajam.
“Dasar anak-anak.” Aku menyangga kepalaku, terkikih dengan tingkahnya. Melihat kelakuan mereka mengingatkanku akan masa muda. Walaupun dulu masa mudaku tidak indah, namun aku punya cinta yang membuatku bertahan.
“Jadi bagaimana?” Keano bertanya padaku, akhirnya ada juga manusia normal di sini.
“Saya ikut aturannya saja, berapa biayanya sekali pertemuan dan juga waktunya. Yang penting Leoni bisa lulus dan diterima masuk SMA.”
“Baiklah, saya pastikan dia masuk ke SMA favorit.”
“Huhuhu, aku nggak berharap banyak, dia lulus saja sudah cukup.” tangisku dalam hati, anakku memang otaknya tak seencer Papanya. Kenapa kepandaian Leon tak sekalian menurun, sih? Jadi aku tak harus repot mengeluarkan uang lebih untuk biaya Les.
“Baiklah, kapan bisa saya mulai?” tanya Keano.
“Secepatnya!! Secepatnya Kakak!!” teriak Leoni disambut tawa dari Keano dan bibir manyun Inggrid.
“Hah, indahnya masa muda.” senyumku senang.
Jadi beginilah, kehidupan bagaikan meja tembikar yang terus berputar. Membentuk manusia dengan terpaan masalah, kesulitan hidup, dan mungkin juga rasa sakit. Namun percayalah, setelah terbentuk dengan sempurna, maka hasilnyapun akan selalu manis.
Benar kata Leon. Sikapi hidup dengan baik, rasakan kenikmatannya saat kita bisa selalu bersyukur dengan apa yang kita miliki. Jadi bagaimana kalian menyikapi kisah hidupku dalam hidup kalian?
Berikan komentar terbaik kalian, dan dapatkan pulsa @25rb rupiah, untuk 4 orang dengan komentar terbaik yang menyikapi pertanyaan saya (blok hitam). Jangan lupa sertakan hastag #pulsagratis
Ditutup 1 Juni 2020, pengumuman tgl 2 Juni 2020.
Kisah cintaku hanyalah sebuah kisah cinta biasa, namun bisa membuatmu merasa sangat luar biasa.
Terus cintai orang lain seperti mencintai dirimu sendiri.
Salam manis,
ARKANNA.
LEON
ZEAN
LOVA