MUSE

MUSE
S3 ~ MUSE



MUSE S3


EPISODE 102


S3 \~ MUSE


\~ Baiklah, Kanna, aku akan menjadikanmu MUSE dalam setiap karyaku. Karena bagiku kau adalah wanita paling menarik dan paling aku cintai, Kanna. Setiap kali aku berkarya, kaulah inspirasiku.\~


______________


Tak terasa sudah kenaikan kelas, berarti sudah hampir 2 bulan aku berpacaran dengan Kanna. Besok setelah kami libur panjang, status pendidikan kami akan berubah menjadi satu tingkat lebih tinggi. Aku kelas 3 dan Kanna kelas 2.


“Kau akan liburan ke desa?” tanya Kanna, wajahnya tampak kecewa.


“Iya, Papa dan Mama berangkat hari ini. Aku akan menyusul mereka besok,” jawabku.


“Yah, berapa lama?” Kanna lesu, bahunya langsung terjatuh.


“Selama liburan penuh,” bahuku ikut turun, akupun berat meninggalkan Kanna, karena kami akan berpisah kurang lebih 3 minggu. Libur kenaikan kelas memang sangat lama bukan?


“Semangat, donk, Cimut! Bukankah aku memang selalu kembali ke desa tiap kali liburan?” Aku mencubit pipinya dan menggerakkannya ke kanan dan kiri.


“Tapikan dulu kita belum pacaran.” Kanna mengerucutkan bibirnya.


Papa Mama memang selalu kembali ke kampung halaman saat aku libur. Membersihkan tempat tinggal Kakek dan Nenek, juga menjenguk mereka. Aku juga begitu menantikan saat-saat mengunjungi mereka karena Kakek adalah seorang pengerajin keramik yang handal. Tapi baru kali ini aku merasa enggan untuk kembali ke desa, aku ingin menghabiskan liburan bersama dengan Kanna.


“Jangan sedih, Cimut! Bagaimana kalau nanti kita kencan?” usulku.


“Kencan?” wajah Kanna kembali berseri-seri.


“Kita makan bakso, terus nonton film di rumahku? How?” tanyaku.


“Benarkah kita akan berkencan?!”


“Iya,” anggukku.


“Baik!! Aku akan berdandan dengan cantik!!” Kanna meloncat pelan karena terlalu girang.


Aku ikut tersenyum melihat tingkah imutnya. Beruntungnya aku, karena hanya aku yang tau segala keimutan dan hal baik tentang Kanna.





“Bang, semangkok lagi, donk!”


“Baik, dek!” jawab si Abang bakso yang biasa nongkrong di depan jalanan masuk perumahan. Ia kembali dengan semangkok bakso untuk kami berdua.


Semangkok bakso komplit dengan wangi kaldu yang menggoda selerapun hadir. Selain beberapa gelinding bakso basah, masih ada tahu kukus, bakso goreng, dan juga pangsit. Di atasnya bertaburkan bawang goreng dan juga daun seledri, menambah sedap aroma bakso.


“Ini, Kanna,” ku letakkan mangkok di depannya.


“Hlo?! Buatku?”


“Iya, kan biasa kau makan dua mangkok.” Aku keheranan.


“Nggak, Leon. Aku sudah kenyang.” tolak Kanna, ia menggeser mangkok kembali di depanku.


“Serius?!”


“Nggak usah syok sampai segitunya!!” Kanna cemberut. Ia langsung mengalihkan fokusnya pada es sirup di depannya.


Walau aku mencoba untuk memahami, tapi aku benar-benar syok! Biasanya Kanna bisa menghabiskan dua sampai tiga mangkok bakso kalau tanpa mi atau bihun.


“Wah!! Apa perutmu sakit?” tanyaku lagi.


“Tidak, aku benar-benar sudah kenyang.” Kanna memegang perutnya.


Aku mengangguk tanda mengerti. Aku akhirnya membumbui bakso di depanku dengan sambal dan kecap sebelum melahapnya. Duh, sekarang aku yang kekenyangan.


— MUSE S3 —


•••


Aku bergandengan tangan dengan Kanna menyelusuri perumahan, setelah makan dua mangkok bakso aku merasa begitu bengah karena kekenyangan. Jadi kami putuskan untuk sedikit berjalan memutar agar makanannya bisa segera turun.


Lampu-lampu redup mulai menyala, memberikan nuansa remang-remang yang romantis. Maaf, ya, Kanna, kencan kita hanya sebatas makan bakso dan juga berjalan santai seperti ini.


“Sudah dua putaran, aku capek, Leon.” Kanna menarik napasnya, dia memang terlihat lelah.


“Baiklah, ayo kita nonton film di rumahku. Aku juga ingin memberimu sesuatu, Kanna,” ajakku.


“Kau mau memberiku apa?”


