
MUSE S4
EPISODE 6
S4 \~ PERGOLAKAN BATIN
\~Sialan, semakin lama Ken semakin melakonis. Menyebalkan memang, melirik kami saling berbagi ikatan dan juga memori. Aku tak bisa menutup mata dengan perasaannya, karena saat Ken takut tubuhkupun bergetar. Saat Ken khawatir jantungkupun berdetak dengan cepat.\~
______________
RA POV
Aku berjalan meninggalkan Inggrid yang menangis di dalam ruang kelasku. Tanpa ragu aku berjalan kembali ke parkiran motor untuk mengambil motor.
“Brengsek!! Tuker badan Ra!!” Ken memberontak di dalam benakku.
“Kenapa kau marah? Aku membantumu menyingkirkan Inggrid. Dia hanya membuatmu lemah, bodoh!” Aku menjawab ucapannya di dalam hati. Alter egoku ini terlalu lemah dengan air mata cewek itu.
“Kau menyakitinya!! Kau membuatnya sedih! Andai saja aku bisa memukulmu! Andai saja aku bisa menghilangkanmu!!” ucapnya lagi, suaranya menggema dengan keras di dalam benakku. Membuatku sebal.
“Sadarlah, Ken!! Kau bahkan tak bisa punya teman sebanyak saat ini kalau bukan karena aku.” Aku bergeleng sebal.
Aku mengendarai motor vespa peninggalan Papa menuju ke Pallete cafe, tempat Mama Melody bekerja. Aku merindukan senyuman Mama. Semenjak meninggalnya Papa, Mama jadi jarang tersenyum. Ken tak peduli, yang dia pedulikan hanya senyuman Inggrid
Kringcing Kling... 🎶
“Welcome to Pallette Cafe.” sapa seorang pegawai.
Aku masuk dan melihat sekelompok anak muda sedang bercanda tawa, aku mengenali mereka. Mereka adalah genk si cewek bar-bar. Mereka suka nongkrong di cafe ini ternyata. Aku dan Ken sering bergabung dengan mereka saat menemani Inggrid menggambar. Tapi karena sifat Ken yang pendiam, ia tak pernah bisa bergaul dekat dengan mereka walaupun sering bertemu.
“Keano? Kau sudah pulang? Di mana Inggrid?” Mama mendekatiku. Aku hanya tersenyum sebagai jawaban. Aku tak bisa bilang padanya kalau aku meninggalkan cewek itu menangis di sekolahan.
“Kalian bertengkar?” tanya Mama.
“Tidak, kami hanya sedikit menjaga jarak. Ehm..., kami pria dan wanita dewasa, tentu saja harus menjaga jarak.” Aku beralasan.
Mama melody mengerutkan dahinya sedikit menaruh curiga. Tentu saja curiga, cewek bar-bar itu selalu nempel pada Keano ke manapun dia pergi. Mereka bagaikan kembar dempet saja. Mama pasti sedikit merasa cemas karena cewek itu sudah dianggapnya anak sendiri.
“Kak Keano? Di mana Kak Inggrid? Kami tak bisa menghubunginya.” salah seorang cewek keluar dari kelompok Inggrid dan menanyakan keberadaan anggotanya padaku.
“Mana aku tau?” ku angkat bahuku sebagai jawaban.
“Serius kau tak tau keberadaannya? Apa benar kau sudah tak lagi bersamanya?” tanyanya penuh rasa penasaran. Ah, aku ingat kalau tak salah namanya Momo.
“Untuk apa aku berbohong?” jawabku pada cewek manis ini.
“Wah, beneran serius? Aku ada harapan donk?!” tanyanya malu-malu, Oh, ternyata dia menyukaiku. Aku tersenyum melihat wajah manisnya bersemu merah. Harusnya cewek seperti ini, manis dan sedikit malu-malu. Bukan suka teriak dan menonjok orang tanpa sebab seperti Inggrid.
“Tentu saja,” jawabku sembari berjalan masuk ke belakang meja bar, membantu Mama mengeluarkan pastry dari dalam oven.
“Baunya harum, Ma.”
“Kau mau? Tidak bosan makan roti buatan Mama?”
“Tidak, Ma. Roti buatan Mana paling enak. Mana mungkin aku bosan.” kataku sambil mendekap punggungnya.
“Ck, semakin besar kau semakin mirip Papamu.” Mama tersenyum kecut.
“Tentu saja, aku akan menjaga Mama seperti Papa menjaga kita dulu.” Aku membuatnya tenang.
“Anakku sudah besar rupanya.” Mama mengelus pucuk kepalaku, aku harus menunduk agar dia bisa mudah menjangkaunya.
Aku menghabiskan waktuku di cafe, mengobrol dengan Mama sambil menikmati roti panas dan secangkir latte.
“Ayo kita gambar lagi nanti malam.”
“Ajak Inggrid juga, sepertinya dia begitu kesepian akhir-akhir ini.”
“Tentu saja kesepian, Kak Ken bilang dia sudah tak bersama dengan Kak Inggrid.”
“Serius?”
“Wah, kasihan nuna.”
“Ayo kita ajak dia keluar malam ini.”