“Rahasia. Ayo!” Aku kembali menggandeng tangannya dan berlari kecil.


Kami langsung merebahkan diri di atas sofa begitu sampai ke dalam rumah. Napas kami menderu tak beraturan karena lelah berlari. Apa lagi dengan bobot dan tubuhnya, Kanna terlihat sangat kelelahan.


Aku mengamati dadanya yang naik dan turun saat mencoba untuk mengatur napas. Wajahku memanas, Ya, Tuhan, maafkan aku. Pemandangan indah barusan membuatku menjadi manusia sampah.


“Ma—mau minum?” tawarku, mencoba mengalihkan fokusku pada hal lainnya.


“Boleh.” jawab Kanna. Ia lantas mengatur duduknya lebih tegap.


Aku kembali dengan dua gelas air dingin dan setoples plastik pop corn. Aku memang sengaja menyiapkan camilan untuk kami menonton film. Aku membeli pop corn rasa caramel karena rasa itu adalah kesukaan Kanna.


“Ini, pop corn.”


“Eee....” Kanna nampak ragu-ragu saat menerimanya.


“Kenapa?”


“Masih kenyang!” tolak Kanna.


“Kau bohong!”


Kanna tertunduk sesaat dan akhirnya menerima pop corn dari tanganku. Ia membuka toplesnya dan memakan beberapa butir. Aku tersenyum, lalu beralih pada DVD player, memilih film apa yang akan kami tonton setelah ini.


“Conjuring atau Annaballe?”


“Film apa itu?”


“Drama romantis.” Aku berbohong, itu film horor.


“Conjuring saja, Leon. Sepertinya bagus.”


“Pilihan tepat, hehe...,” kekehku pelan untuk menyembunyikan tawa. Duh, polosnya pacarku, padahal dari judulnya saja sudah pasti ketahuan kalau itu film horor.


Aku bangkit dan duduk di samping Kanna. Ikut mencomot pop corn dan memakannya. Sesekali aku melirik ke arah Kanna yang terpaku pada layar TV. Wajah bulatnya di hiasi pony dan juga rambut yang ikal. Hidungnya terlihat cukup mancung kalau dari samping, walaupun bersaing dengan pipi namun tetap terlihat cantik.


“Kanna,” lirihku.


“Heum?” Kanna memalingkan wajahnya melihatku dan...,


Cup..., Aku mengecup lembut bibirnya. Mendaratkan bibirku untuk menikmati bibirnya. Sumpah, aku tak tahan bila harus menganggurkan bibir tipisnya itu.


Wajahnya terlihat merah sekali. Duh, emesh-nya. Ku cubit kedua pipinya dan kembali menciumnya. Aku mengulang kecupanku beberapa kali, sampai Kanna merasa sebal.


“Leon!!”


“Hehehe...,” tawaku senang, aku merangkul pundaknya dan kembali fokus pada film. Bersama pacar memang membuat film horor berasa film romantis.


“KYAA..!!” Kanna berteriak histeris saat melihat kaki yang tergantung pada pohon.


“Kau bilang film romantis, Leon?!” Kanna bersembunyi di balik tubuhku. Ia menutupi wajahnya dengan tangan, namun sesekali mengintip karena rasa penasaran.


“Soalnyakan lihatnya sama pacarmu yang ganteng ini, Cimut. Jadi berasa film romantiskan?” godaku.


“Iiih, lebay tau, nggak?!” Kanna terus mencubit perutku sampai aku tertawa geli. Awas aja ntar aku balas!


Kami kembali berfokus pada film, sesekali Kanna berdesis karena ilfil sekaligus takut. Ia masih bersembunyi di balik lenganku sambil menutup wajahnya. Aku melihat Kanna begitu fokus pada film, ia tegang dan takut. Sesekali Kanna menelan ludahnya, mencoba sedikit menenangkan hati. Melihatnya begitu fokus, muncul ide nakal dalam benakku untuk menjahilinya.


Aku menarik tanganku dan merangkul pundaknya. Aku akan mencubit perutnya biar dia kaget dan marah-marah. Kanna sangat imut saat ngomel dengan bibirnya yang tipis itu.


Aku mulai beraksi, sebelumnya aku menunggu saat yang tepat. Saat di mana hantunya akan muncul. Dengan begitu Kanna akan kaget dan menjerit.


Tanganku turun ke arah pinggang untuk memencubit lemak di perutnya. Namun, sepertinya aku salah tempat.


“Le—Leon...?” Kanna langsung menoleh, wajahnya memerah.


Gawat!! Aku salah, aku mencubit dadanya, bukan pinggangnya. Ukurannya sama sih, jadi salah, deh! Haduh canggung banget rasanya, dilepas apa nggak, nih?! Wajahku jadi ikut memanas sangking malunya.


Kami saling pandang beberapa saat, masih dengan tanganku bersarang pada dadanya. Sayang juga, sih, kalau dilepas begitu saja.


“Dasar mesum!!” Kanna memukul kepalaku dengan tutup toples plastik.


“Auch..., auch..., maaf, Kanna, nggak sengaja.”


“Trus aslinya mau ngapain?”


“Mau cubit perutmu, biar kaget,” cengirku.


“Trus sudah tahu salah, ngapain nggak dilepas-lepas?!” Kanna cemberut.


“Hehehe..., maaf, Kanan. Tangannya nakal,” kikihku pelan. Lalu aku memeluknya dengan erat sebelum ia kembali marah karena ketidak sengajaan barusan. Haish, ketidak sengajaan yang manis.


“Lepasin, Leon!! Nggak bisa napas.” Kanna menepuk punggungku.


Aku bangkit dan memandang wajahnya, terbesit dalam naluri laki-lakiku untuk memiliki Kanna seutuhnya. Tapi kami masih SMA, lagi pula aku juga nggak sebr*ngsek itu. Aku tak ingin merusak masa depannya. Ciuman saja sudah cukup bagiku, aku akan menjaganya sampai kami berdua sama-sama siap.


“Aku ingin memberimu sesuatu, Kanna.” Aku mengeluarkan kotak kecil berwarna biru muda dan memberikannya pada Kanna.


“Apa ini, Leon?” Kanna terlihat antusias.


“Buka saja!”


Kanna membuka kotak kecil itu dan langsung tersenyum bahagia, “cantik sekali, Leon!!”



(Credit pict to owner)


“Aku membuatnya sendiri, bagaimana, kau suka?” tanyaku.


“Suka, suka banget!”


“Syukurlah,”


Aku mengambil anting panjang dengan bandul bulat dari keramik, aku memang membuatnya untuk Kanna. Karya pertama yang aku buat dengan begitu sempurna. Saat membuatnya aku membayangkan ekspresi wajahnya yang imut. Dia benar-benar adalah inspirasiku.


“Aku pakaiin, ya?” izinku.


“Huum.”


“Kau sangat cocok dengan anting yang panjang, Kanna.”


“Thanks, Leon.” Kanna terharu sampai-sampai air matanya menetes.


“Maaf, Kanna. Aku tak bisa memberimu sesuatu yang mahal.”


“Ini cukup, Leon. Ini lebih dari cukup.” Kanna tertawa padahal dia masih menangis.


Aku menghapus air matanya dan menciumnya dengan lekat. Melumatt bibirnya begitu dalam dan bergerak penuh irama. Entahlah, aku laki-laki, namun bisa ikut menitikkan air mata hanya karena melihatnya menangis begitu bahagia menerima benda kecil buatanku.


Baiklah, Kanna, aku akan menjadikanmu MUSE dalam setiap karyaku. Karena bagiku kau adalah wanita paling menarik dan paling aku cintai, Kanna. Setiap kali aku berkarya, kaulah inspirasiku.


“Leon, kenapa kau menyukaiku? Tak ada pria normal yang menyukai wanita jelek sepertiku?”


“Berarti aku tidak normal donk? Karena aku menyukaimu apa adanya?” kikihku.


“Leon....”


“Aku mencintaimu, Kanna. Karena aku nyaman saat bersamamu. Kau selalu setia mendengarkan apapun keluh kesahku. Kau selalu menenangkanku saat aku sedih ataupun marah. Kau memberikan dukungan kepadaku saat aku jatuh.” Aku merebahkan kepalaku pada pangkuannya.


“Tapi, itu hanya hal-hal kecil yang umum terjadi.” Kanna mengelus rambutku.


“ Itu semua memang hanya hal kecil, Kanna. Tapi punya arti besar untukku.” Aku memandang wajahnya dari bawah. Air mata Kanna seakan-akan ingin kembali tumpah.


“Leon....” Kanna membungkukkan tubuhnya untuk menciumku.


Aku menerima ciumannya dan melumatt bibir tipisnya lagi. Kali ini rasanya lebih manis dari biasanya.


Yah, teruslah mencintaiku, Kanna. Teruslah menaruh rasa sayangmu padaku, wahai gadisku yang manis.


— MUSE S3 —


MUSE UP


MARI DI VOTE...!! BIAR AUTHOR SEMANGAT UP TIAP HARI. ❤️❤️


Jangan lupa di LIKE & COMMENT.


Baca comment kalian bikin saya semangat gaes.


Saya upload foto anting buatan Leon, mungkin gambarnya akan muncul besok, jadi baca lagi episode ini besok!! Hahahaha


😘😘😘


Buang sampah pada tempatnya!


Sebrang jalan di zebracross!


Hemat penggunaan plastik!


Pakai air dan listris secukupnya!


Bagi cinta untuk banyak orang!


Perbuat baik dengan sesama!


Kalian emezing gaes!