“Oke.”
Aku tak sengaja mendengar obrolan mereka. Mereka ingin pergi menggambar lagi malam ini. Dasar anak-anak kurang kerjaan. Kenapa bisa begitu suka mengotori dinding dan membuang uang untuk cet. Padahal cet semprot terbilang cukup mahal. Lagi pula seni mereka tak akan bertahan lama karena pemilik gedung atau pemerintah setempat pasti akan mengecetnya lagi.
“Yuk cabut! Kak Inggrid bilang mau ikut. Kita istirahat kumpul ntar malam di alun-alun.”
“Oke.”
Hm, jadi mereka bakalan pergi menggambar malam ini? Parahnya si cewek bar bar ikutan. Padahal kalau dia tertangkap lagi tak ada yang mau menjaminnya keluar. Aku tak akan pernah mau menjaminnya, karena aku bukan Ken yang dengan mudahnya terpedaya bujuk rayu Inggrid.
— MUSE S4 —
•••
Ternyata benar dugaanku, ponselku berbunyi tepat jam 11 malam, membuatku frustasi saja. Dengan kasar aku menjawab panggilan Inggrid.
“Ken bukan?”
“Bukan!!”
“Duh, kok kau belum menghilang juga sih?” tanyanya menyebalkan.
“Kenapa kau menelponku malam-malam?”
“Aku tertangkap polisi, bisa kau membantuku keluar, Ra?” kini nada suaranya sedikit halus.
“Nggak bisa, masalahmu bukan urusanku,” jawabku ketus. Lagian benerkan, ini anak nggak bakalan belajar kalau dia terus ditolong.
“Kenapa kau jahat sekali Ra? Apa salahku padamu?” isaknya pelan.
“Nggak salah, cuma aku memang malas saja menanggapi masalahmu. Udah nggak usah nangis. Aku tutup, ya.” Aku menutup panggilannya.
“Ra..., tut.....”
Aku menghembuskan napas kasar sebelum bangkit dan meminum segelas air dingin.
“Ra kau keterlaluan!!”
“Brengsek kau bikin aku kaget!” umpatku, suara Ken keluar begitu saja dalam benakku.
“Cepat ke kantor polisi, tolong Inggrid!!”
“Males!!”
“Ra!!”
“Diamlah Ken. Kita butuh istirahat!”
“Ra, aku ambil alih tubuhnya. Kau jangan egois. Aku juga hidup seperti dirimu.”
“Kenapa kau begitu bodoh Ken?!”
“Kau yang lahir karena rasa kehilangan tak akan tau rasanya mencintai Ra!”
Sialan, semakin lama Ken semakin melakonis. Menyebalkan memang, melirik kami saling berbagi ikatan dan juga memori. Aku tak bisa menutup mata dengan perasaannya, karena saat Ken takut tubuhkupun bergetar. Saat Ken khawatir jantungkupun berdetak dengan cepat.
“Baiklah, aku ambil kaca matanya.” Aku menyudahi pergolakan batin yang terjadi di antara kami.
“Thanks, Ra.”
KEN POV
Setelah seminggu tertidur dalam benak Keano, kini aku kembali menguasa tubuhnya. Beruntung Ra tidak terlalu susah diajak berunding. Dia memang selalu menyalahkanku yang punya hati terlalu lembut.
Aku menekan gas lebih kencang menuju ke kantor polisi. Aku harap belum terlambat untuk menolong Inggrid. Aku harap dia masih menungguku.
Aku membiarkan motorku terparkir di depan pintu masuk kantor kepolisian dan bertolah toleh untuk mencari Inggrid. Syukurlah dia masih berada di sini. Inggrid sedang memeluk lututnya dan menangis di atas bangku kayu.
“Inggrid,” panggilku. Inggrid berjengit ketakutan, mungkin dia kira aku masih Ra.
“Kemarilah, girl! Ini aku Ken.” Aku mendekatinya, Inggrid langsung bangkit dan memelukku.
“Ken? Beneran Ken?” tanyanya.
“Iya.” Aku mendekap erat tubuh Inggrid dan mencium tengkuknya.
“Keano kau jahat!!”
“Maaf, maafkan aku, Inggrid.”
“Jangan kalah dengan Ra, Ken! Aku tersiksa saat tubuhmu berubah menjadi dirinya. Dia sangat menyebalkan.” Inggrid memukul-mukul dadaku.
“Inggrid tenanglah!” Aku menahan tangannya.
“Hiks....,” tangis Inggrid, namun ia terlihat mulai tenang.
“Maafkan aku Inggrid. Aku terlalu lemah. Keraguanku membuat Ra menyakiti hatimu.” Aku mengambil jeda untuk mengatakan perasaanku.
“Pacaran denganku, Inggrid. Jadi kau punya hak atas tubuhku.” Aku menggenggam tangannya. Inggrid memandangku dengan binar matanya yang cantik.
“Ken....”
“Apa jawabanmu, girl?”
— MUSE S4 —
Muse Up
Vote hlo ya..
❤️❤️❤️
Jangan lupa di like sama di komentari..
Banyakan biar author rengginan femes